Setiap orang tua memiliki insting melindungi dan mempersiapkan anaknya untuk menghadapi dunia. Jika diamati, pola pengasuhannya berbeda-beda, bahkan mirip dengan cara satwa di alam liar, salah satu contohnya yaitu gajah. Penerapan pengasuhan yang meniru gajah dalam membesarkan anak disebut elephant parenting. Key takeaways Apa Itu Elephant Parenting? Menurut laman Parents, elephant parenting adalah jenis gaya pengasuhan yang menekankan hubungan emosional orang tua dan anak, di mana orang tua selalu ada untuk anaknya, baik secara emosional maupun fisik. Sehingga, lebih menitikberatkan pada kelembutan, perlindungan, dan kasih sayang penuh untuk anak. Mengutip laman Family Abbots, elephant parenting pertama kali diperkenalkan oleh Priyanka Sharma Sindhar pada 2014 dalam artikel berjudul “Being an ‘Elephant Mom’ in the Time of the Tiger Mother”. Menurut Priyanka, peran orang tua gajah adalah mengasuh, melindungi, dan menyemangati anaknya, terutama saat mereka masih kecil. Baca: Uninvolved Parenting: Ciri-Ciri, Dampak, dan Solusinya Kelebihan Elephant Parenting Pengasuhan anak yang berfokus pada cinta, perhatian, dan perlindungan seperti induk gajah yang selalu dekat dengan anaknya memiliki banyak kelebihan, khususnya bagi pertumbuhan karakter anak. Berikut ini beberapa kelebihan dari gaya elephant parenting. 1. Merasa Aman dan Nyaman Adanya dukungan emosional yang kuat dari orang tua yang selalu hadir menjadikan anak merasa aman dan nyaman. Selain itu, kebutuhan emosional yang terpenuhi akan membantunya dalam membangun hubungan yang sehat di kemudian hari. 2. Berkembang Sesuai Masanya Anak dapat berkembang sesuai masanya dengan cara yang positif. Sebab, orang tua cenderung memberi anak kebebasan dalam memutuskan pilihannya serta mendorongnya untuk bereksplorasi sesuai keminatannya, tapi tetap dalam batas aman atau pengawasan. 3. Lebih Bahagia Pola asuh ini memprioritaskan kebahagiaan anak dengan memberi mereka kebebasan untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Selain itu, orang tua lebih fleksibel dalam membuat aturan dan tidak terlalu mengekang, sehingga anak tidak merasa terbebani, misalnya berkaitan prestasi akademis. 4. Kesehatan Mental Terjaga Hubungan orang tua dan anak yang didasari kelekatan yang aman sangat penting untuk kesehatan mental anak. Anak dengan emosional yang terikat kuat dengan orang tuanya cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola stres dan emosi. Sehingga, anak akan terhindar dari konflik dengan orang tua. 5. Tangguh dan Percaya Diri Anak yang tumbuh di lingkungan hangat dan penuh kasih sayang akan tumbuh menjadi seseorang yang lebih tangguh. Hal ini karena orang tua lebih menekankan motivasi yang positif daripada kritik yang berlebihan. Hal ini merupakan sarana penting untuk membangun kepercayaan diri anak. 6. Berbuat Baik pada Sesama Orang tua bisa menjadi teladan bagi anaknya, seperti menunjukkan cara berinteraksi secara positif, berempati, dan berbuat baik kepada sesama. Secara tidak langsung, anak akan menirunya lalu mampu merespons emosi dan keadaan orang lain, serta membantunya jika ada yang butuh. Baca: Mengenal 7 Sensori Anak dan Perannya dalam Tumbuh Kembang Kelemahan Elephant Parenting Meski pola asuh “gajah” terlihat menyenangkan bagi anak, tetapi ada beberapa sisi negatifnya untuk anak jika orang tua tidak berhati-hati dalam menerapkannya. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut. 1. Sulit Menyelesaikan Masalah Orang tua yang terlalu sering melindungi anaknya justru akan membuat anak kesulitan dalam mengembangkan keterampilan interpersonal. Sehingga, ketika menghadapi masalah atau perselisihan, anak akan meminta bantuan orang tua untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. 2. Tidak Mandiri Orang tua selalu memberi dukungan emosional dan fisik yang berlebihan. Akibatnya, anak akan selalu bergantung pada orang tua, yang berarti mereka menjadi sulit untuk hidup mandiri. 3. Manja Orang tua selalu menuruti apa yang anak inginkan dan selalu membantunya terus-menerus. Hal ini akan membuat anak menjadi pribadi yang manja, bahkan hingga dewasa. 4. Potensi Menjadi Helicopter Parenting Jika orang tua tidak berhati-hati, gaya pengasuhan elephant parenting bisa berubah menjadi helicopter parenting. Berdasarkan laman Newport Academy, helicopter parenting merupakan pola asuh di mana orang tua sangat protektif dan mengontrol anaknya serta terlibat terlalu dalam pada setiap aspek kehidupan anak. Baca: Perbandingan Anak Aktif dan Pasif dalam Jangka Panjang Dukung Tumbuh Kembang Anak di Spark Sports Academy! Elephant parenting menawarkan dukungan emosional yang tak ternilai untuk memupuk rasa aman dan harga diri anak. Namun, gaya asuh ini pun berisiko menghambat kemandirian dan ketahanan anak menghadapi tantangan hidup. Sehingga, perlu keseimbangan pola asuh yang menyesuaikan kebutuhan unik anak. Supaya anak dapat tumbuh sesuai versinya sendiri, Spark Sports Academy dapat membantu anak Anda untuk mengembangkan potensinya melalui olahraga yang menyenangkan. Spark Sports Academy merupakan akademi olahraga untuk anak usia 1-7 tahun. Sparks sports academy membantu anak membangun karakter positif, seperti kepercayaan diri, disiplin, dan semangat kerja sama. Ada beragam kelas olahraga yang bisa Anda pilih sesuai minat dan usia anak, seperti gymnastic, balet, futsal, kelas sensori, dan masih banyak lagi. Yuk, ikuti trial class-nya!
Uninvolved Parenting: Ciri-Ciri, Dampak, dan Solusinya
Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh bahagia dan percaya diri. Namun, tidak semua pola asuh mampu mendukung hal tersebut. Salah satu yang sering tidak disadari adalah uninvolved parenting, yakni pola asuh yang membuat anak tumbuh tanpa perhatian dan dukungan emosional yang cukup dari orang tuanya. Agar tidak terjebak dalam pola asuh yang merugikan Anda dan anak-anak, mari kenali lebih lanjut ciri-ciri, dampak terhadap anak, dan cara mengatasinya di artikel ini! Key Takeaways Apa Itu Uninvolved Parenting? Uninvolved parenting adalah pola asuh di mana orang tua cenderung tidak terlibat dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional. Orang tua jarang memberikan dukungan, bimbingan, atau bahkan sekadar perhatian terhadap kebutuhan anak. Biasanya, hal ini terjadi tanpa disadari. Beberapa orang tua mungkin memiliki kesibukan atau tekanan mental yang membuatnya kehilangan energi untuk hadir sepenuhnya pada anak. Ciri-Ciri Uninvolved Parenting Pola asuh abai ini sering terjadi tanpa disadari karena muncul dari kebiasaan atau situasi tertentu. Namun, ada beberapa tanda umum yang bisa membantu Anda mengenalinya, di antaranya adalah sebagai berikut. Baca: Authoritative Parenting: Spektrum, Ciri Khas, dan Manfaatnya Dampak Uninvolved Parenting terhadap Anak Meski terlihat membuat anak lebih mandiri, dampak negatif pola asuh abai ini jauh lebih besar daripada manfaatnya. Pasalnya, anak tetap membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan kehadiran emosional dari orang tua untuk tumbuh sehat secara mental dan sosial. Berikut rincian dampak yang mungkin terjadi. 