10 Cara Mengatasi Anak Tantrum Usia 2 Tahun

10 Cara Mengatasi Anak Tantrum Usia 2 Tahun

Table of Contents

Menghadapi anak yang tiba-tiba menangis, berteriak, berguling di lantai, atau menolak ketika keinginannya tidak terpenuhi tentu bisa membuat Mom/Dad kewalahan. Pada usia 2 tahun, perilaku seperti ini cukup umum karena anak sedang belajar mengenali emosi, mengembangkan kemandirian, sekaligus memahami batasan yang diberikan oleh orang di sekitarnya. Karena kemampuan bahasa dan pengendalian diri mereka masih berkembang, rasa kecewa sering kali diekspresikan melalui tantrum.

Memahami cara mengatasi anak tantrum usia 2 tahun menjadi penting agar Mom/Dad tidak hanya berusaha menghentikan tangisan, tetapi juga membantu anak belajar mengelola emosinya secara bertahap. Tantrum bukan selalu tanda bahwa anak nakal atau terlalu dimanja. Justru, momen tersebut dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan anak tentang perasaan, batasan, komunikasi, dan cara menenangkan diri.

Perkembangan Emosi Anak Usia 2 Tahun

Usia 2 tahun merupakan salah satu periode penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak. Pada tahap ini, anak mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan banyak hal sendiri. Mereka ingin memilih makanan, menentukan permainan, mengambil benda yang menarik perhatian, atau melakukan aktivitas tanpa bantuan orang dewasa.

Keinginan untuk mandiri tersebut terkadang tidak sejalan dengan kemampuan anak. Anak mungkin ingin memakai sepatu sendiri, tetapi belum memiliki koordinasi yang cukup baik. Mereka mungkin ingin mengambil mainan di tempat tinggi, tetapi belum mampu menjangkaunya. Ketika keinginan tidak tercapai, rasa frustrasi dapat muncul dengan cepat.

Manurut American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org, anak usia 2 tahun memang sedang mengalami perkembangan emosional yang membuat mereka belajar mengendalikan tindakan, impuls, perasaan, dan tubuhnya. Pada usia ini, perubahan suasana hati yang cepat juga dapat terjadi.

Kemampuan memahami emosi orang lain juga mulai berkembang. Anak dapat memperhatikan ekspresi wajah, nada suara, serta reaksi orang tua. Namun, kemampuan tersebut belum berarti anak mampu mengendalikan emosinya seperti orang dewasa.

Inilah alasan mengapa Mom/Dad sebaiknya tidak langsung memberikan label seperti “anak nakal” ketika terjadi tantrum. Anak berusia 2 tahun masih membutuhkan bantuan orang dewasa untuk belajar mengenali apa yang sedang dirasakannya.

Pada tahap ini, orang tua berperan sebagai contoh. Ketika Mom/Dad mampu menghadapi situasi sulit dengan suara tenang dan respons yang konsisten, anak mendapatkan contoh nyata mengenai bagaimana emosi dapat dikelola.

Kenapa Anak Bisa Tantrum?

Tantrum biasanya tidak muncul tanpa alasan. Ada pemicu tertentu yang membuat anak merasa frustrasi, kewalahan, kecewa, atau tidak mampu menyampaikan keinginannya.

Salah satu penyebab paling umum adalah keterbatasan kemampuan komunikasi. Anak mungkin sudah mengetahui apa yang diinginkan, tetapi belum mampu menjelaskan keinginannya dengan kata-kata. Akibatnya, tangisan atau teriakan menjadi cara tercepat untuk menunjukkan ketidaknyamanan.

Selain itu, rasa lapar dan lelah juga dapat membuat anak lebih mudah mengalami tantrum. Ketika tubuh membutuhkan makanan atau istirahat, kemampuan anak untuk mengendalikan emosi dapat semakin menurun.

Perubahan rutinitas juga dapat menjadi pemicu. Misalnya, anak terbiasa bermain setelah bangun tidur, tetapi suatu hari harus langsung pergi ke luar rumah. Perubahan mendadak seperti ini mungkin terasa sederhana bagi orang dewasa, tetapi bisa membuat anak merasa tidak nyaman.

Anak juga dapat mengalami tantrum ketika keinginannya ditolak. Misalnya, Mom/Dad tidak mengizinkan anak mengambil ponsel, membeli mainan, bermain lebih lama, atau makan makanan tertentu.

Tantrum memang umum terjadi pada usia 1–3 tahun dan dapat dipengaruhi oleh rasa lapar, lelah, keterbatasan kemampuan mengontrol diri, serta kebutuhan anak untuk mendapatkan sedikit kendali atas pilihannya.

