Ketika melihat anak Anda mudah tersinggung atau cepat marah, jangan langsung menghakimi mereka nakal. Sebab, sifat tempramental pada anak bisa muncul dari berbagai faktor. Namun, respon yang sulit diprediksi ini mungkin memang akan membuat Anda kebingungan. Agar tidak salah langkah, mari memahami penyebabnya!
Key Takeaways:
- Sifat tempramental pada anak dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan, termasuk cara orang tua berinteraksi dengan anak.
- Pola asuh yang keras atau kurang hangat dapat memperkuat perilaku temperamental, sedangkan hubungan emosional yang aman membantu anak lebih stabil secara emosi.
- Anak yang temperamental membutuhkan pendekatan yang sabar dan konsisten agar mereka dapat belajar mengatur emosi dengan baik.
Penyebab Tempramental pada Anak
Melansir About Kids Health, sekitar 10% bayi dan anak-anak memiliki temperamen yang sulit, termasuk memiliki reaksi intens dan mood negatif. Lantas, apa penyebabnya? Berikut merupakan beberapa faktor yang membuat si kecil memiliki sifat temperamental.
1. Pola Asuh yang Kurang Hangat
Micalizzi di Frontiers menyebutkan bahwa hubungan antara temperamen anak dan cara orang tua mendidik memengaruhi satu sama lain. Anak dengan temperamen sulit dapat memicu pola asuh negatif, sementara pola asuh yang keras bisa memperburuk sifat tempramental pada si kecil.
Ketika anak merasa tidak diterima atau sering disalahkan, mereka belajar merespons dunia dengan cara yang defensif dan penuh emosi. Kondisi ini bisa menciptakan siklus yang berulang.
Misalnya, anak menjadi lebih sulit diatur, lalu orang tua merespons dengan lebih tegas atau marah, hingga akhirnya hubungan emosional di antara keduanya semakin renggang. Dalam jangka panjang, pola seperti ini akan membuat anak tumbuh dengan kontrol emosi yang lemah.
2. Faktor Genetik
Mengutip laman Tentang Anak, faktor genetik menyumbang sekitar 20-60% dalam pembentukan temperamen seorang anak. Ini tertuang dalam studi tentang tempramental pada anak yang melibatkan 313 pasangan anak kembar (baik identik maupun fraternal) .
Hasil studi menyebutkan bahwa sifat temperamental cenderung serupa antara anak kembar identik meskipun mereka tumbuh di lingkungan berbeda. Namun, pengaruh gen tidak berdiri sendiri. Lingkungan, termasuk cara orang tua merespons anak, bisa memperkuat atau meredam karakter dasar tersebut.
3. Indikasi Gangguan Perkembangan
Kadang, sifat tempramental bisa menjadi tanda adanya kondisi psikologis tertentu, seperti ADHD, spektrum autisme, atau gangguan emosi. Anak yang sulit mengatur perasaan dan sering meledak-ledak pun perlu mendapat perhatian khusus.
Jika pola tersebut terjadi terus-menerus, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter tumbuh kembang. Tujuannya untuk memastikan apakah ada faktor medis atau neurologis yang ikut berperan.
4. Stres Orang Tua
Berdasarkan Frontiers, stres pada orang tua juga bisa memperburuk perilaku anak. Ini terjadi karena tekanan emosional yang tidak tertangani membuat orang tua lebih reaktif, dan pada akhirnya memperkuat sifat temperamental anak mereka.
Cara Menghadapi Anak Tempramental
Menghadapi anak yang temperamental memang tidak mudah. Namun, sifat tempramental bukan sesuatu yang tidak bisa Anda arahkan. Bagaimana caranya? Simak di sini!
1. Tenangkan Diri Sebelum Merespons
Ketika anak meluapkan emosi, usahakan Anda tidak ikut terseret suasana. Anda bisa coba tarik napas dalam-dalam, beri waktu sejenak, lalu dekati mereka dengan nada suara tenang dan lembut. Anak pun akan belajar dari cara Anda bereaksi. Jika Anda bisa tenang, emosi mereka pun cenderung lebih cepat reda.
Anda juga dapat gunakan momen tersebut untuk menanyakan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan memahami mengapa sifat tempramental pada anak muncul. Terkadang anak marah bukan karena hal besar, tapi karena merasa tidak dimengerti.
2. Hindari Membandingkan Anak
Membandingkan satu anak dengan yang lain hanya akan menambah tekanan emosional dan menurunkan rasa percaya diri mereka. Ingat! Setiap anak itu unik. Ketika anak merasa diterima apa adanya, mereka akan lebih terbuka terhadap bimbingan dan belajar mengelola emosinya dengan lebih sehat.
3. Bangun Kedekatan Emosional
Kedekatan antara anak dan orang tua punya pengaruh besar terhadap perilaku anak yang temperamental. Anak dengan hubungan emosional yang aman biasanya lebih mudah mengontrol amarahnya. Karena itu, coba luangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka, tunjukkan empati, dan beri validasi pada perasaan mereka.
Menurut studi Child’s Difficult Temperament and Mothers’ Parenting Styles, anak yang memiliki tingkat emosi negatif tinggi sering berhadapan dengan ibu yang menggunakan kontrol psikologis lebih ketat.
Namun, ketika ibu merasa lebih tenang dan sejahtera secara emosional, pendekatan terhadap anak pun menjadi lebih hangat. Artinya, kesejahteraan emosional orang tua juga berperan penting dalam menenangkan sifat tempramental pada anak.
4. Ajarkan Cara Menyampaikan Emosi
Bimbing anak untuk mengekspresikan rasa marah atau kecewanya dengan kata-kata, bukan tindakan. Misalnya, ajak mereka mengatakan, “Aku kesal karena mainanku rusak,” daripada berteriak atau membanting barang.
Dengan latihan terus-menerus, anak akan belajar bahwa emosi boleh muncul, tapi harus disampaikan dengan cara yang aman.
5. Terapkan Konsistensi dalam Pola Asuh
Anak butuh kejelasan dan rutinitas. Ketika aturan di rumah berubah-ubah, mereka akan mudah bingung dan frustasi. Karena itu, diskusikan bersama pasangan agar cara mendidik anak sejalan. Ketika Anda dan pasangan menunjukkan kesatuan sikap, anak akan merasa lebih aman dan tahu batasan mana yang harus dirinya jaga.
Sudah Memahami Cara Mengatasi Tempramental pada Anak?
Merawat anak dengan sifat tempramental membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, adanya dukungan lingkungan positif akan membuat anak berkembang, baik secara sosial maupun emosional.
Spark Sports Academy pun hadir untuk membantu proses ini melalui kegiatan yang menstimulasi tujuh indra anak dan memperkuat keterampilan sosial-emosional mereka. Anak dapat belajar berkomunikasi, bersosialisasi, dan menyalurkan energi lewat aktivitas seperti gymnastic, multisport, hingga dance.
Program tersebut bisa membuat anak tumbuh percaya diri, seimbang, dan bahagia. Mari belajar dan tumbuh bersama karena setiap langkah menuju emosi yang stabil berawal dari lingkungan yang tepat di Spark Sports Academy.







