Kenali Tantrum pada Anak dan Cara Menghadapinya!

Kenali Tantrum pada Anak dan Cara Menghadapinya!

Table of Contents

Berdasarkan National Library of Medicine, tantrum adalah perilaku yang umum terjadi pada anak, di mana sekitar 87–91% anak berusia 18–36 bulan mengalaminya setidaknya sekali. Meski normal, tantrum yang tidak tertangani dengan tepat dapat berdampak pada perkembangan emosional anak dan hubungan dengan orang tua.

Oleh karena itu, artikel ini akan membahas konsep dasar, faktor penyebab, hingga cara menangani tantrum yang bisa Anda terapkan. Dengan begitu, masalah ini tidak akan membawa dampak negatif pada anak maupun orang tua.

Key takeaway

  • Tantrum adalah bentuk ledakan emosi anak berupa marah atau menangis berlebihan karena frustrasi dan belum mampu mengungkapkan perasaan.
  • Penyebabnya relatif beragam pada setiap anak, namun sebagian besar karena keterbatasan komunikasi, kelelahan, rasa lapar, perubahan rutinitas, hingga keinginan anak untuk mandiri.
  • Pendekatan yang tepat dan berkelanjutan, seperti memberikan respons yang tenang serta membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang tepat, dapat membantu mengurangi frekuensi ledakan emosi.

Apa Itu Tantrum?

Tantrum adalah bentuk ledakan emosi anak berupa marah, menangis, berteriak, berguling, memukul, hingga melempar barang karena frustasi dan menolak berkomunikasi. Sikap anak ini termasuk bagian normal dari tumbuh kembang anak sebagai bentuk perasaan yang belum bisa mereka kelola dengan baik.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tantrum pada anak biasanya mulai sejak usia 1 tahun dan bertambah parah saat anak berusia 2-3 tahun. Kemudian, frekuensi kemunculannya akan berkurang ketika anak memasuki usia 4 tahun.

Penyebab Tantrum 

Tantrum adalah kondisi yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan, kondisi fisik anak, hingga masalah kesehatan. Berikut ini uraian faktor penyebabnya.

  • Keterbatasan kemampuan komunikasi: Anak yang belum bisa mengekspresikan perasaan, kebutuhan, atau keinginannya secara verbal cenderung merasa frustrasi ketika tidak dipahami.
  • Kelelahan dan rasa lapar: Kondisi fisik yang tidak nyaman dapat menurunkan kemampuan anak dalam mengontrol emosi, sehingga lebih mudah marah dengan meledak-ledak.
  • Perubahan rutinitas atau lingkungan: Perubahan mendadak, seperti pindah tempat tinggal, pergantian jadwal, atau situasi baru, dapat membuat anak merasa tidak aman dan memicu ledakan emosi berlebihan.
  • Keinginan untuk mandiri: Anak akan sering emosi ketika ingin melakukan sesuatu sendiri tetapi belum memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukannya.
  • Overstimulation: Lingkungan yang terlalu ramai, bising, atau penuh rangsangan dapat membuat anak kewalahan dan kesulitan mengatur emosinya.
  • Keinginan mencari perhatian: Ledakan emosi ini terkadang menjadi cara anak untuk mendapatkan perhatian dari orang tua atau orang di sekitarnya.
  • Pola asuh yang tidak konsisten: Aturan yang berubah-ubah atau tidak terlaksana secara konsisten dapat membingungkan anak dan memicu ledakan emosi.
  • Kurangnya kesempatan mengekspresikan emosi: Anak yang tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan perasaan dapat melampiaskan emosinya melalui tantrum.
  • Masalah kesehatan atau perkembangan: Beberapa kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan kecemasan (misalnya separation anxiety disorder), depresi, dan autisme dapat meningkatkan risiko terjadinya tantrum.

Jenis-Jenis Tantrum pada Anak

Tidak semua tantrum memiliki penyebab yang sama. Memahami jenis tantrum dapat membantu orang tua menentukan cara merespons yang tepat, sehingga anak bisa belajar mengelola emosinya dengan lebih baik.

Secara umum, tantrum pada anak dapat dibagi menjadi dua jenis berikut:

1. Tantrum karena Emosi (Genuine Tantrum)

Jenis tantrum ini terjadi ketika anak benar-benar kewalahan dengan emosinya. Biasanya disebabkan oleh rasa lelah, lapar, frustrasi, atau overstimulasi (terlalu banyak rangsangan).

Pada kondisi ini, anak tidak sedang mencari perhatian atau mencoba memanipulasi, melainkan memang belum mampu mengontrol perasaannya. Mereka bisa menangis keras, berteriak, bahkan sulit ditenangkan dalam beberapa waktu.

