Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
3 Cara Bantu Anak Usia 1 Tahun yang Suka Pukul Kepala Sendiri

3 Cara Bantu Anak Usia 1 Tahun yang Suka Pukul Kepala Sendiri

Parenting

Saat anak 1 tahun suka pukul kepala sendiri, banyak orang tua langsung panik dan takut ada yang salah dengan perkembangan si kecil. Padahal, perilaku ini cukup umum terjadi pada bayi dan balita yang sedang belajar mengenali emosi. Tindakan memukul kepala sendiri sering kali bukan tanda gangguan serius, melainkan cara anak mengekspresikan rasa frustrasi, lelah, atau mencari perhatian. Penyebab Anak Memukul Kepala Sendiri Perilaku anak yang suka memukul kepala sendiri bisa membuat orang tua khawatir. Namun sebelum panik, penting memahami alasan di balik tindakan ini.  Umumnya, perilaku tersebut muncul karena anak belum mampu mengungkapkan perasaan atau sedang mencari cara menenangkan diri. Berikut ini beberapa penyebab umum kenapa anak-anak suka memukul kepalanya sendiri: 1. Belum Bisa Mengungkapkan Emosi dengan Kata-Kata Di usia sekitar satu tahun, kemampuan bicara anak masih sangat terbatas. Ketika mereka merasa marah, kesal, atau kecewa, anak belum tahu bagaimana menyalurkan perasaan itu dengan cara yang tepat.  Akibatnya, mereka bisa mengekspresikan emosi melalui tindakan fisik seperti memukul kepala sendiri. Ini adalah bentuk komunikasi nonverbal yang menunjukkan bahwa anak sedang butuh bantuan untuk menenangkan diri. 2. Rasa Frustrasi atau Ingin Perhatian Anak usia satu tahun mulai memahami konsep “Ingin sesuatu tapi tidak selalu mendapatkannya.” Ketika permintaannya tidak terpenuhi, rasa frustasi bisa muncul.  Ada juga anak yang memukul kepala sendiri untuk menarik perhatian orang tua, terutama jika sebelumnya perilaku itu berhasil membuat orang tua langsung bereaksi. Jadi, reaksi berlebihan justru bisa memperkuat kebiasaan ini. 3. Stimulasi Berlebih Beberapa anak sensitif terhadap rangsangan sensorik, seperti suara keras, cahaya terang, atau lingkungan ramai. Saat terlalu banyak stimulasi, anak mungkin merasa tidak nyaman dan menenangkan diri dengan cara memukul kepala.  Ini merupakan upaya mereka untuk mengontrol rasa tidak nyaman dari dalam tubuhnya. Baca: 3 Penyebab Kaki Bayi Bengkok dan Kapan Perlu Diwaspadai Cara Menenangkan Anak yang Suka Memukul Kepala Setelah memahami penyebabnya, langkah selanjutnya adalah membantu anak menenangkan diri dengan cara yang tepat. Pendekatan yang lembut dan penuh empati sangat penting agar anak merasa aman serta belajar menyalurkan emosinya secara positif. Berikut beberapa cara simpel menenangkan anak yang sedang emosi atau memukul kepala sendiri: 1. Peluk Anak dan Alihkan Perhatiannya Pelukan lembut dapat memberikan rasa aman dan membantu menurunkan emosi anak. Setelah itu, coba alihkan perhatiannya ke hal lain yang lebih positif, seperti mainan favorit atau kegiatan yang menenangkan. 2. Gunakan Kata-Kata Lembut Walau anak belum sepenuhnya memahami kalimat panjang, nada suara lembut dari orang tua sangat berpengaruh. Katakan dengan tenang, “Tidak apa-apa, Ibu tahu kamu kesal,” agar anak merasa dimengerti dan belajar mengenali emosinya. 3. Ciptakan Lingkungan yang Tenang Jika anak sering mengalami stimulasi berlebihan, coba kurangi kebisingan, cahaya terang, atau aktivitas yang terlalu ramai. Lingkungan yang tenang membantu anak merasa lebih nyaman dan mengurangi dorongan untuk memukul kepala sendiri. Baca: 7 Cara Efektif Atasi Overstimulasi pada Anak agar Lebih Tenang Bantu Anak Salurkan Emosi secara Positif Kebiasaan anak 1 tahun suka pukul kepala sendiri biasanya akan berkurang seiring berkembangnya kemampuan komunikasi dan pengendalian emosi. Namun, orang tua tetap perlu mendampingi dengan penuh empati dan kesabaran. Untuk membantu anak menyalurkan emosinya dengan cara yang sehat, ajak ia bergabung di kelas sensori anak di Sparks Sports Academy! Di sini, anak belajar mengenali perasaan dan menenangkan diri melalui permainan lembut dan menyenangkan. Dengan bimbingan yang tepat, anak tumbuh lebih tenang, percaya diri, dan bahagia.

