Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
Tips Memilih Baju Olahraga Anak yang Tepat

5 Tips Memilih Baju Olahraga Anak yang Tepat

Parenting

Baju olahraga anak bukan sekedar pakaian biasa. Saat ini, banyak dari Mom/Dad sadar bahwa berolahraga sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Mulai dari lari, berenang, sepak bola, hingga olahraga tersetruktur memerlukan perlengkapan yang tepat. Sayangnya, banyak Mom/Dad memilih baju olahraga anak berdasarkan model yang lucu atau harga murah, tanpa memperhatikan kenyamanan dan keamanan anak. Padahal, baju olahraga yang tepat bisa membuat anak lebih leluasa bergerak, tidak mudah gerah, dan tentunya lebih bersemangat beraktivitas. Lalu, bagaimana memilih baju olahraga yang tepat? Simak panduan di bawah ini. Pentingnya Memilih Baju Olahraga Anak yang Tepat Memilih baju olahraga anak tidak hanya soal tampilan, melainkan kegunaanya yang dapat memengaruhi kemampuan anak bergerak, regulasi suhu tubuh, dan pencegahan cedera. Dengan baju olahraga yang tepat, anak bisa bergerak bebas dan aktif. Anak yang nyaman bergerak cenderung aktif lebih lama, sekitar 20-30% dalam sesi olahraga. Hal ini membantu anak menikmati sesi olahraga tanpa meras cepat lelah. Itu karena baju yang dikenakan membantu koordinasi motorik kasar dan halus. Koordinasi ini penting untuk keseimbangan, kelincahan, dan kemampuan bergerak secara tepat. Baju yang tepat juga membuat anak lebih percaya diri saat bermain dan berkesperimen dengan gerakan baru. Bahan yang pas, desain ergonomis, dan fitu tambahan seperti ventilasi atau resleting membuat anak berolahraga dengan maksimal. Jenis Baju Olahraga Anak Setiap jenis olahraga memiliki pakaiannya masing-masing. Berikut adalah beberapa jenis baju olahraga anak yang umum digunakan: 1. T-Shirt Olahraga Baju ini biasanya berbahan moisture-wicking seperti polyester atau campuran spandex. Bahan ini cocok untuk semua jenis olahraga karena ringan, cepat kering, dan tidak menyerap keringan berlebihan. 2. Singlet Singlet cocok digunakan untuk olahraga dengan intensitas tinggi seperti gymnastic atau berlari karena memberikan ventilasi maksimal. Mengenakan singlet dapat memberi kebebasan gerak pada area bahu dan lengan. 3. Jaket atau Sweater Olahraga Digunakan saat pemanasan atau olahraga di luar ruangan khususnya di cuaca dingin untuk menjaga suhu tubuh. Bahan jaket atau sweater olahraga biasanya campuran katun dan polyester agar tetap hangat tapi tidak mudah panas. 4. Legging dan Celana Training Legging biasaya digunakan oleh anak perempuan karena bahan yang elastis dan tidak transparan, cocok untuk senam, ballet, atau kelas dance. Sedangkan celana training seperti jogger atau short biasanya dipakai untuk berlari atau latihan beban. 5. Baju Renang Untuk aktivitas air, tentu dibutuhkan bahan khusus yang elastis dan cepat kering. Pastikan ukurannya pas agar tidak mengganggu gerakan saat berenang. Baca juga: 5 Tips Beli Bola Basket untuk Anak agar Nyaman dan Aman Saat Bermain Tips Memilih Baju Olahraga Agar tidak salah pilih, Mom/Dad bisa mengikuti tips berikut ini sebelum membeli baju olahraga anak: 1. Pilih Baju yang Mudah Menyerap Keringat Mom/Dad bisa memilih jaju olahraga yang berbahan dasar polyester dry-fit yang mudah menyerap keringat dan cepat kering. Hindari membeli baju olahraga dengan bahan terlalu tebal atau panas. 2. Pilih Ukuran yang Pas Memilih ukuran sangat penting untuk baju olahraga. Mom/Dad bisa membeli baju olahraga yang tidak terlalu ketat atau terlalu longgar untuk anak. Ukuran yang pas bisa membantu anak bergerak bebas tanpa merasa sesak. 3. Sesuaikan denga Jenis Olahraga Mom/Dad bisa membeli baju olahraga sesuai dengan olahraga yang sedang disenangi anak. Seperti contoh, baju untuk renang tentu berbeda dengan baju untuk sepak bola atau senam. 4. Libatkan Anak Saat Memilih Ajak anak untuk memilih baju olahraga yang akan dibeli. Biarkan anak memilih warna atau model favoritnya. Ini bisa meningkatkan semangat mereka untuk berolahraga. 5. Utamakan Kenyamanan dan Kepercayaan Diri Pilih model dan warna yang membuat anak merasa nyaman dan percaya diri saat berolahraga. Efek psikologis dari baju olahraga yang “cocok” bisa menjadi motivasi dan konsistensi latihan. Memilih baju olahraga anak yang tepat tidak hanya memperhatikan gaya, tetapi tentang kenyamanan, keamanan, dan dukungan terhadap tumbuh kembang si kecil. Dengan bahan yang naman, ukuran yang pas, serta model yang sesuai dengan jenis olahraga, anak akan lebih bebas bergerak dan semakin bersemangat beraktifitas. Jika Mom/Dad ingin anaknya berolahraga tetapi bingung cara memfasilitasinya, Mom/Dad bisa berkunjung ke Sparks Sports Academy. Di sana tersedia berbagai pilihan olahraga yang bisa membantu anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan percaya diri sejak dini.

