Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
10 Manfaat Menari bagi Anak yang Penting untuk Tumbuh Kembangnya

10 Manfaat Menari bagi Anak yang Penting untuk Tumbuh Kembangnya

Dance

Menari merupakan aktivitas menyenangkan untuk anak dan memiliki banyak manfaat untuk tumbuh kembangnya. Di usia dini, anak lebih aktif bergerak dan mengekspresikan diri melalui gerakan. Menari bisa menjadi media yang ideal untuk menyalurkan energi, emosi, sekaligus melatih berbagai aspek perkembangan anak. Tak heran, orang tua saat ini mulai melirik kelas menari sebagai aktivitas pendukung perkembangan anak. Karakteristik Gerakan Tari untuk Anak Gerakan tari untuk anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan tari untuk remaja atau dewasa. Dikutip dari buku “Bermain Melalui Gerakan dan Lagu di Taman Kanak-Kanak“, karakteristik gerakan tari untuk anak adalah sebagai berikut: Manfaat Menari Bagi Anak Berikut adalah berbagai manfaat menari bagi anak yang penting untuk mendukung tumbuh kembangnya: 1. Meningkatkan Motorik Kasar dan Halus Berdasarkan penelitian UNDIKMA, menari yang dilakukan secara berulang-ulang bisa mengoptimalkan perkembangan motorik kasar dan halus anak. Dengan menari, anak bisa jinjit, bergerak sesuai irama, mengayunkan tangan ke kanan dan kiri, menyilangkan kaki kanan dan kiri, menggerakan jari-jari dengan luwes, dan anak bisa menari dengan pandangan lurus ke depan. 2. Meningkatkan Kapasitas Memori dan Konsentrasi Saat menari, anak akan dituntut untuk menghafal gerakan dan melakukannya dengan baik. Hal ini bisa melatih memori anak secara efektif dengan belajar menggunakan memori visual, memori auditori, dan memori kinestetik. Selain itu, konsentrasi anak juga terasah karena mereka harus fokus mengikuti instruksi, mengikuti irama musik, dan mempertahankan gerakan. Kemampuan multitasking ini sangat berguna untuk kehidupan akademis dan non akademis. 3. Melatih Kedisiplinan dan Konsistensi Menari mengajarkan anak tentang pentingnya latihan yang rutin dan konsisten. Mereka akan menyadari bahwa jika ingin jago pastinya membutuhkan dedikasi dan kerja keras. Tak hanya itu, menari juga mengajari anak disiplin untuk datang tepat waktu, mengikuti jadwal latihan, dan mempersiapkan diri dengan baik. 4. Menurunkan Stres dan Meningkatkan Mood Anak Penelitian Journal of Applied Gerontology menyebutkan bahwa menari dengan iringan musik bisa mengrangi stres dan bisa meningkatkan semangat. Selain itu, menari juga membuat suasan hati jadi lebih baik. Seperti olahraga, menari dapat membantu tubuh menghasilkan antidepresan alami, seperti hormon endorfin. 5. Membentuk Otot-Otot Tubuh Saat menari, anak akan bergerak sesuai dengan irama musik. Aktivitas ini tentu akan menguras energi dan berdampak pada pertumbuhan otot-otot tubuh. Itulah sebabnya anak-anak yang menari sejak dini memiliki kekuatan tubuh yang optimal. Baca juga: Gaya Belajar Kinestetik: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengoptimalkannya 6. Anak Belajar Kerja Sama Dalam seni tari, kebanyakan tarian dilakukan secara berkelompok untuk mendapatkan penampilan yang baik. Anak diharuskan bekerja sama dengan teman-temannya untuk menari bersama dan membantu ke sesama yang mengalami kesulitan. 7. Meningkatkan Kreatifitas dan Kepercayaan Diri Anak Menari menuntut anak untuk belajar berekspresi lewat tariannya. Hal ini akan berdampak pada kreatifitas dan kepercayaan dirinya ke depan. Anak yang memiliki kemampuan fisik dan berolah gerak yang didapat dari menari bisa membuat anak makin percaya diri di manapun lingkungannya. 8. Mengasah Kematangan Emosional Menari merupakan salah satu cara terbaik anak dalam mengekspresikan emosi mereka. Hal ini memberikan mereka kesempatan untuk memahami dan mengelola emosi mereka sendiri dan emosi orang lain. Oleh karena itu, menari dapat membantu melatih kematangan emosional anak-anak, meningkatkan kesehatan psikologis, dan mengembangkan apresiasi terhadap diri sendiri dan orang lain. 9. Meningkatkan Kemampuan Problem Solving Jika anak mengalami kesulitan terhadap gerakan-gerakan tari, anak pasti akan berusaha memecahkan masalah tersebut dengan berkonsultasi dengan guru tarinya, orang tua, atau temannya. Kemampuan probloem solving ini bisa diaplikasikan di lingkungan sekolah atau rumah. 10. Melatih Mempertahankan Ego Anak Menari bisa dikatakan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan ego yang positif, yang disebut sublimasi. Dalam sublimasi, emosi negatif dialihkan ke dalam tindakan positif. Dengan media menari, anak-anak bisa mengekspresikan emosi mereka dan belajar mengelolanya dengan cara yang sehat, serta membantu mereka tumbuh menjadi individu yang stabil secara emosional. Manfaat menari bagi anak sangat banyak, mulai dari perkembangan fisik, emosional, hingga sosial. Dengan gerakan yang menyenangkan dan sesuai usia. menari bisa menjadi sarana yang seru dan edukatif. Jika Mom/Dad ingin memberikan pelajarn menari ke anak, kelas modern dance anak di Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan tepat. Program ini dirancang khusus untuk anak usia 1-7 tahun, dilatih oleh coach berpengalaman, dan berfokus pada tumbuh kembang anak. Daftarkan anak dan optimalkan perkembangannya!