06/11/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 3 Cara Bantu Anak Usia 1 Tahun yang Suka Pukul Kepala Sendiri
Baca Lebih Lanjut
3 Penyebab Kaki Bayi Bengkok dan Kapan Perlu Diwaspadai

3 Penyebab Kaki Bayi Bengkok dan Kapan Perlu Diwaspadai

Parenting

Banyak orang tua merasa khawatir melihat kaki bayi bengkok. Apakah kondisi tersebut normal? Apakah ada kondisi tertentu yang menyebabkannya demikian? Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI, bayi memang lahir dengan kondisi tumit yang berdekatan atau dikenal juga dengan lutut yang bengkok. Umumnya kondisi ini akan berangsur-angsur membaik ketika anak sudah berusia 3 tahun. Tetapi memang ada kondisi tertentu yang menyebabkan kaki bayi bengkok. Mari kita pahami bersama penyebab dan langkah yang perlu dilakukan jika kaki bayi bengkok. Penyebab Kaki Bayi Bengkok Ada beberapa penyebab kaki bayi bengkok, mulai dari dalam kandungan hingga genetik. Berikut adalah penjelasannya: 1. Posisi Janin di dalam Kandungan Bayi yang lahir dengan kaki membentuk huruf M itu karena posisi lututnya yang menekuk ketika berada di rahim. Lutut tersebut menekuk sampai ke bagian dada. Untuk mengetahui normal tidaknya kaki bayi bengkok, Anda dapat menyentuh bagian telapak kaki anak bayi. Jika bengkoknya berkurang maka itu normal. Sebaliknya, jika kaki bayi bengkok tidak normal, posisinya tidak akan membaik ketika orang tua memberikan bayinya stimulasi pada telapak kaki. Selain posisi janin, kaki bengkok juga terjadi karena cairan ketuban yang jumlahnya hanya sedikit yang menyebabkan rahim sempit. 2. Kelemahan Otot Kaki Biasanya kelemahan otot bagian betis yang tidak berkembang secara optimal merupakan bagian dari gejala clubfoot yaitu kondisi pergelangan kaki bayi bengkok ke bagian dalam. Selain itu gejala clubfoot lainnya adalah terdapat kekakuan di bagian pergelangan kaki, tumit kecil, kaki yang berputar amat parah atau bahkan terbalik, gerakan kaki yang terbatas, dan seiring usia timbul rasa nyeri serta kaku di bagian pergelangan kaki. 3. Faktor Genetik Jika terdapat keluarga yang memiliki kondisi clubfoot maka bayi yang akan lahir bisa mengalami kondisi tersebut. Ada juga kondisi bawaan yang disebut dengan cacat lahir. Kondisi tersebut terjadi karena bagian sumsum tulang belakang dan tulang belakang tidak menutup dengan baik. Baca: 5 Cara Mengatasi Anak Mabuk Perjalanan agar Liburan Tetap Seru Kapan Kondisi Ini Perlu Diwaspadai? Anda harus mewaspadai kondisi kaki bayi bengkok, jika: 1. Tidak Membaik Setelah Usia 2 Tahun Biasanya kaki bayi bengkok hanya sampai usia 2-3 tahunan. Tetapi jika pada usia tersebut masih bengkok maka perlu diwaspadai. Karena biasanya seiring usia bertambah, kaki akan makin bengkok, postur anak tidak tinggi. Lalu ada kondisi bentuk kaki seperti O, dan berbentuk X. 2. Anak Kesulitan Berdiri atau Berjalan Jika kondisi anak tidak membaik, biasanya akan mengakibatkan anak sulit berdiri. Dengan begitu akan terjadi gangguan jalan. Biasanya gangguan jalan yang terjadi seperti nyeri ketika anak berjalan dan berjalan dengan pincang. Jika sudah parah, anak tidak bisa berjalan dengan telapak kaki. Kondisi tersebut karena pergelangan kaki anak telah terpuntir. Ia mungkin akan berjalan dengan kaki bagian luar atau bahkan bagian atas.  3. Salah Satu Kaki Tampak Bengkok Tanda lainnya, lutut bayi akan tidak simetris karena ada satu bagian yang mengalami bengkok. Kemudian kondisi ketika lutut pada bayi amat bengkok sampai-sampai membentuk sudut di antara tulang bagian paha dan betis. Sudut tersebut lebih dari 15 derajat. Baca: 7 Cara Mengatasi Anak Bicara Kurang Jelas dan Kapan Harus ke Terapis Wicara Perkuat Otot dan Keseimbangan Bayi Sejak Dini Apabila kondisi di atas tidak ditangani, akan mengakibatkan komplikasi seperti menyebabkan otot betis tidak berkembang, terjadi radang sendi, menimbulkan luka yang besar, dan muncul kapalan. Oleh karena itu, untuk membantu mencegah kaki bayi bengkok lebih parah, bantu perkuat otot dan keseimbangan bayi lewat kelas Gymnastic di Sparks Sports Academy! Latihan terarah akan membantu kaki anak tumbuh dengan kuat dan simetris. Yuk tunggu apa lagi? Silakan mendaftar.