11/02/2026 / 0 Komentar
Baca Lebih Lanjut
7 Jenis Olahraga untuk Anak Usia 5-6 Tahun yang Seru!

7 Jenis Olahraga untuk Anak Usia 5-6 Tahun yang Seru!

Parenting

Jenis olahraga untuk anak usia 5-6 tahun semakin dicari oleh banyak orang tua guna mengoptimalkan pertumbuhan dan kepercayaan diri anak. Usia 5-6 tahun adalah usia emas atau gloden age yang di mana anak sedang berada dalam fase perkembangan motork, sosial, dan emosional yang sangat pesat. Tak heran, memilih aktivitas fisik yang tepat bisa menjadi investasi bagi tumbuh kembang anak kedepannya. Lalu, olahraga apa yang cocok untuk anak usia 5-6 tahun? Dan bagaimana cara membuat mereka semangat melakukannya? Simak semua penjelasan di artikel ini. Pentingnya Berolahraga Sejak Dini Usia 5-6 tahun adalah masa di mana anak sedang aktif-aktifnya bergerak. Ini adalah usia yang tepat untuk mengenalkan olahraga ke anak secara terarah. Dilansir dari IDAI, Berolahraga sejak dini membantu anak dalam meningkatkan kesehatan fisik seperti otot dan tulang, jantung, peredaran darah, dan mengontrol berat badan. Tak hanya itu, dengan berolahraga anak bisa meningkatkan kepercayaan diri dan meningkatkan kesehatan mental. Olahraga juga bisa mengajarkan anak untuk disiplin, mengikuti instruksi, dan bekerja sama dengan teman. Manfaat Olahraga untuk Anak Usia 5-6 Thaun Agar anak mau berolahraga, Mom/Dad bisa memberinya pengetahuan tentang manfaat olahraga untuknya seperti berikut ini: Jenis Olahraga untuk Anak Usia 5-6 Tahun Berikut beberapa jenis olahraga untuk anak usia 5-6 tahun yang seru, aman, dan sesuai dengan tahap perkembangannya: 1. Gymnastic Gymnastic adalah olahraga yang sangat baik untuk melatih fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Gerakan seperti roll depan, handstand ringan, hingga latihan keseimbangan dilakukan secara bertahap dan menyenangkan. Jika Mom/Dad ingin mengenalkan gymnastic ini ke anak, bisa cek kelasnya di gymnastic Sparks Sports Academy 2. Multi Sports Multi sports cocok untuk anak mengeksplor berbagai macam olahraga. Dalam satu program, anak bisa belajar dasar-dasar olahraga seperti futsal, basket, hingga permainan tim sederhana. Sekarang, anak tidak perlu bingung memilih olahraga karena semua bisa dicoba di kelas Multi Sports di Sparks Sports Academy! 3. Dance Dance atau modern dance membantu anak mengekspresikan diri lewat gerakan. Selain melatih kelenturan, dance juga meningkatkan rasa percaya diri dan kreativitas. Ketika anak suka menari sambil bernyanyi, Mom/Dad bisa memfasilitasinya dengan mendaftar kelas dance di Sparks Sports Academy. 4. Ballet Ballet sangat bermanfaat untuk melati tubuh, keseimbangan, dan disiplin anak. Gerakannya yang lembut dan penuh teknik membantu anak lebih fokus dan terkontrol. Di Sparks Sports Academy, kelas balet sangat diminati oleh anak khususnya anak perempuan. 5. Taekwondo Taekwondo bukan sekedar bela diri biasa. Tetapi, bisa melatih anak untuk fokus, berani, dan disiplin sejak usia dini. Taekwondo mengajarkan anak untuk mengontrol tubuh dan emosi dengan cara yang aman dan nyaman. Mom/Dad bisa melatih kekuatan dan kedisiplinan anak di kelas taekwondo Sparks Sports Academy. 6. Basket Basket dapat mengajarkan keterampilan motorik anak dan meningkatkan koordinasi tangan dan mata. Tak hanya itu, anak juga belajar kerja sama tim dan strategi sederhana dalam permainan. Kelas basket di Sparks Sports Academy bisa melatih kemampuan basket anak dengan aman dan menyenangkan. 7. Futsal Olahraga futsal sangat cocok untuk anak yang aktif dan suka berlari. Selain melatih stamina, futsal juga mengajarkan sportivitas dan kerja sama tim. Jika anak suka berlarian, Mom/Dad bisa menyalurkan hobinya itu ke kelas futsal di Sparks Sports Academy. Di sana anak akan dilatih oleh pelatih berpengalaman dengan cara yang aman dan menyenangkan. Baca juga: 8 Rekomendasi Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun Tips Agar Anak Mau Diajak Olahraga Tidak semua anak bersemangat untuk berolahraga. Oleh karena itu, Mom/Dad bisa mengikuti tips sederhana berikut ini suapa anak mau diajak olahraga: Memilih jenis olahraga untuk anak usia 5-6 tahun yang tepat dapat membantu anak tumbuh secara optimal. Selain sehat secara fisik, anak jugga belajar disiplin, percaya diri, dan bersosialisasi dengan baik. Jika Mom/Dad ingin memberikan pengalaman olahraga yang menyenangkan untuk anak, Mom/Dad bisa mendaftarkannya di Sparks Sports Academy. Di sana, olahraga sudah dirancang khusus untuk anak dan dibimbing oleh pelatih profesional yang aman dan menyenangkan. Saatnya dukung tumbuh kembang anak lewat olahraga yang menyenangkan!

11/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada 7 Jenis Olahraga untuk Anak Usia 5-6 Tahun yang Seru!
Baca Lebih Lanjut
Piramida Sensori: Tahapan Penting untuk Tumbuh Kembang Anak

