Yogurt merupakan olahan makanan berbahan dasar susu dan mengandung berbagai macam mineral penting yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti kalsium, kalium, magnesium, hingga vitamin A, B, dan C. Bayi berusia 6 bulan ke atas pun dapat rutin mengkonsumsinya. Lantas, apa saja manfaat yogurt untuk bayi? Cari tahu di sini! Key takeaways: Manfaat Yogurt untuk Bayi Yogurt dapat menjadi pilihan untuk camilan sehat bayi karena mengandung bakteri baik atau probiotik yang baik untuk tumbuh kembang bayi. Berikut 7 manfaat yogurt yang perlu orang tua jetahui. 1. Menjaga Kesehatan Pencernaan Bayi Mengutip Greenfields, yogurt mengandung bakteri streptococcus thermophilus dan lactobacillus bulgaricus yang merupakan bakteri baik (probiotik) yang bertugas menjaga kesehatan pencernaan. Probiotik ini akan meningkatkan bakteri alami usus, sehingga mampu melawan bakteri jahat penyebab gangguan pencernaan. Selain itu, kandungan tersebut dapat menghasilkan asam laktat untuk menghambat pergerakan bakteri yang berbahaya. Sistem pencernaan pun menjadi lebih kuat, serta risiko radang berkurang dan kesehatan usus tetap terjaga. 2. Meringankan Keluhan Diare dan Mencegah Sembelit Probiotik lain dalam yogurt, seperti lactobacillus rhamnosus GG (LGG), lactobacillus acidophilus, dan bifidobacterium lactis dapat memulihkan bakteri baik dalam usus yang hilang saat bayi mengalami diare. Yogurt juga dapat melawan bakteri jahat penyebab rotavirus hingga E.coli yang menjadi penyebab diare. Tidak hanya diare, yogurt yang berasal dari fermentasi bakteri Bifidobacterium dapat membantu mengurangi terjadinya sembelit pada bayi. Terutama pada bayi yang sudah mulai mengonsusi MPASI. 3. Mendukung Pertumbuhan Tulang dan Gigi Yogurt mengandung kalsium, fosfor, magnesium, dan kalium yang dapat membantu pertumbuhan tulang dan gigi. Kandungan laktoferin dalam yogurt juga dapat memperbaiki pembentukan tulang dan mengurangi kerusakan sejak dini. Asupan protein hewani yogurt juga mampu mendukung pertumbuhan tinggi badan anak. 4. Mengurangi Risiko Alergi Manfaat yogurt untuk bayi berikutnya adalah mengurangi risiko alergi tertentu. Penelitian di jurnal ScienceDirect menyebutkan bahwa bayi yang mengonsumsi yogurt memiliki risiko rendah untuk mengalami sensitivitas pada alergi makanan dan mencegah dermatitis atopik. 5. Meningkatkan Sistem Imun Tubuh Probiotik dalam yogurt dipercaya dapat memperkuat sistem imun dalam tubuh dengan cara memproduksi sel-sel imun, memperkuat lapisan usus, dan menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya. Kandungan riboflavin, seng, selenium, dan magnesium dalam yogurt juga dipercaya mampu mendukung kekebalan tubuh bayi. 6. Baik untuk Kesehatan Jantung Manfaat yogurt untuk bayi lainnya adalah menjaga kesehatan jantung. Salah satu jenis yogurt, yaitu greek yogurt bermanfaat untuk menurunkan kolesterol jahat dan trigliserida yang dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Kolesterol dan trigliserida yang tinggi sendiri dapat menyumbat pembuluh darah arteri, hal inilah yang menyebabkan penyakit stroke dan jantung. 