05/11/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 3 Penyebab Kaki Bayi Bengkok dan Kapan Perlu Diwaspadai
Baca Lebih Lanjut
5 Cara Mengatasi Anak Mabuk Perjalanan agar Liburan Tetap Seru

5 Cara Mengatasi Anak Mabuk Perjalanan agar Liburan Tetap Seru

Parenting

Sedang mengendarai mobil atau bus menuju tempat wisata, namun tiba-tiba anak mengalami mabuk perjalanan sampai rewel dan tidak nyaman? Waduh, pastinya Anda ikut bingung, ya? Yuk pelajari cara mengatasi anak mabuk perjalanan agar segera membaik dan bisa menikmati liburan dengan menyenangkan. Penyebab Anak Mabuk Perjalanan Sebelum masuk ke cara mengatasi anak mabuk perjalanan, kita pahami dulu penyebabnya agar Anda bisa mencegahnya. 1. Sistem Keseimbangan Tubuh Belum Matang Mabuk perjalanan biasanya dialami oleh anak berusia 2-12 tahun. Kondisi tersebut dapat terjadi karena terjadinya rangsangan pergerakan yang berlebihan pada organ keseimbangan. Informasi yang diterima oleh otak dari mata berbeda. Bagian mata melihat lingkungan yang stabil, sementara pada telinga bagian dalam merasakan adanya gerakan. Inilah yang menyebabkan otak menjadi bingung sehingga kemudian memicu mual. Apabila sistem vestibular yang bertugas untuk menjaga keseimbangan mengalami disfungsi dapat menyebabkan mabuk perjalanan lebih rentan. 2. Makan Berlebihan Sebelum Berangkat Makan sebelum melakukan perjalanan memang baik, tetapi jangan terlalu berlebihan. Makan secukupnya saja sekitar 1-2 jam sebelum perjalanan dimulai. Jangan menyuapi anak makan terlalu kenyang. 3. Fokus Terlalu Lama Pada Layar Gadget Ketika anak Anda bermain gadget di perjalanan, akan membuat otak, telinga, dan mata kacau ketika mencerna informasi. Sehingga menimbulkan rasa pusing dan mual. Lebih baik biarkan anak istirahat alih-alih bermain gadget. Baca: 3 Cara Efektif Mengajarkan Anak Mulai Membaca dengan Baik Cara Mengatasinya dengan Aman Untuk mengatasinya, Anda bisa menerapkan tips cara mengatasi anak mabuk perjalanan berikut ini: 1. Pastikan Anak Duduk di Posisi Stabil Cara mengatasi anak mabuk perjalanan yang pertama adalah memastikan anak duduk pada posisi yang stabil. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI, posisi paling aman untuk anak agar tidak mabuk perjalanan adalah pada barisan tengah atau depan. Kursi bagian tengah memberikan anak keleluasaan untuk memandang lingkungan luar dan sensasi terguncang akan berkurang. 2. Hindari Makanan Berat Saat Berangkat Pastikan anak tidak makan terlalu berat sebelum berangkat. Makanan berat yang dimaksud adalah berminyak dan dalam porsi besar. Makanan tersebut dapat memicu mual pada anak. Jadi jika anak harus makan terlebih dahulu, lakukan beberapa jam sebelumnya. Setelah itu, anak boleh makan tapi yang ringan-ringan saja. Kondisi tersebut berlaku untuk perjalanan jauh. Jika perjalanannya dekat, lebih baik makan ketika sampai di tempat tujuan. 3. Ajak Anak Bernapas Dalam dan Rileks Arahkan anak untuk menarik napasnya dalam-dalam lewat hidung. Setelah itu tahan napas selama beberapa detik, dan hembuskan pelan-pelan lewat mulut. Teknik tersebut akan membantu anak menjadi lebih rileks karena sistem saraf lebih tenang, rasa panik yang berkurang, dan mengurangi mual. 4. Atur Sirkulasi Udara dengan Benar Sirkulasi udara yang kurang baik juga bisa menyebabkan anak mabuk perjalanan. Oleh karena itu, pastikan sirkulasi udara kendaraan Anda sudah baik. Pastikan juga udara di dalam mobil bersih dan tidak ada aroma menyengat. Anda bisa membersihkan mobil secara teratur untuk mencegah aroma menyengat tersebut. 5. Melakukan Perjalanan Pada Jam Tidur Anak Apabila memang memungkinkan, Anda bisa melakukan perjalanan pada jam-jam anak akan tidur. Sehingga ketika sedang dalam perjalanan anak tidak banyak melakukan kegiatan sehingga mengurangi rasa mual dan pusingnya. Baca: 7 Manfaat Renang untuk Anak dan Usia Mulainya Cegah Mabuk Perjalanan Lewat Gymnastic Untuk menghindari kondisi yang lebih parah, Anda bisa menerapkan cara mengatasi anak mabuk perjalanan dengan melatih keseimbangan dan kontrol tubuh anak lewat kelas Gymnastic di Sparks Sports Academy! Gerakan dasar di kelas ini akan membantu sistem sensorik anak menjadi lebih stabil. Yuk segera daftarkan buah hati Anda!

05/11/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 5 Cara Mengatasi Anak Mabuk Perjalanan agar Liburan Tetap Seru
Baca Lebih Lanjut
15 Cara Mengajari Anak Membaca dengan Baik dan Efektif

