Meskipun lebih sering terjadi pada orang dewasa, tidak sedikit juga anak tidur ngorok yang dapat muncul karena banyak faktor. Sebagian bersifat sementara, namun bila berlangsung terus-menerus, bisa menandakan gangguan napas saat tidur. Lantas, apa saja penyebab dan apa yang harus Anda lakukan untuk mengatasinya?
Key Takeaways:
- Dengkur yang sering muncul dapat menandakan sumbatan saluran napas akibat amandel-adenoid membesar, alergi, atau septum deviasi.
- Anak dengan obesitas dan asma memiliki risiko lebih tinggi mengalami dengkuran dan gangguan napas saat tidur.
- Pola tidur gelisah, mudah lelah, dan napas terhenti dapat mengarah pada OSAS yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
Penyebab Anak Tidur Ngorok
Adapun penyebab dari anak mendengkur saat tidur adalah sebagai berikut.
1. Pembesaran Amandel dan Adenoid
Ketika anak mendengkur, pembesaran amandel dan adenoid bisa jadi penyebabnya. Kedua jaringan ini berada di belakang mulut dan area atas belakang hidung, bekerja sebagai garda pertama tubuh saat menghadapi infeksi. Ketika ukurannya membesar, aliran udara menjadi sempit dan getaran jaringan meningkat.
Kondisi ini sering berujung pada operasi pengangkatan amandel dan adenoid, terutama bila keluhan mendengkur terus muncul dan mengganggu tidur. IDAI juga menjelaskan bahwa pembesaran tonsil dan adenoid adalah faktor risiko utama OSAS pada anak.
OSAS terjadi ketika saluran napas bagian atas tersumbat sehingga napas berhenti atau melemah berulang kali selama tidur. Anak dengan AHI > 5 sendiri dikategorikan mengalami OSAS.
2. Sumbatan Saluran Napas Atas
Ketika flu, pilek, atau alergi datang, hidung anak lebih mudah tersumbat. Mereka pun cenderung akan bernapas lewat mulut, situasi ini akhirnya membuat suara dengkuran muncul.
Pada kasus anak tidur ngorok satu ini, secara umum fasenya hanya bersifat sementara. Namun, bila keluhan sering berulang, Anda perlu memeriksakan kondisi alergi atau sinusitis yang mungkin menahannya.
3. Obesitas
Bobot tubuh yang berlebih akan menambah jaringan lemak di sekitar leher. Jalan napas menjadi sempit dan anak lebih sering mengeluarkan suara dengkuran saat tidur. Studi menyebutkan bahwa anak obesitas memiliki risiko lebih besar mengalami OSAS, dan pada rentang usia 10-12 tahun, angka kejadiannya dapat mencapai 38,2%.Â
4. Kelainan Tulang Hidung (Septum Deviasi)
Anak dengan septum deviasi atau tulang pemisah lubang hidung yang bengkok, lebih sulit mendapatkan aliran udara yang lapang. Karena udara tidak mengalir dengan baik melalui hidung, mereka akan mengalihkan pernapasan lewat mulut.
Ini membuat suara anak tidur ngorok semakin jelas terdengar. Kondisi ini pun hanya bisa Anda pastikan melalui pemeriksaan dokter, baik dengan kamera kecil maupun pemindaian tambahan.
5. Asma
Dalam studi pada 974 anak usia prasekolah yang disebutkan KlikDokter, sekitar 10,5% mengalami dengkuran lebih dari empat kali per minggu, dan 28% di antaranya menderita asma. Asma memang dapat menyebabkan jalan napas lebih sempit.
Akibatnya, anak akan berusaha menarik napas lebih kuat, getaran inilah yang memicu dengkuran. Pada beberapa kasus, lendir dari saluran napas atas dapat masuk ke paru-paru dan memicu serangan asma saat tidur.
6. Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Pada beberapa anak, mendengkur bukan sekadar suara keras, tetapi tanda henti napas berulang. Anak dengan OSA sendiri cenderung tidur gelisah, posisi kepalanya mendongak, tubuh melengkung, dan sering mengompol.
Mereka juga mudah lelah di siang hari dan kurang fokus di sekolah. OSAS juga memiliki spektrum mulai dari primary snoring hingga kondisi berat yang memerlukan pemeriksaan polisomnografi.
Baca juga: Anak Susah Tidur Malam – Alasan, Penyebab, dan Cara Atasinya
Cara Mengatasi Anak Tidur Ngorok
Di bawah ini adalah cara yang bisa Anda lakukan agar anak tidak mendengkur saat tidur.
1. Mengubah Posisi Tidur
Anak yang tidur telentang lebih mudah mendengkur karena bagian belakang lidah dan uvula bergerak ke belakang. Jadi, menggeser posisi tidur ke samping dapat membantu melegakan napas.
2. Melembabkan Udara Kamar
Humidifier dapat membantu meringankan hidung tersumbat dan membuat udara lebih nyaman dihirup. Kondisi ini sangat bermanfaat pada anak yang mendengkur karena pilek atau alergi.
3. Menjaga Berat Badan Tetap Sehat
Anak dengan berat badan berlebih lebih rentan mendengkur karena saluran napasnya lebih sempit. Anda pun bisa mengatur pola makan dan meningkatkan aktivitas harian untuk membantu mengurangi frekuensi anak tidur ngorok.
4. Menyingkirkan Pemicu Alergi
Bulu boneka, bantal bulu, atau debu yang menumpuk bisa memicu respons alergi dan menyulitkan pernapasan. Karena itu, sebaiknya kamar anak secara rutin membantu mengurangi frekuensi si kecil tidur mendengkur.
5. Menggunakan Air Purifier
Pada anak dengan alergi atau sensitivitas napas, air purifier dapat membantu menyaring debu dan polen. Sehingga kualitas udara di kamar anak akan lebih baik.
6. Penanganan Medis Bila Diperlukan
Bila mendengkur berlangsung terus-menerus, dokter dapat mengevaluasi OSA, memeriksa ukuran tonsil-adenoid, atau mempertimbangkan tindakan tonsiloadenoidektomi. Penggunaan kortikosteroid intranasal selama 4-8 minggu juga bisa mengecilkan tonsil atau adenoid sebelum tindakan operasi.
Jangan Biarkan Anak Tidur Ngorok!
Gangguan seperti mendengkur dapat membuat kualitas tidur anak jadi kurang baik. Namun, dengan mengenali pemicunya, Anda bisa mengambil langkah yang tepat agar pernapasan mereka kembali nyaman. Selain itu, jaga tubuh si kecil agar tetap bugar dan memiliki emosi stabil dengan mengandalkan Sparks Sports Academy
Anak akan berkembang optimal ketika tubuhnya bugar, emosinya stabil, dan lingkungannya aman untuk bereksplorasi. Menyadari hal tersbeut, Sparks Sports Academy menyediakan kelas gymnastic, dance, ballet, hingga taekwondo untuk membangun kepercayaan diri sekaligus mengasah motorik halus dan kasar.
Kelas pun dibagi berdasarkan usia agar setiap anak menikmati pengalaman belajar yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangannya. Ayo, daftarkan si kecil di Sparks Sports Academy membantu mereka tumbuh sehat, aktif, dan percaya diri setiap hari!