Karena itu, memahami pemicu merupakan bagian penting dari cara mengatasi anak tantrum usia 2 tahun. Mom/Dad dapat mulai memperhatikan kapan tantrum paling sering terjadi dan apa yang biasanya mendahuluinya.

Tanda-Tanda Anak Mulai Tantrum

Sebelum tantrum mencapai puncaknya, beberapa anak sebenarnya menunjukkan tanda-tanda awal. Mengenali tanda ini dapat membantu Mom/Dad melakukan pencegahan sebelum emosi anak semakin sulit dikendalikan.

Beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain:

  • Anak mulai merengek dengan suara lebih tinggi.
  • Anak terus mengatakan “tidak”.
  • Anak mulai menangis ketika permintaannya ditolak.
  • Anak membuang atau mendorong benda.
  • Anak mulai berteriak.
  • Anak menolak disentuh atau dibantu.
  • Anak mulai menghentakkan kaki.
  • Anak terlihat sangat gelisah.
  • Anak meminta sesuatu secara berulang-ulang.
  • Anak mulai memukul, menendang, atau menggigit.

Setiap anak memiliki pola yang berbeda. Ada anak yang langsung menangis, sementara anak lainnya mungkin terlebih dahulu diam, merengek, atau mencari perhatian.

Mom/Dad dapat menggunakan tanda-tanda tersebut sebagai sinyal untuk segera membantu anak mengatur situasi. Misalnya, jika anak terlihat sangat lelah setelah bermain lama, Mom/Dad dapat menawarkan waktu istirahat sebelum anak benar-benar kehilangan kendali emosinya.

Cara Mengatasi Anak Tantrum Usia 2 Tahun

Berikut 10 cara mengatasi anak tantrum usia 2 tahun yang dapat diterapkan secara bertahap di rumah.

1. Tetap Tenang Saat Anak Mulai Tantrum

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjaga ketenangan diri. Ketika anak berteriak lalu Mom/Dad ikut berteriak, situasi biasanya justru semakin sulit dikendalikan.

Anak membutuhkan sosok dewasa yang mampu menjadi jangkar emosional ketika dirinya sedang kewalahan. Gunakan suara yang lembut tetapi tetap tegas.

Mom/Dad tidak perlu memberikan penjelasan panjang ketika anak sedang menangis keras. Cukup gunakan kalimat pendek seperti, “Mom tahu kamu marah” atau “Dad ada di sini.”

Setelah anak mulai tenang, barulah Mom/Dad dapat menjelaskan apa yang terjadi.

2. Validasi Perasaan Anak

Validasi bukan berarti Mom/Dad harus mengabulkan semua keinginan anak.

Jika anak menangis karena tidak boleh mengambil ponsel, Mom/Dad dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena tidak boleh memegang ponsel, ya.”

Kalimat tersebut membantu anak mengenali hubungan antara situasi dan emosinya.

Anak perlahan belajar bahwa merasa marah, sedih, kecewa, atau kesal merupakan hal yang boleh terjadi. Namun, cara mengekspresikannya tetap memiliki batas.

Misalnya, Mom/Dad dapat mengatakan, “Boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”

Pendekatan seperti ini membantu anak membedakan antara perasaan dan perilaku.

3. Berikan Pilihan Sederhana

Anak usia 2 tahun sedang membangun rasa mandiri. Memberikan pilihan sederhana dapat membuat anak merasa memiliki kendali tanpa menghilangkan batasan yang sudah ditetapkan.

Contohnya, daripada bertanya, “Mau mandi atau tidak?” Mom/Dad dapat memberikan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima.

“Mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”

Contoh lainnya adalah, “Mau pakai baju biru atau kuning?”

Pilihan seperti ini sederhana, tetapi dapat mengurangi pertentangan karena anak merasa dilibatkan.

HealthyChildren.org juga menyarankan pemberian pilihan yang dapat diterima sebagai salah satu strategi menghadapi perilaku anak usia toddler.

4. Alihkan Perhatian Anak

Pengalihan perhatian dapat digunakan ketika tantrum masih berada pada tahap awal.

Jika anak mulai menangis karena ingin mengambil benda yang berbahaya, Mom/Dad dapat segera mengalihkan perhatian kepada aktivitas lain.

“Ini tidak boleh diambil. Yuk, kita lihat balok yang ini.”

Pengalihan tidak berarti mengabaikan perasaan anak. Strategi ini membantu mengarahkan perhatian anak ke aktivitas yang lebih aman.

Namun, jangan menjadikan setiap tantrum sebagai alasan untuk memberikan hadiah atau barang yang diminta. Jika setiap tangisan selalu berakhir dengan pemberian sesuatu, anak dapat belajar bahwa tantrum merupakan cara efektif untuk mendapatkan keinginan.

