10 Manfaat Permainan Tradisional bagi Anak yang Jarang Diketahui

10 Manfaat Permainan Tradisional bagi Tumbuh Kembang Anak

Table of Contents

Permainan tradisional bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu luang. Permainan seperti engklek, lompat tali, congklak, gobak sodor, bentengan, dan bola bekel dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk bergerak, berkomunikasi, menyusun strategi, mengikuti aturan, serta mengenal budaya di sekitarnya.

Namun, manfaat yang diperoleh tidak selalu sama pada setiap permainan. Gobak sodor lebih banyak melibatkan aktivitas berlari, mengubah arah, dan bekerja sama. Sebaliknya, congklak lebih banyak melatih koordinasi tangan, berhitung, dan perencanaan langkah.

Manfaat permainan tradisional juga dipengaruhi oleh usia, kemampuan anak, aturan permainan, frekuensi bermain, lingkungan, dan kualitas pendampingan. Oleh karena itu, permainan perlu dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Apa saja manfaat permainan tradisional bagi tumbuh kembang anak? Berikut penjelasannya beserta contoh permainan dan cara mengenalkannya dengan aman.

Apa Itu Permainan Tradisional?

Permainan tradisional adalah aktivitas bermain yang berkembang dalam kehidupan suatu masyarakat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama, aturan, alat, dan cara bermainnya dapat berbeda di setiap daerah. Satu jenis permainan bahkan dapat memiliki beberapa nama, tergantung pada bahasa dan kebiasaan masyarakat setempat.

Sebagian permainan tradisional mengutamakan aktivitas fisik, seperti:

  • engklek;
  • gobak sodor;
  • bentengan;
  • lompat tali;
  • bakiak;
  • petak umpet.

Sebagian lainnya lebih banyak melibatkan keterampilan tangan dan strategi, seperti:

  • congklak;
  • bola bekel;
  • kelereng;
  • gasing;
  • permainan tepuk atau tebak-tebakan.

Permainan tradisional umumnya menggunakan aturan sederhana dan alat yang mudah ditemukan. Meskipun demikian, beberapa permainan tetap membutuhkan area, peralatan, atau pengawasan tertentu agar dapat dilakukan dengan aman.

Baca juga: 100 Permainan Tradisional Indonesia untuk Mengasah Kreativitas Anak

Apakah Permainan Tradisional Masih Relevan bagi Anak?

Permainan tradisional tetap relevan karena menyediakan pengalaman bermain yang berbeda dari kegiatan belajar formal maupun aktivitas digital.

Saat memainkan permainan tradisional, anak dapat terlibat langsung dengan teman, benda, ruang, gerakan, dan aturan permainan. Anak tidak hanya menerima hiburan, tetapi juga perlu mengambil keputusan dan merespons situasi yang terus berubah.

Permainan tradisional juga dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas tanpa layar. Tujuannya bukan untuk menganggap semua penggunaan teknologi sebagai hal buruk, tetapi untuk memberikan variasi kegiatan dalam rutinitas anak.

Aktivitas digital dan permainan tradisional dapat digunakan secara seimbang. Orang tua dapat menyesuaikannya dengan usia, kebutuhan belajar, waktu istirahat, aktivitas fisik, dan minat anak.

Bukti Penelitian tentang Permainan Tradisional

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional berpotensi mendukung perkembangan motorik anak.

Tinjauan sistematis terhadap permainan tradisional Indonesia menemukan bahwa permainan seperti engklek, gobak sodor, bentengan, congklak, dan bekel berkaitan dengan stimulasi koordinasi mata-tangan, keseimbangan, kelincahan, kekuatan, serta koordinasi tubuh. Namun, peneliti juga mencatat bahwa sebagian penelitian yang ditinjau menggunakan jumlah sampel kecil dan desain kuasi-eksperimental. Karena itu, hasilnya sebaiknya dipahami sebagai bukti manfaat potensial, bukan jaminan hasil yang sama bagi setiap anak.

Tinjauan literatur lainnya juga melaporkan bahwa permainan seperti hadang, bakiak, egrang batok, gobak sodor, dan lompat tali berpotensi mendukung kemampuan motorik sekaligus memberikan pengalaman komunikasi dan kerja sama.

Sementara itu, sebuah meta-analisis terhadap intervensi permainan olahraga pada anak usia 3 sampai 12 tahun menemukan peningkatan keterampilan motorik dasar pada kelompok yang mengikuti program permainan. Temuan ini membahas permainan olahraga berbasis budaya secara lebih luas dan tidak terbatas pada permainan tradisional Indonesia.