04/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada 10 Manfaat Menari bagi Anak yang Penting untuk Tumbuh Kembangnya
Baca Lebih Lanjut
Tabel Tinggi Badan Anak Stunting dan Normal Menurut WHO

Tabel Tinggi Badan Anak Stunting dan Normal Menurut WHO

Parenting

Pertumbuhan terhambat merupakan ciri utama anak stunting. Salah satu indikatornya adalah tubuh anak yang kurus dan kerdil karena perkembangannya tidak sesuai tabel tinggi badan anak stunting yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Tumbuh kembang tidak normal ini bisa Anda ketahui hanya dengan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter anak atau posyandu. Meski begitu, Anda bisa memahami acuan global yang sering digunakan dalam dunia kesehatan untuk mendeteksi stunting. Key Takeaways Tabel Tinggi Badan Anak Stunting Menurut WHO World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa stunting terjadi pada anak yang memiliki tinggi badan tidak sesuai usianya atau berada di bawah −2 standar deviasi (SD) dari median. Untuk selengkapnya, berikut ini tabel tinggi badan anak stunting yang bisa Anda pahami sebagai indikator perbedaan dengan kondisi normal. Tabel Tinggi Badan Anak Laki-laki Stunting dan Normal (Source: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dari tabel di atas, anak laki-laki usia 1 tahun yang termasuk kategori stunting berada pada kurva tinggi badan antara <-2 sampai -3 SD, yakni sekitar kurang dari 71 cm. Padahal, tinggi ideal merek berada pada kurva garis normal hingga +2, yaitu 71 sampai 78,1 cm. Sementara pada anak perempuan berusia 1 tahun yang mengalami stunting, tinggi badannya berada di bawah angka 68,9 cm. Ini cukup berbeda dengan anak perempuan yang memiliki tinggi badan normal, yakni sekitar 70-78 cm. Angka ini akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia anak. Supaya lebih jelas, berikut adalah kurva tinggi badan anak perempuan berusia 1 tahun. Tabel Tinggi Badan Anak Perempuan Stunting dan Normal (Source: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)) Berat badan juga menjadi faktor utama dalam menentukan stunting pada anak perempuan. Di usia yang menginjak 1 tahun misalnya, berat badan normal seharusnya berkisar antara 7,6 sampai 11,5 kg dengan berat rata-rata 8,9-9 kg. Namun, pada anak stunting, berat badannya di bawah garis normal, yaitu kurang dari 7 kg. Berikut ini perbedaan berat badan ideal anak perempuan normal dengan anak yang mengalami stunting menurut WHO. Tabel Berat Badan Anak Perempuan Stunting dan Normal (Source: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)) Sedangkan pada anak laki-laki dengan usia sama memiliki berat badan normal di angka 7,8 kg dengan rata-rata 9,8 kg. Anak laki-laki dengan rata-rata berat badan tersebut dapat dikatakan sehat karena berada di garis ideal sesuai standar kesehatan. Berbeda dengan anak yang mengalami stunting, di mana tubuhnya