Piramida Sensori: Tahapan Penting untuk Tumbuh Kembang Anak

Sensory & Phonics

Dalam dunia yang penuh rangsangan dari gadget, TV, hingga lingkungan sosial yang kompleks, kemampuan anak untuk mengatur sensasi dan respon secara adaptif menjadi semakin penting. Karena itu, orang tua harus belajar untuk  memahami proses tumbuh kembang anak, yakni lewat piramida sensori atau pyramid of learning. Pyramid of learning memetakan tahapan perkembangan anak mulai dari dasar yang paling sederhana hingga keterampilan kompleks yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ingin tahu lebih lanjut tentang konsep belajar pyramid of learning untuk anak? Simak selengkapnya di bawah ini! Key Takeways: Apa Itu Piramida Sensori? Melansir Develop Learn Grow, lonsep ini mulai dikembangkan pada tahun 1991 oleh terapis okupasi Kathleen Taylor dan pendidik khusus Maryann Trott. Mereka menyadari bahwa jika seorang anak kesulitan dalam memproses input sensori, hal ini akan memengaruhi keterampilan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.  Secara sederhana, piramida sensori adalah gambaran visual yang menunjukkan bagaimana kemampuan dasar anak, terutama yang terkait dengan sistem sensorik. Konsep ini juga bisa menjadi acuan belajar untuk keterampilan yang lebih kompleks, seperti belajar, berbicara, dan berinteraksi dengan orang lain.  Dasar piramida ini mencakup kemampuan sensorik yang harus terstimulasi dengan baik. Sebab, ini menjadi “lantai pertama” sebelum anak bisa berkembang ke keterampilan motorik, koordinasi, dan kemudian ke kemampuan kognitif dan sosial.  Anda bisa bayangkan piramida sebagai sebuah rumah. Jika fondasinya kuat, rumah akan berdiri kokoh. Begitu pula dengan anak, fondasi sensori yang kuat membantu mereka lebih mudah mengatur tubuh, fokus di sekolah, serta mengekspresikan dirinya dengan lancar.  Mengapa Dasar Sensori Itu Penting? Sebelum anak mulai membaca, menulis, atau berhitung, otak dan sistem sarafnya harus siap memproses berbagai informasi yang masuk dari lingkungan sekitar. Proses ini disebut proses sensori, yaitu kemampuan tubuh untuk menerima sensasi (seperti sentuhan, gerak, suara, dan visual) lalu menginterpretasikannya dengan benar.  Contohnya, ketika anak bermain ayunan, tubuhnya merasakan perubahan posisi dan keseimbangan (vestibular). Ketika mereka memegang pasir, sensasi tersebut membantu mereka belajar tentang tekstur dan tekanan (taktil). Semua sensasi ini saling terhubung dan membentuk cara anak merespons dan berinteraksi dengan dunia.  Kurangnya stimulasi pada tahapan ini seringkali berdampak pada kesulitan anak untuk fokus di sekolah, koordinasi buruk, atau masalah perilaku. Sebab, otak belum terlatih memproses masukan sensori secara efektif. Tahapan dalam Piramida Sensori Berikut ini adalah tahapan pyramid of learning, terstruktur dari bawah ke atas dengan beberapa tingkatan utama. 