Dengan demikian, manfaat permainan tradisional sebaiknya dijelaskan berdasarkan aktivitas yang benar-benar dilakukan dalam permainan tersebut.

10 Manfaat Permainan Tradisional bagi Anak

1. Mendukung Perkembangan Motorik Kasar

Motorik kasar berkaitan dengan penggunaan otot-otot besar untuk melakukan gerakan seperti berlari, melompat, menendang, melempar, menjaga keseimbangan, dan mengubah arah.

Permainan aktif seperti engklek, lompat tali, gobak sodor, bentengan, dan bakiak memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan berbagai pola gerak tersebut.

Dalam permainan engklek, misalnya, anak perlu melompat dengan satu kaki, mempertahankan keseimbangan, dan mendarat pada area yang telah ditentukan. Gobak sodor mengharuskan anak berlari, berhenti, menghindar, dan mengubah arah berdasarkan posisi pemain lain.

Aktivitas tersebut dapat membantu menstimulasi:

  • keseimbangan;
  • koordinasi tubuh;
  • kelincahan;
  • kontrol gerak;
  • kekuatan kaki;
  • kemampuan berpindah tempat.

Tingkat kesulitan tetap perlu disesuaikan. Anak yang baru belajar dapat menggunakan garis permainan yang lebih lebar, jarak yang lebih pendek, dan aturan yang lebih sederhana.

2. Melatih Motorik Halus dan Koordinasi Mata-Tangan

Tidak semua permainan tradisional mengandalkan aktivitas fisik besar. Permainan seperti congklak, bola bekel, kelereng, dan gasing lebih banyak melibatkan gerakan jari serta koordinasi antara penglihatan dan tangan.

Saat bermain congklak, anak mengambil dan memindahkan biji dari satu lubang ke lubang berikutnya. Bola bekel mengharuskan anak memantulkan bola sambil mengambil atau mengatur kepingan bekel dalam waktu tertentu.

Kegiatan tersebut dapat memberikan latihan untuk:

  • ketepatan gerakan tangan;
  • kontrol jari;
  • koordinasi mata-tangan;
  • konsentrasi;
  • pengaturan kecepatan gerak.

Untuk anak usia dini, ukuran benda perlu diperhatikan. Kelereng, biji congklak, bola kecil, dan kepingan permainan dapat menjadi bahaya tersedak apabila dimasukkan ke dalam mulut. Bayi dan balita memiliki risiko lebih tinggi terhadap benda kecil, sehingga permainan dengan bagian kecil harus dijauhkan atau dilakukan di bawah pengawasan ketat.

3. Memberikan Kesempatan untuk Aktif Bergerak

Permainan tradisional yang melibatkan berlari, melompat, mengejar, menarik, atau menjaga keseimbangan dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik harian anak.

Permainan tersebut dapat membantu mengurangi waktu yang terlalu lama digunakan untuk duduk dan memberikan variasi gerak yang menyenangkan.

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan agar anak dan remaja usia 5 sampai 17 tahun melakukan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi setiap hari. Aktivitas tersebut dapat berasal dari permainan, olahraga, pendidikan jasmani, rekreasi, atau kegiatan keluarga dan masyarakat.

Permainan tradisional dapat berkontribusi terhadap kebutuhan tersebut, tetapi tidak semua permainan memiliki intensitas fisik yang sama. Congklak, misalnya, tidak dapat disamakan dengan bentengan atau gobak sodor dari sisi aktivitas gerak.

Karena itu, Mom/Dad dapat mengombinasikan permainan yang bersifat aktif dengan permainan yang lebih tenang.

4. Melatih Komunikasi dan Interaksi Sosial

Banyak permainan tradisional dilakukan bersama dua orang atau lebih. Anak perlu berkomunikasi untuk menentukan kelompok, menjelaskan aturan, membagi peran, atau menyelesaikan perbedaan pendapat.

Dalam permainan kelompok, anak dapat belajar:

  • menyampaikan pendapat;
  • mendengarkan orang lain;
  • meminta dan memberikan bantuan;
  • menunggu giliran;
  • memahami isyarat teman;
  • menyelesaikan kesalahpahaman sederhana.

Interaksi tersebut muncul secara alami selama permainan. Namun, orang dewasa tetap dapat membantu apabila terjadi konflik yang belum mampu diselesaikan anak.