Ciri-ciri genuine tantrum:

  • Terjadi secara tiba-tiba tanpa tujuan jelas
  • Anak sulit diajak bicara saat tantrum berlangsung
  • Tidak berhenti meskipun keinginannya dituruti
  • Biasanya berhenti setelah anak merasa lebih tenang

Cara menghadapinya:
Fokus utama adalah membantu anak merasa aman. Tetap tenang, dampingi anak, dan beri waktu hingga emosinya mereda. Setelah itu, baru ajak anak berbicara secara perlahan.

2. Tantrum Manipulatif (Ingin Sesuatu)

Berbeda dengan genuine tantrum, jenis ini terjadi ketika anak menginginkan sesuatu, seperti mainan, makanan, atau perhatian, tetapi tidak mendapatkannya.

Tantrum ini sering kali menjadi “alat” bagi anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan, terutama jika sebelumnya cara ini pernah berhasil.

Ciri-ciri tantrum manipulatif:

  • Terjadi saat anak tidak mendapatkan keinginannya
  • Anak masih memperhatikan reaksi orang tua di sekitarnya
  • Bisa berhenti tiba-tiba jika keinginannya dipenuhi
  • Intensitasnya bisa berubah-ubah (kadang pura-pura menangis lebih keras)

Cara menghadapinya:
Orang tua perlu konsisten dan tegas. Jangan langsung menuruti keinginan anak saat tantrum terjadi, karena hal ini justru akan memperkuat perilaku tersebut. Tetap tenang, jelaskan dengan singkat, dan alihkan perhatian anak jika memungkinkan.

Dengan memahami perbedaan kedua jenis tantrum ini, orang tua dapat memberikan respons yang lebih tepat. Hal ini tidak hanya membantu meredakan tantrum, tetapi juga mengajarkan anak cara mengenali dan mengelola emosinya sejak dini.

Cara Menghadapi Anak yang Tantrum

Ketika anak sedang tantrum, Anda tidak perlu panik. Lakukan beberapa langkah di bawah ini agar anak bisa lebih tenang.

  • Tetap tenang dan hadir secara emosional, karena anak belajar mengatur emosi dari orang di sekitarnya. Jika Anda mampu bersikap tenang, maka anak akan lebih mudah menurunkan intensitas emosinya.
  • Pastikan anak berada di tempat yang aman, dengan menjauhkan anak dari benda-benda berbahaya.
  • Biarkan anak menenangkan diri, tetapi tetap dalam pengawasan agar anak tetap merasa aman serta tidak melukai diri sendiri atau orang lain.
  • Hindari memarahi, mengancam, atau berdebat dengan anak, karena respons negatif dari orang tua hanya akan memperparah emosi anak. Anda bisa tunggu hingga anak tenang dengan sendirinya sebelum membahas perilaku dan perasaannya.
  • Tegaskan perilaku yang tidak boleh anak lakukan, seperti memukul, menggigit, atau menendang, dengan menjelaskan bahwa perilaku tersebut dapat menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
  • Ajak anak berdiskusi setelah tantrum mereda dengan memvalidasi perasaannya, misalnya dengan mengatakan, “Mama tahu kamu marah karena ingin bermain lebih lama.” Namun, pastikan validasi tersebut tidak diartikan sebagai pembenaran terhadap perilaku yang tidak tepat.
  • Bila perlu, ajarkan cara lain yang lebih sehat untuk mengekspresikan emosi, seperti mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, menarik napas dalam-dalam, atau meminta bantuan orang dewasa.

Baca juga: Cara Menghadapi Anak Tantrum Sesuai Usia, Dijamin No Drama!

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Anak Tantrum

Saat anak mengalami tantrum, reaksi orang tua sangat menentukan bagaimana anak belajar mengelola emosinya di masa depan. Sayangnya, dalam kondisi panik atau lelah, banyak orang tua tanpa sadar melakukan hal-hal yang justru memperburuk situasi.

Berikut beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat anak tantrum:

1. Membentak atau Memukul Anak

Merespons tantrum dengan kemarahan hanya akan membuat anak semakin takut dan tidak merasa aman. Anak belum mampu mengontrol emosinya, sehingga respon keras dari orang tua justru bisa memperparah kondisi.

Alih-alih belajar mengelola emosi, anak bisa meniru perilaku agresif tersebut di kemudian hari.

2. Mempermalukan Anak di Depan Umum

Menegur anak dengan cara mempermalukan, apalagi di tempat umum, dapat melukai perasaan anak dan menurunkan rasa percaya dirinya.

Meskipun situasinya memalukan bagi orang tua, penting untuk tetap menjaga harga diri anak dan menanganinya dengan tenang.

3. Selalu Menuruti Keinginan Anak

Memberikan apa yang anak inginkan saat tantrum memang bisa membuatnya cepat diam. Namun, hal ini justru mengajarkan bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan sesuatu.

Jika dibiarkan, anak akan cenderung mengulang perilaku yang sama di kemudian hari.