1. Sistem Sensorik dan Sistem Saraf Ini adalah lapisan paling penting karena menjadi dasar utama. Sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) menerima informasi dari berbagai indra. Anak yang menerima stimulasi sensori yang cukup akan lebih siap mengembangkan kemampuan motorik dan kognitif selanjutnya.  2. Sensorimotor (Koordinasi Sensori dan Motorik) Setelah sensasi dasar diproses dengan baik, kemampuan motorik anak seperti keseimbangan, kontrol tubuh, dan koordinasi tangan-mata akan berkembang. Ini terlihat ketika anak mulai bisa jongkok, lompat, atau menulis dengan lebih baik.  3. Motor Persepsual Di level piramida sensori ini, kemampuan anak untuk memahami ruang dan gerakan semakin meningkat. Misalnya, kemampuan memperkirakan jarak, orientasi visual, dan gerak halus yang diperlukan untuk menulis dan menggambar lebih lancar.  4. Kognitif  Pada puncak piramida terdapat keterampilan seperti pemecahan masalah, bahasa, perhatian, dan regulasi emosi. Ini adalah “hasil akhir” dari bagaimana sensasi, gerakan, dan pengalaman sejak dini diproses dan diintegrasikan oleh otak.  Baca juga: 10 Permainan Sensori Anak yang Bisa Dilakukan di Rumah Mengapa Piramida Sensori Relevan untuk Orang Tua saat Ini? Orang tua tentu harus memahami tahapan tumbuh kembang anak agar mereka mampu berkembang secara maksimal. Dalam konsep ini, ketika fondasi sensori tidak kuat, anak bisa merasa mudah terganggu hingga tampak kurang percaya diri saat bermain bersama teman sebaya.  Terlebih untuk anak usia balita hingga sekolah dasar. Di mana stimulasi yang tepat tidak hanya membuat mereka lebih cepat belajar angka atau huruf, tetapi juga membentuk dasar kuat bagi perkembangan mereka. Terutama dalam mengatur emosi, keterampilan sosial, dan kemampuan mengatasi tantangan dalam lingkungan sekolah dan rumah.  Dengan memahami piramida ini, orang tua bisa lebih peka terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak Anda dan memberi mereka aktivitas yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga edukatif. Sehingga, keterampilan fisik, kognitif, dan sosial-emosional mereka berkembang dengan seimbang. Sudah Memahami Apa Itu Piramida Sensori? Setelah memahaminya, Anda bisa mulai membuat program bermain dan belajar yang mendukung tumbuh kembang anak sesuai tahapan piramida dan usianya. Namun, sebagai orang tua, Anda tentu menginginkan program yang secara nyata membantu tumbuh kembang anak. Di sinilah Spark Sports Academy hadir sebagai solusi praktis.  Program di Spark Sports Academy sendiri menggabungkan aktivitas fisik terstruktur dan stimulasi sensori yang sesuai dengan tahapan piramida. Melalui permainan, olahraga, dan kegiatan interaktif yang tepat usia, anak tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga akan terlatih mengatur gerakan, fokus, koordinasi, dan interaksi. Sparks Sports Academy pun memahami bahwa setiap anak itu unik, dan dengan pendekatan yang ramah serta berbasis perkembangan, setiap sesi latihan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Tertarik mendaftarkan anak? Info lebih lanjut, kunjungi situs Sparks Sports Academy!