Pendamping sebaiknya tidak langsung mengambil alih setiap masalah. Berikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan kejadian, mendengarkan teman, dan mencari kesepakatan sederhana.

5. Mengembangkan Kerja Sama dan Tanggung Jawab

Permainan beregu seperti gobak sodor, bentengan, tarik tambang, dan bakiak membutuhkan kerja sama antarpemain.

Dalam permainan bakiak, misalnya, anggota kelompok perlu menyamakan langkah agar dapat bergerak tanpa terjatuh. Dalam gobak sodor, setiap pemain perlu menjaga area dan memahami perannya dalam strategi kelompok.

Pengalaman tersebut dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bahwa keberhasilan kelompok tidak hanya ditentukan oleh satu pemain.

Anak dapat berlatih:

  • menjalankan peran;
  • mengikuti kesepakatan;
  • memperhatikan anggota kelompok;
  • menyesuaikan tindakan;
  • bertanggung jawab terhadap tugasnya.

Manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis. Orang tua atau pendamping perlu memastikan bahwa permainan tidak dikuasai oleh satu anak dan setiap peserta memperoleh kesempatan untuk terlibat.

6. Melatih Strategi dan Pemecahan Masalah

Beberapa permainan tradisional mengharuskan anak mengamati situasi, memperkirakan tindakan pemain lain, dan menentukan langkah berikutnya.

Dalam congklak, anak perlu memperkirakan arah pergerakan biji dan mempertimbangkan lubang mana yang akan dipilih. Dalam bentengan, anak harus menentukan kapan perlu menyerang, bertahan, berlari, atau membantu teman.

Petak umpet juga dapat melibatkan pengambilan keputusan. Anak perlu memilih tempat yang cukup tersembunyi, tetapi tetap aman dan tidak terlalu jauh dari area permainan.

Melalui kegiatan tersebut, anak memperoleh kesempatan untuk melatih:

  • perencanaan;
  • pengamatan;
  • pengambilan keputusan;
  • fleksibilitas berpikir;
  • pemecahan masalah sederhana;
  • pemahaman sebab dan akibat.

Tingkat strategi harus disesuaikan dengan usia. Untuk anak yang lebih kecil, gunakan aturan singkat dan berikan contoh sebelum permainan dimulai.

7. Memberikan Pengalaman Mengelola Emosi

Permainan dapat menghasilkan berbagai pengalaman emosional. Anak dapat merasa senang ketika berhasil, kecewa ketika kalah, gugup saat mendapat giliran, atau kesal ketika aturan tidak berjalan sesuai keinginannya.

Situasi tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenali dan mengelola respons emosional.

Anak dapat belajar:

  • menunggu sebelum bertindak;
  • mencoba kembali setelah gagal;
  • menerima bahwa hasil permainan dapat berubah;
  • menyampaikan ketidaksetujuan dengan lebih tepat;
  • menenangkan diri setelah mengalami kekecewaan.

Permainan tidak otomatis membuat anak mampu mengelola emosi. Anak tetap membutuhkan contoh dan pendampingan.

Mom/Dad dapat membantu dengan mengakui perasaan anak tanpa mengubah seluruh aturan agar anak selalu menang. Misalnya:

“Kamu kecewa karena belum berhasil. Kita istirahat sebentar, lalu coba lagi.”

Pendekatan tersebut membantu anak memahami bahwa kecewa adalah hal yang wajar dan dapat dihadapi secara bertahap.

8. Mendorong Kreativitas dan Imajinasi

Permainan tradisional biasanya tidak bergantung pada alat yang kompleks. Anak dapat menggunakan tali, kapur, batu kecil, daun, bambu, atau benda lain yang tersedia di sekitarnya.

Kesederhanaan alat dapat membuka ruang untuk:

  • membuat variasi aturan;
  • menciptakan tantangan baru;
  • menentukan peran;
  • memanfaatkan ruang bermain;
  • mengembangkan cerita atau imajinasi.

Sebagai contoh, garis engklek dapat dibuat dalam bentuk yang berbeda. Petak umpet dapat diberi batas wilayah atau misi tertentu. Permainan tepuk dapat dikembangkan dengan lagu dan rangkaian gerakan baru.

Namun, modifikasi sebaiknya disepakati bersama agar aturan tetap dipahami oleh seluruh pemain.

9. Mengenalkan Aturan, Kejujuran, dan Sportivitas

Setiap permainan memiliki aturan yang perlu disepakati. Anak belajar bahwa permainan dapat berjalan dengan baik apabila para pemain mengikuti aturan tersebut.

