Apakah cara berjalan anak Anda saat ini terlihat mengangkang? Jika ya, jangan hiraukan begitu saja, karena ada beberapa penyebab anak jalan ngangkang yang harus Anda waspadai. Pola jalan seperti ini bisa berkaitan dengan perkembangan otot, postur tubuh, hingga kebiasaan aktivitas fisik anak sehari-hari. Namun, dengan memahami penyebabnya secara spesifik, Anda sebagai orang tua dapat menentukan langkah yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Key takeaways 4 Penyebab Anak Jalan Ngangkang Normalnya, anak akan melewati fase berjalan ngangkang (kaki membentuk huruf O) pada usia 18 bulan hingga 2 tahun. Kondisi tersebut termasuk mekanisme alami anak dalam menjaga keseimbangan tubuh dan memperkuat otot kaki. Namun, jika kaki anak Anda tidak kunjung lurus, waspadai beberapa penyebab anak jalan ngangkang berikut. 1. Faktor Genetik Perlu Anda ketahui bahwa faktor genetik, seperti riwayat keluarga atau orang tua yang memiliki bentuk kaki O, kelainan tulang bawaan, kelainan genetik penyebab tulang rapuh, atau sindrom tertentu yang dapat diturunkan bisa menjadi penyebab anak jalan ngangkang. 2. Kelainan Bayi Sejak dalam Kandungan Menurut artikel dari Healthy Children, salah satu kelainan kaki yang menyebabkan bayi baru lahir berisiko berjalan ngangkang adalah metatarsus adductus. Kelainan ini terjadi karena posisi dan pembentukan kaki saat anak berada dalam kandungan tidak normal seperti pada umumnya. Metatarsus adductus membuat kaki anak melengkung ke arah dalam. Secara detail, kondisi ini juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu metatarsus adductus fleksibel dan kaku. Pada jenis fleksibel, kaki anak dapat membaik dengan sendirinya pada usia 6-12 bulan. Sementara pada kasus metatarsus adductus kaku, kelainan kaki anak hanya dapat diobati dengan bantuan medis. 3. Cedera pada Kaki Cedera pada kaki juga menjadi penyebab anak jalan ngangkang. Umumnya, anak-anak yang suka bergerak aktif akan berisiko jatuh. Namun, apabila jatuh tersebut membuat anak berjalan ngangkang atau tidak normal, sebaiknya segera bawa anak ke dokter spesialis tulang untuk mendapat pengobatan lebih lanjut. 4. Berat Badan yang Berlebih Berat badan anak berlebih atau obesitas juga bisa menjadi penyebab anak jalan ngangkang. Alasannya adalah karena berat badan berlebih membuat kaki memiliki tumpuan yang berat, sehingga tulang kaki melengkung karena tidak kuat menahan berat tubuh. Baca juga: Gunakan Push Walker untuk Membantu Anak Belajar Berjalan Cara Mengatasi Jalan Ngangkang pada Anak Meski begitu, Anda tidak perlu terlalu khawatir. Simak beberapa cara mengatasi jalan ngangkang pada anak yang bisa Anda lakukan di rumah. 1. Melakukan Supine Hip Internal Rotation Stretch Supine hip internal rotation stretch merupakan gerakan yang berfungsi mengembalikan bentuk paha dan kaki agar lebih lurus. Gerakan ini bisa anak lakukan dengan cara tidur terlentang, kemudian tekuk kedua kaki. Lalu, salah satu kaki—bisa kanan atau kiri—ditarik ke dalam, dan tahan posisi selama 10-15 menit. Saat melakukan gerakan ini, pinggang anak tidak boleh bergerak karena akan mempengaruhi posisi kaki. 2. Melakukan Standing Hip Internal Rotation Stretch Standing hip adalah gerakan yang sama seperti supine hip internal rotation stretch, hanya saja dilakukan pada posisi berdiri. Caranya, putar kaki kanan ke kiri dan putar badan ke arah kaki belakang, sehingga kaki kanan akan ikut tertarik. Kemudian, tahan posisi tersebut selama 10-15 detik dan lakukan sebanyak 6-8 kali. 3. Memeriksakan Lutut Melakukan pemeriksaan lutut ke dokter biasa dilakukan pada anak yang berjalan ngangkang karena sakit atau cedera. Rasa sakit datang kapan saja tanpa disadari pada bagian dalam atau luar lutut bahkan di bagian tempurung lutut. Hal itu tergantung lokasi nyeri yang dapat mengakibatkan peradangan pada tulang, sendi, atau infeksi kulit karena adanya gesekan. 