Anak dengan karakter bahagia, percaya diri, tangguh, dan sukses adalah impian banyak orang tua. Jika Anda salah satunya, adapun cara yang menentukan hasil tersebut adalah pola pengasuhan yang tepat. Authoritative parenting atau pola asuh otoritatif menjadi jawaban atas keinginan tersebut.
Metode pengasuhan ini bukanlah cara menjadi orang tua otoriter dan anak wajib patuh. Cara pendekatan otoritatif yang dimaksud merupakan cara orang tua untuk menjadi pemimpin yang bijaksana bagi anak, tegas dalam aturan tetapi hangat dalam hubungan. Apakah hal seperti itu memungkinkan?
Key Takeaways
- Authoritative parenting merupakan pola asuh dengan tuntutan dan responsivitas yang sama tinggi.
- Pada penerapannya, orang tua bersikap tegas tapi tetap hangat dan mempertimbangkan perspektif anak.
- Anak dengan pola asuh otoritatif menunjukkan pencapaian akademik tinggi dan memiliki keberanian serta kepercayaan diri yang unggul.
Memahami Spektrum Authoritative Parenting
Untuk memahami alasan mengapa model pengasuhan otoritatif begitu kuat, Anda harus mengetahui sejarahnya terlebih dulu. Pada tahun 1960-an, seorang psikolog bernama Diana Baumrind mengidentifikasi empat gaya pengasuhan utama berdasarkan dua sumbu, yaitu:
- Tuntutan (Demandingness): Keterlibatan orang tua dalam menetapkan aturan, ekspektasi, dan pengawasan.
- Responsivitas (Responsiveness): Kepekaan orang tua terhadap kebutuhan emosional anak, memberikan kehangatan, dan mendengarkan.
Melalui dua sumbu tersebut, kemudian lahirlah empat gaya pengasuhan berbeda berikut ini.
- Otoriter (Authoritarian): Tuntutan tinggi dengan responsivitas rendah. Anak wajib menurut dengan perkataan dan perintah orang tua, tanpa boleh membantah.
- Permisif (Permissive): Kebalikan dari otoriter, di mana tuntunannya rendah tapi responsivitasnya tinggi. Metode ini memberikan izin pada anak melakukan segala sesuatu asal hati mereka senang.
- Abai (Neglectful): Tuntutan maupun responsivitasnya rendah karena orang tua sama sekali tidak terlibat dalam setiap pengambilan keputusan anak, bahkan sekadar bertukar pikiran pun tidak.
- Otoritatif (Authoritative): Tuntutan maupun responsivitas sama-sama tinggi. Orang tua terlibat aktif dalam kehidupan anak, tapi terbuka untuk bertukar pikiran dalam segala hal.
Orang tua otoritatif berekspektasi tinggi sebagaimana orang tua otoriter, tapi tidak memaksa anak untuk patuh. Sebaliknya, mereka menyampaikan pikiran dengan lembut, membangun komunikasi dua arah dengan anak, dan memberikan rasa hormat terhadap pemikiran anak. Mereka tidak menuntut kepatuhan yang mutlak.
Baca: Langkah Efektif Menerapkan Digital Parenting di Rumah
Ciri Khas Orang Tua Otoritatif
Sayangnya, meskipun berbeda dengan pola asuh otoriter, tapi masih banyak yang kesulitan mengidentifikasi metode authoritative parenting. Berikut adalah beberapa pilar utama yang menjadi ciri khas orang tua otoritatif.
- Aturan yang Jelas dan Konsisten: Anak-anak merasa aman ketika mereka tahu batasannya. Orang tua otoritatif menetapkan aturan yang masuk akal dan menerapkannya secara konsisten.
- Komunikasi Dua Arah (Validasi Emosi): Ketika anak melanggar aturan, orang tua otoritatif tidak langsung menghukum. Mereka menanyakan pemicu, mendengarkan perspektif anak, dan memvalidasi emosi mereka sebelum kemudian memberi keputusan.
- Fokus pada Konsekuensi Logis, Bukan Hukuman: Pola asuh otoritatif menekankan tanggung jawab anak sebagai individu atas tindakan mereka. Contohnya, jika anak menolak membereskan mainannya, konsekuensinya adalah mainan disimpan sementara waktu. Tidak perlu membentak atau memukul.
- Mendorong Otonomi dan Kemandirian: Orang tua memberi anak pilihan sesuai dengan usianya, membiarkan mereka membuat kesalahan atau menghadapi kegagalan kecil agar dapat belajar dari peristiwa tersebut. Ini sangat efektif dalam membangun kepercayaan diri anak.
Baca: Mengapa Anak Gen-Alpha Cenderung Kurang Kuat Fisiknya?
Manfaat Pola Asuh Otoritatif
Mengutip dari The SUMMIT Counseling Center, metode authoritative parenting menciptakan anak-anak dengan keunggulan signifikan dalam hampir setiap aspek kehidupan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Prestasi Akademik yang Lebih Tinggi
Orang tua otoritatif cenderung terlibat dalam pendidikan anak dengan cara yang sehat. Mereka tidak mengerjakan PR untuk anak, tetapi menyediakan lingkungan yang mendukung dengan menanyakan yang sedang anak pelajari dan menanamkan nilai kerja keras.
Keterlibatan orang tua yang suportif, sebagai ciri khas pola asuh otoritatif, menjadi faktor kuat dalam keberhasilan akademik anak, bahkan daripada faktor sosial ekonomi. Anak-anak jadi mengembangkan motivasi internal dan disiplin diri karena memahami nilai dari usaha, bukan sekadar menghindari hukuman.
2. Kesehatan Emosional dan Mental yang Lebih Baik
Inilah salah satu manfaat terbesar. Karena orang tua otoritatif mendengarkan dan memvalidasi emosi, anak belajar cara mengidentifikasi, mengekspresikan, dan mengatur perasaan mereka sendiri atau regulasi emosi. Ini menjadi faktor pelindung terhadap kesehatan mental mereka.
3. Kompetensi Sosial dan Resiliensi
Anak-anak dari pola asuh otoritatif cenderung lebih populer di kalangan teman sebaya, lebih empatik, dan memiliki keterampilan sosial yang lebih baik. Alasannya adalah karena anak telah belajar negosiasi, kompromi, dan penghormatan melalui interaksi harian mereka dengan orang tua.
Ketika dihadapkan pada tantangan atau kegagalan, produk authoritative parenting juga lebih tangguh. Anak akan menerima kritik membangun sebagai bahan evaluasi dan tidak menerima pujian kosong, apalagi takut terhadap kegagalan. Mereka akan tumbuh menjadi berani mengeksplor dan selalu berusaha memperbaiki diri.
Baca: Apa Hubungan Olahraga dengan Kesehatan Mental Anak?
Membangun Karakter Anak Melalui Pola Asuh Otoritatif
Membangun disiplin, resiliensi, dan kecerdasan emosional menjadi inti dari metode authoritative parenting. Orang tua tidak sekadar memberikan tuntutan, tapi melibatkan anak dalam menentukan keputusan. Hal ini akan membentuk rasa tanggung jawab sekaligus keberanian dan kepercayaan diri anak.
Namun, pola asuh tidak hanya tentang hubungan orang tua dan anak di rumah. Anda sebagai orang tua juga perlu menerapkannya di lingkungan sekitar, termasuk sekolah dan aktivitas eksternal seperti kelas olahraga.