7. Mengontrol Berat Badan Melansir Alodokter, yogurt dapat membantu anak merasa kenyang lebih lama dan menekan nafsu makan. Sehingga, keinginan anakk untuk mengonsumsi makanan atau camilan yang tidak sehat akan berkurang. Berat badanya pun lebih terjadi dan mereka terhindar dari risiko obesitas. Baca juga: Manfaat ASIP bagi Bayi dan Cara Penyimpanannya di Rumah Jenis Yogurt untuk Bayi, Mana yang Aman? Anda harus memahami bahwa tidak semua jenis yogurt, terutama yang dijual di pasaran baik untuk anak. Sebab, banyak sekali yogurt yang mengandung gula tinggi dan perisa buatan yang tidak sehat. Berikut adalah beberapa pantangan yang sebaiknya orang tua perhatikan saat memilih yogurt untuk si kecil. 1. Yogurt dengan Gula atau Perisa Tambahan Anak di bawah usia dua thaun sebaiknya tidak diberikan makanan dengan gula tambahan. Sebab, gula dan perisa tambahan dapat meningkatkan risiko gigi berlubang hingga diabetes pada anak. Sebaiknya pilih yogurt dari susu murni, greek yogurt, yogurt kefir, dan memiliki kandungan probiotik tinggi. 2. Yogurt dengan Madu Mengutip Alodokter, adu mengandung bakteri Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan botulisme atau keracunan. Karena itu, yogurt untuk bayi di bawah usia satu tahun sebaiknya tidak mengandung tambahan pemanis apapun, termasuk madu. 3. Yogurt dengan Topping Jangan berikan anak yogurt dengan berbagai topping tambahan. Contohnya seperti granola, kacang-kacangan, atau buah kering. Meski tidak berbahaya untuk kesehatan, topping tersebut berisiko membuat bayi tersedak. Sudahkan Anda Memberikan Yogurt untuk Bayi Secara Rutin? Mengonsumsi yogurt memang memiliki banyak manfaat untuk si kecil. Namun, pastikan yogurt untuk bayi Anda memang aman, serta berikan secukupnya saja. Selain itu, tak cukup dengan makanan, pastikan pertumbuhan anak seimbnag dengan memberikan stimulasi sensorik dan aktivitas fisik. Anda pun bisa mengandalkan Sparks Sports Academy yang memiliki berbagai kelas menarik di mana anak dapat bergerak bebas. Anak pun dapat belajar koordinasi, bersosialisasi, dan melatih kepercayaan diri bersama instruktur profesional. Ayo, dukung tumbuh kembangnya dengan cara tepat bersama Sparks Sports Academy!
5 Tanda Bayi Dehidrasi yang Perlu Anda Ketahui Sejak Dini
Kehilangan cairan pada bayi jauh lebih cepat jika Anda membandingkannya dengan orang dewasa. Apalagi mereka belum mampu memenuhi kebutuhan minumnya sendiri. Karena itu, Anda harus cermat dan memahami tanda bayi dehidrasi sejak dini. Mari simak berbagai tanda, penyebab, hingga penanganan dehidrasi bayi di bawah ini! Key Takeaways: Penyebab Bayi Dehidrasi Beberapa situasi dapat membuat tubuh bayi kekurangan cairan, sehingga memunculkan tanda bayi dehidrasi. Berikut beberapa alasannya. 1. Masalah saat Menyusu Di minggu-minggu awal, banyak bayi masih belajar mengisap dengan benar. Ada yang kesulitan melekat pada puting, ada juga yang tampak cepat lelah saat menyusu sehingga tidak mendapat asupan yang cukup. Kondisi ini kadang juga muncul karena suplai ASI masih menyesuaikan. Ketika asupan kurang, tubuh mereka pun tidak mampu melakukan transisi cairan dengan baik. 2. Gangguan Pencernaan Menurut Wyeth Nutrition Indonesia, muntah dan diare, termasuk yang dipicu oleh rotavirus, norovirus, atau enterovirus menjadi penyebab dehidrasi paling sering. Cairan akan terbuang dalam jumlah besar dan tubuh bayi tidak sempat menggantinya. Pada situasi seperti ini, tanda dehidrasi biasanya terlihat dalam beberapa jam. 3. Menolak Minum Pilek, sariawan, atau nyeri di mulut sering membuat bayi enggan minum. Selain itu, hidung tersumbat dapat menyulitkan mereka mengisap, sehingga jumlah cairan yang masuk jauh lebih sedikit. Kondisi inilah yang kerap memicu munculnya tanda bayi dehidrasi yang jarang orang tua sadari. 