Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Sejak Dini agar Tumbuh Sehat dan Aktif

Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Sejak Dini agar Tumbuh Sehat dan Aktif

Parenting

Di era digital saat ini, anak-anak sudah mengenal gadget sejak usia dini. Hal itu membuat anak terlalu sering beraktivitas dengan gadget, sehingga anak terlalu lama duduk dan jarang aktivitas fisik yang membuat Mom/Dad khawatir dengan kondisi kesehatannya. Anak yang kurang aktivitas fisik akan mudah lelah, kurang aktif, hingga keluhan fisik yang seharusnya belum dialami anak. Oleh karena itu, Mom/Dad perlu memahami cara dorong anak menekuni olahraga demi tumbuh kembang anak yang optimal. Permasalahan Fisik yang Terjadi Pada Anak Anak zaman sekarang, khususnya gen alpha, memang dikenal cerdas dan mudah beradaptasi dengan teknologi. Namun, hal itu menjadi penyebab masalah kesehatan yang dialami mereka. Salah satunya adalah keluhan sakit pinggang pada anak. Kondisi itu biasanya dipicu oleh: Jika sakit punggung dibiarkan akan berdampak buruk bagi anak. Pentingnya Olahraga Bagi Anak Olahraga bukan hanya aktivitas mengisi waktu dengan anak, melainkan olahraga memiliki banyak manfaat seperti: Anak yang rutin berolahraga cenderung lebih aktif, percaya diri, dan tidak mudah sakit. Baca juga: Manfaat Olahraga untuk Anak dari Fisik, Mental, dan Sosial Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Setiap anak memiliki minat dan karakter yang berbeda. Berikut adalah cara dorong anak menekuni olahraga yang bisa Mom/Dad lakukan: 1. Variasi Olahraga Mom/Dad bisa menawarkan berbagai macam olahraga untuk anak. Banyak pilihan membuat anak tertarik untuk mencoba beberapa jenis olahraga. 2. Buat Suasana Olahraga Menyenangkan Ketika ingin mengajak anak olahraga, buat suasananya menjadi menyenangkan. Mom/Dad bisa menggunakan permainan atau variasi aturan yang membuat olahraga menjadi menyenangkan. 3. Biarkan Anak Memilih Mom/Dad bisa memberi anak kebebasan dalam memilih jenis olahraga. Anak pastinya memiliki referensi olahraga yang paling ia sukai. 4. Jangan Terlalu Kompetitif Mom/Dad perlu menghindari berolahraga yang kompetitif dengan anak. Fokuskan olahraga untuk proses pengembangan keterampilan dan kesehatan anak. 5. Beri Pujian Pujian dari Mom/Dad bisa menjadi motivasi anak untuk rajin berolahraga. Mom/dad bisa memberikan pujian secara positif dan konstruktif ke anak. 6. Berikan Contoh Anak sering kali meniru orang tuanya. Oleh karena itu, Mom/Dad bisa menjadi contoh yang baik dengan hidup sehat dan aktif. 7. Ikut Serta Ikutlah berolahraga dengan anak. Ini bisa menciotakan ikatana keluarga yang kuat dan memberikan dukungan tambahan. 8. Perhatikan Kebutuhan Anak Setiap anak memiliki kondisi fikik dan minat yang berbeda-beda. Mom/Dad perlu memperhatikan minat dan kemampuan anak-anak sehingga bisa menyesuaikan program olahraga yang cocok untuk anak. 9. Buat Olahraga Menjadi Aman dan Nyaman Mom/Dad harus memastikan lingkungan dan peralatan olahraga aman dan sesuai dengan usia anak. Anak akan merasa nyaman jika aktivitas olahraga yang dijalaninya aman. 10. Ikuti Kelas Olahraga Mom/Dad bisa mendaftarkan anak ke program olahraga anak seperti di Sparks Sports Academy. Di sana, anak bisa memilih berbagai macam program olahraga seperti gymnastic, multi sport, basket, dan futsal. Masalah fisik seperti sakit pinggang bisa dicegah sejak dini. Dengan memahami pentingnya olahraga dan menerapkan cara dorong anak menekuni olahraga yang tepat, Mom/Dad bisa membantu anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan bahagia. Jika Mom/Dad ingin anaknya berolahraga dengan metode yang aman, menyenangkan, dan sesuai tahapan usia, Sparks Sports Academy bisa menjadi partner terbaik untuk tumbuh kembang si kecil.