kurus dengan berat badan di bawah standar, yakni kurang dari 7,7 kg. Anda bisa melihat grafik berikut agar lebih memahami perkembangan ideal anak. Tabel Berat Badan Anak Laki-laki Stunting dan Normal (Source: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)) Baca juga: Dampak Stunting pada Perkembangan Fisik dan Kognitif Anak Perbedaan Stunting dengan Tubuh Pendek Secara Genetik Setelah melihat tabel tinggi badan anak stunting, Anda perlu mengetahui bahwa ada perbedaan signifikan antara tubuh pendek secara genetik dengan kondisi malnutrisi kronis ini. Anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan jauh di bawah standar grafik pertumbuhan. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, WHO menetapkan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh dengan tinggi badan menurut usia kurang dari -2 SD. Dengan kata lain, garis -2 SD pada tabel data adalah ambang batas (Z-score) yang membuat anak berada dalam kategori aman. Di bawah itu, bahkan jauh dari garis tersebut, anak akan masuk kategori stunting yang harus segera mendapat pemantauan dan penanganan serius dari tenaga medis. Selain itu, pertumbuhan anak stunting akan lambat bahkan cenderung menurun. Berat badan anak akan susah naik akibat dari kondisi malnutrisi kronis yang membuat penyerapan nutrisi tidak berjalan optimal. Stunting juga memengaruhi kemampuan intelektual anak sehingga dapat menurunkan prestasinya di sekolah. Anak jadi susah fokus dan memiliki daya ingat rendah terhadap mata pelajaran. Kemampuan penalaran dan motorik anak tak luput dari dampak stunting yang lambat laun berpengaruh pada masa depannya. Kondisi ini membuat anak lebih pendiam, lebih mudah sakit, dan menghambat pertumbuhan gigi. Dalam jangka panjang, stunting dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, kanker, obesitas, dan diabetes. Hal ini terjadi akibat terganggunya pertumbuhan organ serta menurunnya daya tahan tubuh yang memicu munculnya berbagai penyakit berbahaya. Yuk, Pahami Tabel Tinggi Badan Anak Stunting dengan Tepat! Sebagai orang tua, Anda perlu memahami tabel tinggi badan anak stunting yang menjadi acuan kesehatan global. Dengan begitu, Anda dapat mencegah malnutrisi kronis pada anak sejak masa kehamilan hingga menginjak usia 2 tahun. Untuk mendukung pertumbuhan dan kecerdasan buah hati, Anda perlu mengimbangi dengan pendidikan berkualitas dari Sparks Sports Academy. Bersama tenaga profesional, kami menghadirkan pendidikan dengan metode permainan edukatif yang mengasah kemampuan kognitif-motorik, sosial, bahasa, dan emosional anak untuk mempersiapkan bekal di masa depannya. Ikuti free trial class dan nikmati ekstra diskon dengan fasilitas lengkap!

04/02/2026 / 0 Komentar
Baca Lebih Lanjut
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stunting pada Anak, Wajib Tahu

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stunting pada Anak, Wajib Tahu

