Panduan Perbedaan Gentle Parenting vs Permissive Parenting

Panduan Perbedaan Gentle Parenting vs Permissive Parenting

Table of Contents

Dalam praktik pengasuhan sehari-hari, gentle parenting vs permissive parenting sering kali terlihat mirip karena sama-sama menghindari hukuman keras dan mengedepankan pendekatan yang lembut pada anak. Padahal prinsip dan tujuan kedua pola asuh ini sangat berbeda, terutama dampak yang ditimbulkannya.

Untuk itulah, memahami perbedaan keduanya menjadi sangat penting agar orang tua tidak salah menerapkan pola asuh, karena akan berdampak pada masa depan anak. Artikel ini akan menguraikan perbedaan gentle parenting vs permissive parenting secara rinci, sehingga bisa dijadikan panduan dalam memilih pola asuh yang paling tepat untuk tumbuh kembang anak.

Key takeaways:

  • Gentle dan permissive parenting terlihat serupa, tetapi memiliki prinsip, penerapan, dan dampak yang berbeda.
  • Gentle parenting menekankan empati sekaligus menerapkan batasan yang jelas dan konsisten.
  • Permissive parenting cenderung memberikan kebebasan berlebih sehingga anak kurang mendapatkan arahan dan konsekuensi.

Apa Itu Gentle Parenting?

Gentle parenting merupakan pola asuh yang berlandaskan empati, yaitu kemampuan orang tua untuk memahami perasaan anak sebelum merespons perilakunya. Dalam pendekatan ini, emosi anak tetap diakui dan divalidasi, namun aturan serta batasan tetap diterapkan secara konsisten dengan cara yang lembut, penuh pengertian, dan tanpa kekerasan.

Misalnya, saat memasuki waktu tidur, Ibu atau Ayah dapat berkata, “Sekarang sudah jam 8 malam, waktunya tidur supaya besok badan segar. Kamu mau baca buku sebentar dulu atau langsung sikat gigi?” Dengan cara ini, anak merasa dihargai, tetapi tetap memahami aturan yang berlaku.

Apa Itu Permissive Parenting?

Permissive parenting juga dikenal sebagai pola asuh yang hangat dan penuh kasih sayang tapi minim aturan, batasan, serta ekspektasi terhadap perilaku anak. Anak diberikan kebebasan yang sangat luas, dan orang tua kerap berperan seperti teman daripada figur otoritas. 

Akibatnya, anak kurang mendapatkan arahan yang jelas tentang mana perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Contohnya, saat waktu tidur tiba, orang tua dengan pola asuh permisif cenderung membiarkan anak tetap bermain ponsel atau menonton TV hingga larut malam hanya karena anak belum ingin tidur.

Baca juga: Gentle Parenting vs VOC Parenting: Mana yang Paling Efektif?

Gentle Parenting vs Permissive Parenting

Kedua pola asuh ini sering dianggap sama oleh banyak orang tua, padahal keduanya memiliki perbedaan yang signifikan dari berbagai aspek. Berikut uraian perbedaannya.

AspekGentle ParentingPermissive Parenting
Konsep Dasar Mengasuh dengan empati, komunikasi, dan batasan yang jelas.Mengasuh dengan kebebasan tinggi dan minim batasan.
Pendekatan DisiplinDisiplin dianggap sebagai alat pembelajaran, bukan hukuman. Disiplin cenderung dihindari. 
Batasan & AturanMemiliki batasan yang jelas, konsisten, dan disampaikan dengan empati.Batasan lemah, tidak konsisten, atau sering diabaikan demi menghindari konflik.
Sikap Orang TuaHangat, empatik, tetapi tetap tegas dan terarah.Hangat dan penuh toleransi, namun kurang tegas.
Respons terhadap Emosi AnakSemua emosi diterima dan divalidasi, namun perilaku tetap diarahkan.Emosi dan perilaku sering “dimaklumi” tanpa pengarahan atau koreksi.
KomunikasiTerbuka, jelas, dan dua arah. Anak diberi penjelasan tentang alasan aturan.Komunikasi longgar, sering mengalah saat anak menolak atau protes.
Konsekuensi PerilakuAnak diajak bertanggung jawab atas tindakannya dengan bimbingan orang tua.Orang tua sering mengambil alih tanggung jawab anak.
Kemandirian AnakAnak dilatih berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan mandiri.Anak cenderung bergantung karena jarang diberi kesempatan menghadapi konsekuensi.
Manajemen Emosi AnakAnak belajar mengenali, menerima, dan mengelola emosinya dengan baik.Anak kurang terlatih mengelola emosi karena sering dialihkan atau dihibur.
Hubungan Orang Tua dan AnakTerjalin dengan rasa aman, saling menghargai, dan penuh kepercayaan.Cenderung kurang adanya rasa aman karena minimnya arahan dan batasan.
Dampak Jangka PanjangAnak bisa mengelola emosi dengan baik, selalu merasa aman, percaya diri, serta bisa membangun hubungan sosial yang sehat.Anak kesulitan mengontrol diri, bersikap impulsif, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab.

Terapkan Pola Asuh Positif untuk Anak

Gentle parenting vs permissive parenting sering terlihat sama, padahal cara penerapan dan dampaknya sangat berbeda. Karena itu, orang tua perlu cermat dalam memilih pola asuh. Lembut boleh, tetapi tetap harus disertai batasan yang jelas dan penuh tanggung jawab agar anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter.

Untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, memilih lingkungan belajar positif seperti Sparks Sports Academy bisa menjadi langkah tepat. Di sana, anak tidak hanya bermain dan belajar seperti biasanya, tetapi dengan cara mengikuti program yang dirancang untuk mendukung perkembangan holistik, mulai dari social emotional skill, cognitive skill, fine motor skill, gross motor skill, hingga language communication skill.

Tidak hanya itu, terdapat pula beragam kelas seru yang dapat disesuaikan dengan bakat dan minat anak, seperti Gymnastic, Sensory & Phonics, Dance, Ballet, hingga Multi sport. Jadi, anak tidak hanya tumbuh dalam lingkungan yang aman dan suportif, tetapi juga membantu Anda menerapkan pola asuh secara seimbang sejak dini. 

Booking kelasnya sekarang, untuk mendapatkan manfaatnya di Sparks Sports Academy!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%