Melalui permainan, anak memperoleh pengalaman untuk:

  • memulai dan mengakhiri permainan;
  • menunggu giliran;
  • mengakui kesalahan;
  • menghargai keputusan bersama;
  • menerima kemenangan dan kekalahan;
  • bermain tanpa mencurangi peserta lain.

Sportivitas tidak berarti anak tidak boleh merasa kecewa. Anak tetap dapat merasakan emosi, tetapi perlu belajar mengekspresikannya tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Orang dewasa juga perlu memberikan contoh. Hindari terlalu menekankan kemenangan atau membandingkan kemampuan satu anak dengan anak lain.

10. Mengenalkan Budaya dan Kehidupan Masyarakat

Permainan tradisional merupakan bagian dari pengalaman sosial dan budaya masyarakat. Nama, alat, lagu, istilah, dan cara bermainnya dapat mencerminkan lingkungan tempat permainan tersebut berkembang.

Dengan mengenalkan permainan tradisional, anak dapat mengetahui bahwa setiap daerah memiliki bentuk permainan yang beragam.

Mom/Dad dapat melengkapi kegiatan bermain dengan cerita sederhana, misalnya:

  • dari daerah mana keluarga mengenal permainan tersebut;
  • siapa yang mengajarkan permainan itu;
  • bagaimana permainan dilakukan pada masa kecil orang tua;
  • apakah permainan memiliki nama lain di daerah berbeda;
  • alat apa yang dahulu digunakan.

Pengenalan budaya tidak perlu dilakukan melalui penjelasan panjang. Percakapan selama bermain dapat menjadi cara yang lebih alami untuk membangun ketertarikan anak.

Baca juga: 10 Contoh Permainan Edukatif untuk Tumbuh Kembang Anak

Contoh Permainan Tradisional dan Kemampuan yang Dilatih

Manfaat permainan perlu disesuaikan dengan aktivitas utama di dalamnya.

PermainanAktivitas utamaKemampuan yang dapat dilatih
EngklekMelompat dan menjaga keseimbanganMotorik kasar, keseimbangan, kontrol tubuh
Gobak sodorBerlari, menjaga garis, dan menghindarKelincahan, strategi, komunikasi, kerja sama
BentenganBerlari, mengejar, menyerang, dan bertahanKecepatan, pengambilan keputusan, kerja tim
Lompat taliMelompat mengikuti putaran atau iramaKoordinasi, keseimbangan, ritme, daya tahan
BakiakBerjalan bersama dalam satu alatKoordinasi kelompok, komunikasi, keseimbangan
CongklakMemindahkan dan menghitung bijiMotorik halus, berhitung, strategi
Bola bekelMemantulkan bola dan mengambil kepinganKoordinasi mata-tangan, konsentrasi, ketepatan
Petak umpetMencari, bersembunyi, dan mengamatiKesadaran ruang, strategi, pemahaman aturan
KelerengMembidik dan menggerakkan benda kecilMotorik halus, ketepatan, kontrol tenaga
Ular nagaBergerak bersama sambil bernyanyiRitme, bahasa, interaksi sosial

Kemampuan dalam tabel merupakan potensi latihan, bukan hasil yang dijamin. Pengalaman setiap anak dapat berbeda sesuai dengan cara permainan dilakukan.

Contoh Permainan Tradisional Berdasarkan Usia

Usia dalam tabel berikut merupakan panduan umum. Kesiapan motorik, kemampuan memahami aturan, kondisi kesehatan, dan pengalaman setiap anak dapat berbeda.

Kelompok usiaContoh permainanPenyesuaian yang disarankan
Di bawah 3 tahunPermainan tepuk, lagu dengan gerakan, berjalan mengikuti garisGunakan gerakan sederhana dan hindari benda kecil
3–5 tahunLompat garis, ular naga sederhana, petak umpet terbatasGunakan area kecil, aturan singkat, dan pendampingan langsung
5–7 tahunEngklek sederhana, lompat tali, congklak dengan bantuanSesuaikan ukuran alat, jarak, dan durasi permainan
7–9 tahunGobak sodor sederhana, bola bekel, bentengan terbatasJelaskan aturan dan batas area dengan jelas
9 tahun ke atasBakiak kelompok, gobak sodor, bentengan, variasi strategiAnak dapat dilibatkan dalam menyusun aturan dan pembagian tim

Jangan memaksakan permainan hanya berdasarkan usia. Permainan perlu dihentikan atau disederhanakan apabila anak belum mampu mengikuti aturan atau menunjukkan tanda kelelahan.