Parenting

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang disebabkan oleh gizi buruk dan infeksi berulang sejak masa kehamilan. Faktor-faktor yang mempengaruhi stunting saling berkaitan erat, mulai dari kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan, bayi memiliki riwayat penyakit tertentu, hingga lingkungan rumah yang kurang sehat. Selain itu, stunting bisa terjadi akibat maraknya pernikahan dini yang membuat orang tua belum memiliki pengetahuan cukup dan kesiapan memadai dalam mengasuh anak. Faktor ekonomi turut mengambil peran karena ibu tidak mendapat nutrisi cukup selama kehamilan. Key Takeaways Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stunting pada Anak Orang tua wajib mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stunting agar tumbuh kembang anak berjalan optimal sesuai usianya. Berikut adalah penyebab stunting yang umum terjadi di Indonesia. 1. Gangguan Kesehatan pada Ibu Riwayat gizi buruk pada ibu, baik sebelum maupun selama kehamilan dan menyusui, sangat memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Ibu dengan tinggi badan di bawah rata-rata (kurang dari 145 cm) juga memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak stunting daripada ibu dengan tinggi badan 155 cm ke atas. Selama kehamilan, ibu membutuhkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang untuk mendukung pertumbuhan janin. Nutrisi penting yang ibu butuhkan adalah protein, karbohidrat, asam folat, zat besi, serta vitamin dan mineral esensial lainnya. Selain faktor gizi, stres berkepanjangan selama kehamilan meningkatkan risiko bayi lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan sistem saraf otonom dan peningkatan hormon kortisol yang dapat mengganggu suplai darah serta nutrisi ke janin. Oleh karena itu, dukungan emosional dari suami dan keluarga sangat penting. Serta menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang dapat merusak plasenta dan menghambat pertumbuhan janin. 2. Masalah Kesehatan Anak Anak dengan masalah kesehatan serius berisiko tinggi mengalami stunting. Salah satunya infeksi berulang seperti TBC, anemia, penyakit jantung bawaan, serta thalasemia karena anak mengalami gangguan asupan dan penyerapan nutrisi sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat. Penelitian Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa ada keterkaitan erat antara penyakit gagal jantung bawaan asianotik Ross derajat III dengan stunting. Dengan kata lain, anak yang mengalami gagal jantung cukup parah memiliki risiko mengalami stunting 4,2 kali lebih tinggi daripada anak tanpa gangguan jantung. Sama halnya dengan anak yang menderita TBC. Tuberculosis dan stunting saling memengaruhi satu sama lain karena sama-sama menyebabkan masalah gizi yang dapat melemahkan sistem imun tubuh. 3. Lingkungan Tidak Sehat dan Sanitasi Buruk Faktor-faktor yang memengaruhi stunting pada anak juga berasal dari kondisi lingkungan di sekitarnya. Lingkungan rumah yang tidak sehat, lembab, banyak sampah, dan minimnya sinar matahari dapat meningkatkan risiko stunting hingga 2,2 kali lipat pada anak. Apalagi jika di sekitar tempat tinggal anak memiliki akses sanitasi dan air bersih buruk yang semakin memperbesar risiko terkena stunting serta masalah kesehatan lainnya. Sanitasi buruk menimbulkan berbagai macam penyakit seperti diare dan cacingan yang menghambat penyerapan nutrisi oleh tubuh. Anak yang sering terpapar asap rokok lebih dari tiga jam sehari juga memiliki risiko mengalami stunting. Dari sini, Anda harus menjaga kebersihan lingkungan dan menjauhkan anak dari bahaya asap rokok yang mengganggu pertumbuhannya. Baca juga: Cara Mencegah Stunting Sejak Masa Kehamilan hingga Balita 4. Pernikahan Anak dan Kondisi Ekonomi Stunting pun bisa terjadi pada anak yang lahir dari orang tua muda, sehingga menjalani kehamilan sebelum usia matang. Anak-anak yang menikah di bawah umur tidak memiliki kesiapan finansial dan mental layaknya orang dewasa, sehingga berpengaruh besar terhadap kondisi ekonomi jangka panjang. Keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas pun membuat ibu tidak mendapat gizi yang cukup dan seimbang selama masa kehamilan. Akibatnya, anak yang dilahirkan rentan mengalami berbagai macam penyakit, termasuk stunting, dan membahayakan keselamatan ibu. Terlebih, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa stunting juga terjadi karena faktor kurangnya pengetahuan dan rendahnya pendidikan orang tua, sehingga membuat anak tidak mendapatkan pengasuhan optimal. 5. Terbatasnya Layanan Kesehatan Terakhir, layanan kesehatan terbatas, terutama di daerah terpencil, juga membuat masalah stunting pada anak semakin besar. Pemeriksaan kesehatan selama kehamilan hingga anak berusia balita yang tidak berjalan dengan baik membuat pemantauan dini terhadap stunting terhambat. Menyediakan pelayanan kesehatan memadai dan didukung tenaga kesehatan profesional adalah solusi efektif untuk mencegah masalah kesehatan berbahaya pada masyarakat. Pahami Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stunting Demi Masa Depan Anak Pada akhirnya, stunting adalah permasalahan serius yang harus menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan. Memahami faktor-faktor yang memengaruhi stunting adalah langkah preventif untuk menyelamatkan masa depan anak, didukung dengan pendidikan berkualitas dari Sparks Sports Academy. Bersama tenaga profesional berpengalaman, kami menyediakan berbagai kelas yang dapat meningkatkan kemampuan sensorik, kognitif, fisik, hingga emosional anak melalui permainan edukatif sesuai tahap perkembangannya. Yuk, segera daftar dan nikmati layanan pendidikan terbaik demi mempersiapkan masa depan buah hati Anda!

