-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Toilet training anak merupakan salah satu proses pembelajaran agar anak dapat Buang Air Kecil (BAK) dan Buang Air Besar (BAB) sendiri di toilet. Harapannya anak sudah tidak BAK dan BAB di popok mereka.
Namun kapan lebih tepatnya anak mendapatkan pelajaran toilet training tersebut? Lalu bagaimana tips untuk toilet training anak? Dalam artikel ini kami akan membahasnya.
Kapan Anak Siap Toilet Training?
Toilet training anak bisa Anda lakukan ketika anak sudah memenuhi beberapa syarat berikut, yakni:
1. Usia 18 Bulan ke Atas
Biasanya toilet training anak bisa dimulai ketika usianya sudah 18 bulan atau 1,5 tahun. Anak mulai peka karena mereka sudah bisa lebih mudah melakukan kontrol pada sistem saraf.
Termasuk mengontrol rasa ingin buang air kecil dan besar. Apabila Anda memberikan anak banyak kesempatan untuk memakaikan pakaian dalam alih-alih popok, anak bisa sadar fungsi tubuh mereka
Walaupun kesiapan training toilet anak bisa terlihat pada usia 18 bulan, Anda tidak perlu khawatir jika anak belum merasa tertarik di usia tersebut. Karena ada juga anak yang baru toilet training pada usia 3 tahun. Jadi, pelan-pelan saja.
2. Sudah Bisa Duduk Sendiri dan Mengenali Rasa Ingin Buang Air Besar
Sebelum melakukan toilet training anak pastikan anak sudah bisa duduk sendiri. Ini berkaitan dengan cara penggunaan toilet juga. Kemudian perhatikan apakah anak sudah bisa mengenali rasa ingin buang kecil.
Anak mungkin akan mengatakan rasa ingin buang airnya kepada orang tua. Walaupun ia sudah memakai popok. Selain itu, ada gerakan seperti menahan pipis.
3. Popok Tetap Kering Selama Beberapa Jam
Tanda siap toilet training anak lainnya adalah popok yang tetap kering ketika anak bangun tidur atau setelah mengganti popok 2 jam atau lebih dari itu.
Anak yang berusia di atas 18 bulan sudah mampu mengontrol kandung kemihnya. Kontrol itu dibantu oleh otot-otot.
4. Menunjukan Ketidaknyamanan saat Popok Basah atau Kotor
Anak yang mulai merasa tidak nyaman saat popoknya basah atau kotor biasanya lebih mudah dilatih karena mereka mulai menyadari perbedaan antara kondisi kering dan basah.
5. Bisa memberi Tanda kalau Ingin Buang Air
Ketika anak sudah bisa memberitahu orang tua ketika ingin buang air, ini adalah tanda bahwa anak siap untuk menjalani toilet training karena sudah bisa berkomunikasi dengan baik.
Langkah Efektif Melakukan Toilet Training pada Anak
Ada beberapa strategi untuk menerapkan toilet training anak. Berikut beberapa di antaranya:
1. Gunakan Jadwal Rutin ke Toilet
Anak yang sudah siap toilet training, sudah punya pola buang air sendiri. Oleh karena itu, orang tua bisa melihat pola tersebut. Dengan memperhatikan pola, orang tua bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengajak anak ke toilet.
Orang tua juga bisa menerapkan strategi seperti buang air setelah bangun tidur. Menerapkan rutinitas tersebut akan membuat anak terbiasa dan akhirnya memilih pergi ke toilet untuk buang air.
Anda bisa memulainya sekali sehari dan dilakukan pada jam yang sama. Ajaklah duduk selama 3-5 menit.
2. Beri Pujian Saat Anak Berhasil
Memberikan pujian atas apa yang dilakukan menjadi penting agar anak menjadi lebih percaya diri. Siapkan pujian untuk setiap sesi toilet training anak.
Selain itu, dengan memberikan pujian untuk anak dapat membuatnya lebih termotivasi, anak tidak merasa stres, hubungan orang tua dengan anak menjadi lebih erat, dan dapat membentuk karakter anak menjadi lebih positif.
3. Hindari Marah Saat Anak Mengalami Kecelakaan Kecil
Ketika ada situasi anak akhirnya mengompol, jangan dihukum dan memarahinya, ya. Karena menurut studi, jika anak mengompol dimarahi akan membuat keadaan menjadi runyam.