4. Demam dan Berkeringat Suhu tubuh yang meningkat akan membuat bayi mengeluarkan lebih banyak keringat. Ketika udara panas, atau saat bayi Anda pakaikan baju terlalu tebal, kehilangan cairan pun bisa meningkat. Bila asupan tidak mencukupi, gejala pun akan muncul semakin jelas. 5 Tanda Bayi Dehidrasi Setiap orang tua perlu mengenali tanda si kecil dehidrasi sejak dini supaya penanganannya bisa Anda lakukan lebih cepat. Berikut beberapa tanda-tandanya. 1. Mulut dan Bibir Kering Ketika dehidrasi, mulut bayi akan tampak lengket, bibir terlihat pecah, dan tidak ada kelembaban alami seperti biasanya. Pada beberapa bayi, lidah juga tampak lebih kusam. 2. Air Seni Berkurang Popok yang tetap kering lebih dari enam jam patut Anda curigai. Selain itu, urin biasanya berwarna lebih pekat, aromanya pun lebih kuat. Ini menunjukkan tubuh menahan cairan karena cadangan mulai menipis. 3. Air Mata Tidak Keluar Ketika menangis, mata mereka terlihat lebih kering. Tidak munculnya air mata pun sering menjadi tanda bayi dehidrasi yang mudah untuk Anda kenali. 4. Ubun-ubun Tampak Cekung Jika bagian lembut di kepala tampak turun ke dalam, ini bisa jadi tanda si kecil mengalami dehidrasi. Kondisi ini menandakan cairan tubuh berkurang cukup banyak. 5. Tubuh Terlihat Lemah Bayi menjadi kurang responsif, tidak seaktif biasanya, dan cenderung mengantuk. Selain itu, mata akan tampak cekung dan kulit terasa kurang elastis ketika Anda mencubit lembut bagian perut atau lengannya. Baca juga: Kapan Bayi Boleh Minum Air Putih Menurut Medis? Ini Aturannya Penanganan Bayi Dehidrasi di Rumah Setelah mengetahui tanda bayi dehidrasi, Anda bisa melakukan beberapa langkah awal berikut untuk mengurangi risiko. 1. Tingkatkan Pemberian Cairan Pada bayi yang masih menyusu, berikan ASI lebih sering. Jika memakai susu formula, Anda dapat memberi cairan sedikit demi sedikit, namun lebih sering. Menurut panduan The Royal Children’s Hospital Melbourne, cairan bening seperti air, campuran air dan jus apel, atau larutan rehidrasi bisa membantu, terutama pada anak yang sudah lebih besar. Ingat! Hindari memberikan banyak cairan sekaligus. Berikan sedikit demi sedikit agar tidak langsung keluar lagi. Cara ini membantu tubuh menerima cairan tanpa memicu muntah. 2. Atasi Penyebab Awal Jika demam membuat si kecil tidak mau minum, obat penurun nyeri seperti paracetamol bisa Anda gunakan. Bila hidung tersumbat membuatnya kesulitan mengisap, bersihkan dengan semprotan saline atau aspirator. Jika mengalami muntah yang terus berulang, dokter dapat meresepkan obat anti mual seperti ondansetron. 