4. Mengabaikan Anak Sepenuhnya

Mengabaikan anak dalam semua kondisi bukanlah solusi yang tepat, terutama jika tantrum terjadi karena anak kewalahan secara emosi.

Anak tetap membutuhkan kehadiran dan rasa aman dari orang tua. Mengabaikan sepenuhnya bisa membuat anak merasa tidak diperhatikan atau ditolak.

5. Terlalu Banyak Memberi Nasihat Saat Anak Masih Emosi

Saat tantrum terjadi, anak tidak dalam kondisi siap untuk mendengarkan nasihat. Memaksa anak untuk langsung memahami atau “diceramahi” justru akan membuatnya semakin frustrasi.

Sebaiknya tunggu hingga anak tenang, baru ajak berbicara dan beri penjelasan dengan cara yang sederhana.

Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas, orang tua dapat membantu anak belajar mengelola emosinya dengan cara yang lebih sehat dan positif.

Cara Mencegah Tantrum pada Anak

Meskipun tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan anak, orang tua tetap bisa melakukan berbagai cara untuk mengurangi frekuensi dan intensitasnya. Kunci utamanya adalah memahami kebutuhan anak dan menciptakan lingkungan yang mendukung.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tantrum:

1. Buat Rutinitas yang Teratur

Anak cenderung lebih tenang ketika memiliki rutinitas yang jelas. Jadwal makan, tidur, dan bermain yang konsisten membantu anak merasa aman dan tidak mudah rewel.

Sebaliknya, anak yang terlalu lelah atau lapar lebih rentan mengalami tantrum.

2. Ajarkan Anak Mengenal Emosi

Sejak dini, ajarkan anak untuk mengenali dan menyebutkan perasaannya, seperti marah, sedih, atau kecewa.

Dengan begitu, anak tidak perlu meluapkan emosi melalui tantrum, tetapi bisa mulai belajar mengekspresikannya dengan kata-kata.

3. Beri Pilihan Sederhana

Memberikan pilihan sederhana dapat membantu anak merasa memiliki kendali.

Contohnya, daripada langsung melarang, Anda bisa bertanya, “Mau pakai baju merah atau biru?” Hal ini dapat mengurangi potensi konflik yang memicu tantrum.

4. Hindari Pemicu Tantrum

Setiap anak memiliki pemicu yang berbeda, namun beberapa yang umum adalah lapar, lelah, atau terlalu banyak stimulasi (misalnya suasana ramai dan bising).

Sebagai orang tua, penting untuk mengenali tanda-tanda awal anak mulai tidak nyaman dan segera mengambil langkah pencegahan.

5. Siapkan Anak Sebelum Perubahan Aktivitas

Perubahan aktivitas yang tiba-tiba sering memicu tantrum, misalnya saat harus berhenti bermain atau pulang dari tempat favorit.

Cobalah memberi “peringatan” sebelumnya, seperti “5 menit lagi kita pulang, ya.” Ini membantu anak mempersiapkan diri dan mengurangi penolakan.

6. Beri Perhatian yang Cukup

Kadang, tantrum terjadi karena anak ingin diperhatikan. Luangkan waktu berkualitas bersama anak, meskipun hanya sebentar, agar kebutuhan emosinya terpenuhi.

Perhatian yang cukup dapat mengurangi keinginan anak untuk “mencari perhatian” lewat tantrum.

Dengan menerapkan cara-cara di atas secara konsisten, orang tua dapat membantu anak belajar mengelola emosinya dengan lebih baik. Pencegahan yang tepat tidak hanya mengurangi tantrum, tetapi juga mendukung perkembangan emosional anak secara keseluruhan.

Dukung Regulasi Emosi Anak Bersama Spark Sports Academy

Pada intinya, tantrum adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak yang normal, terutama ketika mereka belum mampu mengelola dan mengekspresikan emosi dengan baik. Dengan sikap tenang dan komunikasi yang tepat, Anda dapat membantu anak belajar mengenali dan menyalurkan emosinya secara lebih sehat.

Selain peran orang tua di rumah, anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung perkembangan fisik, emosional, dan sosialnya. Dalam hal ini, Sparks Sports Academy hadir sebagai ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak untuk menyalurkan energi, belajar mengelola emosi, serta membangun kepercayaan diri melalui aktivitas olahraga yang terarah dari pelatih berpengalaman.

Ada banyak pilihan kelas yang tersedia, mulai dari gymnastic, ballet, dance, taekwondo, hingga multisport, sehingga Anda bisa menyesuaikan dengan minat dan bakat anak. Proses pembelajaran pun disesuaikan berdasarkan usia dan tahap tumbuh kembang anak.

Dengan begitu, anak Anda bisa memperoleh materi dan pendekatan yang tepat untuk mendukung perkembangan yang lebih optimal. Coba trial class-nya sekarang!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%