Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
Mengenal 5 Perbedaan Strict Parents dan Toxic Parents

Mengenal 5 Perbedaan Strict Parents dan Toxic Parents

Parenting

Jangan salah kira, strict parents dan toxic parents ternyata tidak sama! Sebab, dalam hal pola asuh anak, ada orang tua yang suka bersikap egois dan sombong terhadap anaknya ketimbang sekadar kaku dan banyak memerintah. Lantas, apa saja perbedaan strict parents dan toxic parents? Mari simak lebih lengkah di bawah ini! Key Takeaways 5 Perbedaan Strict Parents dan Toxic Parents Orang tua kaku dan egois sekilas memang tampak sama, namun mereka sebenarnya sangat berbeda. Mengutip laman Calm, pola asuh strict parents terjadi atas dasar cinta dan kepedulian, sedangkan toxic parents akan menggunakan kontrol sebagai cara untuk memanipulasi. Agar tidak salah paham, mari simak ulasan lengkapnya berikut!  1. Kendali versus Manipulasi Strict parents lebih mengedepankan kendali penuh atas anak mereka daripada manipulasi psikis. Terdapat peraturan yang mereka ingin anak ikuti dan patuhi secara konsisten. Tujuannya agar anak memiliki disiplin yang tinggi, berperilaku baik, serta dapat meraih keberhasilan dan tidak menderita. Di sisi lain, toxic parents menggunakan peraturan untuk menjaga kekuasaan, mereka ingin memanipulasi bahkan mempermainkan anak demi meraup keuntungan pribadi. Selain itu, peraturan yang mereka terapkan biasanya tidak konsisten, semuanya akan bergantung pada suasana hati. Ketidakpastian inilah yang justru akan sangat menguras emosi dan melelahkan. Karena tidak ada pola yang pasti, anak harus selalu waspada karena bisa saja mereka mendapatkan hukuman tanpa peringatan. 2. Aturan Batasan Perbedaan strict parents dan toxic parents juga terlihat dari batasan yang mereka buat. Strict parents memang memiliki ekspektasi tinggi dan aturan yang tidak ada habisnya, namun mereka masih memberikan ruang anak menjadi dirinya sendiri. Jadi, masih ada ruang agar anak tetap memiliki privasi. Sedangkan toxic parents menginginkan anak memiliki nilai, perilaku, atau pilihan yang sama dengan apa yang mereka inginkan. Jika tidak terbentuk sesuai dengan apa yang mereka mau, maka anak akan ditekan dan dimanipulasi.  3. Kesempatan Anak untuk Berpendapat dan Berekpresi Kendati orangtua strict bersikap ketat dan dingin, masih ada waktu di mana mereka akan memberikan anak kesempatan untuk menyatakan opininya dan mengekspresikan diri. Tentu saja, anak harus bersikap tenang, berpikir jernih, dan menunjukkan rasa hormat supaya orang tua mau mendengarkan.  Sementara itu, toxic parents tidak peduli pada pendapat anak. Melansir Jurnal Peneliti, orang tua toxic akan selalu menuntut, memaksa, dan mengintimidasi anak agar mengikuti seluruh kemauan mereka. Mereka bahkan tidak mau memahami perasaan anak, hal tersebut tidak penting.   Mereka akan menolak memberikan anak kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan mengekspresikan perasaan. Jika anak tetap mengutarakan isi hatinya, orang tua tipe ini pasti akan berpaling dan menutup telinga. Hasilnya, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit untuk memahami emosi dan perasaannya sendiri. 4. Standar dan Harapan Di balik sikap dingin orang tua strict, mereka hanya mengharapkan anak meraih sukses dan pencapaian terbaik. Perbedaan strict parents dan toxic parents ini juga menekankan standar orang tua strict yang tinggi, namun terdapat tujuan mulia agar anak bisa menjadi mandiri dan bertanggung jawab. Sekarang Anda lihat pola pikir orang tua toxic yang cenderung menerapkan standar pencapaian secara asal-asalan dan tak masuk akal. Mereka bahkan sering membandingkan anak dengan orang lain, tidak menghargai pencapaiannya, serta menyerang dan merendahkan karakter anak untuk menyudutkan. 5. Kendali Emosi pada Diri Orang Tua Orang tua yang strict cenderung lebih mampu mengontrol emosi saat berbicara dengan anak. Bahkan, mereka masih bersedia untuk meminta maaf jika memang melakukan kesalahan.  Di lain pihak, orang tua yang egois sangat mungkin untuk meledak dan mengutuk di hadapan anak apabila ada kesalahan sekecil apapun.  Orang tua seperti ini tidak akan mau mengakui kesalahan, bahkan tidak mau mengerti bahwa masalah sebenarnya ada pada mereka. Hal yang dilakukan adalah menyalahkan anak tanpa memberi anak kesempatan untuk membela diri. Baca juga: Strict Parents: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya Bagi Anak Sudah Tahu Perbedaan Strict Parents dan Toxic Parents? Setelah memahami perbedaan strict parents dan toxic parents, maka jangan biarkan Anda menjadi orang tua yang merusak merusak pikiran anak dan menghancurkan impian mereka. Karena sebagai orang tua, Anda bertugas untuk menciptakan lingkungan yang aman, kondusif, serta nyaman agar anak dapat tumbuh dengan baik. Tentu saja, lingkungan tersebut tidak hanya dapat tercipta di rumah, sebab ada Sparks Sports Academy yang menyediakan lingkungan supportive agar anak tumbuh optimal. Anda pun dapat memilih berbagai kelas yang menarik seperti dance dan olahraga sesuai minat dan bakat anak. Lewat pendampingan instruktur profesional, anak akan mendapat berbagai stimulasi yang sangat baik untuk perkembangannya. Ayo, booking free trial class yang tersedia lebih dulu untuk merasakan manfaatnya!