11/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Piramida Sensori: Tahapan Penting untuk Tumbuh Kembang Anak
Baca Lebih Lanjut
Apa Itu Persepsi Sensori? Peran dan Cara Kerjanya pada Anak

Apa Itu Persepsi Sensori? Peran dan Cara Kerjanya pada Anak

Sensory & Phonics

Persepsi sensori adalah proses untuk anak memahami rangsangan yang datang. Sebagai orang tua, Anda pun dapat melihatnya bekerja dari reaksi-reaksi si kecil, seperti tertawa saat mendengar musik, menyentuh permukaan kasar dengan penasaran, atau menutup mata saat cahaya terlalu terang. Yuk, pahami lebih dalam! Key Takeaways: Apa Itu Persepsi Sensori? Persepsi sensori adalah kemampuan otak untuk mengatur dan menafsirkan informasi yang diterima dari indera, seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa, dan bau. Informasi yang panca indera terima akan otak proses sehingga anak dapat mengenali, merespons, dan berinteraksi. Dilansir dari Early Education Station, proses ini akan membantu anak memahami dunia di sekitarnya, serta berpengaruh besar pada tumbuh kembang fisik, kognitif, dan sosial mereka.  Proses persepsi ini tak hanya terjadi begitu saja. Ini adalah sebuah rangkaian yang dimulai dari reseptor sensorik yang menerima stimulus (misalnya suara atau objek yang dilihat), lalu dikirim ke otak untuk diproses dan diolah menjadi pemahaman bermakna.  Jika proses tersebut tidak bekerja dengan baik, anak pun akan kesulitan belajar hal-hal dasar dan tidak bisa memberikan reaksi apapun pada rangsangan. Contohnya seperti membedakan suara, maupun menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.  Peran Indera dalam Persepsi Sensori Anak-anak menggunakan lima indera utama atau dasar mereka untuk memproses berbagai rangsangan. Melansir dari Sensory Health, berikut ini adalah indra yang dimaksud. 1. Penglihatan (Visual)  Proyeksi akan retina terima melalui thalamus, di mana berbagai informasi akan melalui proses enkode. Melalui penglihatan, anak akan belajar membedakan objek, membaca ekspresi wajah orang lain, dan memahami lingkungan visual seperti gambar, atau tulisan sejak dini. 2. Pendengaran (Auditory) Kemampuan ini sangat berkaitan dengan perkembangan bahasa, komunikasi, serta kemampuan anak mengikuti instruksi dan merespons lingkungan sosial. 3. Sentuhan (Tactile) Sistem taktil akan bertanggung jawab untuk memproses informasi sentuhan pada tubuh. Melalui sentuhan, anak akan belajar mengenali benda halus atau kasar, panas atau dingin, serta mengembangkan rasa aman saat berinteraksi dengan lingkungannya. 4. Penciuman (Olfactory)  Indra penciuman dalam sistem persepsi sensori adalah kemampuan yang berkaitan dengan memori dan emosi. Misalnya, aroma tertentu yang dapat membuat anak merasa tenang, lapar, atau tidak nyaman. 