Selective mutism atau mutisme selektif berdasarkan Cleveland Clinic adalah kondisi kesehatan mental yang menyebabkan seseorang tidak dapat berbicara dalam situasi sosial tertentu karena takut atau cemas. Gangguan kecemasan ini berbeda dengan pemalu atau pendiam, karena mereka tetap bisa berbicara di lingkungan yang nyaman.
Key takeaways
- Selective mutism merupakan gangguan kecemasan di mana seseorang tidak mampu berbicara dengan orang asing atau orang di luar zona nyamannya.
- Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun, seringkali terjadi pada anak perempuan atau anak yang baru memasuki lingkungan baru.
- Penyebabnya karena adanya fobia sosial, faktor genetik, trauma buruk, dan gangguan pendengaran atau bicara.
- Penangannya berupa terapi perilaku kognitif, terapi wicara, teknik desentisisasi, obat-obatan, dan yang terpenting adalah dukungan dari orang-orang terdekat.
Tanda-tanda Selective Mutism
Selective mutism tergolong penyakit yang langka. Menurut laman NHS, penyakit ini hanya memengaruhi sekitar 1 dari 140 anak. Mayoritas dialami oleh anak-anak di usia 2 hingga 4 tahun. Sedangkan pada remaja dan orang dewasa sangat jarang terjadi, tapi masih mungkin.
Kondisi ini juga lebih sering terjadi pada anak perempuan dan anak-anak yang baru pindah rumah atau berada di lingkungan baru. Misalnya, saat mulai masuk taman kanak-kanak atau sekolah dasar.
Gejala gangguan mutisme selektif ini cukup beragam. Tanda utamanya yaitu anak tiba-tiba diam atau tidak bisa berbicara disertai ekspresi wajah yang kosong, terutama ketika berhadapan dengan orang asing. Beberapa tanda lain yang menunjukkan anak mengidap selective mutism adalah sebagai berikut.
- Gugup, gelisah, atau canggung.
- Kasar, mudah marah, atau mengamuk.
- Suka menyendiri atau bersembunyi.
- Menghindari kontak mata dengan orang lain.
- Malu, takut, dan menarik diri dari lingkungan.
- Kaku, tegang, atau kurang terkoordinasi.
- Keras kepala atau agresif.
- Bergumam, gagap, atau berbisik.
- Respons lambat, menggunakan satu kata atau kalimat yang sangat pendek.
- Menggunakan komunikasi non-verbal seperti tulisan atau gerakan isyarat (ekspresi wajah, menunjuk, menirukan, mengangguk, atau menggelengkan kepala).
Penyebab Selective Mutism
Para ahli tidak dapat menjelaskan sepenuhnya mengenai penyebab selective mutism. Namun, mereka menduga beberapa faktor berikut yang mendukung munculnya penyakit tersebut.
- Kondisi kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan sosial atau fobia sosial, autisme, kecemasan akan perpisahan, gangguan stres pasca trauma (post traumatic stress disorder/PTSD).
- Masalah psikologis yang tidak diobati.
- Masalah harga diri.
- Masalah dengan pemrosesan suara atau sensorik.
- Gangguan pendengaran.
- Masalah bicara atau bahasa, seperti gagap.
- Riwayat keluarga yang memiliki gangguan kecemasan.
- Hubungan keluarga yang buruk.
- Pengalaman traumatis atau riwayat kekerasan fisik atau verbal, emosional, dan seksual.
- Tidak diajak bersosialisasi sejak dini.
- Kepribadian yang sangat pemalu.
- Berimigrasi atau pindah ke tempat dengan bahasa utama yang berbeda.
Penanganan Selective Mutism
Selective mutism yang tidak segera ditangani dengan baik akan berdampak negatif pada kehidupan sosial penderita, seperti kesepian, kesulitan bersosialisasi, hingga prestasi akademis menurun. Berikut adalah beberapa cara penanganan yang umumnya disarankan oleh para ahli kesehatan mental.
- Terapi perilaku kognitif: Merupakan pilihan yang utama, dengan melibatkan orang yang membesarkannya. Terapi ini mampu mengurangi kecemasan, tantrum, dan perilaku mengganggu lainnya karena berfokus pada perubahan pola pikir negatif tentang diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.
- Teknik desentisisasi: Merupakan teknik percakapan yang dilakukan secara bertahap bersama orang yang tidak dikenal, dengan cara yang tidak menakutkan, hingga akhirnya dia merasa nyaman dan tidak tertekan.
- Terapi wicara: Apabila penyebab utamanya berupa gangguan bicara, lakukan terapi wicara yang melibatkan terapis dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Tujuannya untuk membantu anak meningkatkan komunikasi di berbagai situasi.
- Obat-obatan: Penanganan khusus jika terapi perilaku kognitif dan terapi wicara tidak efektif untuk menyembuhkan. Contoh obatnya adalah SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) atau obat antidepresan. Namun, khusus anak-anak, penggunaan obat ini perlu pengawasan ketat dari dokter ahli atau psikiater anak.
- Dukungan dari orang tua, keluarga, guru, atau orang-orang terdekat: Tujuannya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, tanpa adanya tekanan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Latih Kepercayaan Diri Anak di Spark Sports Academy
Selective mutism merupakan kondisi kecemasan kompleks yang membutuhkan pemahaman, bukan paksaan. Dengan konsistensi dan dukungan yang tepat dari orang terdekat, kemajuan signifikan sangat mungkin tercapai.
Untuk itu, sebagai orang tua, penting sekali untuk menciptakan lingkungan inklusif dan suportif bagi anak-anak. Tidak hanya di dalam rumah, tetapi suasana lingkungan di luar rumah seperti sekolah.
Anda juga dapat mengikutkan anak-anak ke Spark Sports Academy, yang mendukung anak-anak melatih kepercayaan diri dan keterampilan sosialnya. Sebab, Sparks Sports telah merancang setiap aktivitasnya untuk mendukung perkembangan holistik anak.
Keterampilan sosial emosional, kognitif, motorik, dan komunikasi bahasa dilatih melalui berbagai pilihan kelas olahraga yang tersedia sesuai usia dan minat anak. Seperti gymnastic, sensory and phonic, multisport, dance, ballet, taekwondo, basketball, dan futsal. Jadi, segera coba ikuti free trial class-nya di kota terdekat Anda!