4. Konsumsi Obat atau Vitamin Obat-obatan atau vitamin yang bisa Anda berikan pada anak dengan kelainan ini adalah vitamin D dan kalsium. Keduanya berfungsi untuk menguatkan tulang belakang dan kaki, menangkal virus, dan mencegah pengeroposan tulang. Tidak harus berbentuk obat-obatan, vitamin D dan kalsium bisa Anda beri melalui makanan atau minuman. 5. Melakukan Fisioterapi Apabila kebiasaan, obat, dan makanan tidak bisa memperbaiki kaki ngangkang, Anda bisa membawa anak untuk melakukan fisioterapi. Fisioterapi dapat dilakukan sejak anak-anak hingga dewasa, karena dapat memperkuat otot dan tulang yang berada di sekitar kaki dan mencegah kerusakan sendi pada tulang kaki. 6. Menggunakan Alat Bantu Alat bantu juga bisa anak gunakan untuk mengatasi jalan ngangkang yang sudah parah. Contohnya gips untuk kaki dan alat bantu jalan lainnya. Namun, apabila kondisi kaki masih normal, maka alat bantu ini tidak disarankan dan sebaiknya Anda konsultasikan ke dokter spesialis tulang. Pentingnya Memperhatikan Perkembangan Jalan Anak Walaupun anak yang berjalan ngangkang masih dianggap normal pada usia 18 bulan sampai 2 tahun, tetapi Anda harus tetap memperhatikan perkembangannya. Hal ini berguna untuk mendeteksi lebih awal adanya ketidaknormalan pada cara berjalan sekaligus penyebab anak jalan ngangkang. Oleh karena itu, Anda perlu memberi anak sejumlah aktivitas edukatif yang mendukung tumbuh kembangnya secara fisik, kognitif, dan sosial-emosional sembari memperhatikan tumbuh kembangnya. Bersama Sparks Sports Academy, Anda dapat mewujudkan kegiatan edukatif tersebut. Sparks Sports Academy merupakan tempat yang tepat dalam memberi aktivitas produktif dan edukatif untuk anak yang masih dalam masa tumbuh kembang. Tentu saja, aktivitas-aktivitas tersebut telah disesuaikan dengan usia dan kebutuhan masing-masing anak. Jadi, jangan ragu untuk mendaftarkan anak Anda!
Normal atau Bahaya? Kenali Alasan Bayi Garuk Telinga Terus
Jika melihat bayi garuk telinga berulang kali, respon pertama orang tua mungkin langsung khawatir. Apalagi, hal ini memang bisa menandakan ketidaknyamanan, meski tidak selalu berarti ada infeksi serius. Mengutip Popmama, kebiasaan ini bisa terjadi karena bayi merasa gatal ringan, belajar eksplorasi tubuh, atau gejala tumbuh gigi. Namun, Anda tetap perlu waspada jika garukan tersebut disertai gejala lain. Sebab, beberapa tanda tertentu dapat mengarah pada infeksi telinga. Mari pahami berbagai gejalanya lewat ulasan di bawah ini! Key Takeaways: 4 Penyebab Bayi Garuk Telinga Terus-Menerus Mengutip Seattle’s Children, menggosok atau menggaruk telinga adalah hal yang normal terjadi pada anak di bawah 2-3 tahun asalkan tidak disertai tanda lain. Karena itu, agar tidak panik berlebih, mari mengenal faktor pemicunya agar Anda bisa mengambil langkah yang tepat. 1. Tumbuh Gigi Ketika bayi mulai tumbuh gigi, rasa sakit yang muncul tidak selalu hanya terasa di gusi. Nyeri ini bisa menjalar hingga ke area telinga karena adanya koneksi saraf di sekitar rahang, sehingga bayi tampak seperti tidak nyaman di bagian telinga padahal pemicunya dari proses tumbuh gigi. Biasanya, tanda lain yang menyertai adalah bayi lebih sering mengeluarkan air liur, gusi tampak bengkak, suka memasukkan benda ke mulut, serta lebih rewel atau sulit tidur. Jika gejalanya ringan dan bayi tetap mau makan atau minum, kondisi ini normal dan bisa dipantau sambil dibantu dengan teether atau cara yang aman sesuai kebutuhan. 