5. Perasa (Gustatory) Melalui pengalaman ini, anak belajar memilih makanan, mengenali selera, serta membangun kebiasaan makan yang sehat sejak usia dini. Sistem ini juga akan membantu dalam mengenali makanan yang aman dan berbahaya. Baca juga: Mengenal 7 Dasar Sensori Integrasi dan Pengertiannya Komponen Utama Persepsi Sensori Karena persepsi sensori adalah salah satu kunci anak bisa terhubung dengan dunianya, orang tua pun wajib memahami prosesnya agar dapat membantu anak mengembangkannya. Berikut komponen dan uraiannya. 1. Deteksi Sensori Ini adalah tahap awal di mana indera menangkap stimulus. Contohnya, kulit anak merasakan permukaan kasar saat mereka memegang batu, atau mata mereka melihat warna cerah suatu benda. Proses ini mirip dengan pintu masuk dari setiap informasi yang datang dari luar.  2. Organisasi dan Integrasi Setelah informasi diterima, otak akan mencoba mengatur dan menyusun data tersebut. Misalnya, saat anak mendengar suara serempak, otak mereka akan memproses mana suara langkah kaki dan mana suara musik. Tahap ini penting agar anak dapat memisahkan berbagai rangsangan yang terjadi bersamaan.  3. Interpretasi dan Pemberian Arti Inilah bagian yang membuat proses sensorik menjadi persepsi. Otak memberi makna pada stimulus, misalnya anak tahu suara lonceng berarti waktu bermain, atau rasa manis di mulut berarti makanan enak. Interpretasi ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya serta kemampuan kognitif mereka.  4. Respon atau Tindakan Tahap akhir persepsi sensori adalah bagaimana anak bereaksi pada informasi yang telah mereka pahami, misalnya tertawa, bergerak menjauh dari suara keras, atau menenangkan diri ketika merasa takut. Respons ini menunjukkan bahwa proses persepsi berjalan tidak hanya sekedar memahami, tetapi juga memicu tindakan.  Sudah Memahami Apa Itu Persepsi Sensori? Kesimpulannya, persepsi sensori adalah fondasi dari kemampuan belajar, konsentrasi, regulasi emosi, serta keterampilan motorik dan sosial-emosional anak. Anak dengan persepsi sensori yang baik cenderung lebih mudah berinteraksi dengan teman sebaya dan menangkap pelajaran serta instruksi. Nah, untuk membantu meningkatkan persepsi sensori anak, mendorongnya melakukan aktivitas yang beragam sangat penting. Salah satu pendekatan yang bisa Anda pertimbangkan adalah mengikuti program pengembangan terstruktur di Sparks Sports Academy.  Selain melakukan latihan fisik, tersedia pula kegiatan edukatif untuk merangsang persepsi sensori anak secara holistik. Metode pembelajarannya akan membuat anak merasa nyaman, tertantang, dan berkembang sesuai ritme sendiri. Ayo, beri anak landasan kuat untuk belajar dan berinteraksi di lingkungan terbaik!