1. Kehilangan Figur Panutan Tanpa kedekatan dengan orang tua, anak akan kesulitan menemukan teladan. Anak cenderung mencari sosok pengganti di luar rumah yang bisa saja justru membawa pengaruh negatif. 2. Bersikap Impulsif dan Agresif Kurangnya batasan membuat anak mudah bertindak tanpa berpikir panjang, sulit diatur, dan sering berkonflik dengan orang lain. 3. Prestasi Akademik Menurun Anak akan kehilangan arahan dan motivasi belajar. Hal ini karena orang tuanya tidak memberikan bimbingan atau dukungan dalam kegiatan sekolah. 4. Berisiko Melakukan Perilaku Menyimpang Tanpa pengawasan, anak lebih mudah terpengaruh lingkungan negatif dan rentan terjerumus pada kebiasaan buruk. Misalnya penyalahgunaan alkohol atau narkoba. 5. Masalah Emosional dan Kepercayaan Diri Rendah Kurangnya kasih sayang membuat anak merasa tidak berharga. Anak juga kesulitan mengendalikan emosi dan sulit menjalin hubungan sehat dengan orang lain. Selain membangun kedekatan emosional, Anda juga bisa membantu anak melalui aktivitas fisik yang terstruktur. Kegiatan seperti olahraga, gymnastic, atau kelas multisport dapat menjadi cara positif untuk meningkatkan interaksi antara orang tua dan anak sekaligus memenuhi kebutuhan stimulasinya. Jika membutuhkan tempat yang aman dan terarah untuk mendukung tumbuh kembang anak, Sparks Sports Academy menyediakan berbagai program seperti gymnastics, multisport, dance, hingga basket dan futsal. Aktivitas ini bisa menjadi jembatan bagi orang tua untuk lebih terlibat dalam keseharian anak sambil membangun kebiasaan yang sehat. Cara Mengatasi Pola Asuh Uninvolved Jika Anda mulai menyadari tanda-tanda uninvolved parenting dalam keluarga, hal terpentingnya adalah kesadaran untuk berubah. Beberapa langkah yang bisa Anda lakukan adalah sebagai berikut. Baca: 5 Tanda Anak Butuh Sensori Tambahan yang Sering Disepelekan Bangun Ikatan Orang Tua dan Anak bersama Spark Sports Academy Itulah ciri-ciri pola asuh uninvolved parenting dan dampak negatifnya terhadap perkembangan emosional dan sosial anak. Salah satu cara efektif untuk memperbaiki hubungan emosional dengan anak bisa dimulai dari aktivitas fisik bersama. Aktivitas fisik bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga memperkuat komunikasi dan kerja sama antara orang tua dan anak. Di sinilah peran Spark Sports Academy menjadi sangat relevan. Spark Sports Academy menghadirkan program olahraga yang dirancang untuk mengembangkan potensi anak secara menyeluruh, baik fisik, mental, maupun sosial. Melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif, anak juga bisa belajar nilai kerja sama, disiplin, dan rasa percaya diri. Yuk, daftarkan anak Anda dengan memilih salah satu kegiatan yang disukai di Spark Sports Academy! Anda pun bisa berperan aktif dalam membangun ikatan yang lebih hangat dengan anak dan keluar dari pola asuh uninvolved.
Authoritative Parenting: Spektrum, Ciri Khas, dan Manfaatnya
Anak dengan karakter bahagia, percaya diri, tangguh, dan sukses adalah impian banyak orang tua. Jika Anda salah satunya, adapun cara yang menentukan hasil tersebut adalah pola pengasuhan yang tepat. Authoritative parenting atau pola asuh otoritatif menjadi jawaban atas keinginan tersebut. Metode pengasuhan ini bukanlah cara menjadi orang tua otoriter dan anak wajib patuh. Cara pendekatan otoritatif yang dimaksud merupakan cara orang tua untuk menjadi pemimpin yang bijaksana bagi anak, tegas dalam aturan tetapi hangat dalam hubungan. Apakah