3. Jaga Suhu Ruangan Udara yang terlalu panas dapat membuat bayi berkeringat lebih banyak. Maka dari itu, atur ruangan agar lebih nyaman dan sejuk agar mereka tidak banyak kehilangan cairan. Melansir Alodokter, suhu yang direkomendasikan untuk adalah sekitar 23–25 derajat celsius. Selain itu, pakaikan bayi baju berbahan katun dan selimuti kain yang tidak terlalu tebal agar tetap nyaman dan bisa menyerap keringat. Jaga Si Kecil, Kenali Tanda Bayi Dehidrasi! Kesimpulannya, mengenali tanda bayi dehidrasi dapat membantu Anda merespons lebih cepat sebelum kondisinya memburuk. Cara-cara di atas juga akan sangat berguna untuk menjamin kenyamanan anak. Selain itu, dalam mendampingi tumbuh kembang anak, Sparks Sports Academy memiliki pendekatan aktivitas yang menyenangkan untuk membantu anak membangun kebiasaan baik, termasuk menjaga ritme tubuh dan kebutuhan cairannya. Melalui kelas sensorik, multisport, hingga aktivitas motorik, Sparks Sports Academy dapat membantu anak lebih aktif, percaya diri, dan seimbang. Anda dapat mencoba kelasnya melalui Book Free Trial dan melihat sendiri bagaimana stimulasi positif mendorong anak berkembang dengan lebih kuat dan percaya diri setiap hari.
10 Rekomendasi Mainan Anak Perempuan yang Seru dan Edukatif
Mom/Dad bingung saat memilih mainan yang bermanfaat untuk anak perempuan? Di tengah banyaknya pilihan mainan, Mom/Dad pasti sering tergoda oleh mainan yang mencolok atau hanya sekedar tren, tanpa sadar apakah mainan tersebut cocok dengan usia dan kebutuhan anak. Mainan tidak hanya sebagai sarana hiburan. Mainan bisa membantu Mom/Dad dalam mengoptimalkan perkembangan anak perempuan secara emosional, motorik, sosial, hingga kreativitiasnya. Pentingnya Memilih Mainan yang Tepat untuk Anak Perempuan Dikutip dari Mom Junction, anak perempuan di usia lima tahun ke atas sudah memiliki preferensi mereka sendiri. Oleh karena itu, Mom/Dad harus memilih mainan anak perempuan yang tepat dan juga memberikan manfaat seperti: Memilih mainan anak perempuan sangat penting. Jika Mom/Dad memberikan mainan yang tidak sesuai dengan usianya, bisa menyebabkan anak kurang terstimulasi. 10 Rekomendasi Mainan Anak Perempuan dan Manfaatnya Setelah tahu penting dan manfaat memilih mainan anak perempuan, Mom/Dad bisa mengikuti rekomendasi mainan berikut ini yang tidak hanya seru tetapi juga bermanfaat. 1. Mainan Bongkar Pasang Mainan bongkar pasang seperti Lego tidak hanya dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi anak perempuan juga bisa memainkannya. Permainan ini bisa membantu meningkatkan kreativitas anak dalam menyusun kotak-kotak hingga menjadi sebuah bentuk. Mainan ini juga membantu anak perempuan mengembangkan insting dalam memcahkan masalah dan meningkatkan kepercayaan diri. 2. Puzzle Mainan ini bisa membantu melatih kemampuan kognitif dan pemecahan masalah pada anak perempuan. Selain itu, Mom/Dad bisa terlibat langsung dengan bermain puzzle bersama anak. 3. Boneka Bermain boneka bisa menjadi cara yang terbaik untuk melatih kecakapan berbahasa dan berkomunikasi pada awal tumbuh kembangnya. Dengan bermain boneka, anak perempuan bisa mengembangkan rasa empati dan imajinasinya. 4. Permainan Olahraga Anak perempuan juga harus melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga. Dilansir dari Children’s Medical Group, akitivitas fisik pada anak bisa mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis serta meningkatkan rasa percaya diri pada perempuan. Mom/Dad bisa membelikan mainan olahraga seperti sepeda anak perempuan untuk melatih keseimbangan sang anak. 5. Mainan Masak-Masakan Mainan masak-masakan tak hanya menghibur dan seru, tetapi bisa mengembangkan keterampilan sosial, koordinasi motorik, dan pemahaman dasar tantang mengelola sebuah dapur untuk anak perempuan. 