11/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Apa Itu Persepsi Sensori? Peran dan Cara Kerjanya pada Anak
Baca Lebih Lanjut
Mengenal 7 Dasar Sensori Integrasi dan Pengertiannya

Mengenal 7 Dasar Sensori Integrasi dan Pengertiannya

Sensory & Phonics

Orang tua tentu ingin anak tumbuh optimal, tidak hanya cerdas di akademis, tetapi juga kuat secara fisik dan matang secara emosi. Namun, pernahkah Anda melihat anak mudah terdistraksi, sulit duduk tenang, sensitif pada suara, atau tampak ceroboh saat bergerak? Hal tersebut bisa berkaitan dengan sensori integrasi (SI). Sensori integrasi sendiri merupakan sebuah proses penting dalam perkembangan anak yang seringkali luput dari perhatian. Padahal, proses ini sangat berpengaruh pada cara anak belajar, bergerak, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Ingin tahu lebih lanjut? Simak artikel ini sampai habis! Key Takeaways: Apa Itu Sensori Integrasi? Melansir Alodokter, sensori integrasi atau sensory integration kerap kali dikenal sebagai bentuk intervensi yang diterapkan oleh terapis okupasi untuk membantu anak yang mengalami hambatan dalam pemrosesan rangsangan sensorik.  Jurnal Sari Pediatri juga menyebutkan bahwa, sensory integration merupakan kemampuan otak untuk mengenal, mengolah, dan membedakan sensasi atau informasi. Informasi tersebut sendiri berasal dari panca indra serta sistem gerak tubuh, lalu menggunakannya untuk merespons lingkungan secara tepat. Anak yang mengalami gangguan sensory integration pun cenderung kesulitan memproses informasi sensori, berdampak pada aktivitas sehari-hari, konsentrasi, dan perilaku. Karena itu, terapis kerap menggunakannya untuk mendukung perbaikan, perkembangan, proses belajar, serta kemampuan berinteraksi anak. 7 Dasar Sensori Integrasi Setelah mengetahui definisinya, mari mengenal sistem sensori yang terlibat dalam sensory integration.  1. Sistem Visual (Penglihatan) Sistem visual tidak hanya soal melihat dengan jelas, tetapi juga bagaimana anak menafsirkan apa yang mereka lihat. Anak yang sistem visualnya berkembang baik mampu mengenali bentuk, jarak, arah, dan koordinasi mata-tangan.  Keterampilan ini penting saat anak belajar membaca, menulis, menangkap bola, atau meniru gerakan. Jika sistem ini kurang optimal, anak bisa mudah lelah saat belajar atau kesulitan fokus pada aktivitas visual. 2. Sistem Auditori (Pendengaran) Sistem auditori dalam sensori integrasi akan membantu anak memahami suara di sekitarnya, termasuk bahasa, instruksi, dan nada emosi. Anak dengan integrasi auditori yang baik dapat menyaring suara penting dan mengabaikan suara latar yang mengganggu.  Sebaliknya, anak yang sensitif terhadap suara bisa mudah terganggu di lingkungan ramai atau sulit mengikuti instruksi verbal. Tentu saja, ini akan berdampak pada proses belajar dan sosialnya. 3. Sistem Taktil (Peraba) Sentuhan adalah indra pertama yang berkembang sejak bayi. Sistem taktil berperan besar dalam rasa aman dan kenyamanan anak. Selain itu, mengutip Physiopedia, reseptor kulit akan meneruskan informasi ke area otak yang berbeda-beda, yaitu primary sensory cortex dan secondary somatosensory cortex. Anak yang sensori taktilnya seimbang biasanya nyaman disentuh, tidak terlalu reaktif terhadap tekstur pakaian, pasir, atau cat. Namun, bila sistem ini terganggu, anak bisa menjadi terlalu sensitif atau justru kurang peka terhadap sentuhan, sehingga memengaruhi keberanian mereka saat bermain dan bereksplorasi. 