5. Tetapkan Batasan dengan Konsisten

Anak membutuhkan batasan yang jelas agar memahami mana perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Jika Mom/Dad mengatakan tidak boleh memukul, aturan tersebut harus tetap berlaku meskipun anak sedang menangis.

Gunakan kalimat singkat dan konsisten seperti:

“Tidak boleh memukul.”

“Memukul itu sakit.”

“Kalau marah, kita bisa bilang marah.”

Konsistensi juga perlu dilakukan oleh anggota keluarga lainnya. Jika satu orang tua melarang sesuatu tetapi anggota keluarga lain selalu mengizinkannya, anak dapat mengalami kebingungan.

Menurut HealthyChildren.org, konsistensi dalam menerapkan batasan merupakan bagian penting dari pembentukan perilaku anak.

6. Pastikan Anak Tidak Lapar atau Terlalu Lelah

Mom/Dad juga perlu memperhatikan kebutuhan dasar anak.

Anak yang lapar, mengantuk, atau terlalu lelah dapat menjadi lebih sensitif terhadap situasi kecil. Karena itu, pencegahan tantrum dapat dimulai dari rutinitas harian yang lebih teratur.

Pastikan anak mendapatkan waktu makan, tidur, dan istirahat yang sesuai kebutuhannya.

Misalnya, jika Mom/Dad mengetahui bahwa anak biasanya mudah rewel menjelang waktu tidur siang, hindari menjadwalkan terlalu banyak aktivitas pada waktu tersebut.

Dengan mengenali pola anak, Mom/Dad dapat mengantisipasi situasi yang berpotensi memicu tantrum.

7. Ajarkan Kata-Kata untuk Mengungkapkan Emosi

Anak yang belum mampu mengatakan “Aku kecewa” mungkin hanya akan menangis atau berteriak.

Karena itu, Mom/Dad dapat memperkenalkan kosakata emosi secara sederhana.

Contohnya:

“Kamu marah.”

“Kamu sedih.”

“Kamu kecewa.”

“Kamu takut.”

“Kamu tidak suka.”

Gunakan kata-kata tersebut dalam situasi nyata. Lama-kelamaan, anak dapat mulai menggunakan kata yang sama untuk menyampaikan perasaannya.

Tidak perlu menuntut anak langsung mampu menggunakannya setiap kali marah. Proses belajar membutuhkan pengulangan.

8. Jauhkan Anak dari Situasi Berbahaya

Jika tantrum melibatkan perilaku seperti memukul, menggigit, menendang, melempar benda, atau berlari ke tempat berbahaya, keselamatan harus menjadi prioritas.

Mom/Dad perlu menghentikan perilaku tersebut dengan cara yang tegas tetapi tidak kasar.

Jika anak berusaha memukul, tahan tangannya dengan lembut dan katakan, “Mom tidak akan membiarkan kamu memukul.”

Jika anak berusaha berlari ke jalan, segera amankan anak.

Perilaku seperti memukul, menendang, atau menggigit tidak sebaiknya diabaikan dan perlu dihentikan demi keselamatan.

9. Berikan Waktu untuk Menenangkan Diri

Tidak semua tantrum harus segera dihentikan dengan banyak kata.

Ketika anak sedang menangis keras, kemampuan untuk menerima penjelasan panjang biasanya terbatas. Mom/Dad dapat tetap berada di dekatnya dan memastikan anak aman sambil memberikan waktu untuk menenangkan diri.

Gunakan kalimat sederhana seperti, “Mom tunggu sampai kamu tenang.”

Setelah tangisan mereda, Mom/Dad dapat mengajak anak berbicara.

Bila anak membutuhkan pelukan dan menerimanya, berikan pelukan. Namun, jika anak menolak sentuhan, berikan ruang sambil tetap memastikan keselamatannya.

10. Berikan Pujian Ketika Anak Berhasil Mengendalikan Emosi

Jangan hanya memperhatikan anak ketika sedang tantrum. Perhatikan juga ketika anak berhasil menunjukkan perilaku yang baik.

Misalnya, ketika anak meminta sesuatu tanpa berteriak, Mom/Dad dapat mengatakan, “Bagus, kamu bilang mau mainan dengan suara pelan.”

Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku mana yang diharapkan.

Mom/Dad juga dapat memberikan apresiasi ketika anak mau berbagi, menunggu giliran, membereskan mainan, atau mengikuti arahan.

Dengan begitu, perhatian orang tua tidak hanya terpusat pada perilaku negatif, tetapi juga memperkuat perilaku positif.

Baca juga: Cara Menghadapi Anak Tantrum Sesuai Usia, Dijamin No Drama!