Cara Memilih Permainan Tradisional untuk Anak

Sesuaikan dengan kemampuan anak

Pilih permainan berdasarkan kemampuan anak untuk berlari, melompat, menangkap, menghitung, atau memahami aturan.

Anak yang belum stabil berdiri dengan satu kaki tidak perlu langsung memainkan engklek dengan aturan lengkap. Gunakan dua kaki atau jarak yang lebih pendek terlebih dahulu.

Pertimbangkan jumlah pemain

Beberapa permainan membutuhkan kelompok, sedangkan yang lain dapat dimainkan oleh dua orang.

Apabila peserta terbatas, pilih congklak, bola bekel, gasing, permainan tepuk, atau lompat tali sederhana.

Pilih permainan sesuai ruang yang tersedia

Gobak sodor dan bentengan membutuhkan area yang cukup luas. Congklak dan bola bekel dapat dimainkan di ruang yang lebih kecil.

Hindari permainan mengejar di dekat jalan, tangga, kolam, kendaraan, kaca, atau benda berbahaya.

Gunakan alat yang aman

Periksa apakah alat memiliki bagian tajam, retak, pecah, atau terlalu berat. Tali, bambu, batu, dan benda kecil perlu dipilih sesuai usia anak.

Pertimbangkan minat anak

Tidak semua anak menyukai permainan kompetitif. Sebagian anak mungkin lebih tertarik pada permainan strategi, permainan berirama, atau permainan yang tidak menuntut kontak fisik.

Berikan beberapa pilihan agar anak merasa terlibat dalam menentukan kegiatan.

Tips Mengajak Anak Bermain Permainan Tradisional

Mulai dari permainan yang sederhana

Jangan langsung menjelaskan terlalu banyak aturan. Perkenalkan satu atau dua aturan utama, kemudian tambahkan aturan lain setelah anak memahami dasar permainan.

Berikan contoh secara langsung

Anak sering lebih mudah memahami permainan melalui demonstrasi daripada penjelasan panjang.

Mom/Dad dapat mencoba satu putaran terlebih dahulu sambil menjelaskan langkahnya.

Bermain bersama anak

Keterlibatan orang tua dapat membuat permainan terasa lebih menarik. Orang tua juga dapat membantu menjaga suasana agar tidak terlalu kompetitif.

Biarkan anak memodifikasi permainan

Anak dapat diajak menentukan warna garis, nama tim, jumlah putaran, atau variasi tantangan. Pastikan perubahan aturan disepakati semua peserta.

Fokus pada proses bermain

Berikan apresiasi terhadap usaha, kerja sama, keberanian mencoba, dan kepatuhan terhadap aturan, bukan hanya kemenangan.

Jadikan kegiatan sebagai pilihan rutin

Permainan tradisional tidak harus dilakukan setiap hari. Mom/Dad dapat memasukkannya ke dalam waktu bermain keluarga, kegiatan akhir pekan, pertemuan dengan teman, atau aktivitas di sekolah.

Panduan Keselamatan saat Bermain

Permainan tradisional tetap membutuhkan perhatian terhadap keselamatan, terutama apabila melibatkan aktivitas berlari, melompat, mengejar, melempar, atau menggunakan alat tertentu.

Perhatikan beberapa hal berikut:

  • Pilih area yang rata, cukup luas, dan tidak licin.
  • Singkirkan benda tajam, pecahan, kabel, atau penghalang.
  • Tentukan batas wilayah permainan dengan jelas.
  • Sesuaikan alat dengan usia dan ukuran tubuh anak.
  • Hindari benda kecil untuk anak yang masih sering memasukkan benda ke mulut.
  • Dampingi permainan yang menggunakan tali, bambu, egrang, atau benda yang dilempar.
  • Berikan waktu istirahat dan air minum.
  • Hindari aktivitas berat saat cuaca sangat panas.
  • Hentikan permainan apabila anak merasa sakit, pusing, atau terlalu lelah.
  • Jangan melakukan permainan mengejar di dekat jalan, kolam, tangga, atau kendaraan.

Anak usia dini membutuhkan pengawasan lebih dekat karena belum selalu mampu menilai risiko di lingkungan bermain. Cuaca dan suhu juga perlu diperhatikan karena bayi dan anak kecil bergantung pada orang dewasa untuk menjaga mereka tetap sejuk dan terhidrasi.