04/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stunting pada Anak, Wajib Tahu
Baca Lebih Lanjut
Mengasah Bakat Anak Sejak Dini: 7 Cara Efektif Membantu Anak Menemukan Potensinya!

Mengasah Bakat Anak Sejak Dini: 7 Cara Efektif Membantu Anak Menemukan Potensinya!

Multisport

Mengasah bakat anak sejak dini menjadi pilihan banyak orang tua. Di tengah banyaknya pilihan aktivitas anak, Mom/Dad harus jeli dalam mengenal potensi dan minat si kecil. Banyak anak yang memiliki bakat olahraga, namun belum terasah karena kurangnya stimulasi dan arahan yang tepat. Padahal, jika metode yang diberikan sesuai, bakat anak bisa berkembang optimal sekaligus membentuk karakter dan kepercayaan diri mereka sejak dini. Cara Mengasah Bakat Anak di Bidang Olahraga Mengasah bakat olahraga anak tidak bisa dilakukan secara instan. Hal itu perlu proses, dukungan, dan lingkungan yang mendukung agar anak bisa menikmati aktivitasnya tanpa merasa tertekan. Berikut adalah cara yang bisa Mom/Dad gunakan untuk mengasah bakat anak: 1. Identifikasi Bakat Anak Sejak Dini Langkah awal yang Mom/Dad lakukan adalah memperhatikan aktivitas anak yang paling disukai. Mom/Dad bisa mengidentifikasi saat anak senang berlari, melempar bola, bergerak bebas, dan lainnya. Dari aktivitas tersebut, Mom/Dad bisa melihat potensi bakat olahraga anak. 2. Berikan Referensi Mom/Dad bisa memberikan referensi olahraga saat masih balita dengan cara bermain. Berikan sebanyak mungkin referensi olahraga agar anak tidak bosan dan bisa menemukan bakat yang mulai tumbuh. Jika anak sudah menemukan minat dan bakatnya, Mom/Dad bisa memberi tontonan olahraga yang diminati sehingga ia memiliki motivasi untuk mengembangkan bakatnya. Baca juga: 8 Rekomendasi Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun 3. Fokus pada Proses, Bukan Prestasi Di usia dini, tujuan utama olahraga adalah untuk bersenang-senang dan belajar. Mom/Dad jangan menuntut anak untuk langsung berprestasi. Dengan fokus pada proses, anak akan menikmati latihan dan bakatnya berkembang secara alami. 4. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung Lingkungan yang positif sangat berpengaruh dalam mengasah bakat anak. Berikan apresiasi, dukungan, dan semangat agar anak merasa aman untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. 5. Beri Jadwal Olahraga yang Rutin Konsistensi adalah kunci dalam mengasah bakat. Beri anak jadwal olahraga yang teratur untuk membangun kebiasaan aktif dan melatih kedisiplinan sejak dini. 6. Berikan Olahraga dengan Konsep Bermain Mom/Dad bisa memilih olahraga dengan konsep bermain. Aktivitas yang menyenangkan membuat anak tidak cepat bosan dan lebih antusias untuk terus berlatih. 7. Daftarkan Anak ke Kelas atau Komunitas Olahraga Mom/Dad bisa mendaftarkan akan ke kelas olahraga seperti di Sparks Sports Academy untuk membantu anak termotivasi. Selain mengasah bakat olahraga, anak juga belajar bersosialisasi dan bekerja sama. Mengasah bakat anak, khususnya di bidang olahraga, membutuhkan peran Mom/Dad dalam mengenali minat, memberi dukungan, dan menyediakan lingkungan yang tepat. Dengan pendekatan yang sesuai, anak bisa menemukan bakatnya secara alami. Jika Mom/Dad belum bisa mengidentifikasi minat dan bakat anak, mengikuti kelas multi sport di Sparks Sports Academy bisa menjadi solusinya. Kelas multi sport memiliki banyak cabang olahraga seperti bowling, handball, floor hockey, basket, futsal, tenis, bdaminton, hingga taekwondo. Yuk, bergabung di kelas multi sport dari Sparks Sports Academy dan bantu anak menemukan bakat olahraganya sejak dini!