hal seperti itu memungkinkan? Key Takeaways Memahami Spektrum Authoritative Parenting Untuk memahami alasan mengapa model pengasuhan otoritatif begitu kuat, Anda harus mengetahui sejarahnya terlebih dulu. Pada tahun 1960-an, seorang psikolog bernama Diana Baumrind mengidentifikasi empat gaya pengasuhan utama berdasarkan dua sumbu, yaitu: Melalui dua sumbu tersebut, kemudian lahirlah empat gaya pengasuhan berbeda berikut ini. Orang tua otoritatif berekspektasi tinggi sebagaimana orang tua otoriter, tapi tidak memaksa anak untuk patuh. Sebaliknya, mereka menyampaikan pikiran dengan lembut, membangun komunikasi dua arah dengan anak, dan memberikan rasa hormat terhadap pemikiran anak. Mereka tidak menuntut kepatuhan yang mutlak. Baca: Langkah Efektif Menerapkan Digital Parenting di Rumah Ciri Khas Orang Tua Otoritatif Sayangnya, meskipun berbeda dengan pola asuh otoriter, tapi masih banyak yang kesulitan mengidentifikasi metode authoritative parenting. Berikut adalah beberapa pilar utama yang menjadi ciri khas orang tua otoritatif. Baca: Mengapa Anak Gen-Alpha Cenderung Kurang Kuat Fisiknya? Manfaat Pola Asuh Otoritatif Mengutip dari The SUMMIT Counseling Center, metode authoritative parenting menciptakan anak-anak dengan keunggulan signifikan dalam hampir setiap aspek kehidupan. Di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Prestasi Akademik yang Lebih Tinggi Orang tua otoritatif cenderung terlibat dalam pendidikan anak dengan cara yang sehat. Mereka tidak mengerjakan PR untuk anak, tetapi menyediakan lingkungan yang mendukung dengan menanyakan yang sedang anak pelajari dan menanamkan nilai kerja keras. Keterlibatan orang tua yang suportif, sebagai ciri khas pola asuh otoritatif, menjadi faktor kuat dalam keberhasilan akademik anak, bahkan daripada faktor sosial ekonomi. Anak-anak jadi mengembangkan motivasi internal dan disiplin diri karena memahami nilai dari usaha, bukan sekadar menghindari hukuman. 2. Kesehatan Emosional dan Mental yang Lebih Baik Inilah salah satu manfaat terbesar. Karena orang tua otoritatif mendengarkan dan memvalidasi emosi, anak belajar cara mengidentifikasi, mengekspresikan, dan mengatur perasaan mereka sendiri atau regulasi emosi. Ini menjadi faktor pelindung terhadap kesehatan mental mereka. 3. Kompetensi Sosial dan Resiliensi Anak-anak dari pola asuh otoritatif cenderung lebih populer di kalangan teman sebaya, lebih empatik, dan memiliki keterampilan sosial yang lebih baik. Alasannya adalah karena anak telah belajar negosiasi, kompromi, dan penghormatan melalui interaksi harian mereka dengan orang tua. Ketika dihadapkan pada tantangan atau kegagalan, produk authoritative parenting juga lebih tangguh. Anak akan menerima kritik membangun sebagai bahan evaluasi dan tidak menerima pujian kosong, apalagi takut terhadap kegagalan. Mereka akan tumbuh menjadi berani mengeksplor dan selalu berusaha memperbaiki diri. Baca: Apa Hubungan Olahraga dengan Kesehatan Mental Anak? Membangun Karakter Anak Melalui Pola Asuh Otoritatif Membangun disiplin, resiliensi, dan kecerdasan emosional menjadi inti dari metode authoritative parenting. Orang tua tidak sekadar memberikan tuntutan, tapi melibatkan anak dalam menentukan keputusan. Hal ini akan membentuk rasa tanggung jawab sekaligus keberanian dan kepercayaan diri anak. Namun, pola asuh tidak hanya tentang hubungan orang tua dan anak di rumah. Anda sebagai orang tua juga perlu menerapkannya di lingkungan sekitar, termasuk sekolah dan aktivitas eksternal seperti kelas olahraga.