19/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Mengenal 5 Perbedaan Strict Parents dan Toxic Parents
Baca Lebih Lanjut
Kegiatan Ramadhan Anak TK, Cari Tahu 12 Contohnya!

Kegiatan Ramadhan Anak TK, Cari Tahu 12 Contohnya!

Parenting

Bulan Ramadhan tinggal sebentar lagi! Taman Kanak-Kanak pasti suka mengadakan kegiatan Ramadhan anak TK yang bisa mengisi waktu luang siswa-siswinya sembari belajar agama Islam. Lantas, apa kegiatan selama bulan puasa yang cocok untuk anak-anak usia TK? Simak beberapa contohnya di bawah ini! Key Takeaways 12 Kegiatan Ramadhan Anak TK yang Positif Melansir Kumparan, mengajari anak tentang makna Ramadhan sangatlah penting agar mereka memahami kewajiban berpuasa serta menghayati nilai spiritual dan sosial di dalamnya. Berbagai kegiatan yang ada pun bisa dikerjakan di sekolah atau mereka lakukan di rumah, berikut di antaranya. 1. Membaca Kisah-Kisah Nabi Ada 25 orang nabi dan rasul yang kisahnya tercantum dalam Al-Qur’an, mulai dari Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw. Anak-anak TK hendaknya mendapat pendidikan atau diajarkan untuk membaca tentang kisah-kisah nabi tersebut agar mereka mengerti siapa tokoh-tokoh yang dimuliakan dalam agama Islam. 2. Menghafal Doa Niat Puasa dan Buka Puasa Semua jenis ibadah membutuhkan niat yang tulus dan bacaan doa yang benar. Puasa seseorang hanya akan sah apabila mereka mampu melafalkan niat, begitu pula ketika berbuka puasa. Kegiatan menghafal niat puasa dan berbuka ini dapat mendidik anak supaya mampu membaca niat puasa tanpa melihat teks. 3. Latihan Tata Cara Sholat Tarawih Kegiatan Ramadhan anak TK satu ini menyerupai latihan tata cara sholat wajib biasa, namun sholat tarawih memiliki ciri-cirinya sendiri, seperti jumlah rakaat 11 atau 23. Orang tua pun wajib mengajarkan anak tata cara sholat tarawih, tetapi guru di sekolah sebaiknya ikut mendidik dan memperbaiki kesalahan dalam gerakan sholat. 4. Latihan Tata Cara Berwudhu Ibadah sholat tidak akan sah jika kita tidak berwudhu, apalagi jika wudhunya asal-asalan. Bagi anak-anak TK, mereka sebaiknya belajar dulu gerakan membasuh dalam wudhu tanpa air. Apabila sudah mengerti, barulah mereka bisa praktik langsung di tempat berwudhu di masjid atau musolla. 5. Mengingat Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Anak-anak tentunya belum paham mengenai hal-hal yang dapat membatalkan puasa, misalnya seperti makan di siang hari dengan sengaja. Mendidik anak agar tahu dan waspada terhadap segala perbuatan yang membuat puasa batal patut orang tua atau pebimbing jadikan sebagai kegiatan Ramadhan anak TK yang utama. 