6. Alat Musik Bermain musik seperti piano atau gitar kecil bisa melatih anak untuk menikmati musik sambil mengembangkan keterampilannya. Tak hanya itu, bermain musik bisa meningkatkan koordinasi gerakan jari-jari tangan dengan baik. 7. Krayon dan Kanvas Mom/Dad bisa memberikan krayon dan kanvas atau alat tulis lainnya kepada anak perempuan untuk meningkatkan kretivitas, menumbuhkan minat dalam belajar menulis, menggambar, dan mewarnai. 8. Manik-Manik Manik-manik memiliki berbagai macam bentuk, ukuran, dan warna yang bisa dikombinasikan menjadi gelang, kalung, atau cincin. Bermain manik-main bersama anak perempuan sangat cocok untuk membantu mengembangkan keterampilan motorik halus, kretivitas, dan kecermatan. 9. Bermain Peran Mainan seperti satu set alat kedokteran, chef, atau profesi lainnya bisa menjadi pilihan yang menarik bagi anak perempuan yang suka bermain dengan imajinasinya. Tak hanya menghibur, jenis mainan ini bisa membantuk anak dalam mengembangkan keterampilan penting untuk perkembangan mereka. Bermain peran dengan anak perempuan sangat baik dalam mengembangkan keterampilan sosial, empati, dan imajinasi anak. 10. Bola Bekel Bermain bola bekel dapat meningkatkan kemampuan berpikir, daya ingat, dan fokus karena anak perlu melewati beberapa tahapan sampai akhirnya bisa menang. Selain itu, permainan ini bisa menjadi solusi jika anak memiliki masalah sosialisasi. Baca juga: Cara Memilih Mainan Edukasi Bayi yang Tepat Sesuai Usia Anak Cara Memilih Mainan untuk Anak Perempuan Sebelum membeli, ada baiknya Mom/Dad tidak hanya melihat model dan harga. Pertimbangkan faktor-faktor di bawah ini untuk memilih mainan yang cocok untuk anak perempuan: 1. Usia Pastikan Mom/Dad membeli mainan sesuai dengan usia anak. Mainan harus mudah dimainkan, tapi juga cukup menantang untuk meningkatkan keterampilan mental dan fisik anak. 2. Minat Perhatikan minat anak dan sesuaikan dengan mainannya. Mom/Dad bisa memilih mainan yang bisa membuat mereka berpikir atau berimajinasi seperti boneka, buku gambar, hingga mainan balok. 3. Melatih Kreativitas Pilih mainan yang bisa mengeksplor kreativitas dan kecerdasa anak perempuan. Mainan seperti alat tulis dan masak-masakan bisa mengembangkan imajinasi anak. 4. Mainan Edukatif Pastikan Mom/Dad membeli mainan yang bisa melatih kognitif anak. Mainan ini akan membantu dalam meningkatkan keterampilan anak. Mom/Dad bisa memilih mainan edukatif yang dapat membantu mengembangkan keterampilan matematika dasar, bahasa, dan kosa kata, serta bidang lainnya. 5. Keamanan Mainan yang seru dan edukatif bisa membuat anak bahagia. Tetapi, Mom/Dad harus memerhatikan bahwa mainan tersebut harus aman dari bahan beracun. Mainan juga tidak boleh memiliki sudut yang tajam dan harus berukuran cukup besar untuk mencegah bahasa tersedak. Memilih mainan anak perempuan bukan hanya soal warna pink atau karakter lucu. Mainan juga bisa menjadi sarana untuk membantu anak tumbuh cerdas, kreatif, dan percaya diri. Jika Mom/Dad bisa memahami, mengetahui serta menerapkan pemilihan yang bijak, anak bisa memiliki pengalaman bermain yang lebih menyenangkan. Bermain adalah cara anak belajar tentang dunua, Jadi, Mom/Dad jangan hanya memilih mainan yang seru, tapi juga harus memilih mainan yang bermanfaat.