03/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Cara Dorong Anak Menekuni Olahraga Sejak Dini agar Tumbuh Sehat dan Aktif
Baca Lebih Lanjut
Cara Mencegah Stunting Sejak Masa Kehamilan hingga Balita

Cara Mencegah Stunting Sejak Masa Kehamilan hingga Balita

Parenting

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini menjadi permasalahan serius di Indonesia sehingga membutuhkan pengetahuan tentang cara mencegah stunting yang tepat.  Lantas, bagaimana upaya yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua dalam mencegah bahaya stunting sejak masa kehamilan hingga balita agar tidak mengancam perkembangan kognitif dan kecerdasan anak di masa mendatang? Simak penjelasan selengkapnya di artikel ini. Key Takeaways Cara Mencegah Stunting pada Anak Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa stunting ditandai dengan ciri fisik berupa postur tubuh yang lebih pendek dari teman seusianya, berat badan relatif rendah, hingga perkembangan motorik dan kognitif yang lambat. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan pencegahan dini dengan melakukan beberapa hal berikut ini. 1. Memenuhi Gizi Ibu Hamil Masa kehamilan merupakan fase krusial dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan anak yang berperan penting dalam mencegah stunting. Oleh karena itu, ibu hamil perlu memenuhi kebutuhan gizi dengan mengonsumsi karbohidrat, lemak, serta protein hewani dan nabati. Ibu hamil juga perlu asupan vitamin dan mineral lengkap seperti zat besi, asam folat, yodium, kolin, magnesium, vitamin A, vitamin B, serta mengonsumsi air putih sebanyak 2-3 liter per hari. Selama kehamilan, ibu sebaiknya rutin mengonsumsi suplemen sesuai rekomendasi dokter dan tablet penambah darah minimal 90 butir untuk mencegah anemia serta menurunkan risiko komplikasi kehamilan, termasuk bayi lahir prematur. 2. Lakukan Pemeriksaan Kandungan Rutin Memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan saja belum cukup sebagai cara mencegah stunting. Ibu hamil perlu memeriksakan kehamilan secara rutin minimal enam kali, baik ke dokter spesialis kandungan maupun bidan. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan sekali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga. Pemeriksaan kandungan rutin berperan penting dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan janin, sekaligus mendeteksi potensi masalah pada ibu maupun janin agar dapat segera ditangani. 3. Memberi ASI Eksklusif pada Bayi Setelah bayi lahir, pencegahan stunting juga bisa ibu lakukan dengan cara memberi ASI eksklusif selama 6 bulan hingga 2 tahun. Di sini, ibu dapat melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sejak hari pertama kelahiran dengan memberi kolostrum sebagai antibodi yang memperkuat imun bayi. ASI sangatlah penting untuk mendukung perkembangan otak dan menjaga kesehatan pencernaan anak. Menyusui eksklusif pun berdampak positif pada kesehatan ibu dalam jangka panjang, yaitu mengurangi risiko penyakit payudara hingga mempercepat pemulihan pasca melahirkan. Baca juga: Cegah Stunting pada Anak Sejak Dini dengan Cara Ini 4. Memberi MPASI Bernutrisi Cara mencegah stunting berikutnya adalah memberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bernutrisi lengkap untuk anak. MPASI bisa Anda berikan sejak bayi berusia 6 bulan dengan tekstur yang menyesuaikan tahap perkembangan anak. Menu MPASI harus mengandung karbohidrat serta protein hewani dan nabati yang berperan penting dalam mencegah stunting. Selain itu, lengkapi asupan gizi anak dengan makanan yang mengandung lemak, vitamin, mineral, zat besi, zinc, dan omega-3 untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal. Anda dapat memanfaatkan bahan pangan lokal yang bergizi, seperti ikan kembung yang tinggi protein dan omega-3, daging, telur, aneka sayuran, lemak dari santan, serta vitamin dari buah-buahan. Selama masa MPASI, Anda tetap perlu memberikan ASI eksklusif pada anak hingga usianya mencapai 2 tahun. 5. Memantau Perkembangan Anak ke Posyandu  Sama seperti masa kehamilan, pemeriksaan kesehatan ke posyandu secara berkala penting untuk memantau tumbuh kembang anak, terutama tinggi dan berat badannya. Pasalnya, stunting adalah penyakit yang bisa terlihat dari ciri fisik, yakni tinggi dan berat badan yang tidak sesuai dengan anak seusianya. Jika Anda mengabaikan pemeriksaan rutinan, maka segala gangguan kesehatan termasuk stunting tidak dapat segera ditangani. Ini berdampak buruk bagi kesehatan anak, karena dapat berpengaruh pada kemampuan kognitif serta perkembangan otak dalam jangka panjang. Pahami Cara Mencegah Stunting dan Berikan Pendidikan Terbaik di Masa Emasnya Stunting bukanlah penyakit, tetapi kondisi gagal tumbuh yang menyerang anak-anak sejak awal kelahirannya. Meski begitu, Anda sebagai orang tua bisa mengatasinya dengan memahami cara mencegah stunting yang tepat sesuai anjuran resmi dari World Health Organization (WHO) maupun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Selain itu, Anda perlu memberi pendidikan terbaik untuk mendukung perkembangan motorik, kognitif, sosial, dan emosi anak bersama Sparks Sports Academy. Kami menghadirkan pendidikan berkualitas yang dapat mendukung tumbuh kembang anak dengan menstimulasi sensorik, mengasah pikiran dan bahasa, dan meningkatkan kepercayaan diri melalui permainan edukatif. Segera daftar dan dapatkan kelas terbaik untuk mendukung tumbuh kembang buah hati!