2. Kulit Kering Kulit bayi yang lembut memang rentan mengalami kekeringan, termasuk di area sekitar telinga. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa gatal yang membuat bayi garuk telinga berulang kali, terutama ketika cuaca sedang dingin. Melansir Healthline, pemicu kulit kering dan gatal pada bayi sendiri bisa berasal dari perubahan suhu, penggunaan sabun yang tidak cocok, banyak berkeringat, keringat berlebih, hingga rutinitas mandi yang terlalu sering. Jika garukan membuat kulit tampak memerah, terkelupas, atau muncul bercak kering bersisik, orang tua perlu waspada karena bisa mengarah ke eksim. Bila kondisi tidak membaik meski sudah memakai pelembab khusus bayi, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk penanganan yang lebih tepat. 3. Penumpukan Kotoran di Telinga Kotoran telinga (serumen) sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk melindungi telinga dari debu dan kuman. Namun, jika jumlahnya berlebihan dan menumpuk, tentu akan terasa tidak nyaman dan akhirnya bayi menggaruk atau menarik-narik telinganya sebagai respon terhadap rasa mengganggu tersebut. Pada kondisi ini, orangtua sebaiknya tidak membersihkan bagian dalam telinga menggunakan cotton bud karena justru berisiko mendorong kotoran lebih dalam. Jika bayi terlihat semakin tidak nyaman atau kebiasaan menggaruknya makin sering, segera periksakan ke dokter agar bisa dicek dan ditangani dengan cara yang tepat. 4. Infeksi Telinga Salah satu penyebab serius bayi garuk telinga yang perlu diwaspadai adalah infeksi telinga. Kondisi ini umum terjadi pada bayi dan balita karena struktur tabung eustachius yang masih lebih horizontal, sehingga cairan lebih mudah terjebak dan memicu peradangan. Gejala infeksi telinga biasanya cukup jelas, berikut beberapa di antaranya. Karena infeksi telinga sering membutuhkan pengobatan seperti antibiotik, orang tua disarankan segera memeriksakan bayi ke dokter. Khususnya jika tanda-tanda di atas sudah muncul agar tidak semakin parah. Sudah Memahami Pertanda dan Bahaya Bayi Garuk Telinga? Kesimpulannya, bayi garuk telinga tidak selalu menandakan masalah serius, apalagi jika tidak ada keluhan lain. Namun, bila muncul gejala buruk lainnya, sebaiknya segera konsultasi agar penyebabnya cepat ditemukan dan ditangani. Selain menjadi orang tua yang waspada, Anda juga harus memastikan anak tumbuh di lingkungan yang tepat untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Salah satunya dengan mendorong anak melakukan berbagai kegiatan aktif di Sparks Sports Academy. Di Sparks Sports Academy sendiri terdapat banyak program yang fun, aman, dan mendukung kemampuan fisik serta sosial-emosional anak usia balita hingga pra-sekolah. Ayo, kunjungi situs resmi Spark Sports Academy dan temukan berbagai promo menariknya!
Gaya Belajar Kinestetik: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengoptimalkannya
Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, dan salah satunya adalah kinestetik. Anak dengan gaya belajar kinestetik cenderung lebih mudah memahami informasi melalui gerakan, sentuhan, dan pengalaman langsung dibandingkan hanya duduk diam mendengarkan penjelasan. Ikuti artikel ini untuk mengetahui penjelasan lengkap mengenai gaya kinestetik pada anak serta berbagai cara efektif untuk mengoptimalkan proses belajarnya. Key Takeaways: Pengertian Gaya Belajar Kinestetik Menurut Alodokter, gaya belajar kinestetik merupakan cara belajar yang menekankan pengalaman fisik dan keterlibatan langsung dalam proses memahami informasi. Individu dengan gaya belajar ini lebih mudah menyerap pengetahuan melalui aktivitas seperti bergerak, menyentuh, dan merasakan. Contohnya meliputi