6. Belajar Menulis Aksara Hijaiyah Aksara hijaiyah adalah jenis huruf yang digunakan dalam bahasa Arab. Kitab suci Al-Qur’an ditulis dalam bahasa Arab sehingga pembacanya harus mengerti tata cara membaca dan menulis aksara hijaiyah. Anda pun bisa menjadikan pendidikan menulis huruf hijaiyah sebagai aktivitas bulan puasa untuk anak-anak TK. 7. Menggambar Poster Bertema Ramadhan Anak-anak usia TK umumnya senang menggambar, Anda pun bisa mengarahkan kegemaran mereka menjadi aktivitas positif di bulan puasa. Coba ajak anak-anak untuk bersama menggambar poster yang temanya bulan puasa. Jika mungkin, poster tersebut bisa memuat ajakan untuk memperbanyak ibadah selama Ramadhan. 8. Menghafal Bacaan Adzan dan Iqomah Kegiatan Ramadhan anak TK yang tak kalah pentingnya ialah melatih mereka untuk mengerti bacaan adzan dan iqomah. Pertama, anak-anak perlu belajar tentang kalimat-kalimat adzan dan iqomah beserta artinya. Setelah itu, mereka bisa mulai berlatih menghafal bacaan adzan secara lisan. 9. Latihan Membaca Surah-Surah Pendek Bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk membantu anak usia TK belajar membaca dan menghafal surah-surah pendek dalam Al-Qur’an. Kegiatan religi in dapat dijadikan sebagai kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah maupun aktivitas keluarga di rumah. 10. Menghafal Asma’ul-Husna Selain mengajarkan surah-surah pendek kepada anak-anak usia TK, ada pula pendidikan religi lain yang berupa hafalan Asma’ul-Husna. Allah swt mempunyai 99 nama mulia (Asma’ul-Husna) yang mesti diketahui generasi muda umat muslim supaya mereka paham sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa. 11. Membersihkan Ruangan Kelas Adapun kegiatan Ramadhan anak TK yang dapat dilaksanakan di sekolah mereka ialah membersihkan ruang kelas secara bersama-sama. Aktivitas ini dapat menjadi simbol menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan jiwa dan raga yang bersih dari perbuatan dosa. 12. Belajar Tentang Pentingnya Zakat Fitrah Zakat fitrah ialah ibadah wajib di bulan puasa yang tujuannya membersihkan harta dan membantu orang-orang yang kurang mapan secara ekonomi. Mendidik anak dalam hal pentingnya zakat fitrah dapat menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama muslim. Sudah Tahu Contoh Kegiatan Ramadhan Anak TK? Jangan sampai anak-anak Anda biarkan menghamburkan waktu hanya dengan bermain-main saja tanpa aktivitas positif. Contoh kegiatan selama bulan puasa di atas dapat Anda dan pihak sekolah andalkan demi mendidik anak di bulan yang suci. Namun, selain kegiatan di atas, Anda juga bisa mendaftarkan anak di Sparks Sports Academy. Sehingga, anak bisa belajar kesenian hingga olahraga yang baik untuk perkembangan kognitif hingga fisik mereka. Setiap aktivitasnya juga mendukung agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Ayo, dukung si kecil melakukan berbagai kegiatan positif dan sesuai usianya. Hubungi Sparks Sports Academy untuk mengikuti free trial class dan nikmati berbagai promonya!