03/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Cara Mencegah Stunting Sejak Masa Kehamilan hingga Balita
Baca Lebih Lanjut
Contoh Gentle Parenting agar Tumbuh Kembang Anak Optimal

Contoh Gentle Parenting agar Tumbuh Kembang Anak Optimal

Parenting

Apakah Anda merasa pola asuh menjadi sangat menantang saat anak mulai tantrum, membantah, atau sulit diajak bekerja sama? Jika ya, maka Anda bisa mencoba contoh gentle parenting. Sebab, berdasarkan ZipDo Education Report 2026, gentle parenting justru bisa meningkatkan kualitas komunikasi dengan anak.  Pada tahap awal, Anda mungkin akan merasa bingung bagaimana cara menerapkan pola asuh ini secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, tenang saja karena artikel ini akan menguraikan beberapa contoh gentle parenting terbaik yang bisa Anda terapkan di rumah untuk mendukung tumbuh kembang anak. Key takeaways Contoh Gentle Parenting dalam Berbagai Kondisi Anak Secara umum, gentle parenting adalah pola asuh yang mengedepankan koneksi, empati, rasa hormat, validasi emosi, dan disiplin positif untuk membangun hubungan orang tua dan anak yang lebih baik. Berikut ini beberapa contoh gentle parenting dalam kehidupan sehari-hari pada berbagai situasi.  1. Saat Anak Tantrum Ketika anak tantrum, misalnya di supermarket, contoh gentle parenting menekankan respons yang tenang, penuh empati, dan tanpa hukuman dari orang tua. Langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan menurunkan emosi, lalu mendekat secara fisik hingga sejajar dengan mata anak. Dengarkan dan validasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan bahwa “Ibu/Ayah tahu kamu sedang sangat kesal, karena kamu benar-benar menginginkan mainan itu. Mainannya memang terlihat sangat bagus”. Dengan validasi ini, anak akan merasa dimengerti dan lebih aman secara emosional. Setelah anak mulai lebih tenang, Anda dapat menjelaskan situasi dengan bahasa sederhana dan sesuai usianya, tanpa menyalahkan atau mengancam. Misalnya “Ibu/Ayah mengerti kamu tertarik dengan mainan itu, tapi hari ini kita tidak membelinya karena mainan serupa sudah ada di rumah. Sekarang, kamu boleh memilih, mau bermain dengan mainan kesukaanmu nanti atau membantu Ibu/Ayah memilih camilan sehat.” Dengan cara ini, anak akan belajar mengenali emosinya, memahami batasan, dan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri, yang mana akan sangat membantu tumbuh kembangnya. 2. Saat Anak Tidak Mau Tidur Dalam kondisi ini, gentle parenting bisa Anda terapkan dengan memahami dan memvalidasi perasaan anak terlebih dahulu. Contohnya dengan menyampaikan bahwa “Ibu/Ayah paham kamu masih ingin bermain, karena hari ini pasti sangat menyenangkan”. Setelah anak mulai lebih tenang, Anda bisa menjelaskan situasinya dengan bahasa sederhana dan sesuai usianya, tanpa menyalahkan. Misalnya, “Tapi tubuhmu perlu istirahat hari ini supaya besok kamu bisa bangun dengan segar.” Selanjutnya, berikan pilihan dalam batasan yang jelas. Misalnya, Anda menyampaikan “Kamu mau membaca satu buku cerita atau dua buku cerita dulu sebelum tidur?”