15 Cara Mengajari Anak Membaca dengan Baik dan Efektif

Parenting

Anak belum tertarik untuk membaca bukunya sendiri? Tidak perlu khawatir. Dengan pendekatan yang kreatif dan sabar, membaca bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk anak. Dalam artikel ini Anda akan mendapatkan informasi mengenai tips cara mengajari anak membaca. Namun sebelum ke sana, kita coba gali dulu bersama tentang kapan sebenarnya waktu yang tepat anak belajar membaca. Baca: 7 Cara Mendidik Anak Laki-Laki dengan Pendekatan Positif Kapan Anak Mulai Belajar Membaca? Mau sekreatif apapun menerapkan berbagai tips cara mengajari anak membaca, tetapi belum waktunya anak membaca maka tidak akan memberikan perubahan signifikan. Maka dari itu penting untuk mengetahui usia berapakah anak sudah bisa belajar membaca. 1. Umumnya Mulai Tertarik di Usia 3-5 Tahun Idealnya anak mulai diajari membaca itu pada usia 6 tahun. Tetapi anak sudah bisa mulai tertarik membaca pada usia antara 3-5 tahun.  Tanda-tanda anak tertarik pada membaca adalah: 2. Awali dari Mengenal Huruf dan Suara Setelah mengetahui bahwa anak sudah tertarik dengan membaca. Anda bisa memperkenalkan kosakata, huruf, dan terus menumbuhkan kebiasaan membaca kepada anak. Anda bisa mulai mengajari huruf seperti a, i, u, e, o. Kemudian setelah itu baru berkenalan dengan huruf yang lain. Cara mengenalkannya bisa menggunakan flash card, membaca buku dengan nyaring, dan bernyanyi. Dengan bernyanyi anak bisa mengenal suara dan mengingat setiap kata dalam lagu, Anda juga bisa melakukannya dengan mengeja lirik lagu yang sedang dinyanyikan, misalnya B-I-N-T-A-N-G K-E-C-I-L. 3. Jangan Memaksa Jika Anak Belum Siap Walaupun biasanya anak mulai tertarik membaca antara usia 3-5 tahun, jangan dipaksa apabila anak belum menunjukkan ketertarikan. Beri waktu kepada anak untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam berbahasa, meningkatkan memori, dan persepsi visualnya.  Tentunya sambil Anda pantau. Ketika ketertarikan itu muncul, Anda bisa membimbingnya dengan mengenalkan dasar-dasar dalam membaca. Baca: Refleksi Orang Tua terhadap Perkembangan Anak agar Jadi Pendamping yang Lebih Bijak Cara Mengajari Anak Membaca yang Efektif Lebih dalam, kita akan membahas cara mengajari anak membaca pada bagian berikut: 1. Gunakan Gambar dan Lagu Penggunaan gambar untuk belajar membaca dapat dilakukan menggunakan flash card. Di dalam flash card terdapat gambar dan tulisan yang menunjukkan nama dari gambar tersebut.  Ajak Anak membaca tulisan tersebut. Selain dengan gambar, Anda juga bisa menyanyikan lagu yang mengandung alfabet. Proses hafalan pun menjadi lebih menyenangkan karena dilakukan dengan bernyanyi. 2. Bacakan Buku dengan Ekspresi Ketika sedang membacakan buku seperti dongeng, Anda bisa lebih ekspresif dan lantang dengan nada serta intonasi beragam. Penggunaan ekspresi akan membuat sesi membaca makin menyenangkan.  Anda juga bisa menirukan berbagai suara yang diceritakan oleh buku. Misalnya, suara kucing, sapi, ayam, mobil, bebek, dan lain sebagainya.  3. Ajak Anak Mengeja Lewat Permainan Cara mengajari anak membaca lainnya adalah mengeja kata. Setelah anak bisa mengeja per huruf, Anda bisa mengajak anak untuk mengeja suku kata. Anda bisa membuat suku kata dari huruf konsonan dan diikuti dengan huruf vokal. Misalnya ca, ce, ci, ci, cu, dan lainnya. Setelah anak lancar mengeja dalam satu suku kata, Anda bisa meningkatkan pembelajaran ke dua suku kata, seperti ba-ca.  