Panduan Memilih Susu UHT untuk Anak 1 Tahun, Wajib Tahu!
Susu UHT diproses dengan pemanasan tinggi sehingga lebih tahan lama dan aman dikonsumsi. Pada anak usia satu tahun, susu jenis ini juga dapat menjadi pelengkap asupan harian bila diberikan sesuai porsinya. Namun, karena setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, pemilihan susu UHT untuk anak 1 tahun tidak boleh sembarangan. Pemilihannya harus dilakukan dengan melihat kandungan nutrisinya. Ingin tahu bagaimana cara memilih susu UHT untuk si kecil agar pemberian pas dan tidak berlebih? Simak di sini! Key Takeaways: Panduan Memilih Susu UHT untuk Anak 1 Tahun Susu UHT sudah melalui pemanasan sangat tinggi supaya aman diminum dan rasanya tetap konsisten. Bagi Anda yang ingin mengenalkan susu UHT untuk si kecil, berikut beberapa hal penting yang sebaiknya Anda perhatikan. 1. Sesuaikan dengan Kebutuhan Anda bisa mulai dengan melihat kebutuhan harian anak. Bila berat badan anak cenderung rendah, dokter biasanya menyarankan susu UHT karena kandungan lemaknya dapat membantu kenaikan berat badan. Namun, untuk anak dengan risiko obesitas, dokter biasanya akan mengarahkan agar jumlahnya tidak berlebihan karena kadar lemaknya cukup tinggi. 2. Cek Komposisi Nutrisinya Setiap produk susu UHT tentu memiliki kadar nutrisi berbeda. Anda bisa memilih susu UHT untuk anak 1 tahun yang kaya kalsium untuk menunjang pertumbuhan tulang dan gigi. Produk yang difortifikasi vitamin D, DHA, serta FOS:GOS juga bermanfaat untuk daya tahan tubuh, perkembangan otak, dan kesehatan pencernaan. Jika anak memiliki intoleransi laktosa, pilih varian bebas laktosa. 3. Pilih Jenis Full Cream Anak usia 1 tahun umumnya membutuhkan asupan lemak yang cukup tinggi. Oleh karena itu, varian yang paling sesuai adalah susu UHT full cream. Varian rendah lemak baru cocok setelah anak masuk usia 2 tahun, sedangkan varian skim cocok untuk usia 5 tahun ke atas. 4. Hindari Gula Tambahan yang Berlebih Susu UHT untuk anak 1 tahun sebaiknya tidak mengandung gula tambahan. Sebab, kandungan gula yang tinggi bisa membuat anak cepat kenyang dan mengurangi nafsu makan. Dalam satu hari, sebaiknya batas konsumsi gula anak hanya 25 gram. Jika satu kotak mengandung 12 gram gula, berarti hampir setengah kebutuhan hariannya sudah terpenuhi. 5. Pilih Varian Tanpa Perasa dan Pewarna Varian rasa memang lebih menggoda dan menarik, namun biasanya mengandung gula lebih tinggi. Jadi, Anda bisa mengenalkan susu plain sejak awal. Selain itu, periksa kemasan, izin BPOM, dan tanggal kedaluwarsanya. Jangan memberi susu dengan kemasan penyok, bocor, atau tercium bau aneh. Baca juga: 7 Tips agar Anak 1 Tahun Mau Minum Susu Formula Panduan Pemberian Susu UHT Berdasarkan Usia Susu UHT memiliki rasio protein-energi tinggi dan bisa dikombinasikan dengan susu formula bila anak membutuhkan target pertumbuhan tertentu. Di dalam susu pun terdapat kalsium, fosfor, kalium, riboflavin, zinc, vitamin A dan B12, magnesium, karbohidrat, dan protein. Agar tidak salah memberi, berikut panduan dalam memberikan susu UHT untuk si kecil. Selain itu, Anda