. Selain itu, validasi juga kebutuhan mereka. Misalnya “Ibu/Ayah tahu kamu mungkin takut gelap. Dulu Ibu/Ayah juga pernah merasakan hal yang sama saat seusiamu. Tenang, Ibu/Ayah ada di sini ketika kamu perlu.” Contoh gentle parenting ini tidak hanya akan membantu anak merasa aman dan dihargai, tetapi juga belajar bahwa waktu tidur tetap memiliki aturan yang konsisten. Baca juga: Gentle Parenting: Pengertian, Penerapan, dan Manfaatnya 3. Saat Anak Melakukan Kesalahan Saat anak melakukan kesalahan, misalnya menumpahkan susu di meja makan, Anda sebaiknya tetap tenang dan mengikuti perasaan anak. Anda bisa mengucapkan “Kamu pasti kaget dan sedih ya karena susunya tumpah? Ibu/Ayah juga pernah merasa kesal kalau hal seperti ini terjadi.” Selanjutnya, jelaskan kesalahannya secara sederhana dan dampaknya, misalnya, “Susu tumpah bisa membuat lantai licin dan kita bisa terpeleset. Jadi, kita harus membersihkannya agar meja tetap bersih.” Kemudian, ajak anak mencari solusi bersama, misalnya, “Mari kita bersihkan tumpahan susu bersama. Kamu mau mengambil lap atau ibu/Ayah yang ambil duluan?” Setelah anak ikut memperbaiki situasi, berikan pujian untuk usaha dan tindakannya, dengan mengatakan “Terima kasih sudah membantu Ibu/Ayah membersihkan tumpahan susu ini. Ibu/Ayah bangga sama kamu, karena mau ikut memperbaikinya.” Dengan pendekatan ini, anak akan belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, memahami konsekuensi, dan bertanggung jawab, tanpa merasa takut atau malu. Sparks Sports Academy: Solusi Cerdas untuk Tumbuh Kembang Anak Dengan menerapkan berbagai contoh gentle parenting di atas, Anda tidak hanya akan membimbing anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan penuh empati. Tetapi juga membantu anak belajar mengenali serta mengelola emosinya dengan lebih baik. Namun, agar tumbuh kembang anak semakin optimal, stimulasi fisik, kognitif, dan sosial-emosional juga perlu Anda berikan secara seimbang. Dalam hal ini, Sparks Sports Academy hadir sebagai solusi dengan menawarkan berbagai kelas olahraga yang dirancang khusus untuk menstimulasi perkembangan anak. Melalui aktivitas seru sesuai usia, mulai dari dance, basket, taekwondo, futsal, balet, hingga gymnastics, anak tidak hanya akan aktif bergerak dan bermain. Tetapi juga mengasah kreativitas, kepercayaan diri, serta kemampuan bersosialisasi mereka dalam lingkungan yang menyenangkan. Apalagi, dengan dukungan fasilitas modern seperti lapangan indoor multi sport, studio tari, dan peralatan olahraga terkini, Sparks Sports Academy akan menemani proses tumbuh kembang anak Anda secara optimal. Yuk, jadwalkan kelas favorit anak sekarang dengan mengunjungi website resmi Sparks Sports Academy!