4. Sistem Vestibular (Keseimbangan) Melansir laman Michigan State University, sistem vestibular berkaitan dengan keseimbangan dan kesadaran posisi kepala terhadap gravitasi. Sistem ini sangat penting untuk aktivitas seperti berlari, melompat, berputar, dan menjaga postur tubuh.  Anak yang vestibularnya berkembang baik akan lebih percaya diri bergerak dan jarang terjatuh. Sebaliknya, anak bisa terlihat takut bergerak, mudah pusing, atau justru sangat aktif tanpa kontrol bila sistem ini belum terintegrasi dengan baik. Baca juga: Mengenal Kelas Sensori Anak dan Manfaatnya Bagi Si Kecil 5. Sistem Proprioseptif (Kesadaran Tubuh) Proprioseptif membantu anak mengenali posisi tubuhnya tanpa harus melihat tubuhnya sendiri. Sistem sensori integrasi ini bekerja saat anak mendorong, menarik, memanjat, atau mengangkat benda.  Integrasi proprioseptif yang baik akan membuat anak mampu mengontrol kekuatan gerakan dan koordinasi tubuh. Anak yang kesulitan pada sistem ini sering tampak ceroboh, menabrak benda, atau sulit mengatur tekanan saat menulis dan memegang alat. 6. Sistem Olfaktori (Penciuman) Meski sering dianggap sepele, penciuman berperan dalam memori, emosi, dan preferensi anak. Mengutip NAPA, bau juga dapat memberikan rasa rileks dan menjaga mood. Misalnya, bau masakan rumahan bisa memicu rasa nyaman atau bau bunga yang justru dapat menimbulkan penolakan.  Anak dengan sensori olfaktori yang sensitif mungkin akan menolak makanan tertentu atau merasa tidak nyaman di lingkungan tertentu. Karena itu, pemahaman akan sistem ini membantu orang tua lebih empatik dalam menghadapi reaksi anak. 7. Sistem Gustatori (Pengecap) Sistem gustatori berkaitan dengan kemampuan mengecap rasa. Anak dengan integrasi gustatori yang baik biasanya lebih fleksibel dalam menerima variasi makanan.  Jika tidak, anak bisa menjadi picky eater ekstrem atau sangat selektif terhadap tekstur dan rasa. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada nutrisi, tetapi juga pada pengalaman sosial seperti makan bersama. Mengapa Sensori Integrasi Penting untuk Aktivitas Anak? Anda perlu memahami bahwa ketujuh sistem sensori integrasi tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung. Sistem sensory integration yang baik akan membantu anak lebih siap mengikuti aktivitas fisik, permainan kelompok, dan proses belajar.   Itulah alasan olahraga dan aktivitas edukatif berbasis gerak efektif mendukung perkembangan sensori, terutama pada usia balita hingga sekolah dasar. Jika sedang mencari program yang mampu mendukung perkembangan sensori secara menyeluruh pada anak, Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan. Program yang ada dirancang khusus untuk anak-anak dengan pendekatan berbasis gerak, bermain, dan eksplorasi, sehingga membantu mengintegrasikan sistem visual, vestibular, proprioseptif, dan lainnya secara natural. Anda dapat mengenal lebih jauh programnya dengan mendaftar free trial class Sparks Sports Academy!

11/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Mengenal 7 Dasar Sensori Integrasi dan Pengertiannya
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

1 2 … 71 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.