Tingkatkan suku kata setiap anak sudah menguasai pelajaran sebelumnya. Untuk memudahkan proses ini, Anda bisa menggunakan kartu dengan gambar.  4. Baca Buku Bersama Biasakan membaca buku bersama anak terutama membaca topik kesukaanya. Anak akan mendengar dan belajar mencocokan bentuk huruf yang ada di buku dengan suaranya. Kebiasaan ini melatih daya ingat anak karena terpapar banyak kosakata baru dan belajar menempatkan kata pada situasi tertentu untuk memahami teks. 5. Berlatih Membaca Setiap Hari Ajak anak membaca tulisan yang ada di lingkungan rumah atau di mana saja. Cara ini membuat anak lebih cepat mengenali kata-kata yang sering ditemui dalam keseharian. 6. Gunakan Lagu Anak-Anak Lagu anak-anak sangat menyenangkan dan mudah didengar. Lirik dan musiknya membantu anak belajar mendengar suara dan suku kata dan mempraktikannya dengan membaca. Aktivitas ini bisa mengembangkan keterampilan literasi anak yang akan menyiapkan mereka untuk belajar membaca. 7. Bantu Anak Mengucapkan Bunyi Huruf Tidak hanya memperkenalkan hurufnya, orang tua harus membatnu anak dalam memahami bunyi huruf dan cara mengucapkannya. Anak harus tahu cara membaca semua huruf dari A sampai Z. 8. Tes Anak dengan Pertanyaan Setelah membaca bersama anak, orang tua bisa memberikan pertanyaan untuk “menguji” seberapa jauh dia mendengar dan memahami apa yang orang tua baca. jadi sebelum membalik halaman, tanyakan pada anak apa yang menurutnya akan terjadi selanjutnya. 9. Membaca Suku Kata yang Variatif Orang tua bisa mengajari anak membaca dengan buku yang memiliki suku kata variatif tapi masih mudah dilafalkan dan berakhiran huruf vokal. Seperti contoh bu-di, ma-ma, pa-pa, buk-ku, ta-mu, la-ma, dan sebagainya. Hindari memperkenalkan buku yang memiliki huruf mati agar anak bisa fokus menguasai tahap ini terlebih dahulu. 10. Ajarka Huruf Mati Jika anak sudah memahami suku kata yang berakhiran huruf vokal, maka orang tua sudah bisa mengajarinya huruf mati. Ini bisa dimulai dari huruf gabungan seperti “ny” pada imbuhan -nya, “ng”, dan sejenisnya. 11. Gunakan Metode Fonik Metode fonik adalah cara mengajari anak membaca tanpa mengeja, tapi dengan mengajarkan hubungan antara huruf dan bunyinya. Seperti contoh huruf “b” berbunyi “beh”, huruf “a” berbunyi “ah” dan seterusnya. Dengan memahami fokin, anak akan lebih mudah merangkai huruf menjadi kata. 12. Menempelkan Label pada Barang di Rumah Orang tua bisa menempelkan label ada benda-benda di rumah untuk membuat anak lebih terbiasa dengan huruf. Label ini bisa ditempelkan di mana saja seperti kurs, meja, buku, lemari, kulkas, pintu, dan sebagainya. Anak akan lebih cepat belajar pengucapan sekaligus dapat mengenali cara membaca dari nama benda yang sudah diketahui sebelumnya. 13. Menstimulasi Motorik dan Sensorik Anak Belajar membaca tidak hanya melibatkan mata dan otak, tetapi juga kemampuan motorik dan sensori anak. Saat anak mencoba membaca buku dengan membalik halaman, otak dilatih secara bersamaan. Aktivitas sensorik seperti menulis huruf di pasir, merasakan tekstur timbul pada huruf, atau tracing huruf dengan jari membantu anak mengenali bentuk huruf secara lebih kuat. Hal ini membuat anak lebih mudah mengingat huruf, tidak cepat lelah saat membaca, dan siap untuk menulis. 14. Membimbing Anak Dengan membimbing anak belajar membaca membuat anak merasa diperhatikan dan dihargai. Ini akan meningkatkan percara diri anak untuk membaca karena terdapat rasa aman dan menyenangkan. Anak akan memiliki pemikiran bahwa belajar membaca adalah pengalaman positif 15. Berikan Apresiasi