Tips untuk Orang Tua Ketika Anak Tantrum

Kenali pemicu tantrum. Catat situasi yang sering membuat anak tantrum, misalnya ketika lapar, mengantuk, harus berhenti bermain, atau menghadapi perubahan rutinitas. Setelah menemukan polanya, Mom/Dad dapat melakukan pencegahan lebih awal.

Gunakan kalimat yang singkat. Saat anak sedang menangis keras, hindari memberikan ceramah panjang. Pilih kalimat sederhana yang mudah dipahami, seperti “Mom tahu kamu marah” atau “Tidak boleh memukul.”

Jangan membalas teriakan dengan teriakan. Anak belajar dari apa yang dilihatnya. Jika Mom/Dad berteriak ketika marah, anak dapat menangkap pesan bahwa berteriak adalah cara yang wajar untuk menghadapi konflik.

Tetap tegas terhadap batasan. Tenang bukan berarti selalu mengalah. Mom/Dad tetap dapat bersikap lembut sambil mempertahankan aturan yang sudah ditetapkan.

Hindari mempermalukan anak. Kalimat seperti “Malu, dilihat orang!” atau “Kamu anak nakal!” tidak membantu anak memahami emosinya. Fokuslah pada perilaku yang perlu diperbaiki.

Berikan pilihan yang terbatas. Dua pilihan yang sama-sama aman dapat membantu anak merasa memiliki kendali. Hindari memberikan terlalu banyak pilihan karena justru dapat membuat anak bingung.

Berikan waktu untuk bermain aktif. Aktivitas fisik dan permainan yang sesuai usia dapat menjadi bagian penting dalam keseharian anak. Bermain memberi kesempatan kepada anak untuk bergerak, mengeksplorasi, dan belajar berinteraksi.

Ajarkan melalui contoh. Ketika Mom/Dad frustrasi, tunjukkan cara mengelola emosi dengan sehat. Misalnya, tarik napas dan katakan, “Dad sedang kesal, Dad tarik napas dulu.”

Jangan langsung memberikan hadiah untuk menghentikan tangisan. Jika anak selalu mendapatkan benda yang diinginkannya setelah tantrum, ia dapat belajar bahwa perilaku tersebut efektif untuk mendapatkan sesuatu.

Berikan perhatian setelah anak tenang. Setelah emosi mereda, peluk anak jika ia menginginkannya, bicarakan kejadian secara singkat, lalu lanjutkan aktivitas.

Ajarkan bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan. Anak boleh marah, tetapi tidak boleh menyakiti orang lain. Anak boleh kecewa, tetapi tidak boleh melempar benda ke orang lain.

Jangan membandingkan anak. Setiap anak memiliki temperamen dan perkembangan yang berbeda. Ada anak yang mudah tenang, sementara anak lain membutuhkan waktu lebih lama untuk mengatur emosinya.

Jaga konsistensi antara rumah dan lingkungan lain. Jika anak berada di rumah, sekolah, atau tempat bermain, usahakan aturan dasar mengenai keselamatan dan perilaku tetap konsisten.

Berikan kesempatan anak untuk mencoba sendiri. Banyak tantrum terjadi karena anak ingin mandiri. Selama aman, berikan kesempatan untuk melakukan hal sederhana seperti memilih pakaian atau menyimpan mainan.

Tetap perhatikan kondisi yang tidak biasa. Tantrum merupakan bagian yang umum dalam perkembangan anak, tetapi Mom/Dad sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak apabila perilaku anak sangat mengkhawatirkan, terjadi bersama tanda masalah perkembangan lain, atau membuat anak maupun orang lain berada dalam bahaya.

Baca juga: 10 Cara Cerdas Menghadapi Anak Tantrum yang Wajib Diketahui Orang Tua

Yuk, Bantu Anak Belajar Mengelola Emosi dengan Aktivitas Positif

Menghadapi tantrum bukan hanya tentang bagaimana menghentikan tangisan anak secepat mungkin. Yang jauh lebih penting adalah membantu anak secara bertahap memahami emosi, mengembangkan kemampuan komunikasi, belajar mengikuti aturan, dan menemukan cara yang lebih tepat untuk mengekspresikan keinginannya. Dengan kesabaran, batasan yang konsisten, serta lingkungan yang aman, Mom/Dad dapat mendampingi proses perkembangan tersebut tanpa harus memberikan label negatif kepada anak.

Selain membangun rutinitas di rumah, aktivitas yang sesuai usia juga dapat membantu anak bereksplorasi melalui gerakan dan pengalaman yang menyenangkan. Mom/Dad dapat mempertimbangkan kelas sensori anak di Spakrs Sports Academy sebagai salah satu pilihan aktivitas untuk mendukung pengalaman belajar anak melalui kegiatan yang terarah dan menyenangkan. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, bergerak, berinteraksi, dan membangun berbagai keterampilan sejak dini.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%