Author: Tim Sparks Sports Academy
Anak mengenal dunia melalui berbagai pengalaman yang diterima tubuhnya. Ia melihat warna, mendengar suara, menyentuh permukaan benda, mencium aroma, bergerak, menjaga keseimbangan, dan merasakan posisi tubuhnya.
Berbagai pengalaman tersebut merupakan bagian dari proses sensori. Otak menerima informasi dari tubuh dan lingkungan, menyaringnya, kemudian membantu anak memberikan respons yang sesuai. Proses ini berperan ketika anak bermain, bergerak, makan, berpakaian, berkomunikasi, atau mengikuti kegiatan sehari-hari.
Orang tua dapat memberikan pengalaman sensori melalui aktivitas sederhana di rumah. Kegiatannya tidak harus menggunakan mainan mahal atau peralatan khusus. Menyentuh kain dengan tekstur berbeda, mengikuti bunyi, menuang air, mendorong kotak ringan, dan berjalan mengikuti garis sudah dapat menjadi bagian dari permainan sensori.
Namun, aktivitas sensori perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, minat, dan respons anak. Tidak semua anak menikmati rangsangan yang sama. Tekstur yang menyenangkan bagi satu anak mungkin terasa mengganggu bagi anak lain.
Karena itu, tujuan stimulasi sensori bukan memaksa anak menerima semua tekstur, suara, atau gerakan. Tujuannya adalah memberi kesempatan bereksplorasi secara aman, menyenangkan, dan responsif terhadap sinyal yang ditunjukkan anak.
Apa Itu Stimulasi Sensori?
Stimulasi sensori adalah pengalaman yang melibatkan satu atau beberapa sistem indra anak. Pengalaman tersebut dapat berasal dari lingkungan maupun dari gerakan tubuhnya sendiri.
Contohnya meliputi:
- melihat benda bergerak;
- mendengar suara dan irama;
- menyentuh permukaan kasar atau lembut;
- mencium aroma;
- mencicipi rasa;
- berayun atau berputar;
- mendorong dan mengangkat benda;
- mengenali rasa lapar, haus, lelah, atau ingin buang air.
Saat menerima informasi tersebut, otak perlu mengenali, mengatur, dan menentukan respons yang sesuai. Proses ini disebut pemrosesan sensori atau sensory processing.
Contoh sederhananya, ketika anak memegang es batu, sistem sentuhnya menerima informasi bahwa benda tersebut dingin dan licin. Anak kemudian dapat menarik tangan, memindahkan es, atau mengatakan bahwa es terasa dingin.
Saat anak berjalan di atas permukaan yang tidak rata, sistem keseimbangan dan kesadaran tubuhnya membantu menyesuaikan posisi kaki serta menjaga tubuh agar tidak jatuh.
Stimulasi sensori tidak bekerja secara terpisah dari aspek perkembangan lainnya. Ketika bermain, anak juga dapat menggunakan kemampuan gerak, bahasa, perhatian, emosi, dan sosialnya secara bersamaan.
Baca juga: Sensory Play, Rahasia Tumbuh Kembang Anak Hebat!
Perbedaan Stimulasi Sensori, Sensory Play, dan Terapi Sensori
Ketiga istilah ini sering digunakan secara bergantian, padahal artinya tidak sepenuhnya sama.
Stimulasi sensori
Stimulasi sensori merupakan pengalaman atau rangsangan yang diterima melalui sistem indra. Pengalaman tersebut dapat terjadi secara alami saat anak makan, mandi, bermain, berjalan, atau berinteraksi dengan lingkungan.
Sensory play
Sensory play merupakan kegiatan bermain yang sengaja memberi kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi suara, warna, tekstur, gerakan, aroma, atau karakteristik benda lainnya.
Contohnya adalah menuang air, meremas adonan, menebak suara, berjalan di jalur keseimbangan, atau mencocokkan tekstur.
Terapi sensori
Terapi atau intervensi terkait pemrosesan sensori merupakan layanan profesional. Programnya disusun berdasarkan asesmen, kebutuhan fungsional, dan tujuan tertentu untuk anak.
