Metode pemberian MPASI Jepang sedang viral dan menarik perhatian ibu-ibu di Indonesia. Sebagian dari mereka memutuskan beralih pada pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) a la Negeri Sakura karena bisa memperkenalkan anak kepada rasa alami makanan dan tekstur secara bertahap sejak awal.
Metode ini juga membantu mendeteksi alergi anak sejak dini tanpa campuran bumbu tambahan, seperti garam dan gula sehingga lebih alami. Meski terlihat sempurna, orang tua masih perlu mempertimbangkan dengan menyesuaikan kebutuhan gizi harian bayi.
Key Takeaways
- Pemberian MPASI Jepang dilakukan sejak bayi berusia 5 bulan dengan memperkenalkan tekstur dan rasa alami makanan secara bertahap.
- Metode ini lebih ketat daripada standar Indonesia selama ini karena setiap menu tidak memiliki campuran gula, garam, atau penyedap lainnya sama sekali.
- Namun, cara pemberian MPASI a la orang tua Jepang tidak sesuai rekomendasi WHO, yaitu dimulai umur 6 bulan dan kurangnya komposisi zat gizi karena menggunakan menu tunggal secara bertahap.
- Hanya saja, keunggulannya adalah bayi bisa lebih mengenal rasa dan tekstur makanan serta penggunaan bahan penyedap alami.
Metode Pemberian MPASI Jepang
Pedoman MPASI Jepang secara resmi dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, Kehamilan, dan Kesejahteraan Jepang (Japanese Ministry of Health, Labour, and Welfare). Dalam panduannya, pemerintah Jepang menganjurkan pemberian MPASI berlangsung dari usia anak mencapai 5 bulan ke 6 bulan dengan menu tunggal secara bertahap tanpa tambahan garam dan gula.
Contohnya, orang tua mengenalkan karbohidrat di minggu pertama, protein hewani di minggu kedua, protein nabati di minggu ketiga, dan seterusnya. Kemudian, saat memasuki umur 6 bulan, anak boleh mengonsumsi menu lengkap.
MPASI Jepang dinilai sangat sistematis dan ketat, berbeda dengan Indonesia yang fleksibel. Sejak awal, anak Jepang mengetahui tekstur, porsi, dan jenis makanan dengan mengenal satu bahan makanan saja selama beberapa hari.
Setelah anak terbiasa dengan makanan tersebut dan orang tua mengetahui tidak adanya alergi atau masalah pencernaan, barulah anak mengenal menu berikutnya. Teksturnya juga bertahap, mulai dari sangat halus hingga lebih padat menyesuaikan kemampuan anak.
Cara ini membuat orang tua tertarik karena membantu si kecil mengenali rasa alami setiap bahan makanan tanpa pengaruh penyedap tambahan. Orang tua juga bisa mendeteksi alergi dan masalah pencernaan anak sejak dini karena makanan diberikan satu per satu.
MPASI Jepang membuat bayi belajar mengunyah dan menelan makanan, serta mengajarkan mereka kebiasaan makan makanan sehat. Apalagi teknik memasaknya juga sederhana dengan menggunakan bahan-bahan segar.
Apakah Aman untuk Anak Indonesia?
MPASI Jepang terlihat cukup berbeda dengan gaya MPASI Indonesia selama ini yang mengutamakan ketepatan waktu (6 bulan), adekuat (kelengkapan gizi), keamanan, dan pemberian secara tepat. Saat membuat MPASI, orang tua Indonesia biasanya menggunakan bubur tim yang dicampur lauk bergizi lengkap.
Ada protein, serat, karbohidrat, vitamin, dan lain-lain. Waktu pemberian MPASI pun mengikuti anjuran World Health Organization (WHO), yakni usia 6 bulan. Sementara itu, orang tua Jepang justru mengenalkan makanan satu per satu selama beberapa hari sebelum berganti tanpa campuran apapun sejak anak berusia 5 bulan.
Baca juga: 7 Tips agar Anak 1 Tahun Mau Minum Susu Formula
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga membolehkan pencampuran makanan dan bumbu ringan dengan takaran secukupnya. Para ahli gizi Indonesia mengutamakan penggunaan menu bahan lokal, seperti santan dan minyak, sebagai penambah kalori.
Lantas, apakah mengikuti tren MPASI Jepang aman untuk anak Indonesia? Tren ini bisa Anda lakukan dengan tetap menyesuaikan kebiasaan lokal. Ini bisa jadi metode pelengkap dengan tetap memperhatikan anjuran IDAI dan pedoman ISI Piringku dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Tujuannya agar anak tetap mendapat gizi lengkap dengan menyesuaikan kebutuhan nutrisi masyarakat Indonesia pada umumnya. Jadi, Anda bisa mengombinasikan kedua metode MPASI, asalkan tetap mengikuti anjuran pemerintah.
Anda bisa menggunakan bahan-bahan lokal yang kaya gizi dan mudah didapatkan. Cara mengolahnya pun tidak memakan banyak waktu. Seperti menu MPASI dari ikan teri nasi yang gizinya lebih tinggi dari salmon, bayam, ubi-ubian, kacang-kacangan, tempe, tahu, dan sebagainya, lalu ditambah dengan aneka rempah yang berkhasiat.
Dampak Mengikuti Tren MPASI Negara Lain
Mengikuti tren pemberian MPASI dari negara lain boleh-boleh saja, asalkan tetap memenuhi pedoman dari IDAI dan Kemenkes RI. Pasalnya, Indonesia adalah negara yang kaya akan bahan pangan lokal penuh gizi yang bisa Anda manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan anak.
Melansir theAsianparent, mengikuti tren tanpa mengetahui kondisi anak akan berakibat buruk pada kesehatannya. Oleh karena itu, Anda sebagai orang tua perlu mempertimbangkan berdasarkan saran ahli.
Sebab, kebutuhan setiap orang di suatu negara bisa saja berbeda satu dengan lainnya. Ini tergantung lingkungan tempat tinggal dan bagaimana kebiasaan sekitar.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Mutia Winanda, M.Gizi, Sp.GK, menyarankan orang tua untuk menyesuaikan rekomendasi MPASI dari Kemenkes, yakni mulai 6 bulan-8 bulan dengan tekstur bubur kental, lalu makanan lembek atau cincang kasar di usia 9-11 bulan.
Masuk usia 12-23 bulan, anak boleh memakan makanan keluarga untuk mencukupi gizinya. Selain itu, penting untuk menambahkan sumber lemak dan memastikan protein hewani sesuai anjuran Kemenkes.
MPASI Jepang Pelengkap Kebutuhan Gizi Bayi
Intinya, MPASI Jepang boleh Anda terapkan di rumah asalkan tetap mempertimbangkan anjuran IDAI dan Kemenkes RI. Metode ini bukan sebagai pengganti, tetapi pelengkap cara lokal yang ada demi mencukupi kebutuhan nutrisi anak sejak awal perkembangannya.
Selain metode MPASI yang tepat, berikan pendidikan terbaik yang mendukung pertumbuhan si kecil di masa emasnya. Sparks Sports Academy adalah solusi terbaik yang bisa melatih stimulasi motorik tujuh inderanya secara holistik dengan metode belajar seru.
Di sana, anak akan mengenal lingkungan yang aman, suportif, dan bisa menumbuhkan kepercayaan diri melalui aktivitas fisik yang menyenangkan. Melalui kombinasi pembelajaran aktif dan lingkungan positif, Sparks Sports Academy menjadi mitra terpercaya dalam perjalanan tumbuh kembang si kecil.