19/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Kegiatan Ramadhan Anak TK, Cari Tahu 12 Contohnya!
Baca Lebih Lanjut
Begini 11 Cara Mendidik Anak Supaya Nurut Tanpa Kekerasan

Begini 11 Cara Mendidik Anak Supaya Nurut Tanpa Kekerasan

Parenting

Orang tua pastinya sering mengeluh ketika anaknya susah diatur. Mulai dari tidak mau mendengarkan nasihat, membantah, sampai melanggar aturan di rumah. Kondisi ini membuat orang tua emosi dan bertanya-tanya, gimana cara mendidik anak supaya nurut tanpa harus dibentak atau marah-marah? Padahal, anak yang tidak nurut bukan berarti nakal. Hal ini bisa jadi karena pola asuh yang salah atau kebutuhan anak belum terpenuhi. Mom/Dad bisa menggunakan metode yang tepat agar anak bisa belajar patuh sekaligus mereka merasa aman dan dihargai. Penyebab Anak Tidak Mau Nurut Sebelum mencap anak tidak penurut, Mom/Dad perlu memahami dulu penyebabnya. Berikut adalah penyebab anak tidak mau nurut: Cara Mendidik Anak Supaya Nurut Anak-anak memiliki perilaku yang berbeda. Jika Mom/Dad ingin anak menurut, bisa mengikuti beberapa cara mendidik anak yang bisa dilakukan sehari-hari seperti di bawah ini: 1. Membuat Aturan yang Jelas Mom/Dad harus membuat aturan yang jelas dan tegas supaya anak bisa memahami batasan-batasan atas tingkah lakunya. Dengan peraturan, anak bisa mengambil keputusan dengan tepat. 2. Berikan Rutinitas dan Kebiasaan untuk Anak Jika anak sulit diatur, Mom/Dad bisa memberikan anak berupa rutinitas atau kebiasaan secara konsisten di kehidupan sehari-hari anak. Hal ini bisa membuat anak belajar mengatur waktu dan kegiatanya denga lebih baik. Berikan penjelasan kepada anak supaya anak bisa memahaminya. 3. Tidak Ada Salahnya Bilang “Ya” Dilansir dari Institute for Family Studies, kebanyakan orang tua berkata tidak saat anak meminta sesuatu yang aneh. Padahal, hal ini membuat anak semakin memberontak karena merasa dikekang. Untuk menghindari anak memberontak, Mom/Dad boleh mengatakan “iya” saat anak meminta. Seperti contoh, anak bertanya “Boleh beli es krim ga?”, jawablah dengan “Iya boleh, pas hari minggu ya”. 4. Beri Kejelasan Anak sulit diatur bukan karena ingin melawan orang tua. Melainkan mereka tidak mengerti kenapa orang tua melarangnya. Mom/Dad bisa memberinya penjelasan kepada anak mengapa hal tersebut dilarang. Seperti contoh, Mom/Dad melarang anak untuk bermain hujan-hujanan. Daripada mengucapkan “Ga boleh ya!” tanpa alasan yang jelas, lebih baik mengatakan “Kalau kamu main hujan nanti sakit loh, kan besok sekolah.” Dengarkan respons atau saran anak. Hal ini akan membantu anak berpikir logis. 5. Hindari Berteriak dan Memaksa Anak Berteriak tidak akan membuat anak nurut. Justru sebaliknya, berteriak akan membuat anak semakin tidak nurut. Jika Mom/Dad berteriak, anak akan menganggapnya sebuah ancaman dan merasa tidak aman. Efek pada anak bisa berupa cemas, khawatir dan agresif. Untuk mengindari itu, Mom/Dad bisa berbicara baik-baik kepada anak dengan nada yang tenang. 6. Bersikap Lembut ke Anak Bersikap lembut membuat anak merasa aman dan nyaman. Terlebih jika Mom/Dad menggunakan sentuhan saat berbicara dengan anak, mereka akan merasa dihargai. Setelah anak merasa seperti itu, merea akan mendengar dan menurut secara otomatis. Baca juga: 10 Cara Mengatasi Anak Nakal, Orang Tua Wajib Tahu! 7. Berikan Contoh Anak mudah sekali meniru perilaku dari orang tuanya. Oleh sebab itu, Mom/Dad harus menunjuka sikap yang baik seperti rasa hormat, ramah, jujur, baik, dan toleransi. Mom/Dad bisa memulainya dengan membiasakan mengucapkan terima kasih dan memberi apresiasi setiap kebaikan anak. 8. Beri Apresiasi pada Anak Mom/Dad bisa mengapresiasi anak berupa penghargaan dan pujian saat anak melakukan hal baik. Hal ini bisa memotivsai anak untuk selalu bersikap baik. 9. Jangan Menghukum Anak Menghuku anak biasanya menjadi jalan pintas orang tua untuk mengatasi anak yang tidak nurut. Padahal, disiplin dan hukuman adalah dua hal yang berbeda. Disiplin adalah sarana orang tua untuk terlibat aktif dalam membentuk perilaku anak, sedangkan hukuman hanya tindakan untuk balas dendam. Menghukum anak saat sedang tidak menurut malah membuat mereka merasa tidak nyaman dan memberontak. 10. Bersikap Tenang dan Sabar Usahakan ketika menghadapi anak yang tidak nurut untuk tetap tenang dan sabar. Ketika Mom/Dad merasa marah atau frustrasi, cobalah untuk mengambil napas dan kendalikan emosi sebelum bertindak. Mom/Dad bisa menjauh sejenak sebelum bicara atau bertindak. 11. Konsisten Cara mengatasi anak tidak nurut adalah memberikan perintah atau larangan secara konsisten. Jika Mom/Dad membuat larangan, maka tetaplah konsisten terhadap larangan tersebut, meski anak nanti akan rewel. Jika aturan yang dilakukan konsisten, anak nanti akan paham dengan sendirinya. Jika konsisten ini ditegakkan, Mom/Dad akan lebih mudah membuat ia patuh. Cara mendidik anak supaya nurut sebenarnya bukan soal membuat anak taut, tapi soal membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Dengan melakukan langkah di atas secara konsisten, anak pasti akan belajar patuh dengan kesadaran, bukan paksaan.