eksperimen sains sederhana, bermain halang rintang di playground, kegiatan role play, aktivitas bongkar pasang, serta berbagai bentuk sensory play yang mengharuskan anak terlibat dan berlatih secara langsung. Ciri-Ciri Gaya Belajar Kinestetik Agar pembelajaran dapat berjalan secara tepat guna, penting bagi Anda untuk mengenali anak dengan gaya belajar kinestetik. Berikut beberapa ciri yang umum dijumpai: Baca juga: Memahami Gaya Belajar Anak dalam Proses Tumbuh Kembang Tips Mengoptimalkan Pembelajaran untuk Kecerdasan Kinestetik Supaya gaya belajar kinestetik dapat berjalan secara optimal, ada beberapa pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan, antara lain: 1. Sisipkan Waktu Istirahat Anak dengan gaya belajar ini umumnya mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama. Oleh karena itu, memberikan jeda belajar seperti berdiri, meregangkan tubuh atau berjalan sejenak dalam menyegarkan tubuh dan pikiran, dapat membuat mereka kembali fokus dan siap melanjutkan proses belajar. 2. Ajak Belajar di Luar Ruangan Agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif, ajak si kecil untuk lebih sering belajar di luar ruangan. Pada waktu senggang atau akhir pekan, orang tua dapat mengajak anak bermain di taman maupun berkunjung ke museum agar anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata dan menyenangkan. 3. Sediakan Stress Ball atau Fidget Tools Berikan stress ball atau fidget tools kepada anak untuk dibawa ke sekolah. Saat proses belajar berlangsung, anak dapat menggunakan alat tersebut dengan memencet atau memainkannya secara ringan agar tetap fokus. Sampaikan pula kepada guru bahwa alat ini bukan sekadar mainan, melainkan salah satu cara untuk membantu anak mengelola kebutuhan gerak dan mendukung proses belajarnya. 4. Libatkan Gerakan Tubuh Saat Belajar Orang dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah berkonsentrasi apabila tidak harus duduk diam dalam waktu lama. Kegiatan belajar dapat dilakukan sambil berdiri, berjalan perlahan atau menulis di papan untuk membantu penyerapan informasi. Gerakan sederhana ini menjaga tubuh tetap aktif tanpa mengganggu proses pembelajaran. Selain itu, suasana belajar pun terasa lebih hidup dan tidak mudah membosankan. 5. Visualisasi Pelajaran Beberapa anak dapat terbantu melalui penggunaan visualisasi dalam proses belajar. Orang tua atau guru dapat memandu anak untuk membayangkan dan memvisualisasikan materi yang sedang dipelajari. Sebagai contoh, saat anak belajar operasi penjumlahan dan pengurangan dalam matematika, ajarkan anak untuk memvisualisasikan angka menggunakan benda-benda di sekitarnya. Cara ini dapat membantu anak memahami konsep dengan lebih baik serta memudahkan proses mengingat. 6. Buat Catatan dengan Gambar dan Warna Mencatat sambil menggambar atau memberi warna dapat mendukung gaya belajar kinestetik karena melibatkan gerakan tangan secara aktif. Catatan yang dibuat tidak harus rapi atau sempurna. Hal terpenting adalah proses belajar terasa nyaman, menyenangkan, dan materi lebih mudah diingat. Dukungan Lain untuk Anak dengan Gaya Belajar Kinestetik Sebagai dukungan bagi anak dengan gaya belajar kinestetik yang membutuhkan ruang untuk bergerak, bereksplorasi, dan belajar melalui pengalaman langsung, Sparks Sports Academy hadir sebagai pilihan yang relevan. Akademi ini menyediakan program olahraga dan aktivitas fisik terstruktur yang membantu anak belajar melalui gerakan, koordinasi tubuh, dan praktik langsung dalam lingkungan yang aman serta menyenangkan. Hubungi kami sekarang dan dapatkan tawaran menarik untuk mengoptimalkan pertumbuhan anak Anda!
Kenali Tantrum pada Anak dan Cara Menghadapinya!