Permainan sensori di rumah tidak otomatis menjadi terapi. Orang tua juga sebaiknya tidak menggunakan aktivitas sensori sebagai pengganti pemeriksaan apabila anak mengalami hambatan makan, berpakaian, tidur, belajar, bergerak, atau berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari.
Mengenal Delapan Sistem Sensori Anak
Banyak orang mengenal lima indra, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan sentuhan. Dalam pembahasan pemrosesan sensori, terdapat tiga sistem lain yang juga penting: vestibular, proprioseptif, dan interoseptif.
| Sistem sensori | Fungsi sederhana | Contoh dalam kehidupan sehari-hari |
| Visual | Menerima informasi tentang cahaya, warna, bentuk, pola, dan gerak | Melihat bola yang datang |
| Auditori | Mengenali suara, volume, nada, dan irama | Menoleh ketika namanya dipanggil |
| Taktil | Mengenali sentuhan, tekanan, suhu, tekstur, dan rasa sakit | Merasakan pasir atau kain |
| Olfaktori | Mengenali berbagai aroma | Mencium aroma buah |
| Gustatori | Mengenali rasa serta informasi di dalam mulut | Membedakan rasa manis dan asam |
| Vestibular | Membantu keseimbangan, gerakan, dan orientasi tubuh | Menjaga tubuh saat berayun |
| Proprioseptif | Membantu mengenali posisi tubuh serta besar tenaga yang digunakan | Menentukan tenaga saat mendorong pintu |
| Interoseptif | Membantu mengenali sinyal dari dalam tubuh | Menyadari rasa lapar, haus, atau lelah |
1. Sistem visual
Sistem visual membantu anak mengenali warna, bentuk, ukuran, jarak, pola, dan gerakan.
Aktivitas yang dapat melibatkan sistem ini antara lain:
- mengikuti gerakan benda;
- mencocokkan warna;
- mencari benda tertentu;
- menyusun gambar;
- membedakan ukuran.
2. Sistem auditori
Sistem auditori berkaitan dengan cara anak menerima serta membedakan suara.
Anak menggunakan sistem ini ketika:
- mengenali suara orang tua;
- mengikuti instruksi;
- membedakan suara keras dan lembut;
- mengikuti irama;
- mencari asal suara.
3. Sistem taktil
Sistem taktil menerima informasi melalui kulit.
Informasinya dapat berupa:
- kasar atau halus;
- dingin atau hangat;
- kering atau basah;
- ringan atau kuat;
- nyaman atau menyakitkan.
Anak dapat memiliki preferensi terhadap tekstur tertentu. Tidak menyukai satu jenis tekstur belum tentu menunjukkan masalah.
4. Sistem olfaktori
Sistem olfaktori membantu mengenali aroma. Aroma tertentu dapat terasa menyenangkan bagi satu anak, tetapi terlalu kuat bagi anak lain.
Gunakan bahan dengan aroma alami dan tidak menyengat ketika membuat aktivitas penciuman.
5. Sistem gustatori
Sistem gustatori berkaitan dengan rasa dan pengalaman di dalam mulut. Sistem ini bekerja bersama penciuman, sentuhan di mulut, suhu, serta tekstur makanan.
Aktivitas rasa harus menggunakan makanan yang aman dan sesuai usia. Jangan memaksa anak mencicipi bahan yang tidak ia inginkan.
6. Sistem vestibular
Sistem vestibular berada di telinga bagian dalam dan membantu mengenali gerakan, posisi kepala, keseimbangan, serta arah tubuh.
Aktivitas seperti melompat, membungkuk, berjalan mengikuti garis, berayun, atau merangkak dapat melibatkan sistem vestibular.
Gerakan berputar atau berayun dapat menimbulkan respons berbeda. Sebagian anak menyukainya, sedangkan anak lain cepat pusing atau takut.
7. Sistem proprioseptif
Sistem proprioseptif memberi informasi mengenai posisi sendi, otot, serta tenaga tubuh.
Sistem ini digunakan saat anak:
- mendorong;
- menarik;
- mengangkat;
- merangkak;
- melompat;
- memanjat;
- membawa benda.
Aktivitas yang melibatkan kerja otot dapat membantu anak memahami cara menggunakan tenaga secara lebih terarah.