15/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Begini 11 Cara Mendidik Anak Supaya Nurut Tanpa Kekerasan
Baca Lebih Lanjut
Apa Saja Tingkatan Sabuk Taekwondo?

Apa Saja Tingkatan Sabuk Taekwondo?

Taekwondo

Taekwondo adalah seni bela diri yang berasal dari korea dan menjadi pilihan populer olahraga anak sejak usia dini. Tak hanya melatih fisik, taekwondo juga melatih disiplin, fokus, dan rasa percaya diri. Tetapi, sebelum memasukan anak untuk belajar taekwondo, Mom/Dad sudah tau belum tingkatan sabuk taekwondo, apa artinya, dan apakah seni bela diri ini aman untuk anak usia 4-7 tahun? Di artikel ini akan membahasnya secara ringan dan mudah dipahami. Tingkatan Sabuk Taekwondo Sabuk Taekwondo berfungsi sebagai penanda level kemampuan anak. Setiap warna menunjukan proses belajarnya. Untuk anak-anak, tingkatan ini dibuat agar anak bisa belajar dengan menyenangkan dan tanpa tekanan. Berikut adalah tingkatan sabuk taekwondo: 1. Geup 10 – Sabuk Putih Sabuk ini adalah tahap awal anak mulai belajar dasar-dasar taekwondo seperti sikap tubuh, gerakan sederhana, dan aturan kelas. Terdapat pula Saju Jirugi (15 jurus) dan Saju Makgi (19 jurus) yang harus dipelajari anak. 2. Geup 9 – Sabuk Putih dengan Ujung Kuning Ini adalah tingkatan kedua yang di mana anak sudah mengenal teknik dasar taekwondo. Teknik tersebut disebut 19 gerakan pola Chin Ji. 3. Geup 8 – Sabuk Kuning Sabuk kuning melambangkan tanah yang mulai ditanam benih dan tumbuh tunas. Di tingkat ini, anak sudah dianggap memiliki pengetahuan taekwondo. Untuk naik ke tingkat selanjutnya, anak harus mempelajari pola Dan Gun (21 gerakan). 4. Geup 7 – Sabuk kuning dengan Ujung Hijau Benih yang tertanam sudah mulai tumbuh, yang artinya anak sudah mulai menguasai ilmu taekwondo lebih dalam. Anak harus mempelajari pola Do san (24 jurus) pada tahap ini. 5. Geup 6 – Sabuk Hijau Anak sudah menandakan peningkatan kemampuan. Di tingkat ini, anak sudah lebih percaya diri, gerakannya lebih rapi, dan mulai memahami instruksi dengan baik. Untuk bisa naik tingkatan, anak harus menguasai pola Won Hyo (28 Gerakan) Baca juga: Menggali Manfaat Taekwondo untuk Anak di Masa Pertumbuhan 6. Geup 5 – Sabuk Hijau dengan Ujung Biru Anak yang sudah di tingkat ini, ilmu taekwondo nya sudah berada di tingkat menengah. Di tingkat ini, anak akan belajar pola Yul Gok (38 gerakan) 7. Geup 4 – Sabuk Biru Anak yang mencapai sabuk biru bisa mengombinasikan gerakan dan belajar kontrol diri. Biasanya di sabuk ini anak belajar pola Joong Gun (32 jurus). 8. Geup 3 – Sabuk Biru Ujung Merah Anak akan diajarkan pola Toi Gye (37 jurus) di sabuk ini. Perlu waktu selama 5 bulan untuk anak bisa mencapai sabuk ini. 9. Geup 2 – Sabuk Merah Jika anak sudah mencapai sabuk merah, maka anak dianggap memiliki pengetahuan kuat mengenai teknik taekwondo. Warna merah berarti sudah menguasai teknik bahaya dan peringatan menjauhkan lawan. Anak akan belajar pola Hwarang (29 gerakan) di sabuk ini. 10. Geup 1 – Sabuk Merah dengan Ujung Hitam Pada sabuk ini, anak diharapkan bisa meningkatkan disiplin dan kontrol mental. Mereka juga perlu mempelajari pola Choong-Moo (30 gerakan) 11. Sabuk Hitam Sabuk hitam adalah sabuk dengan tingkat paling tinggi di taekwondo. Namun, sabuk hitam memiliki tingkatan lagi seperti berikut ini: Jika Mom/Dad ingin mengenalkan taekwondo sejak dini ke anak, Sparks Sports Academy bisa jadi pilihan tepat. Program les taekwondo dirancang semenyenangkan mungkin untuk anak berusia 4-7 tahun. Anak akan dididik oleh pelatih berpengalaman dan pastinya aman. Yuk, bantu anak tumbuh disiplin, aktif dan percaya diri sejak dini!