juga harus memperhatikan kalori harian si kecil. Berikut gambaran kebutuhan kalori harian berdasarkan Angka Kecukupan Gizi yang telah ditetapkan oleh Kemenkes RI lewat Peraturan Menteri Kesehatan No.28 Tahun 2019. Cara Menyimpan Susu UHT yang Tepat Melansir Alodokter, susu UHT dapat bertahan lama jika kemasan tidak terbuka selama masa penyimpanan. Jadi, Anda bisa menyimpan susu dalam suhu ruang selama belum dikonsumsi dan dapat bertahan hingga batas kedaluwarsa. Setelah Anda buka, simpan di lemari es dengan suhu sekitar 4°C dan habiskan dalam 2-3 hari. Tutup kemasan rapat saat menyimpannya. Jika warna atau rasanya berubah, lebih baik tidak Anda berikan. Selain itu, jauhkan susu dari bahan beraroma kuat seperti durian atau tape karena susu mudah menyerap aroma. Ayo, Pilih Susu UHT untuk Anak 1 Tahun yang Tepat! Memilih susu UHT harus Anda pastikan kualitasnya memang baik, kandungannya sesuai usia, dan porsinya Anda berikan dengan bijak. Sehingga, Anda bisa mendukung nutrisi harian anak secara praktis, aman, dan tetap selaras dengan kebutuhan tumbuh kembangnya. Namun, Anda perlu memahami bahwa di luar nutrisi, stimulasi fisik dan sensorik juga berperan besar dalam perkembangan anak. Sparks Sports Academy pun dapat menjadi wadah dan ruang belajar yang menyenangkan serta penuh nilai. Kami akan membantu anak membangun kepercayaan diri, koordinasi, hingga keterampilan sosial. Lewat berbagai aktivitas seperti basket, futsal, hingga taekwondo yang seru dan aman, anak akan bergerak dan tumbuh dengan cara yang lebih holistik juga berkelanjutan. Mari daftarkan anak Anda di Sparks Sports Academy dan rasakan tumbuh kembangnya yang pesat!
Kapan Bayi Boleh Minum Air Putih Menurut Medis? Ini Aturannya
Sebagai orang tua baru, mungkin Anda akan bingung dengan berbagai informasi parenting di luaran sana. Namun, Anda harus tahu fakta kapan bayi boleh minum air putih walau si kecil terlihat haus setelah menyusu. Hal ini karena tindakan yang tampak sepele ini memiliki aturan tersendiri sesuai saran medis. Key Takeaways Kapan Bayi Boleh Minum Air Putih? Berdasarkan WHO dan beberapa laman kesehatan terpercaya yang membahas kapan bayi boleh minum air putih, sejatinya bayi bisa mulai mengenal air putih saat usianya mencapai 6 bulan. Sebab, usia 6 bulan adalah waktu di mana bayi mulai mengenal makanan pendamping ASI (MPASI). Sebelum mencapai usia tersebut, bayi tidak membutuhkan cairan tambahan apapun selain ASI. Hal ini karena ASI mengandung lebih dari 80% senyawa air, khususnya di awal sesi menyusui. Sehingga, kandungan air pada ASI sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh bayi. Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Baby Led Weaning? Ini Penjelasannya! Bahaya Konsumsi Air Putih pada Bayi Berusia di Bawah 6 Bulan Memberikan air putih kepada bayi berusia di bawah 6 bulan berpotensi menyebabkan beberapa risiko kesehatan serius berikut ini. 1. Mengganggu Penyerapan Nutrisi Hingga hari ini, ada cukup banyak penelitian yang menjelaskan bahwa pemberian air putih kepada bayi di bawah 6 bulan bisa mengganggu penyerapan nutrisi dan gizi. Salah satunya berasal dari laman Pregnancy, Birth & Baby yang menjelaskan bahwa asupan cairan bayi berusia kurang dari 6 bulan bisa membuat bayi cepat kenyang, sehingga tidak ingin menyusu ASI. Hal ini tentunya berpotensi besar membuat asupan gizi bayi tidak terpenuhi secara optimal. Bahkan, jika terus berlanjut, bayi bisa mengalami penurunan berat secara drastis. 