8. Sistem interoseptif
Interosepsi membantu anak mengenali keadaan yang terjadi di dalam tubuh, seperti:
- lapar;
- haus;
- ingin buang air;
- lelah;
- sakit;
- perubahan detak jantung;
- napas yang semakin cepat.
Kemampuan mengenali sinyal tubuh berkembang secara bertahap. Orang tua dapat membantu dengan memberi nama pada pengalaman tersebut tanpa memaksakan jawaban.
Contohnya:
“Setelah berlari, napasmu terasa lebih cepat.”
“Perutmu terasa kosong. Mungkin tubuhmu sedang lapar.”
Apa Manfaat Stimulasi Sensori bagi Anak?
Aktivitas sensori bukan jalan pintas untuk membuat anak lebih pintar, tenang, atau cepat mencapai seluruh tahap perkembangan. Manfaatnya muncul melalui kesempatan anak bereksplorasi, bergerak, berkomunikasi, dan berinteraksi selama bermain.
Setiap anak juga dapat memperoleh pengalaman yang berbeda dari kegiatan yang sama.
1. Membantu Anak Mengenal Karakteristik Benda
Ketika menyentuh, melihat, atau memindahkan benda, anak dapat menemukan berbagai perbedaan, seperti:
- kasar dan halus;
- keras dan lembut;
- berat dan ringan;
- basah dan kering;
- besar dan kecil;
- cepat dan lambat.
Orang tua dapat membantu dengan menyebutkan karakteristik yang sedang diamati.
“Spons ini terasa lembut.”
“Botol ini lebih berat.”
“Airnya mengalir cepat.”
2. Memberikan Kesempatan Melatih Koordinasi
Aktivitas seperti menuang, mengambil, memasukkan, meremas, mendorong, atau berjalan mengikuti jalur melibatkan koordinasi mata, tangan, kaki, serta tubuh.
Tingkat kesulitan perlu disesuaikan dengan kemampuan anak. Anak yang baru belajar menuang dapat menggunakan wadah besar sebelum mencoba wadah yang lebih kecil.
3. Memperkaya Bahasa
Permainan sensori memberi banyak bahan untuk percakapan.
Orang tua dapat mengenalkan kata-kata seperti:
- lembut;
- lengket;
- dingin;
- hangat;
- wangi;
- keras;
- pelan;
- bergoyang;
- berat;
- ringan.
Tidak perlu menguji anak terus-menerus. Gunakan kata tersebut dalam percakapan alami selama bermain.
4. Mengajak Anak Mengamati dan Memecahkan Masalah
Anak dapat belajar melalui percobaan sederhana, misalnya:
- wadah mana yang dapat menampung lebih banyak air;
- benda mana yang tenggelam atau mengapung;
- cara memindahkan bola tanpa menyentuhnya dengan tangan;
- bagaimana menjaga tubuh agar tetap berada di atas garis;
- benda mana yang cocok dimasukkan ke dalam lubang.
Biarkan anak mencoba sebelum langsung memberikan jawaban.
5. Mendukung Interaksi dengan Orang Tua atau Teman
Aktivitas bersama dapat memberi kesempatan untuk:
- bergiliran;
- meminta bantuan;
- menunjukkan pilihan;
- meniru gerakan;
- mengikuti instruksi sederhana;
- berbagi peralatan;
- menyampaikan rasa tidak nyaman.
WHO menekankan pentingnya pengasuhan responsif, yaitu kemampuan orang dewasa mengenali, memahami, dan menanggapi sinyal anak secara tepat. Bermain bersama menjadi salah satu kesempatan untuk melakukan interaksi responsif tersebut.
6. Membantu Anak Mengenali Respons Tubuhnya
Setelah bergerak, anak dapat mulai mengenali bahwa napasnya lebih cepat, tubuhnya berkeringat, atau ia membutuhkan istirahat.
Orang tua dapat memberi bantuan verbal:
“Kamu sudah banyak melompat. Apakah tubuhmu ingin minum?”
“Kakimu terlihat lelah. Kita duduk sebentar.”
Tujuannya bukan memaksa anak memberikan jawaban yang benar, tetapi membantu menghubungkan sensasi tubuh dengan kata-kata.
Prinsip Memberikan Stimulasi Sensori
Sebelum memilih kegiatan, gunakan beberapa prinsip berikut.