Anak jadi lebih sering ngompol, depresi, bahkan kualitas hidup anak jadi rendah. Proses toilet training anak itu membutuhkan kesabaran. Pastikan Anda selalu mengawasi anak selama toilet training agar tidak terpeleset.
4. Gunakan Istilah yang Mudah Dipahami
Orang tua bisa menggunakan istilah seperti “pipis” atau “buang air” yang mudah dimengerti anak. Ini akan memudahkan anak untuk mengkomunikasikan kebutuhan mereka.
5. Memberikan Contoh
Agar anak bisa menggunakan toilet, berikan contoh kepadanya bagaimana cara menggunakan toilet. Seperti contoh, ketika orang tua ingin buang air, ajak anak ke toilet, kemudian duduklah ditoilet dan jelaskan apa yang sedang dilakukan.
Tahap selanjutnya adalah mengenalkan penggunaan pispot khusus anak. Orang tua bisa meletakkan pispot tersebut di kamar mandi dan ajari ia untuk menggunakannya selayaknya orang tua duduk di toilet.
Penyebab Toilet Training Selalu Gagal
Pada usia tertentu, anak akan menunjukan keterterikan untuk buang air di toilet, namun tidak semua anak bisa langsung berhasil melakukannya. Berikut adalah penyebab anak gagal dalam toilet training:
1. Anak Belum Siap Secara Fisik atau Emosional
Penyebab paling umum anak gagal toilet training adalah anak belum siap. Jika anak belum bisa duduk dan berdiri sendiri, frekuensi buang air belum teratur, belum menunjukan ketertarikan terhadap toilet, dan belum bisa mengkomunikasikan keinginan buang air, itu adalah tanda anak masih membutuhkan waktu untuk mencapai kesiapan tersebut.
2. Terlalu Dipaksa
Orang tua pastinya ingin segera melepas popok pada anaknya. Namun, hal ini biasanya terlalu memaksa yang justru membuat anak merasa tertekan dan cemas. Paksaan ini akan menghambat proses belaja, bahkan menimbulkan penolakan terhadap toilet training itu sendiri.
3. Orang Tua Kurang Terlibat
Toilet training harus dilakukan orang tua dengan sungguh-sungguh. Jika orang tua tidak terlibat dan malah mengandalkan pengasuh, anak akan merasa binging, tidak konsisten, atau justru kehilangan semangat.
4. Mengalami Pengalaman Tidak Menyenangkan di Toilet
Beberapa anak memiliki pengalaman kurang menyenangkan di toilet. Seperti contoh, saat buang air, anak merasa kesakitan atau malah terjatuh saat duduk di toilet dewasa. Pengalaman ini menimbulkan ketakutan bagi anak.
5. Kurang Konsisten dalam Rutinitas
Toilet training membutuhkan konsistensi agar anak bisa mandiri buang air. Jika orang tua belum memiliki jadwal atau aturan yang jelas, maka anak akan bingung dan menghambat proses belajar.
6. Orang Tua Tidak Tega Mendisiplinkan Anak
Toilet training perlu aturan yang jelas, tapi kebanyakan orang tua tidak tega kalau anaknya dipaksa, apalagi saat anak menangis menolak toilet. Padahal, disiplin dan konsisten bisa membuat toilet training berjalan dengan lancar.
7. Terdapat Masalah Kesehatan
Jika toilet training sudah dilakukan dengan sabar dan konsisten tapi tetap gagal, orang tua harus mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan kesehatan pada anak. Infeksi saluran kemih, sembelit, atau gangguan perkembangan tertentu bisa jadi penyebabnya. Konsultasikan ke dokter anak atau psikolog untuk bisa mengatasinya dengan langkah yang tepat.
Training toilet anak bisa menjadi proses yang menantang. Misalnya, hari ini anak mau mengikuti jadwal, besok bisa beda lagi. Jadi butuh kesabaran dan kerja sama dengan pasangan.
Temukan berbagai tips parenting dan aktivitas stimulasi untuk anak di Sparks Sports Academy. Belajar tumbuh kembang anak kini menjadi lebih mudah dan menyenangkan.