2. Risiko Keracunan Air Salah satu risiko kesehatan paling serius dari pemberian air ke bayi berusia di bawah 6 bulan adalah keracunan air. Kondisi ini umumnya terjadi saat kadar elektrolit dalam tubuh bayi mengalami penurunan drastis akibat terlalu banyak asupan air. Kondisi ini bisa mempengaruhi fungsi otak dan sistem saraf pada bayi. Keracunan air pada bayi biasanya disertai dengan beberapa gejala umum, seperti: 3. Membebani Ginjal Bayi Membuat kinerja ginjal bayi lebih terbebani adalah risiko kesehatan serius lainnya yang bisa bayi hadapi jika Anda mengabaikan atau tidak tahu kapan bayi boleh minum air putih. Sebab, ginjal bayi berusia 6 bulan belum berkembang secara sempurna, sehingga belum bisa memproses cairan dalam volume besar. Memberikan air putih kepada bayi sebelum mencapai usia 6 bulan sama halnya memaksa ginjal bayi bekerja lebih keras yang membuat keseimbangan cairan tubuh menjadi terganggu. 4. Meningkat Resiko Infeksi Selain ginjal yang belum matang, sistem imun bayi juga masih belum bekerja optimal, sehingga membuat bayi sangat rentan dengan infeksi saluran pencernaan. Air putih tanpa sterilisasi ekstra berpotensi menyebabkan infeksi saluran pencernaan tersebut. Berapa Asupan Air yang Aman untuk Bayi 6 Bulan? Selain mengetahui kapan bayi boleh minum air putih, Anda juga perlu paham berapa batas asupan air yang aman untuk si kecil. Pasalnya, kebutuhan air yang ideal untuk bayi bisa berbeda tergantung usianya. Berikut ini aturannya. Usia Bayi Asupan Air Catatan 6-12 bulan 60-240 ml Tergantung porsi MPASI 1-3 tahun 1,3 liter Gabungan makanan, ASI/susu dan air minum Dukung Perkembangan Motorik Anak Seiring Pertumbuhan! Jadi, usia ideal kapan bayi boleh minum air putih adalah saat berusia 6 bulan atau lebih. Namun, asupan atau pemberiannya pun juga harus diperhatikan sesuai usia. Misalnya, asupan air putih untuk bayi berusia 6-12 bulan adalah 60-240 ml per hari (tergantung porsi MPASI). Selain asupan cairan yang cukup, stimulasi fisik yang aman dan terarah seiring dengan pertumbuhan juga menjadi kebutuhan penting untuk tumbuh kembang bayi. Di sini, Sparks Sports Academy bisa menjadi mitra yang membantu Anda memenuhi kebutuhan tersebut. Akademi kami hadir dengan program baby development berbasis gerak dan sensorik yang dirancang oleh para profesional. Program ini bisa membantu bayi untuk mengembangkan koordinasi tubuh, kekuatan otot, hingga kemampuan eksplorasi motoriknya. Dengan program dan pendampingan profesional dari Sparks Sports Academy, si kecil bisa mencapai milestone tumbuh kembangnya secara optimal. Saatnya pastikan pertumbuhan dan perkembangan si kecil bisa optimal lewat program baby development dari Sparks Sports Academy. Daftar sekarang!
