Author: Tim Sparks Sports Academy
Melihat si kecil tiba-tiba menolak menyusu tentu membuat Mom/Dad khawatir. Padahal, ASI adalah sumber nutrisi utama bayi di bulan-bulan awal kehidupannya. Kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi dan memiliki banyak sebab yang bisa dikenali sejak dini. Memahami penyebab bayi tidak mau menyusu akan membantu Mom/Dad menemukan solusi yang tepat tanpa perlu panik berlebihan.
Artikel ini akan membahas secara lengkap berbagai faktor yang membuat bayi enggan menyusu, mulai dari kondisi fisik bayi, teknik menyusui, hingga faktor lingkungan. Simak penjelasannya berikut ini agar Mom/Dad lebih siap menghadapi fase menantang ini.
Penyebab Bayi Tidak Mau Menyusu
Mom/Dad harus mengetahui penyebab bayi tidak mau menyusu berikut ini.
1. Bayi Mengalami Bingung Puting
Bingung puting atau nipple confusion sering terjadi pada bayi yang terbiasa menggunakan dot atau botol susu. Perbedaan tekstur dan cara mengisap antara puting ibu dan dot membuat bayi kebingungan saat harus kembali menyusu langsung.
Untuk mengatasinya, Mom/Dad disarankan mengurangi penggunaan dot secara bertahap dan lebih sering melakukan kontak kulit ke kulit atau skin to skin contact dengan bayi. Cara ini membantu bayi mengenali kembali payudara sebagai sumber utama makanannya.
2. Bayi Sedang Sakit atau Tidak Enak Badan
Ketika bayi demam, pilek, atau mengalami infeksi telinga, hidungnya bisa tersumbat sehingga sulit bernapas sambil menyusu. Kondisi ini membuat bayi cenderung menolak menyusu karena merasa tidak nyaman.
Mom/Dad bisa membantu melegakan hidung bayi menggunakan cairan saline sebelum menyusui, serta memastikan posisi kepala bayi sedikit lebih tinggi. Jika demam tidak kunjung reda, segera konsultasikan ke dokter anak.
3. Posisi Menyusui yang Kurang Tepat
Posisi menyusui yang salah bisa membuat bayi kesulitan mendapatkan latch atau perlekatan yang baik pada payudara. Akibatnya, bayi merasa frustrasi dan akhirnya menolak menyusu.
Cobalah beberapa variasi posisi seperti cradle hold, football hold, atau posisi laid back. Pastikan mulut bayi menutupi sebagian besar areola, bukan hanya puting saja, agar proses menyusu lebih efektif dan nyaman.
4. Bayi Mengalami Tumbuh Gigi
Fase tumbuh gigi biasanya membuat gusi bayi terasa nyeri dan gatal. Rasa tidak nyaman ini bisa membuat bayi enggan menyusu karena tekanan pada gusi saat mengisap terasa menyakitkan.
Mom/Dad dapat memberikan pijatan lembut pada gusi bayi sebelum menyusui atau menggunakan teether dingin untuk meredakan rasa nyeri. Bersabarlah karena fase ini biasanya hanya berlangsung sementara.
5. ASI yang Keluar Terlalu Deras atau Terlalu Lambat
Aliran ASI yang terlalu deras atau forceful let-down bisa membuat bayi tersedak dan akhirnya takut menyusu. Sebaliknya, aliran ASI yang terlalu lambat juga bisa membuat bayi cepat menyerah karena harus bekerja lebih keras.
Jika ASI terlalu deras, Mom/Dad bisa memerah sedikit ASI sebelum menyusui untuk mengurangi tekanan awal. Jika sebaliknya, coba lakukan pijat payudara ringan untuk merangsang aliran ASI agar lebih lancar.
Baca juga: Manfaat Direct Breastfeeding dan Tips Aman Melakukannya
6. Bayi Terganggu oleh Lingkungan Sekitar
Bayi yang mudah teralihkan perhatiannya cenderung menoleh ke sumber suara atau cahaya di sekitarnya saat menyusu. Hal ini membuat proses menyusui menjadi terputus-putus dan kurang optimal.
Pilihlah ruangan yang tenang, minim cahaya berlebih, dan minim gangguan suara saat menyusui, terutama pada bayi yang berusia lebih dari tiga bulan dan mulai aktif mengamati sekitarnya.
7. Bayi Mengalami Refluks atau Gangguan Pencernaan
Refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux dapat membuat bayi merasa tidak nyaman setelah atau saat menyusu. Bayi biasanya akan menangis, melengkungkan punggung, atau menolak menyusu karena rasa nyeri di dada.
Menyusui dengan posisi lebih tegak dan tidak langsung membaringkan bayi setelah menyusu bisa membantu mengurangi gejala refluks. Jika gejala cukup berat, sebaiknya periksakan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.