15/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Apa Saja Tingkatan Sabuk Taekwondo?
Baca Lebih Lanjut
8 Ciri-Ciri Anak Strict Parents, Jangan Sampai Salah Paham!

8 Ciri-Ciri Anak Strict Parents, Jangan Sampai Salah Paham!

Parenting

Meski orang tua tidak memiliki niat buruk, pola asuh strict parents memiliki dampak yang sangat signifikan pada kehidupan anak. Sayangnya, dampak tersebut cenderung ke arah negatif dan bukan positif. Lantas, bagaimana ciri-ciri anak strict parents? Apa saja contoh perilaku yang akan ditunjukkan? Simak selengkapnya lewat artikel berikut! Key Takeaways Ciri-Ciri Anak Strict Parents Melansir Alodokter, strict parenting adalah pola asuh yang dilakukan dengan gaya otoriter, di mana orang tua banyak menerapkan aturan ketat. Tentu saja, tumbuh dalam keluarga yang penuh aturan akan meninggalkan dampak yang terkadang tidak orang tua sadari dan pahami. Apa saja cirinya? Berikut ulasannya! 1. Bersikap Kasar sebagai Bentuk Pelampiasan Apakah Anda mengira bahwa perilaku kasar pada anak terjadi karena mereka tidak tahu sopan santun? Belum tentu. Sebab, ada kasus di mana anak yang ditekan oleh harapan tinggi orang tua akan merasa dirinya terperangkap. Akibatnya, akan muncul perilaku kasar dan bullying sebagai bentuk pelampiasan kemarahannya. Hal tersebut juga disebutkan di laman Artful Parent, di mana perasaan anak dengan pola asuh strict parents biasanya selalu terabaikan dan mereka terbiasa menekan emosi. Namun, emosi tersebut tidak hilang, justru akan muncul kembali dalam bentuk kebencian, kecemasan, atau ledakan emosi yang tiba-tiba. Hal tersebut pun dapat membuat anak kesulitan mengatur emosi, memiliki anger issue, serta senang melawan dan membantah orang tua. Anak juga akan melihat orang tua sebagai musuh yang tak pantas disayangi dan dipatuhi. 2. Banyak Berbohong kepada Orang Tua Orang tua yang suka bersikap otoriter cenderung banyak mengkritik setiap perbuatan anak. Akibatnya, anak akan sering berbohong demi menghindari kritik dan hukuman. Semakin orang tua mengetatkan kendali mereka, maka anak pun akan semakin terbiasa untuk berbohong. 3. Menghindari Interaksi sosial Ciri-ciri anak strict parents lainnya, yaitu menutup diri dari interaksi sosial karena mereka tidak mendapat kebebasan berekspresi dari orang tuanya. Salah satu bentuk kebebasan berekspresi adalah berinteraksi dengan teman-teman sebaya, dan hal ini sulit untuk anak lakukan jika mereka terhalang oleh dominasi orang tuanya. 