Berdasarkan National Library of Medicine, tantrum adalah perilaku yang umum terjadi pada anak, di mana sekitar 87–91% anak berusia 18–36 bulan mengalaminya setidaknya sekali. Meski normal, tantrum yang tidak tertangani dengan tepat dapat berdampak pada perkembangan emosional anak dan hubungan dengan orang tua. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas konsep dasar, faktor penyebab, hingga cara menangani tantrum yang bisa Anda terapkan. Dengan begitu, masalah ini tidak akan membawa dampak negatif pada anak maupun orang tua. Key takeaway Apa Itu Tantrum? Tantrum adalah bentuk ledakan emosi anak berupa marah, menangis, berteriak, berguling, memukul, hingga melempar barang karena frustrasi dan menolak berkomunikasi. Sikap anak ini termasuk bagian normal dari tumbuh kembang anak sebagai bentuk perasaan yang belum bisa mereka kelola dengan baik. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tantrum pada anak biasanya mulai sejak usia 1 tahun dan bertambah parah saat anak berusia 2-3 tahun. Kemudian, frekuensi kemunculannya akan berkurang ketika anak memasuki usia 4 tahun. Penyebab Tantrum Tantrum adalah kondisi yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan, kondisi fisik anak, hingga masalah kesehatan. Berikut ini uraian faktor penyebabnya. Cara Menghadapi Anak yang Tantrum Ketika anak sedang tantrum, Anda tidak perlu panik. Lakukan beberapa langkah di bawah ini agar anak bisa lebih tenang. Baca juga: Cara Menghadapi Anak Tantrum Sesuai Usia, Dijamin No Drama! Dukung Regulasi Emosi Anak Bersama Spark Sports Academy Pada intinya, tantrum adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak yang normal, terutama ketika mereka belum mampu mengelola dan mengekspresikan emosi dengan baik. Dengan sikap tenang dan komunikasi yang tepat, Anda dapat membantu anak belajar mengenali dan menyalurkan emosinya secara lebih sehat. Selain peran orang tua di rumah, anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung perkembangan fisik, emosional, dan sosialnya. Dalam hal ini, Sparks Sports Academy hadir sebagai ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak untuk menyalurkan energi, belajar mengelola emosi, serta membangun kepercayaan diri melalui aktivitas olahraga yang terarah dari pelatih berpengalaman. Ada banyak pilihan kelas yang tersedia, mulai dari gymnastic, ballet, dance, taekwondo, hingga multisport, sehingga Anda bisa menyesuaikan dengan minat dan bakat anak. Proses pembelajaran pun disesuaikan berdasarkan usia dan tahap tumbuh kembang anak. Dengan begitu, anak Anda bisa memperoleh materi dan pendekatan yang tepat untuk mendukung perkembangan yang lebih optimal. Coba trial class-nya sekarang!
Pentingnya Gut Brain Axis Pada Tumbuh Kembang Anak
Tahukah Anda bahwa sistem pencernaan berperan besar pada fungsi otak dan suasana hati anak? Menurut Frontiers in Integrative Neuroscience, otak dan usus memiliki jalur komunikasi yang dikenal dengan istilah gut brain axis (GBA) dan dapat saling memengaruhi kinerja satu sama lain. Produk dari komunikasi keduanya berdampak pada sistem kekebalan tubuh dan kesehatan mental pada anak. Cari tahu lebih dalam tentang sistem krusial ini untuk mendukung proses tumbuh kembang yang lebih menyeluruh. Key takeaways: Mengenal Mekanisme Gut-Brain Axis pada Anak Secara biologis, gut brain axis melibatkan koordinasi yang rumit antara sistem saraf, endokrin, dan imun. Saluran pencernaan sering disebut sebagai “otak kedua” karena mengandung jutaan neuron yang berkomunikasi langsung dengan otak melalui saraf vagus. Saraf vagus bertindak sebagai jalan tol informasi utama yang mengirimkan sinyal dari mikrobiota usus ke batang otak. Secara umum, komunikasi ini terjadi melalui saraf dan sinyal kimia (sistem imun dan hormon). Nah, ketidakseimbangan pada mikrobiota usus dapat mengirimkan sinyal yang memicu kecemasan, stres, atau depresi, bahkan obesitas, seperti yang dijelaskan laman The Cleveland Clinic. Pengaruh GBA terhadap Kognitif dan Emosional Pernahkah Anda melihat anak mendadak sakit perut atau merasa mual saat merasa cemas sebelum ujian? Kondisi tersebut merupakan contoh nyata gut brain axis. Dalam kasus ini, hubungan timbal balik antara mikrobiota dalam saluran pencernaan (usus) dan GBA menunjukkan bahwa stres psikologis dapat mengubah komposisi bakteri usus, dan bakteri usus yang buruk dapat memperburuk respons stres anak. Mengutip dari laman American Psychological Association, sejumlah penelitian mengemukakan bahwa mikroba usus sudah