Langkah Efektif Menerapkan Digital Parenting di Rumah
Saat ini, digital parenting adalah konsep yang sangat penting untuk orang tua yang ingin anaknya mendapatkan pendampingan optimal saat menjelajahi dunia online secara aman dan produktif. Konsep ini bukan sekadar membatasi screen time, melainkan memahami media digital hingga menjaga keseimbangan antara kehidupan online dan offline. Ketika orang tua memahaminya, mereka dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung tumbuh kembang anak, bukan sumber risiko. Mempraktekkan pola asuh digital juga berarti kedua orang tua berperan aktif dalam memahami perilaku digital anak dan menyediakan lingkungan yang mendukung dalam pertumbuhan kognitif, sosial-emosional, dan etis anak di dunia maya. Key Takeaways Pengertian Digital Parenting Digital parenting merupakan praktik pengasuhan di mana orang tua berusaha memahami, mendukung, dan mengatur aktivitas anak di dunia maya. Pola asuh ini juga mengacu pada bagaimana orang tua terlibat dalam mengatur relasi anak-anaknya dengan media sosial. Itu artinya, pola asuh digital bukan sekadar tentang memonitor anak ketika menggunakan gadget, melainkan bagaimana membekali anak dengan kesadaran atas risiko, keterampilan digital, dan kepercayaan diri dalam menavigasi dunia online secara tepat dan aman. Baca: Mengenal Mindful Parenting, Manfaat, Hingga Cara Penerapannya Mengapa Digital Parenting Begitu Penting? Saat ini, dunia telah dipenuhi oleh perangkat digital yang mudah diakses oleh anak-anak seperti smartphone, media sosial, tablet, dan game online. Tanpa adanya pengasuhan digital yang tepat, anak berpotensi menghadapi beragam risiko seperti: Sebagai contoh, kesadaran orang tua terkait pola asuh digital yang rendah berkorelasi terhadap penggunaan media bermasalah terhadap anak. Lantas, bagaimana dengan orang tua yang aktif dalam melakukan pola asuh digital, seperti berkomunikasi secara terbuka, memberi bimbingan, dan memberi model digital yang baik? Mereka akan membantu anak dalam mengembangkan kebiasaan digital secara sehat, mengurangi potensi dampak buruk penggunaan media, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Baca: 7 Aktivitas Saat Liburan yang Bikin Anak Tetap Aktif Tanpa Gadget Strategi Menerapkan Digital Parenting Terdapat beberapa langkah praktis yang dapat Anda terapkan agar pola asuh digital berjalan dengan baik. Beberapa langkahnya adalah sebagai berikut. 1. Bangun Komunikasi Terbuka Mulailah percakapan rutin mengenai aktivitas digital anak. Tanyakan apa yang sudah mereka tonton, siapa yang sudah mereka ajak berinteraksi, dan bagaimana perasaannya ketika online. Jangan sekadar memberi aturan tanpa memberi penjelasan. Anda perlu memberi penjelasan mengapa aturan tersebut Anda buat. Dengan begitu, anak akan memahami dan turut bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya. 2. Terapkan Aturan dan Batasan secara Jelas Anda harus mengatur waktu layar, jenis konten apa yang Anda perbolehkan, dan waktu bebas gadget (seperti sebelum tidur atau ketika makan). Pendekatan semacam ini termasuk di dalam praktik “meditation” dalam digital parenting. Aturan tersebut juga harus konsisten dan telah menjadi kesepakatan bersama, bukan dari satu pihak. Anda bisa melibatkan anak dalam proses pembuatan aturan, sehingga mereka merasa dihargai sehingga lebih patuh. 3. Jadilah Contoh yang Baik Orang tua wajib menjadi “model” dalam penggunaan teknologi, misalnya bagaimana memanfaatkan smartphone saat di meja makan, menanggapi notifikasi, dan menjaga etika online. Dalam jurnal Parenting and Digital Media, sikap orang tua terhadap media digital akan sangat berpengaruh terhadap sikap anak. Contohnya, memberi batasan penggunaan gawai Anda sendiri ketika bersama anak. Langkah ini akan membuat Anda benar-benar hadir, baik secara fisik dan emosional. 4. Ajari Keterampilan Digital dan Literasi Media Teknologi bukan sekadar tentang hiburan, tapi alat pembelajaran dan kreativitas. Anda bisa mendorong anak agar memanfaatkan media digital secara positif, seperti mengeksplorasi coding sederhana, membuat video edukatif, hingga mengembangkan proyek kreatif. Anda juga bisa mengajari mereka agar mengenali risiko seperti cyberbullying, hoax, dan privasi digital. 5. Pantau dan Evaluasi Rutin Lakukan monitoring terhadap aktivitas anak, bukan sekadar memata-matai secara terus-menerus. Anda perlu melakukannya dengan cara yang hormat dan transparan. Contohnya, tinjau aplikasi apa saja yang mereka gunakan, diskusikan konten atau game yang mereka suka, maupun menanyakan apakah mereka nyaman atau takut. Hal tersebut membantu menghadirkan kepercayaan dan memperkuat hubungan anak dengan orang tua dalam ranah digital. Baca: Karate atau Taekwondo untuk Anak: Mana yang Lebih Cocok? Seimbangkan Digital dan Perkembangan Nyata Anak Mempraktikkan pola asuh digital secara konsisten memang perlu usaha, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi. Akan tetapi, orang tua bisa menjadi sahabat dan mentor bagi anak, bukan sekadar pengawas pasif. Dengan begitu, anak bisa tumbuh menjadi generasi tangguh, cerdas, dan bertanggung jawab. Jika ingin memaksimalkan tumbuh kembang anak melalui stimulasi sensorik dan aktivitas fisik, daftarkan mereka ke Sparks Sports Academy. Sparks Sports Academy merupakan tempat anak bisa berkembang melalui character building, aktivitas olahraga, disiplin, dan memperkuat keterampilan sosial. Hasilnya, Anda bisa memperkuat hasil digital parenting. Anak pun akan mendapatkan fondasi yang tepat agar berhasil di dunia nyata dan dunia digital.