Ikuti tahap perkembangan anak
Anak berkembang dengan kecepatannya masing-masing. Usia dapat menjadi panduan, tetapi orang tua tetap perlu melihat kemampuan aktual anak.
Jangan memberikan aktivitas hanya karena anak lain pada usia sama sudah mampu melakukannya.
Mulai dari kegiatan sederhana
Gunakan:
- satu atau dua bahan;
- area bermain kecil;
- durasi singkat;
- instruksi sederhana;
- lingkungan yang tidak terlalu ramai.
Terlalu banyak warna, bunyi, tekstur, aroma, dan gerakan sekaligus dapat membuat anak kesulitan memusatkan perhatian atau merasa kewalahan.
Berikan pilihan
Tawarkan dua kegiatan:
“Mau bermain air atau menyentuh kain?”
Memberikan pilihan dapat membantu anak merasa lebih aman dan terlibat.
Jangan memaksa
Apabila anak belum mau menyentuh bahan, izinkan ia:
- melihat;
- menggunakan sendok;
- memakai kuas;
- menyentuh melalui wadah;
- mengamati orang tua terlebih dahulu.
Jangan memegang tangan anak lalu memasukkannya ke bahan secara paksa.
Berikan waktu untuk bereksplorasi
Tidak semua kegiatan harus mempunyai satu hasil tertentu. Anak mungkin lebih tertarik menuang, mengelompokkan, atau membongkar susunan daripada mengikuti contoh orang tua.
Selama aman, biarkan anak menemukan cara bermainnya.
Utamakan interaksi
Mainan atau bahan sensori hanya merupakan alat. Percakapan, tatapan, respons, dan kehadiran orang tua membuat kegiatan menjadi lebih bermakna.
Baca juga: Kenali Sensory Overload pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Ide Aktivitas Stimulasi Sensori yang Aman
Berikut beberapa aktivitas yang dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
1. Mengikuti Benda Berwarna
Sistem yang terlibat: visual
Cocok untuk: bayi yang sudah dapat memperhatikan benda
Alat
- Kartu kontras;
- kain berwarna;
- mainan ringan berukuran cukup besar.
Cara bermain
- Pegang benda pada jarak yang nyaman di depan bayi.
- Tunggu hingga bayi memperhatikannya.
- Gerakkan perlahan ke kanan dan kiri.
- Berhenti apabila bayi memalingkan wajah atau terlihat lelah.
Jangan menggantung benda menggunakan tali panjang yang dapat dijangkau bayi.
2. Tummy Time dengan Cermin Bayi
Sistem yang terlibat: visual, taktil, proprioseptif
Cocok untuk: bayi yang terjaga dan didampingi
Alat
- Alas datar;
- cermin khusus bayi yang tidak mudah pecah.
Cara bermain
- Letakkan bayi dalam posisi tengkurap di permukaan aman.
- Tempatkan cermin di depannya.
- Berbaringlah sejajar dengan bayi.
- Ajak berbicara dan tunjuk pantulan wajah.
Lakukan dalam sesi singkat. Hentikan jika bayi terlihat kelelahan atau kesulitan mempertahankan posisi.
3. Buku Kain atau Kotak Tekstur
Sistem yang terlibat: taktil dan visual
Cocok untuk: bayi dan balita
Alat
Gunakan benda berukuran besar seperti:
- kain katun;
- handuk lembut;
- spons besar;
- kain bertekstur;
- bola sensorik sesuai usia.
Cara bermain
- Berikan satu tekstur terlebih dahulu.
- Biarkan anak mengamati atau menyentuh.
- Sebutkan karakteristiknya.
- Tambahkan tekstur lain apabila anak terlihat nyaman.
Pastikan semua bahan bersih, kuat, tidak berbulu lepas, dan tidak dapat tertelan.
4. Menebak Suara
Sistem yang terlibat: auditori
Cocok untuk: balita dan anak prasekolah
Alat
- Kertas;
- bel dengan suara lembut;
- botol plastik tertutup rapat;
- alat musik anak;
- tepukan tangan.
Cara bermain
- Buat satu suara ketika anak tidak melihat sumbernya.
- Minta anak menunjukkan atau menebak sumber suara.