memiliki peran pada program pembentukan otak segera setelah anak lahir. Berbagai studi ilmiah dan penelitian lainnya menunjukkan bahwa mikrobiota usus yang sehat mendukung plastisitas sinaptik, yaitu kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru. Sementara itu, gangguan pada sumbu ini selama masa kanak-kanak dapat memicu respons peradangan sistemik yang menghambat perkembangan kognitif optimal secara berkelanjutan. Artinya kesehatan mikrobiota usus berperan penting untuk perkembangan memori yang anak butuhkan dalam tumbuh kembang dan proses belajar. Dengan kata lain, kesehatan sistem GBA memiliki dampak pada kinerja akademis anak di sekolah. Dampak GBA Tidak Sehat pada Kesehatan Mental dan Umum Sistem gut brain axis yang terganggu dapat memicu berbagai masalah kesehatan pada anak, mulai dari gangguan emosional hingga penurunan fungsi fisiologis secara menyeluruh. 1. Gangguan Kecemasan dan Depresi Ketidakseimbangan bakteri usus mengganggu produksi serotonin dan dopamin, membuat anak lebih rentan terhadap perubahan suasana hati ekstrem. 2. Isu Kognitif dan ADHD Peradangan pada usus dapat menembus sawar otak dan memengaruhi area prefrontal yang mengatur konsentrasi anak. 3. Gangguan Tidur dan Kelelahan Lantaran usus memengaruhi produksi melatonin, GBA yang buruk dapat menyebabkan anak sulit tidur nyenyak. Kualitas istirahat yang rendah akhirnya menyebabkan kelelahan fisik dan mental saat beraktivitas. 3. Penurunan Imunitas dan Alergi Mengingat sebagian besar sistem imun berpusat di usus, kondisi dysbiosis pada jalur GBA dapat mengganggu respons pertahanan tubuh. Ketidakseimbangan bakteri ini memicu reaksi imun yang tidak beraturan, sehingga meningkatkan risiko infeksi berulang serta memicu perkembangan alergi atau eksim akibat kegagalan sinyal komunikasi antara sistem pencernaan dan otak. 4. Gangguan Fungsional Pencernaan IBS atau nyeri perut fungsional menjadi manifestasi kondisi otak yang memperkuat sinyal nyeri secara berlebihan meskipun secara klinis tidak ditemukan luka fisik pada organ pencernaan. Baca juga: Manfaat Probiotik untuk Anak, Investasi Kesehatan Sejak Dini! Tips Praktis Menjaga Keseimbangan Sistem Gut Brain Axis Untuk memastikan GBA berfungsi optimal bagi tumbuh kembang anak, orang tua perlu melakukan langkah-langkah strategis berbasis nutrisi dan gaya hidup sehat untuk memastikan variasi mikrobiota usus yang lebih sehat. 1. Diversifikasi Konsumsi Prebiotik dan Probiotik Anak-anak membutuhkan asupan serat dari buah-buahan dan sayuran sebagai makanan bakteri baik (prebiotik). Selain itu, makanan fermentasi tradisional seperti tempe atau yogurt dapat menambah populasi bakteri menguntungkan. Keragaman mikrobiota yang tinggi berkorelasi positif dengan kesehatan mental yang lebih baik. 2. Aktivitas Fisik secara Teratur Olahraga memiliki pengaruh pada usus seperti halnya pada otot tubuh. Aktivitas fisik meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek (SCFA) di usus yang berfungsi melindungi integritas lapisan usus dan mendukung kesehatan otak. Dengan kata lain, aktivitas fisik rutin mampu memodifikasi profil mikrobioma menjadi lebih sehat. 3. Menghindari Antibiotik yang Tidak Perlu Penggunaan antibiotik yang berlebihan pada anak dapat menyapu bersih bakteri baik. Jika memang diperlukan, pastikan penggunaannya diikuti dengan pemulihan flora usus pasca-pengobatan agar jalur komunikasi antara perut dan otak tidak terputus secara permanen. 4. Manajemen Stres dan Tidur Tidur yang cukup sangat penting bagi sinkronisasi gut brain axis. Gangguan tidur dapat mengacaukan ritme sirkadian mikrobiota, yang kemudian berdampak pada fokus anak di siang hari. Investasi Sehat dari Dalam Perut Kesehatan dan tumbuh kembang optimal pada anak mencakup menjaga keseimbangan ekosistem internal yang mendukung kesehatan mental, fisik, dan kecerdasan mereka. Memahami bahwa saluran cerna dalam perut dan otak anak bekerja sebagai satu kesatuan tim dapat memberikan perspektif baru dalam pengasuhan. Dengan menjaga pola makan yang kaya nutrisi dan mendukung aktivitas fisik, Anda sedang membangun pondasi kuat bagi masa depan anak melalui optimalisasi sistem gut brain axis. Upayakan kesehatan anak secara holistik dengan memanfaatkan berbagai pilihan aktivitas fisik dan olahraga untuk anak dari Sparks Sports Academy. Kurikulum kami terbagi berdasarkan kelompok usia dengan 8 pilihan jenis kelas yang mencakup aktivitas fisik, kinetik, dan sensori untuk mendukung tumbuh kembang sesuai kebutuhan setiap anak.
