Beberapa orang tua pasti pernah mengalami situasi di mana anak tantrum di tempat ramai, menutup telinga, atau menangis tanpa sebab. Situasi ini bukan karena anak rewel, melainkan anak terlalu banyak menerima rangsangan sensori atau disebut sensory overload.
Menurut Ellen Braaten, PHD, sensory overload pada anak adalah ketika anak terlalu banyak menerima input sensorik seperti sentuhan, suara, rasa, dan pengelihatan. Memahami fenomena sangat penting agar orang tua lebih peka atau membantu anak merasa aman dan nyaman.
Penyebab Sensory Overload pada Anak
Fenomena ini terjadi ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan dari lingkungan dan tidak mampu memprosesnya dengan baik. Berikut adalah beberapa penyebabnya:
- Tempat yang terlalu ramai.
- Suara yang keras.
- Bau menyengat.
- Sentuhan yang membuat tidak nyaman.
- Kontak fisik yang tiba-tiba atau tidak diinginkan
- Perubahan secara derastis pada penerangan, suhu, atau suara.
- Situasi orang saat emosi.
Baca juga: 7 Cara Efektif Atasi Overstimulasi pada Anak agar Lebih Tenang
Gejala Sensory Overload pada Anak
Mom/Dad harus mengetahui gejala awal yang terjadi pada anak seperti:
- Menutup telinga, mata, atau wajahnya.
- Menghindari tempat-tempat tertentu.
- Menangis.
- Diam dan tidak merespon pertanyaan.
- Komplain mengenai pakaian atau tekstur tertentu.
Cara Mengatasi Sensory Overload pada Anak
Jika anak Mom/Dad mengalami sensory overload, Mom/Dad sebaiknya menenangkan anak dengan mengubah atau pindah ke lingkuangan yang tidak membuatnya stres. Mom/Dad bisa mengidentifikasi terlebih dahulu pemicunya. Dengan begitu, Mom/Dad bisa menghindari atau mempersiapkan situasi yang bisa memicu hal ini terjadi pada anak.
Sensory overload pada anak bukanlah tanda anak manja atau sulit diatur. Fenomena ini adalah respon alami anak ketika otaknya kewalahan menerima terlalu banyak rangsangan. Dengan memahami penyebab, gejala, dan cara mengatasinya, Mom/Dad bisa lebih peka terhadap kebutuhan anak.