- Berikan kesempatan anak membuat suara untuk ditebak orang tua.
- Bandingkan suara keras dan lembut dengan volume aman.
Jangan membuat suara mendadak dekat telinga anak.
5. Bermain Air dengan Wadah
Sistem yang terlibat: taktil, visual, dan proprioseptif
Cocok untuk: anak yang sudah dapat duduk atau berdiri stabil dengan pendampingan
Alat
- Wadah stabil;
- air dangkal;
- gelas plastik;
- spons besar;
- sendok besar.
Cara bermain
- Isi wadah dengan air dalam jumlah sedikit.
- Tunjukkan cara menuang dan memeras spons.
- Biarkan anak mencoba.
- Gunakan kata seperti penuh, kosong, basah, dan mengalir.
- Kosongkan serta simpan wadah segera setelah selesai.
Anak harus diawasi secara dekat dan terus-menerus ketika berada di dekat air. Air yang dangkal sekalipun dapat berbahaya bagi bayi dan anak kecil.
6. Memasukkan dan Mengeluarkan Benda
Sistem yang terlibat: visual, taktil, dan proprioseptif
Cocok untuk: bayi yang sudah mampu duduk dan balita
Alat
- Wadah plastik;
- balok lembut berukuran besar;
- bola besar;
- kain kecil yang tidak mudah terurai.
Cara bermain
- Masukkan satu benda ke dalam wadah.
- Katakan, “Masuk.”
- Keluarkan benda dan katakan, “Keluar.”
- Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba.
- Gunakan dua wadah ketika anak sudah lebih terampil.
Hindari kancing, manik-manik, biji-bijian, koin, dan benda kecil lain. Mainan dengan komponen kecil atau mudah terlepas dapat menimbulkan risiko tersedak.
7. Mencari Benda Berdasarkan Warna
Sistem yang terlibat: visual
Cocok untuk: balita dan anak prasekolah
Alat
- Benda besar dengan beberapa warna;
- dua atau tiga wadah.
Cara bermain
- Mulai dengan dua warna.
- Tunjukkan contoh benda merah dan biru.
- Minta anak memasukkan benda ke wadah yang sesuai.
- Jangan langsung mengoreksi setiap kesalahan.
- Tambahkan warna setelah anak memahami permainan.
Aktivitas ini dapat dikembangkan menjadi pencarian benda dengan warna tertentu di dalam ruangan.
8. Berjalan Mengikuti Garis
Sistem yang terlibat: vestibular, proprioseptif, dan visual
Cocok untuk: anak yang sudah berjalan stabil
Alat
- Selotip kertas;
- lantai rata dan tidak licin.
Cara bermain
- Buat garis lurus yang cukup lebar.
- Ajak anak berjalan mengikuti garis.
- Gunakan tangan orang tua sebagai bantuan bila diperlukan.
- Setelah anak nyaman, buat jalur melengkung.
- Tambahkan gerakan berhenti atau berbalik.
Jangan menuntut anak selalu berada tepat di atas garis. Fokus pada keberanian dan keseimbangan.
9. Mendorong Kotak Ringan
Sistem yang terlibat: proprioseptif
Cocok untuk: balita dan anak prasekolah
Alat
- Kotak karton kuat;
- beberapa bantal atau mainan ringan.
Cara bermain
- Isi kotak dengan benda ringan.
- Minta anak mendorongnya menuju tanda tertentu.
- Kurangi isi apabila kotak terlalu berat.
- Tambahkan permainan mengantar barang ke “rumah” atau “toko”.
Pastikan kotak tidak memiliki staples, bagian tajam, atau permukaan rusak.
10. Membawa dan Menyusun Bantal
Sistem yang terlibat: proprioseptif, vestibular, dan visual
Cocok untuk: balita dan anak prasekolah
Cara bermain
- Letakkan beberapa bantal di satu sisi ruangan.
- Minta anak membawanya satu per satu.
- Susun menjadi menara atau jalur.
- Biarkan anak merobohkan dan menyusun kembali.
- Gunakan bantal yang ringan dan bersih.
Jaga area dari meja bersudut tajam atau benda yang dapat pecah.