5 manfaat dan Cara Menerapkan Mindful Parenting
Menjadi orang tua memang bukan perkara mudah. Kadang, di tengah padatnya rutinitas dan tekanan hidup, Anda bisa tanpa sadar terbawa emosi ketika menghadapi tingkah laku anak. Namun, tahukah Anda bahwa ada pendekatan bernama mindful parenting yang dapat membantu merespon perilaku anak dengan cara tenang? Pendekatan ini pun semakin populer, terutama untuk membangun hubungan yang hangat serta sehat antara orang tua dan anak. Lantas, apa saja manfaatnya? Bagaimana cara menerapkannya? Simak selengkapnya di bawah ini! Key Takeways: Apa Itu Mindful Parenting? Melansir dari Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat (2022), praktik pengasuhan ini dilakukan dengan menghadirkan perhatian sepenuhnya pada momen yang sedang berlangsung. Artinya, Anda tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Mindful parenting pun mengajarkan orang tua untuk tidak bereaksi secara impulsif terhadap perilaku anak, melainkan memahami emosi yang muncul, baik itu dari diri sendiri maupun dari anak sebelum mengambil tindakan. Konsep ini sendiri berasal dari prinsip mindfulness, yaitu kemampuan untuk menyadari apa yang sedang dirasakan dan dialami tanpa menghakimi. Ketika diterapkan dalam pola asuh, mindfulness akan membantu orang tua lebih sabar, empatik, dan peka terhadap kebutuhan emosional anak. Baca: Milenial Parenting: Karakteristik dan Tantangan dalam Pengasuhan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Mindful Parenting Berdasarkan jurnal “The determinants of mindful parenting in adolescence: a scoping review“, terdapat 3 faktor penentu mindful arenting yaitu: Manfaat Mindful Parenting Berikut ini adalah berbagai manfaat yang bisa Anda dapatkan jika menerapkan pola pengasuhan dengan kesadaran penuh 1. Hubungan Emosional yang Lebih Kuat Lewat kehadiran penuh, secara mental dan emosional, Anda bisa benar-benar memahami perasaan anak, bukan hanya menilai dari perilaku luarnya. Hal tersebut pun dapat menciptakan rasa kedekatan emosional yang mendalam. 2. Mengurangi Stres dan Kelelahan Pengasuhan Pola pengasuhan ini akan membantu Anda menerima bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Kesadaran ini membuat Anda lebih mudah memaafkan diri sendiri dan tidak terjebak pada rasa bersalah. Jurnal UNJ pun menyatakan bahwa mindful parenting dapat mengurangi tingkat stres orang tua secara signifikan, serta membantu mereka mengatur emosi dan meningkatkan kesejahteraan. 3. Meningkatkan Kemampuan Anak dalam Mengatur Emosi Tak hanya mengatur emosi orang tua, anak yang tumbuh dengan pola asuh ini pun cenderung lebih tenang. Mereka juga mampu mengekspresikan perasaan tanpa ledakan emosi berlebihan. Ini karena orang tua akan fokus pada masa ini dan tidak menghakimi, sehingga akan tercipta kedamaian. 