Anak usia dini umumnya memiliki energi melimpah dan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, pada beberapa kasus, beberapa anak justru memilih menyendiri, enggan bermain, atau tampak menarik diri dari lingkungan sekitar. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai social withdrawal.
Ini adalah kecenderungan seseorang untuk menjauh dari interaksi sosial dalam jangka waktu tertentu. Fenomena ini semakin banyak terlihat, terutama sejak pandemi yang membatasi aktivitas sosial anak. Lantas, bagaimana cara membantu si kecil bisa kembali percaya diri dan aktif bersosialisasi? Cari tahu di sini!
Key Takeways:
- Social withdrawal semakin banyak terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi yang membatasi aktivitas sosial anak.
- Anak-anak dengan kondisi ini biasanya akan lebih memilih berdiam di kamar atau tempat yang sepi ketimbang beraktivitas bersama teman-temannya.
- Kondisi ini bisa disebabkan oleh pola asuh orang tua yang overprotektif, pengalaman perundungan, hingga terlalu banyak screentime.
Apa Itu Social Withdrawal pada Anak?
Melansir ScienceDirect (2022), social withdrawal merupakan kondisi di mana seseorang secara aktif menjauh dari hubungan sosial, bahkan ketika ia sebenarnya membutuhkan kehadiran orang lain.Pada anak, kondisi ini terlihat saat mereka mulai menjauh dari interaksi sosial dan menunjukkan kecenderungan untuk menghabiskan waktu sendirian.
Anak biasanya akan lebih memilih berdiam di kamar atau tempat yang sepi ketimbang bermain atau beraktivitas bersama teman-temannya. Jika kondisi seperti ini dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa merembet pada perkembangan sosial anak, kemampuan berkomunikasi, serta menurunnya rasa percaya diri.
Kondisi ini umumnya tidak muncul tiba-tiba, dan ada akar emosional di baliknya, seperti rasa takut akan penolakan, pengalaman buruk, hingga tekanan dari lingkungan yang terlalu menuntut. Karena belum mampu mengungkapkan, satu-satunya cara bertahan adalah dengan menarik diri dari keramaian.
Penyebab Social Withdrawal pada Anak
Kondisi menarik diri bisa dipicu oleh banyak sekali faktor, baik internal maupun eksternal. Berikut beberapa penyebab umumnya.
1. Bullying atau Pengalaman Negatif
Melansir jurnal Annual Review of Psychology, menarik diri merujuk pada kondisi anak yang mengisolasi dirinya sendiri dari teman sebayanya. Pada umumnya, ini terjadi karena faktor internal, seperti rasa rendah diri, anxiety, dan kemampuan sosial yang rendah.
Namun, terdapat pula beberapa kasus di mana anak menarik diri karena mereka dikucilkan atau active isolation. Akhirnya, anak yang pernah diejek, dikucilkan, atau mengalami konflik dengan teman akan cenderung menciptakan jarak dengan lingkungan sosial. Mereka pun merasa bahwa dunia luar “tidak aman”.
2. Kurang Percaya Diri
Beberapa anak menarik diri karena merasa minder, takut salah, takut diejek, atau merasa tidak mampu bersosialisasi. Masalah kepercayaan diri ini sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi akan sangat memengaruhi perilaku sosial mereka.
3. Pola Asuh Terlalu Protektif
Anak yang dibesarkan dengan aturan ketat dan pengawasan berlebihan cenderung kesulitan membangun kemandirian sosial. Mereka bisa merasa canggung ketika harus berinteraksi tanpa kehadiran orang tua dan berakhir melakukan social withdrawal.
4. Terlalu Banyak Screen Time
Penggunaan gawai secara berlebihan dapat menggantikan aktivitas sosial anak. Semakin lama anak terpaku pada layar, semakin sedikit pula kesempatan mereka untuk berlatih bersosialisasi dan berinteraksi secara nyata.
5. Lingkungan yang Tidak Mendukung
Beberapa anak tumbuh di lingkungan yang minim interaksi sebaya. Di mana mereka tidak memiliki tempat aman untuk bermain atau tidak terbiasa berkomunikasi secara terbuka. Akibatnya, mereka merasa sosialisasi adalah hal yang asing.
6. Masalah Emosional atau Perubahan Besar
Perubahan juga dapat memicu sikap menarik diri. Misalnya pertengkaran keluarga, perubahan sekolah, pindah rumah, kehilangan orang terdekat, atau tekanan akademik. Hal tersebut dapat membuat anak memilih untuk menutup diri dari lingkungan.
Cara Mengatasi Social Withdrawal pada Anak
Kabar baiknya, sikap menarik diri bisa diatasi, terutama jika terdeteksi sejak dini. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan.
1. Jangan Paksa dan Bangun Komunikasi Hangat
Mengutip laman Siue, mendorong atau memaksa anak untuk bergabung dalam satu kelompok justru, terutama pada anak pemalu, dapat membuatnya tertekan, menangis, merasa direndahkan, atau memiliki dendam pada orang tua. Karena itu, biarkan mereka melakukannya secara perlahan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
Jika memang tidak mau, coba dengarkan dulu tanpa menghakimi. Tanyakan apa yang membuatnya takut atau tidak nyaman saat bersosialisasi. Anak yang mendapat dukungan dan merasa aman cenderung akan lebih mudah untuk kembali terbuka.
2. Ciptakan Kesempatan Interaksi Kecil dan Bertahap
Ajak anak berinteraksi dalam lingkungan kecil terlebih dahulu, seperti bermain dengan satu atau dua teman dekat. Jangan langsung memaksa masuk ke lingkungan besar atau mengenalkannya ke banyak orang agar ia tetap merasa nyaman.
3. Beri Pujian atas Usaha Kecilnya
Setiap langkah kecil seperti berani menyapa teman atau mau ikut bermain bersama adalah prestasi besar bagi anak yang sedang berjuang. Karena itu, orang tua wajib memberikan apresiasi dan pujian. Apresiasi juga dapat meningkatkan keberanian dan semangat mereka.
Sudah Tahu Cara Mengatasi Social Withdrawal pada Anak?
Peran orang dewasa, terutama orang tua, sangat penting dalam memahami perubahan terkecil sekalipun dalam perilaku anak. Jika sikap social withdrawal berlangsung lama hingga berminggu-minggu, Anda juga bisa mencari bantuan profesional sebelum terlambat.
Selain itu, Anda bisa mencari cara alternatif untuk mendukung perkembangan sosial dan mental anak secara positif di Spark Sports Academy. Bukan hanya sekadar tempat latihan olahraga, Spark Sports Academy menyediakan lingkungan yang aman dan suportif untuk membantu si kecil membangun kepercayaan diri.
Dengan metode coaching yang ramah, instruktur berpengalaman, serta aktivitas kelompok yang menyenangkan, anak dapat belajar berkembang secara sehat tanpa rasa tertekan. Ayo, book kelas trial untuk merasakan manfaatnya!