11. Mengenali Aroma Alami
Sistem yang terlibat: olfaktori
Cocok untuk: anak yang sudah dapat mengikuti instruksi sederhana
Alat
Gunakan bahan aman seperti:
- kulit jeruk;
- daun pandan;
- pisang;
- vanila dalam jumlah sangat sedikit;
- rempah ringan yang tidak mengiritasi.
Cara bermain
- Gunakan satu aroma terlebih dahulu.
- Letakkan bahan pada jarak wajar dari hidung.
- Biarkan anak mencium tanpa memaksanya.
- Tanyakan apakah aromanya kuat, lembut, disukai, atau tidak disukai.
- Hentikan apabila anak batuk, bersin, atau merasa tidak nyaman.
Hindari minyak esensial atau bahan beraroma kuat tanpa panduan profesional, terutama pada bayi dan anak dengan asma atau alergi.
12. Mengenali Rasa dan Tekstur Makanan
Sistem yang terlibat: gustatori, olfaktori, dan taktil oral
Cocok untuk: anak yang sudah siap makan sesuai tahap perkembangannya
Cara bermain
Gunakan makanan yang:
- sudah biasa dikonsumsi;
- sesuai usia;
- dipotong dengan aman;
- tidak menimbulkan alergi;
- dimasak dan disimpan dengan benar.
Ajak anak mengenali perbedaan:
- lembut dan renyah;
- hangat dan dingin;
- manis dan asam;
- kering dan berair.
Jangan memaksa anak menghabiskan atau mencicipi makanan. Untuk anak dengan kesulitan makan berat, tersedak berulang, atau jumlah makanan yang sangat terbatas, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
13. Bermain Adonan yang Aman
Sistem yang terlibat: taktil dan proprioseptif
Cocok untuk: anak yang tidak lagi memasukkan semua benda ke mulut
Alat
Gunakan adonan bermain komersial yang:
- sesuai usia;
- berlabel nontoksik;
- disimpan sesuai petunjuk;
- tidak mengandung bahan pemicu alergi anak.
Cara bermain
- Tunjukkan cara menekan dan meremas.
- Buat bola atau bentuk sederhana.
- Gunakan cetakan besar.
- Biarkan anak memakai alat bila belum nyaman menyentuh langsung.
Hindari membuat adonan dari tepung mentah tanpa penanganan keamanan. Tepung mentah dapat membawa kuman, dan anak tidak boleh memakan atau bermain dengan adonan mentah yang mengandung tepung belum dimasak.
14. Lintasan Gerak Sederhana
Sistem yang terlibat: vestibular, proprioseptif, visual, dan taktil
Cocok untuk: anak yang sudah berjalan dan mengikuti instruksi sederhana
Alat
- bantal;
- garis selotip;
- terowongan kain;
- keranjang;
- bola besar.
Cara bermain
- Berjalan mengikuti garis.
- Merangkak melewati terowongan.
- Membawa bola ke dalam keranjang.
- Melangkahi bantal.
- Berhenti di titik akhir.
Mulai dengan dua tahap. Tambahkan tahap lain setelah anak memahami jalurnya.
15. Mengenali Sinyal Tubuh
Sistem yang terlibat: interoseptif
Cocok untuk: balita dan anak prasekolah
Aktivitas ini dapat dilakukan setelah bermain aktif.
Ajukan pertanyaan sederhana:
- “Apakah napasmu cepat atau pelan?”
- “Tubuhmu terasa panas atau dingin?”
- “Apakah kamu haus?”
- “Apakah kakimu ingin bergerak lagi atau istirahat?”
- “Perutmu terasa penuh atau lapar?”
Terima jawaban anak tanpa mengatakan bahwa perasaannya salah. Kemampuan mengenali tubuh berkembang secara bertahap.
Aktivitas Sensori Berdasarkan Usia
Usia berikut hanya menjadi panduan umum. Pilih kegiatan berdasarkan kemampuan dan minat aktual anak.
Bayi 0–6 bulan
Aktivitas yang dapat dicoba:
- melihat wajah orang tua;
- mengikuti kartu kontras;
- mendengarkan nyanyian;
- tummy time;
- menyentuh kain lembut;
- melihat cermin bayi;
- dipeluk dan digendong secara responsif.