04/11/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 15 Cara Mengajari Anak Membaca dengan Baik dan Efektif
Baca Lebih Lanjut
Refleksi Orang Tua terhadap Perkembangan Anak agar Jadi Pendamping yang Lebih Bijak

Refleksi Orang Tua terhadap Perkembangan Anak agar Jadi Pendamping yang Lebih Bijak

Parenting

Refleksi orang tua terhadap perkembangan anak menjadi penting untuk didiskusikan. Tumbuh kembang anak yang optimal memang dipengaruhi oleh bagaimana orang tua melakukan perannya dalam pola asuh. Namun bukan sekadar menerapkan pola asuh. Tapi bagaimana pola asuh itu dilakukan secara bijak. Dalam artikel ini kita akan memahami pentingnya refleksi orang tua terhadap perkembangan anak agar bisa menjadi orang tua yang bijak dan tidak semena-mena. Baca: 7 Cara Mudah Mendidik Anak yang Keras Kepala Mengapa Refleksi Penting Bagi Orang Tua? Refleksi orang tua terhadap perkembangan anak amat penting karena dapat: 1. Membantu Memahami Kebutuhan Anak Memahami kebutuhan anak tidak bisa diganggu gugat. Orang tua harus dapat menyediakan kebutuhan anak. Ingat, kebutuhan anak bukan sekadar kehadiran secara materi dan fisik. Tetapi juga harus menyediakan kebutuhan psikologis, emosional, rasa aman, nutrisi, dan stimulasi. Pemahaman ini juga harus dilakukan sedini mungkin karena usia dini merupakan fase dasar terbentuknya kepribadian. 2. Menghindari Ekspektasi Berlebihan Hati-hati menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap anak, apalagi berlebihan, karena dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Mereka bisa berisiko mengalami masalah pada kesehatan mental, anak menjadi abai kepada kesehatan demi mengejar tujuan yang ingin ia capai. Dan anak mungkin berperilaku buruk karena ingin mencari jalan instan untuk meraih keinginannya. Jika menaruh harapan, pastikan sesuai kemampuan anak dan dampingi dalam tiap prosesnya. 3. Membangun Komunikasi yang Sehat Refleksi orang tua terhadap perkembangan anak selanjutnya adalah mengenai komunikasi sehat. Dengan berkomunikasi sehat, anak akan menumbuhkan rasa percaya diri, merasa berharga, hubungan dengan orang tua makin erat, dan membantu anak dapat berinteraksi bahkan menjalin hubungan dengan orang baru. Orang tua bisa menerapkan komunikasi sehat dengan selalu mendengarkan, bangun kebiasaan diskusi dan bercerita, jangan respons secara berlebihan, dan tetap tegas. Baca: Cara Memilih Mainan Edukasi Bayi yang Tepat Sesuai Usia Anak Cara Melakukan Refleksi Pola Asuh Untuk melakukan refleksi pola asuh kita bisa melakukan beberapa hal berikut, seperti: 1. Catat Perubahan Perilaku Anak Pada fase kehidupan anak akan terus mengalami perubahan. Salah satunya pada perilaku. Misalnya, cara anak mengambil keputusan, merespons masalah yang sulit, pengelolaan emosi, dan lain sebagainya. Kita bisa mencatat setiap perubahan pada perilaku anak. Apabila ada perubahan yang signifikan seperti mudah marah, impulsif, sering membantah, maka kita bisa melakukan refleksi terhadap perkembangan anak. Bila perlu melakukan konsultasi dengan profesional. 2. Evaluasi Respon Anda Saat Anak Berbuat Salah Apakah ketika anak berbuat kesalahan respons Anda adalah dengan meneriaki anak atau mengomel? Jika iya, coba dikurangi. Untuk merespons anak yang melakukan kesalahan, Anda bisa menegurnya tanpa harus bertindak kasar. Lalu tetapkan batasan yang wajar. Jangan sampai batasan itu justru membuat anak tidak bisa eksplor. Kemudian ajarkan anak hukum tabur tuai dan lebih baik berdiskusi ketika anak melakukan kesalahan agar Anda serta anak bisa mendapatkan solusi. 3. Diskusikan dengan Pasangan atau Ahli Perkembangan Anak Ingat, mendidik anak bukan tugas salah satu orang tua saja. Tapi ayah dan ibu sama-sama punya peran penting untuk tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, selalu diskusikan pola asuh dan perubahan perilaku anak. Samakan pandangan dengan cara menentukan nilai yang akan ditanamkan ke anak. Bila perlu, Anda bisa melakukan konsultasi dengan ahli perkembangan anak untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. Menjadi orang tua bukan perkara mudah karena itu artinya harus belajar seumur hidup seiring bertambahnya usia anak. Dalam proses belajar itulah refleksi orang tua terhadap perkembangan anak penting untuk terus dilakukan. Temukan inspirasi mendidik anak dengan pendekatan terbaik di Sparks Sports Academy. Karena setiap langkah kecil orang tua sangat berarti bagi masa depan anak.  

04/11/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Refleksi Orang Tua terhadap Perkembangan Anak agar Jadi Pendamping yang Lebih Bijak
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 50 51 52 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.