4. Menciptakan Lingkungan Keluarga yang Harmonis Ketika komunikasi antara orang tua dan anak berjalan dengan penuh empati, suasana rumah pasti menjadi lebih positif dan nyaman bagi semua anggota keluarga. Ini karena Anda mampu menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis, sehingga anak merasa aman ketika dirumah. Baca: 3 Ciri Anak Cepat Tinggi dan Cara Mendukungnya 5. Mencontohkan Kesalahan Adalah Hal yang Wajar Ketika orang tua mengakui kesahalan dan meminta maaf kepada anak, anak akan belajar bahwa orang tua benar-benar mencintainya. Hal ini diperlukan untuk pengembangan konsep diri yang kuat, realistis, dan sehat. Ini akan membuat anak meniru perilaku orang tua dan menghasilkan hubungan sosial yang sehat. Cara Menerapkan Mindful Parenting Penerapan pola asuh ini tentu tidak bisa instan. Mengutip Psychological Research on Urban Society, tantangan parenting dapat datang dari berbagai faktor, seperti waktu yang terbatas, ketidakseimbangan pekerjaan dan personal life, hingga kurangnya koneksi emosional. Lantas, bagaimana cara menerapkan pola asuh mindful? 1. Luangkan Waktu Ketika bersama anak, letakkan ponsel dan tinggalkanlah kegiatan apapun yang sedang Anda lakukan untuk fokus mendengarkan mereka. Tunjukkan bahwa kehadiran Anda benar-benar hanya untuk mereka. 2. Sadari Emosi Sebelum Bereaksi Melansir Child Mind Institute, mencoba untuk menarik napas dalam dan bersikap tenang ketika anak sedang menguji emosi Anda dapat memberikan perubahan positif pada otak. Jadi, jika anak melakukan hal yang membuat Anda kesal, cobalah untuk berhenti, tenang, dan kenali keadaan. Jangan langsung bereaksi dengan kemarahan. 3. Berlatih Empati Setiap Hari Empati merupakan hal yang krusial dalam mindful parenting untuk membangun hubungan dengan anak. Cobalah melihat dari sudut pandang anak, pahami bahwa setiap tindakan anak merupakan refleksi dari keadaan emosional mereka. Ini akan membantu Anda memahami apa yang mereka rasakan dan butuhkan. 4. Bangun Rutinitas Positif Mengagendakan berbagai rutinitas positif terbukti bisa menjalin ikatan yang kuat dengan anak. Misalnya seperti menyediakan waktu makan bersama, bermain, atau membaca buku sebelum tidur. Aktivitas kecil tersebut bisa menjadi momen berharga untuk memperkuat hubungan orang tua dan buah hati. 5. Terima Ketidaksempurnaan Pahamilah bahwa tidak semua hari akan berjalan mulus dan sempurna. Ketika Anda merasa gagal akan sesuatu, ingatlah bahwa kesalahan juga bagian dari proses belajar bagi diri Anda maupun anak untuk perubahan yang lebih baik. Penerimaan terhadap ketidaksempunaan juga dapat menjaf]di contoh yang baik untuk anak. Baca: Aspek Perkembangan Anak Usia Dini yang Harus Diperhatikan Asah Emosi, Fisik, dan Sosial Anak Secara Seimbang Lewat pola pengasuhan ini, Anda dapat belajar memahami emosi anak dan tidak bereaksi secara impulsif saat menghadapinya. Menerapkan mindful parenting berarti mendukung anak agar tumbuh aktif dan percaya diri dalam berbagai aspek kehidupannya. Selain itu, bagi Anda yang ingin mendampingi tumbuh kembang anak tak hanya dari sisi emosional, tetapi juga fisik dan sosial, Sparks Sports Academy bisa menjadi langkah nyata untuk mewujudkan hal tersebut. Sparks sports sendiri merupakan tempat pelatihan olahraga anak yang menggabungkan pendekatan edukatif dan fun learning. Anak pun tidak hanya belajar keterampilan olahraga seperti renang, futsal, atau basket, tetapi juga dibimbing untuk memahami nilai sportivitas, kerja sama, dan disiplin diri. Dengan bantuan pelatih profesional dan lingkungan supportive, sparks sports akan membantu anak tumbuh sehat, tangguh, dan percaya diri. Yuk, daftarkan anak sekarang!