Sesi cukup berlangsung singkat. Berhenti ketika bayi memalingkan wajah, menangis, menguap, atau terlihat lelah.
Bayi 7–12 bulan
Aktivitas yang dapat dicoba:
- buku kain;
- bola lembut;
- memasukkan benda besar ke wadah;
- merangkak menuju mainan;
- memukul dua benda yang aman;
- bermain air dengan pengawasan langsung;
- mengikuti suara sederhana.
Karena bayi sering memasukkan benda ke mulut, periksa ukuran dan kebersihan seluruh bahan.
Anak 1–2 tahun
Aktivitas yang dapat dicoba:
- menuang air;
- membawa bantal;
- mendorong kotak;
- menari mengikuti musik;
- berjalan di garis lebar;
- mencocokkan dua warna;
- meremas spons;
- menyusun balok besar.
Berikan instruksi satu langkah dan tunjukkan contoh.
Anak 2–3 tahun
Aktivitas yang dapat dicoba:
- menebak suara;
- bermain adonan aman;
- mencari benda berdasarkan warna;
- lintasan gerak sederhana;
- mengelompokkan tekstur;
- mengenali aroma ringan;
- memindahkan benda dengan sendok;
- membawa dan menyusun benda ringan.
Anak 3 tahun ke atas
Aktivitas dapat dibuat lebih kompleks, misalnya:
- lintasan dengan beberapa instruksi;
- permainan mencocokkan suara;
- eksperimen mengapung dan tenggelam;
- memasak sederhana bersama orang tua;
- permainan misteri di dalam kantong;
- meniru irama;
- berburu warna;
- menggambar menggunakan berbagai alat.
Tetap perhatikan keamanan dan minat anak. Aktivitas yang lebih rumit belum tentu lebih baik.
Cara Mengetahui Anak Menikmati Aktivitas
Anak mungkin menunjukkan kenyamanan dengan cara:
- mendekati bahan;
- tersenyum;
- mengulang gerakan;
- meminta permainan dilanjutkan;
- menunjukkan benda kepada orang tua;
- berbicara atau bersuara selama bermain;
- mencoba variasi sendiri.
Sebaliknya, anak mungkin membutuhkan jeda apabila:
- menarik tangan atau tubuh;
- menutup telinga;
- memalingkan wajah;
- menegang;
- menangis;
- menjauh;
- batuk atau bersin;
- terlihat pusing;
- menjadi sangat gelisah;
- mengatakan “tidak” atau “berhenti”.
Respons tersebut perlu dihormati. Hentikan atau sederhanakan aktivitas.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?
Kesukaan atau ketidaksukaan terhadap satu tekstur bukan alasan tunggal untuk menyimpulkan adanya gangguan sensori.
Pertimbangkan berkonsultasi dengan dokter anak, tenaga tumbuh kembang, psikolog anak, atau terapis okupasi apabila respons sensori secara konsisten mengganggu aktivitas sehari-hari, misalnya:
- anak sangat terganggu oleh suara biasa;
- menolak hampir semua jenis tekstur pakaian;
- kesulitan makan karena tekstur;
- sering tersedak atau batuk saat makan;
- sangat takut terhadap gerakan sederhana;
- terus mencari gerakan berisiko;
- sering menabrak atau jatuh;
- tidak menyadari rasa sakit atau suhu berbahaya;
- kesulitan mengikuti kegiatan sekolah;
- respons sensori menimbulkan stres berat;
- kegiatan mandi, berpakaian, tidur, atau keluar rumah selalu terganggu;
- anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki.
Tenaga profesional menilai kebutuhan berdasarkan dampaknya terhadap partisipasi anak dalam kegiatan rumah, sekolah, bermain, dan perawatan diri—bukan hanya berdasarkan daftar perilaku.
Pertanyaan Seputar Stimulasi Sensori Anak
Apakah setiap anak membutuhkan aktivitas sensori?
Setiap anak menerima informasi sensori dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua tidak harus membuat sesi khusus setiap hari.
Makan, mandi, berjalan, bermain, membantu pekerjaan rumah, dan berbicara bersama orang tua sudah melibatkan berbagai sistem sensori.
Apakah stimulasi sensori dapat membuat anak lebih fokus?
