Pengertian Strict Parents, Ciri, dan Dampaknya Bagi Anak

Strict Parents: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya Bagi Anak

Table of Contents

Strict parents sering muncul dari keinginan tulus orang tua untuk membimbing anak menjadi pribadi yang disiplin dan sukses. Namun, pola asuh dengan kontrol tinggi dan aturan kaku ini tidak selalu menghasilkan dampak positif. Pendekatan terlalu yang ketat justru dapat berdampak buruk pada perkembangan anak. Apa saja dampaknya?

Key Takeaways:

  • Strict parents dapat menurunkan kepercayaan diri dan meningkatkan kecemasan anak, sehingga menghambat perkembangan psikologisnya.
  • Pola asuh yang terlalu ketat membuat anak patuh karena takut, bukan karena memahami alasan aturan, sehingga berdampak pada hubungan orang tua dan anak.
  • Kontrol berlebihan dapat memicu perilaku memberontak atau suka menyembunyikan kesalahan karena merasa kejujuran tidak aman.

Apa Itu Strict Parents?

Strict parents atau orang tua otoriter adalah pola asuh di mana orang tua menempatkan aturan di posisi paling atas. Mereka membuat batasan yang tegas, sulit dinegosiasikan, dan mengatur hampir seluruh ruang gerak anak. Melansir PMC, pengalaman kana-kanak orang tua memiliki hubungan dengan teknik disiplin yang mereka lakukan. 

Artinya, pendekatan ini sering lahir dari pengalaman masa kecil dari orang tua sendiri. Misalnya, mereka tumbuh dalam keluarga keras, lalu menganggap cara itu paling aman diterapkan di generasi berikutnya. Gaya pengasuhan seperti ini pun menaruh aturan pada banyak hal, mulai dari perilaku, kegiatan, hingga cara anak mengekspresikan diri.

Jika anak tidak mengikuti ritme yang mereka tetapkan, hukuman akan langsung menunggu. Bentuknya bisa beragam, dari konsekuensi ringan sampai hukuman fisik. Tak heran bila anak sering merasa kehilangan ruang untuk mencoba, salah, lalu belajar dari kesalahannya.

Ciri-Ciri Strict Parents

Ciri-ciri orang tua otoriter biasanya terlihat dari cara mereka mengatur keseharian anak. Berikut beberapa tanda yang paling sering muncul.

  • Aturan yang Mengikat: Mereka mengatur banyak aspek kehidupan anak dan menuntut kepatuhan penuh. Setiap hal sudah ditentukan, dari cara anak duduk hingga bagaimana mereka harus bersikap di rumah.
  • Ekspektasi Tinggi: Orang tua tipe ini menaruh standar sangat tinggi, terutama pada prestasi dan perilaku. Alhasil, anak didorong terus tampil “sempurna”, tidak peduli bagaimana tekanan itu memengaruhi kondisi emosinya.
  • Menegur Keras Saat Anak Salah: Kesalahan kecil sering dibalas dengan kemarahan atau hukuman. Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa takut gagal karena tahu setiap kekeliruan bisa berujung pada konsekuensi berat.
  • Tidak Ada Ruang untuk Bicara: Anak jarang diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Sebab, orang tua menganggap suara anak tidak diperlukan dalam pengambilan keputusan.
  • Minim Apresiasi: Mereka jarang memberi apresiasi pada proses. Fokusnya hanya pada hasil akhir, sehingga usaha anak sering terabaikan.

Dampak Strict Parents bagi Anak

Pendekatan orang tua otoriter kerap dianggap mampu membentuk anak yang disiplin dan ambisius. Namun, tekanan berlebih dapat memberikan lebih banyak risiko daripada manfaat. Berikut ini dampaknya bagi anak.

1. Prestasi Akademis Menurun

Mengutip PsychCentral, di sejumlah budaya barat, gaya pengasuhan otoriter, permisif, maupun yang kurang terlibat sering berkaitan dengan rendahnya capaian akademis anak. Ini berbeda dengan pola pengasuhan yang lebih seimbang, yang biasanya berhubungan dengan performa belajar yang lebih baik.

Menariknya, ada situasi saat tuntutan nilai yang terlalu tinggi justru melemahkan usaha anak. Mereka merasa kerja keras tidak ada artinya bila hasilnya tetap dianggap kurang, sehingga motivasi mereka ikut menurun.

2. Kepuasan Hidup Lebih Rendah

Gaya pengasuhan yang terlalu keras sering membuat anak merasa hidupnya penuh dengan tekanan. Aturan yang ketat, sikap strict parent yang dominan, dan pengawasan yang berlebihan membuat anak sulit menikmati rutinitas harian. 

Ini sejalan dengan temuan dalam jurnal The power of authoritative parenting yang meneliti remaja berusia 14-29 tahun di sepuluh negara Eropa Tenggara. 

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa remaja yang tumbuh bersama orang tua otoriter memiliki tingkat kebahagiaan lebih rendah dan merasakan tekanan emosional lebih besar sejak kecil hingga dewasa.

3. Patuh karena Takut

Ketika orang tua menggunakan hukuman, kemarahan, atau intimidasi sebagai alat untuk mengatur perilaku, anak mengikuti aturan karena takut, bukan karena mengerti alasannya. Ketakutan ini berubah menjadi kecemasan yang akhirnya merusak hubungan mereka dengan orang tua. 

Anak-anak seperti ini biasanya tampak perfeksionis di sekolah, kesalahan kecil saja bisa membuat mereka sangat panik. Mereka selalu mencari persetujuan dan mudah goyah ketika merasa berbuat salah. Karena terlalu sibuk menghindari hukuman, mereka pun sulit berpikir kreatif atau membuat keputusan sendiri.

4. Munculnya Sifat Perlawanan

Pola pengasuhan yang terlalu menekan sering berakhir memunculkan reaksi sebaliknya. Anak yang merasa dikendalikan tanpa ruang untuk bersuara akan mencari cara untuk melawan. 

Kadang, bentuknya ekstrem, mulai dari berbohong, menyembunyikan kesalahan, hingga menunjukkan dua versi perilaku, patuh di rumah, namun berbeda di luar.

Bahkan sejak usia prasekolah, tanda-tanda ini sudah bisa terlihat. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa berkata jujur tidak aman, sehingga mereka mencari perlindungan melalui kebohongan.

Ayo, Hindari Jadi Strict Parents untuk Kebaikan Buah Hati!

Pola asuh orang tua otoriter mengingatkan kita bahwa disiplin perlu berjalan berdampingan dengan kehangatan dan komunikasi terbuka. Dengan keseimbangan tersebut, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan lebih bahagia. 

Jika orang tua ingin memberikan stimulasi positif yang mendukung perkembangan fisik, sosial, dan emosional anak, Spark Sports Academy adalah pilihan tepat. Melalui berbagai aktivitas, sensory play, dan kelas yang menarik, setiap programnya akan membangun rasa percaya diri sekaligus melatih keterampilan motorik dan sosial. 

Lingkungannya pun aman, suportif, dan dipandu pelatih profesional yang memahami kebutuhan tumbuh kembang anak. Tertarik? Anda bisa Book Free Trial sekarang di Spark Sports Academy!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%