Parenting VOC: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya terhadap Anak

Parenting VOC: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya terhadap Anak

Table of Contents

Dalam membesarkan anak, orang tua pasti menerapkan gaya atau pola pengasuhan yang memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Nah, belakangan ini, parenting VOC merupakan konsep pola asuh yang sedang jadi bahan perbincangan di media sosial.

Penasaran apa maksudnya dan apa dampak penerapannya bagi anak? Artikel ini akan membahasnya untuk Anda.

Key Takeaways

  • Parenting VOC adalah gaya pengasuhan anak yang berfokus pada kontrol penuh orang tua dan menekankan aturan ketat.
  • Anak dengan pola asuh otoriter cenderung mengalami risiko psikologis seperti gangguan kecemasan, kemampuan sosial terhambat, dan rendahnya kepercayaan diri.
  • Dengan pola asuh ini, orang tua memiliki kontrol penuh terhadap anak. Sehingga, peran anak cenderung minim, baik itu dalam berpendapat atau pengambilan keputusan.

Apa Itu Parenting VOC?

Istilah parenting VOC sedang menjadi bahan perbincangan sejak pertama kali dipopulerkan oleh seorang konten kreator bernama Jenni Lim atau Mamak Melvin. Ini adalah jenis pola asuh yang menerapkan kedisiplinan dan cenderung otoriter.

Kata “VOC” sendiri berasal dari Vereenigde Oostindische Compagnie, perusahaan dagang yang didirikan oleh Belanda di masa penjajahan Indonesia. VOC terkenal sebagai perusahaan dagang yang kejam.

VOC juga tidak segan memerintah, mengarahkan, hingga bahkan membentak rakyat untuk memperoleh keuntungan dagang secara maksimal. Nah, istilah pola asuh VOC terinspirasi dari sifat tersebut, di mana orang tua akan bersikap tegas dan otoriter dalam mendidik anak.

Baca: Sharenting dan Dampaknya bagi Privasi Anak di Era Media Sosial

Ciri-ciri Parenting VOC

Terdapat beberapa ciri yang mengindikasikan bahwa orang tua menerapkan pola asuh VOC dalam mendidik anaknya. Berikut adalah ciri-ciri tersebut.

  • Aturan kaku dan tidak bisa negosiasi: Orang tua menetapkan aturan secara tetap, sementara anak wajib patuh terhadap aturan tersebut tanpa memiliki kesempatan untuk berdiskusi.
  • Komunikasi satu arah: Anak tidak mendapatkan kesempatan untuk berpendapat atau mengutarakan perasaannya, karena semua keputusan mutlak di tangan orang tua.
  • Menekankan kepatuhan: Fokus utamanya adalah untuk membuat anak disiplin, patuh, dan tidak membantah orang tua dalam kondisi apa pun.
  • Menerapkan hukuman: Pendekatan pola asuh ini melibatkan hukuman verbal atau fisik ketika anak tidak taat terhadap aturan.
  • Minim dukungan emosional: Orang tua jarang memberi validasi emosi, pelukan, atau dukungan psikologis karena lebih berfokus pada hasil berupa kedisiplinan, kepatuhan, dan ketertiban.
  • Menanamkan rasa takut ketimbang hormat: Anak sering takut dengan orang tuanya, bukan karena rasa hormat, melainkan takut dimarahi atau dihukum.
  • Menuntut anak untuk bisa tanggung jawab dan mandiri sejak kecil: Anak mendapat paksaan untuk selalu kuat menghadapi kesulitan, tahan banting, dan tidak cengeng.
  • Menuntut hasil dan prestasi: Orang tua sangat fokus terhadap pencapaian anak di sekolah atau bidang tertentu, serta mengabaikan proses dan kondisi emosional anak.

Baca: Authoritative Parenting: Spektrum, Ciri Khas, dan Manfaatnya

Dampak Penerapan Parenting VOC

Meskipun banyak mendapat kritikan, hingga sekarang masih banyak orang tua yang menerapkan pola asuh ini karena memberi efek positif sesuai yang diharapkan, khususnya untuk jangka pendek. Beberapa dampak positifnya adalah sebelah berikut.

  • Anak lebih tangguh, tidak mudah menyerah, dan kuat dalam menghadapi tekanan.
  • Anak akan menghormati fitur seperti orang tua, guru, atau pemimpin karena sudah terbiasa hidup berdasarkan struktur yang jelas.
  • Karena tuntutan untuk bertanggung jawab dan tidak banyak mengeluh, anak dapat belajar agar mandiri sejak dini.
  • Anak terbiasa mengikuti aturan secara ketat dan mematuhi instruksi tanpa harus membantah.

Baca: Langkah Efektif Menerapkan Digital Parenting di Rumah

Dampak Negatif Parenting VOC

Akan tetapi, pola asuh VOC juga memberi dampak negatif. Hal ini yang menjadi pertimbangan para orang tua sebelum menerapkan pola asuh tersebut.

  • Kesulitan mengekspresikan emosi: Anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaannya harus ditekan. Kondisi ini akan menyebabkan masalah kesehatan mental terhadap anak.
  • Rendahnya kepercayaan diri: Anak menjadi takut mengutarakan pendapatnya dan merasa tidak bisa mengambil keputusan karena sudah terbiasa dikontrol oleh orang tua.
  • Cemas dan stres berlebihan: Tekanan agar selalu berbuat benar dan takut salah bisa menyebabkan anak mudah mengalami stres, bahkan sejak masih usia dini.
  • Berisiko memberontak dan mengalami trauma: Beberapa anak mungkin akan memberontak ketika dewasa atau mengalami trauma karena tumbuh dan besar dengan kekerasan fisik atau verbal.
  • Hubungan orang tua dan anak tidak dekat: Pola asuh seperti ini cenderung menciptakan gap atau jarak emosional, sehingga membuat anak cenderung tertutup dengan orang tua ketika mengalami masalah.

Sudah Paham tentang Parenting VOC?

Jadi, parenting VOC adalah jenis pola asuh yang menekankan kepatuhan secara mutlak dan bahkan pemberian hukuman ketika anak melanggar aturan. Pola asuh ini tetap diterapkan hingga sekarang meskipun tidak sedikit yang mengkritiknya.

Bagi Anda yang ingin anak tumbuh dan berkembang secara optimal lewat stimulasi sensorik dan aktivitas fisik, Spark Sports Academy adalah solusinya. Di sini, anak Anda akan belajar dan tumbuh bersama melalui berbagai aktivitas seru dan positif.

Spark Sports Academy akan mengasah komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan keterampilan sosial buah hati Anda. Sebuah investasi terbaik untuk masa depan anak.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%