4. Sulit Merasa Bahagia dan Optimis Tahukah Anda bagaimana perasaan anak apabila mereka terus-menerus belajar dan bekerja keras tanpa mendapat waktu istirahat maupun validasi? Anak akan merasa bahwa semua perjuangannya tak bernilai apa-apa, yang akhirnya membuat si anak sulit merasa bahagia. Masalah ini juga dapat memengaruhi performa akademiknya. Tak cukup tanpa penghargaan, orang tua otoriter biasanya akan mewajibkan anak untuk terus belajar demi memenuhi tuntutan mereka. Akibatnya, tekanan tersebut dapat membuat anak mengalami burn-out. 5. Patuh Karena Rasa Takut, Bukan Karena Hormat Pola asuh otoriter mengharapkan anak untuk mematuhi aturan tanpa lawan, berperilaku sempurna, dan selalu hormat. Pada beberapa kasus, hasilnya memang sejalan dan dapat memenuhi ekspektasi tersebut, namun itu hanyalah kulit luarnya. Melansir NCBI, anak yang tumbuh dengan orang tua otoriter memang dapat menjadi pribadi yang patuh dan memiliki perilaku baik, tapi itu adalah hasil dari konsekuensi perilaku buruk. Artinya, kepatuhan mereka bukan karena rasa sayang dan hormat pada orang tua, melainkan bentuk rasa takut akan hukuman serta teguran. 6. Terbiasa Menunggu Diberi Perintah Jika mendapati seorang anak yang baru mau bertindak setelah diberi perintah, ini bisa jadi ciri-ciri anak strict parents. Padahal, hal ini sangat buruk bagi pertumbuhan anak. Sebab, anak yang terbiasa menunggu perintah akan kehilangan motivasi untuk belajar dan berjuang sendiri. 7. Susah Berkomunikasi dengan Orang Lain Berkomunikasi di sini artinya ialah menyampaikan opini dan isi hati secara terbuka tanpa paksaan atau berbohong. Karena orang tua yang strict acap kali menggurui anak, kesempatan anak untuk berbicara pun otomatis hanya sedikit.  Mereka tidak memiliki cukup ruang untuk bertanya, mengekspresikan perasaan, dan mengeksplorasi ketertarikannya. Hal tersebut berujung pada kesulitan untuk mereka menyuarakan pendapatnya di dunia luar. 8. Tidak Punya Kemampuan Problem-Solving Kemampuan untuk memecahkan masalah (problem-solving) hanya akan tumbuh apabila seorang anak mendapat kesempatan untuk bisa berpikir secara mandiri. Sayangnya, dalam pola asuh strict parenting, anak tak mampu memecahkan masalah sendiri karena mereka mendapat banyak kekangan dari orang tua. Baca juga: 8 Cara Mengatasi Strict Parents Agar Anak Tidak Depresi Sudah Memahami Apa Saja Ciri-Ciri Anak Strict Parents? Orang tua tentu ingin anak-anak mereka hidup sukses dan bahagia. Hanya saja, akan lebih baik jika orang tua lebih bijak dalam menerapkan pola asuh dan memahami perasaan anak supaya mereka tidak merasa terpenjara. Bagi Anda yang ingin anak tumbuh cerdas dan aktif dalam cara yang benar, Sparks Sports Academy bisa jadi solusi. Kelas yang tersedia dapat Anda sesuaikan dengan minat dan bakat anak, mulai dari olahraga, dance, hingga sensori. Tidak hanya berguna untuk menumbuhkan jiwa mandiri dan percaya diri, setiap kegiatan yang ada akan mendukung perkembangan kognitif, fisik, dan sosial emosional anak. Ayo, booking kelasnya dari sekarang!

15/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada 8 Ciri-Ciri Anak Strict Parents, Jangan Sampai Salah Paham!
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 16 17 18 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.