8. Perubahan Rasa ASI
Rasa ASI bisa berubah karena makanan yang dikonsumsi ibu, obat-obatan tertentu, atau perubahan hormon seperti saat menstruasi kembali. Bayi yang sensitif terhadap rasa terkadang menolak menyusu akibat perubahan ini.
Mom/Dad dapat memperhatikan pola makan dan mencatat jika ada makanan tertentu yang tampaknya memengaruhi minat bayi untuk menyusu, lalu menyesuaikannya secara bertahap.
9. Bayi Mengalami Growth Spurt
Pada fase growth spurt atau lonjakan pertumbuhan, kebutuhan bayi terhadap ASI justru meningkat, namun pola menyusunya bisa berubah menjadi lebih rewel dan tidak menentu. Sebagian bayi terlihat seperti menolak menyusu padahal sebenarnya sedang menyesuaikan pola makannya.
Tetap tenang dan ikuti isyarat lapar bayi. Fase ini biasanya berlangsung singkat, hanya beberapa hari, sebelum pola menyusu kembali normal.
10. Bayi Mengalami Stres atau Overstimulasi
Bayi yang terlalu banyak menerima stimulasi, baik dari kunjungan tamu, suara ramai, atau aktivitas yang padat, bisa mengalami kelelahan sensorik. Kondisi ini membuat bayi rewel dan enggan menyusu karena sistem sarafnya belum siap memproses terlalu banyak rangsangan sekaligus.
Menurut penjelasan dari American Academy of Pediatrics, bayi memiliki kapasitas terbatas dalam menerima rangsangan sensorik, sehingga penting bagi orang tua mengenali tanda kelelahan sensorik sejak dini. Memberikan waktu tenang atau quiet time sebelum menyusui dapat membantu bayi lebih rileks dan siap menyusu kembali.
Tanda-Tanda Bayi Sebenarnya Masih Cukup ASI
Meski terlihat menolak menyusu, tidak semua bayi mengalami kekurangan nutrisi. Mom/Dad bisa mengenali kecukupan ASI melalui beberapa tanda berikut:
- Popok basah minimal enam kali dalam sehari
- Berat badan bayi tetap bertambah sesuai grafik pertumbuhan
- Bayi tampak tenang dan puas setelah menyusu meski durasinya singkat
- Frekuensi buang air besar tetap teratur
Jika tanda-tanda di atas masih terpenuhi, Mom/Dad tidak perlu terlalu khawatir meski bayi sempat menolak menyusu dalam waktu singkat.
Tips Agar Bayi Kembali Nyaman Menyusu
Selain mengetahui penyebabnya, ada beberapa langkah praktis yang bisa Mom/Dad terapkan agar bayi lebih mudah kembali menyusu dengan nyaman:
- Perbanyak kontak kulit ke kulit. Sentuhan langsung membantu bayi merasa aman dan mengenali kembali aroma tubuh ibu.
- Susui saat bayi mengantuk ringan. Kondisi drowsy namun belum tertidur pulas biasanya membuat bayi lebih kooperatif saat disusui.
- Hindari memaksa bayi menyusu. Memaksa justru bisa membuat bayi semakin stress dan trauma terhadap payudara.
- Jaga suasana hati Mom/Dad tetap tenang. Bayi sangat peka terhadap kondisi emosional ibunya, sehingga suasana tenang akan membantu proses menyusui berjalan lebih lancar.
- Konsultasikan ke konselor laktasi. Jika penolakan berlangsung lebih dari beberapa hari, bantuan profesional dapat membantu menemukan akar masalah secara lebih spesifik.
Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?
Jika bayi menolak menyusu lebih dari 24 jam, disertai demam tinggi, tampak lemas, atau tanda dehidrasi seperti popok yang jarang basah, Mom/Dad sebaiknya segera membawa bayi ke dokter anak. Penanganan cepat akan mencegah risiko dehidrasi dan kekurangan nutrisi pada bayi.
Baca juga: 10 Cara Memandikan Bayi Baru Lahir dengan Aman
Yuk, Dukung Tumbuh Kembang Optimal Si Kecil Bersama Sparks Sports Academy
Selain memastikan kebutuhan nutrisi lewat ASI tercukupi, tumbuh kembang bayi juga perlu didukung dengan stimulasi yang tepat sejak dini. Salah satu cara terbaik adalah dengan mengikutsertakan si kecil dalam kelas sensori anak di Sparks Sports Academy.
Melalui kelas ini, Mom/Dad dapat membantu bayi mengembangkan kemampuan motorik, keseimbangan sensorik, hingga kepercayaan diri sejak usia dini, dalam suasana yang menyenangkan dan didampingi instruktur berpengalaman. Yuk, daftarkan si kecil sekarang dan jadikan setiap tahap tumbuh kembangnya lebih optimal bersama Sparks Sports Academy!






