Melahirkan merupakan salah satu momen terbaik bagi seorang ibu. Namun, tantangan baru menanti di baliknya. Salah satu yang paling umum adalah masa postpartum atau periode setelah melahirkan, biasanya lebih umum dilabeli “masa nifas”. Ini adalah waktu transisi emosional yang intens.
Key Takeaways
- Postpartum adalah masa pemulihan fisik dan emosional ibu setelah melahirkan.
- Postpartum depression merupakan kondisi depresi yang dapat membuat ibu kehilangan kemampuan mengasuh anak sepenuhnya.
- Depresi pasca melahirkan dapat dihindari dengan menciptakan keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan peran sebagai ibu.
Pengertian Postpartum
Mengutip jurnal National Library of Medicine, postpartum adalah masa pemulihan fisik dan emosional ibu setelah melahirkan, bisa terjadi beberapa minggu hingga satu tahun. Pada periode tersebut, ibu mengalami perubahan fisik dan hormon yang signifikan, sehingga mempengaruhi energi dan suasana hati.
Selain tubuh yang lebih mudah lelah, ibu pasca melahirkan juga rentan mengalami perubahan suasana hati ekstrem (moodswing) hingga berisiko terkena Depresi Postpartum (DPP). Kemungkinan terakhir dapat berakibat fatal karena mengganggu kemampuan ibu dalam mengasuh bayi.
Gejala dan Faktor Risiko DPP
Masyarakat mungkin lebih familier dengan kondisi baby blues daripada DPP. Sebenarnya, baby blues termasuk dalam fase awal DPP.
Ketika tidak mendapatkan penanganan cepat, maka baby blues ibu bisa menjadi serius dan menjadi depresi pasca melahirkan. Supaya lebih tanggap dalam mewaspadai DPP, berikut adalah gejala-gejalanya yang wajib Anda ketahui.
- Perasaan sedih, putus asa, tidak berharga, atau bersalah yang terus-menerus.
- Kehilangan minat atau kesenangan pada hal-hal yang sebelumnya disukai (anhedonia).
- Perubahan nafsu makan atau pola tidur yang drastis (insomnia atau hipersomnia).
- Kecemasan berlebihan atau perasaan gelisah.
- Kurang tertarik atau cemas saat berada di dekat bayi.
- Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan menyakiti bayi.
Sejatinya, faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya DPP cukup banyak, selain baby blues yang tidak cepat mendapat penanganan. Rangkaian pemicu tersebut antara lain:
- Riwayat gangguan psikologis, misalnya gangguan bipolar atau kecemasan (anxiety), yang menjadi semakin parah setelah melahirkan.
- Kurangnya dukungan sosial dari orang-orang di sekitar, salah satunya tekanan dan ekspektasi yang besar dari lingkungan untuk menjadi ibu yang serba bisa.
- Komplikasi kehamilan yang membuat tubuh lebih lemah hingga kesulitan menyusui dan mengasuh bayi.
- Kesulitan finansial juga bisa memicu depresi ibu baru melahirkan yang secara emosional masih belum pulih.
Peran Krusial Dukungan Sosial dan Penanganan
Depresi pasca melahirkan tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Perawatannya jelas membutuhkan terapi profesional dan dukungan eksternal. Berikut ini penjelasannya.
- Konseling Individual: Sesi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu ibu mengatasi masalah emosional dan mental. Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif dalam menurunkan depresi pasca melahirkan.
- Dukungan Psikososial: Bergabung dengan komunitas yang terdiri dari ibu-ibu postpartum lainnya untuk berbagi pengalaman dan dukungan.
- Aktivitas Fisik: Menurut American Academy of Family Physicians, aktif bergerak dan berolahraga ringan, seperti berjalan kaki atau menari selama 20–30 menit sehari, dapat menurunkan hormon stres dan membangkitkan semangat.
- Memenuhi Nutrisi dan Gizi: Asupan makanan kaya zat besi, protein, dan vitamin membantu mempercepat regenerasi jaringan tubuh. Fisik yang lekas pulih turut memengaruhi stabilitas emosional ibu yang baru melahirkan.
- Mengonsumsi Obat-obatan: Dalam kasus yang lebih parah, obat-obatan tertentu akan diresepkan oleh psikiater yang menangani pasien DPP.
Pentingnya Menjaga Keseimbangan Mental dan Fisik di Masa Postpartum
Periode setelah melahirkan merupakan tantangan serius dalam menyeimbangkan antara kebutuhan pribadi dengan peran sebagai ibu. Ketika keseimbangan tersebut gagal tercapai, rentan memicu kondisi depresi akibat perubahan fisik dan emosional yang signifikan.
Anda bisa meraih stabilitas tersebut melalui beberapa cara sederhana berikut ini.
- Temukan waktu untuk diri sendiri (me time). Anda bisa melakukan hal-hal yang disukai seperti membaca buku atau menonton film. Tidak harus memakan waktu lama, cukup 2-3 jam saja.
- Mengonsumsi makanan bergizi yang memperlancar ASI, tapi juga Anda sukai, bukan semata-mata untuk kebutuhan nutrisi bayi.
- Lakukan aktivitas fisik atau olahraga ringan, contohnya yoga. Aktivitas ini membantu merangsang hormon endorfin (kebahagiaan), sehingga meminimalisir kemungkinan stres dan depresi.
- Mencapai kesepakatan dengan orang-orang sekitar untuk berbagi tugas dalam pengasuhan bayi agar Anda tidak kelelahan fisik maupun mental akibat mengurusnya seorang diri.
Pentingnya Periode Pasca Melahirkan yang Bahagia
Secara teknis, postpartum merupakan periode setelah melahirkan. Namun, ketidakseimbangan fisik dan emosional pada masa tersebut berpotensi memicu depresi yang berdampak pada kehilangan kemampuan pengasuhan. Padahal, sejatinya depresi dapat Anda cegah jika mampu menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan peran sebagai ibu baru.
Realita lain yang acap terlupakan adalah keseimbangan tersebut perlu tetap terjaga seterusnya, apalagi semasa menghadapi masa toddler yang lebih aktif. Bila Anda merasa kesulitan dalam mengatasi keaktifan buah hati seorang diri, Spark Sports Academy bisa menjadi wadah yang tepat.
Melalui berbagai kelas olahraga seperti sensory, gymnastic, balet, futsal, hingga taekwondo, energi anak-anak dapat tersalur secara positif sekaligus bakat terasah secara profesional. Anda bisa mendaftarkan mereka sejak usia 12 bulan dan membantu mewujudkan keseimbangan hidup yang ibu butuhkan.