03/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Mengasah Bakat Anak Sejak Dini: 7 Cara Efektif Membantu Anak Menemukan Potensinya!
Baca Lebih Lanjut
Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Sejak Dini agar Tumbuh Sehat dan Aktif

Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Sejak Dini agar Tumbuh Sehat dan Aktif

Parenting

Di era digital saat ini, anak-anak sudah mengenal gadget sejak usia dini. Hal itu membuat anak terlalu sering beraktivitas dengan gadget, sehingga anak terlalu lama duduk dan jarang aktivitas fisik yang membuat Mom/Dad khawatir dengan kondisi kesehatannya. Anak yang kurang aktivitas fisik akan mudah lelah, kurang aktif, hingga keluhan fisik yang seharusnya belum dialami anak. Oleh karena itu, Mom/Dad perlu memahami cara dorong anak menekuni olahraga demi tumbuh kembang anak yang optimal. Permasalahan Fisik yang Terjadi Pada Anak Anak zaman sekarang, khususnya gen alpha, memang dikenal cerdas dan mudah beradaptasi dengan teknologi. Namun, hal itu menjadi penyebab masalah kesehatan yang dialami mereka. Salah satunya adalah keluhan sakit pinggang pada anak. Kondisi itu biasanya dipicu oleh: Jika sakit punggung dibiarkan akan berdampak buruk bagi anak. Pentingnya Olahraga Bagi Anak Olahraga bukan hanya aktivitas mengisi waktu dengan anak, melainkan olahraga memiliki banyak manfaat seperti: Anak yang rutin berolahraga cenderung lebih aktif, percaya diri, dan tidak mudah sakit. Baca juga: Manfaat Olahraga untuk Anak dari Fisik, Mental, dan Sosial Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Setiap anak memiliki minat dan karakter yang berbeda. Berikut adalah cara dorong anak menekuni olahraga yang bisa Mom/Dad lakukan: 1. Variasi Olahraga Mom/Dad bisa menawarkan berbagai macam olahraga untuk anak. Banyak pilihan membuat anak tertarik untuk mencoba beberapa jenis olahraga. 2. Buat Suasana Olahraga Menyenangkan Ketika ingin mengajak anak olahraga, buat suasananya menjadi menyenangkan. Mom/Dad bisa menggunakan permainan atau variasi aturan yang membuat olahraga menjadi menyenangkan. 3. Biarkan Anak Memilih Mom/Dad bisa memberi anak kebebasan dalam memilih jenis olahraga. Anak pastinya memiliki referensi olahraga yang paling ia sukai. 4. Jangan Terlalu Kompetitif Mom/Dad perlu menghindari berolahraga yang kompetitif dengan anak. Fokuskan olahraga untuk proses pengembangan keterampilan dan kesehatan anak. 5. Beri Pujian Pujian dari Mom/Dad bisa menjadi motivasi anak untuk rajin berolahraga. Mom/dad bisa memberikan pujian secara positif dan konstruktif ke anak. 6. Berikan Contoh Anak sering kali meniru orang tuanya. Oleh karena itu, Mom/Dad bisa menjadi contoh yang baik dengan hidup sehat dan aktif. 7. Ikut Serta Ikutlah berolahraga dengan anak. Ini bisa menciotakan ikatana keluarga yang kuat dan memberikan dukungan tambahan. 8. Perhatikan Kebutuhan Anak Setiap anak memiliki kondisi fikik dan minat yang berbeda-beda. Mom/Dad perlu memperhatikan minat dan kemampuan anak-anak sehingga bisa menyesuaikan program olahraga yang cocok untuk anak. 9. Buat Olahraga Menjadi Aman dan Nyaman Mom/Dad harus memastikan lingkungan dan peralatan olahraga aman dan sesuai dengan usia anak. Anak akan merasa nyaman jika aktivitas olahraga yang dijalaninya aman. 10. Ikuti Kelas Olahraga Mom/Dad bisa mendaftarkan anak ke program olahraga anak seperti di Sparks Sports Academy. Di sana, anak bisa memilih berbagai macam program olahraga seperti gymnastic, multi sport, basket, dan futsal. Masalah fisik seperti sakit pinggang bisa dicegah sejak dini. Dengan memahami pentingnya olahraga dan menerapkan cara dorong anak menekuni olahraga yang tepat, Mom/Dad bisa membantu anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan bahagia. Jika Mom/Dad ingin anaknya berolahraga dengan metode yang aman, menyenangkan, dan sesuai tahapan usia, Sparks Sports Academy bisa menjadi partner terbaik untuk tumbuh kembang si kecil.

03/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Sejak Dini agar Tumbuh Sehat dan Aktif
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 6 7 8 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.