Aktivitas sensori dapat mengajak anak memperhatikan suara, tekstur, gerakan, atau instruksi selama kegiatan. Namun, kemampuan fokus dipengaruhi banyak faktor, seperti usia, tidur, minat, kondisi kesehatan, dan lingkungan.
Jangan menggunakan aktivitas sensori sebagai satu-satunya penanganan untuk masalah perhatian.
Apakah stimulasi sensori dapat membuat anak lebih tenang?
Sebagian aktivitas dapat terasa menyenangkan bagi sebagian anak, tetapi responnya tidak sama.
Gerakan, suara, atau tekstur tertentu justru dapat membuat anak lain merasa tidak nyaman. Amati respons anak dan hindari menjanjikan satu aktivitas akan selalu membuatnya tenang.
Berapa lama aktivitas sensori dilakukan?
Tidak ada durasi wajib. Mulailah selama beberapa menit dan ikuti respons anak.
Aktivitas dapat dihentikan ketika anak kehilangan minat, merasa lelah, atau menunjukkan ketidaknyamanan.
Apakah anak harus menyentuh bahan dengan tangan?
Tidak. Anak boleh menggunakan sendok, kuas, penjepit besar, atau wadah. Mengamati juga merupakan bentuk partisipasi.
Jangan memaksa anak menyentuh bahan.
Apakah beras, kacang, dan manik-manik aman untuk sensory bin?
Bahan tersebut tidak cocok untuk bayi atau anak yang masih memasukkan benda ke mulut karena berisiko tertelan atau masuk ke saluran napas.
Pilih benda berukuran besar, sesuai usia, dan tidak mudah terlepas.
Apakah permainan sensori sama dengan terapi integrasi sensori?
Tidak. Permainan sensori merupakan aktivitas bermain umum. Terapi merupakan layanan profesional yang dirancang setelah asesmen dan mempunyai tujuan fungsional tertentu.
Apakah anak yang tidak suka tekstur pasti mengalami gangguan sensori?
Tidak. Anak dapat memiliki preferensi terhadap tekstur tertentu.
Evaluasi lebih perlu dipertimbangkan apabila responsnya sangat kuat, terjadi berulang, dan menghambat makan, berpakaian, sekolah, tidur, bermain, atau aktivitas penting lainnya.
Apakah stimulasi sensori harus menggunakan alat mahal?
Tidak. Banyak kegiatan dapat menggunakan benda sehari-hari, seperti:
- kain;
- bantal;
- kotak karton;
- gelas plastik;
- spons;
- bola;
- wadah air;
- selotip kertas.
Pastikan semua benda bersih, kuat, sesuai usia, dan aman.
Jadikan Stimulasi Sensori sebagai Pengalaman Bermain
Stimulasi sensori tidak harus berupa sesi panjang dengan banyak alat. Aktivitas sederhana yang dilakukan bersama orang tua sudah dapat memberi kesempatan kepada anak untuk melihat, mendengar, menyentuh, bergerak, dan mengenali tubuhnya.
Mulailah dari pengalaman yang sudah disukai anak. Tambahkan rangsangan baru secara perlahan dan jangan memaksa. Beri kesempatan anak memilih, mencoba, mengulang, atau berhenti.
Hal terpenting bukan berapa banyak kegiatan yang diselesaikan, melainkan apakah anak merasa aman, terlibat, dan memperoleh respons dari orang dewasa di sekitarnya.
Eksplorasi Sensori Bersama Sparks Sports Academy
Anak berusia 12–35 bulan dapat mengikuti program Kelas Sensory Anak dari Sparks Sports Academy. Program dibagi menjadi kelompok Baby usia 12–23 bulan dan Tiny usia 24–35 bulan.
Dalam kelas, anak mengikuti aktivitas yang melibatkan eksplorasi objek, gerakan, koordinasi, pengenalan warna, instruksi sederhana, dan interaksi melalui kegiatan yang disesuaikan dengan kelompok usia.
Ketersediaan kelas dan jadwal dapat berbeda pada setiap lokasi. Orang tua dapat berkonsultasi terlebih dahulu mengenai kesiapan anak, bentuk kegiatan, pendampingan, dan perlengkapan yang perlu dibawa.