Permainan Tradisional sebagai Alternatif Aktivitas di Luar Layar

Permainan tradisional dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas tanpa layar, tetapi tidak otomatis mengubah kebiasaan digital anak.

Pengaturan waktu layar tetap membutuhkan aturan keluarga yang konsisten. Mom/Dad dapat membantu dengan:

  • menentukan waktu penggunaan perangkat;
  • menyediakan pilihan aktivitas lain;
  • mengajak anak bermain bersama;
  • menyediakan ruang bermain yang aman;
  • memberikan contoh kebiasaan digital yang seimbang.

Hindari menggunakan permainan tradisional hanya sebagai hukuman karena anak terlalu lama menggunakan gadget. Pendekatan tersebut dapat membuat kegiatan bermain terasa seperti kewajiban.

Lebih baik tawarkan permainan sebagai kegiatan keluarga yang menyenangkan dan dapat dipilih bersama.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa manfaat utama permainan tradisional bagi anak?

Permainan tradisional dapat memberikan kesempatan untuk melatih kemampuan motorik, bergerak aktif, berkomunikasi, bekerja sama, menyusun strategi, mengikuti aturan, mengelola emosi, dan mengenal budaya. Manfaatnya bergantung pada jenis permainan dan cara pelaksanaannya.

Permainan tradisional apa yang melatih motorik kasar?

Engklek, lompat tali, gobak sodor, bentengan, bakiak, dan petak umpet melibatkan pola gerak seperti berlari, melompat, mengubah arah, dan menjaga keseimbangan.

Permainan apa yang melatih motorik halus?

Congklak, bola bekel, kelereng, dan gasing melibatkan kontrol jari, ketepatan tangan, atau koordinasi mata-tangan. Permainan dengan benda kecil tidak cocok untuk anak yang masih sering memasukkan benda ke mulut.

Apakah permainan tradisional dapat mengurangi screen time?

Permainan tradisional dapat menjadi alternatif aktivitas di luar layar. Namun, pengurangan waktu layar tetap membutuhkan aturan keluarga, rutinitas yang konsisten, dan tersedianya pilihan aktivitas lain.

Apakah semua permainan tradisional aman untuk anak?

Tidak selalu. Keamanan bergantung pada usia, kemampuan anak, alat, permukaan, cuaca, aturan, dan tingkat pengawasan. Permainan tertentu perlu dimodifikasi agar lebih aman.

Apakah anak harus selalu bermain secara berkelompok?

Tidak. Beberapa permainan dapat dimainkan sendiri atau bersama satu orang, seperti gasing, bola bekel, congklak, dan lompat tali. Permainan dapat dipilih berdasarkan jumlah peserta dan kenyamanan anak.

Berapa lama anak sebaiknya bermain?

Durasi perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, intensitas permainan, cuaca, dan kondisi anak. Untuk anak usia 5 sampai 17 tahun, WHO merekomendasikan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik sedang hingga tinggi setiap hari yang dapat berasal dari berbagai kegiatan, tidak hanya permainan tradisional.

Bagaimana apabila anak tidak tertarik?

Hindari memaksa. Tawarkan beberapa pilihan, sederhanakan aturan, ajak anggota keluarga bermain, atau biarkan anak memodifikasi permainan. Anak mungkin lebih tertarik pada permainan strategi daripada permainan fisik, atau sebaliknya.

Seimbangkan Waktu Bermain dan Aktivitas Olahraga Anak

Permainan tradisional dapat menjadi cara sederhana untuk memberikan kesempatan kepada anak bergerak, berinteraksi, mengikuti aturan, dan mengenal budaya.

Namun, tidak ada satu permainan yang dapat melatih seluruh kemampuan sekaligus. Mom/Dad dapat mengombinasikan berbagai jenis permainan dengan aktivitas fisik lain yang sesuai dengan usia dan minat anak.

Selain bermain bersama keluarga dan teman, anak juga dapat mengikuti aktivitas olahraga yang lebih terstruktur.

Melalui kelas Multi Sport di Sparks Sports Academy, anak diperkenalkan pada berbagai aktivitas dan pola gerak melalui pembelajaran kelompok yang disesuaikan dengan program serta kelompok usianya.

Mom/Dad dapat memeriksa pilihan lokasi, kelompok usia, metode pembelajaran, dan jadwal kelas sebelum menentukan program yang sesuai untuk si kecil.

Temukan kelas Multi Sport Sparks Sports Academy di lokasi terdekat dan pilih jadwal yang sesuai dengan aktivitas anak.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%