03/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Contoh Gentle Parenting agar Tumbuh Kembang Anak Optimal
Baca Lebih Lanjut
Dampak Stunting pada Perkembangan Fisik dan Kognitif Anak

Dampak Stunting pada Perkembangan Fisik dan Kognitif Anak

Parenting

Di Indonesia, stunting menjadi masalah serius yang membutuhkan perhatian khusus dari seluruh lapisan masyarakat. Pasalnya, dalam jangka panjang, dampak stunting sangatlah besar yang membuat masa depan anak terenggut, mulai dari menghambat pertumbuhan fisik, mengganggu kesehatan, hingga menurunkan kecerdasan otak. Oleh karena itu, sosialisasi masif tentang bahaya stunting sekaligus penanganan tepat sangat penting dilakukan agar tumbuh kembang anak optimal sesuai masa perkembangannya. Penasaran apa saja bahaya stunting bagi perkembangan anak dalam jangka panjang? Simak penjelasannya di bawah ini. Key Takeaways 6 Dampak Stunting terhadap Perkembangan Anak Berikut ini beberapa dampak stunting yang dapat mengganggu perkembangan anak di masa mendatang. 1. Bertubuh Pendek dan Kurus Salah satu bahaya stunting adalah membuat tubuh anak tidak berkembang secara optimal sesuai seusianya. Umumnya, anak yang mengalami stunting memiliki tubuh kurus dan pendek di bawah rata-rata. Kondisi ini juga memengaruhi kulit, kuku, dan rambut kering dan mudah patah akibat kekurangan gizi kronis yang mengganggu pertumbuhannya. Namun, meski tubuh pendek dan kurus menjadi indikator masalah gizi kronis, tetapi Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil/Stunting (TP2AK) Republik Indonesia menyebutkan bahwa kondisi ini belum tentu termasuk ciri-ciri stunting. Hal ini karena fisik pendek bisa saja terjadi karena faktor keturunan meski jumlahnya sedikit dalam suatu populasi. Karena itu, Anda sebagai orang tua perlu memeriksa kondisi anak secara rutin untuk mendeteksi dini potensi stunting. 2. Intelektual di Bawah Rata-Rata Kekurangan gizi kronis juga berdampak besar pada perkembangan otak anak selama dua tahun pertama kehidupannya. Akibatnya, anak menjadi sulit menerima pelajaran di sekolah dan menurunkan IQ mereka hingga berada di bawah rata-rata. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan struktur saraf dan koneksi antar sel pada otak secara permanen yang dapat menghambat kemampuan kognitif dan motorik anak. Kemampuan anak dalam berpikir, mengingat, memahami bahasa, dan  memecahkan masalah menjadi terganggu sehingga berpengaruh pada masa depan. 3. Anak Mudah Sakit Dampak stunting juga membuat anak lebih mudah terserang penyakit seperti diare, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), TBC, dan campak  karena sistem kekebalan tubuh melemah. Dalam jangka panjang, stunting bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, kanker, obesitas, dan diabetes. Kondisi ini terjadi akibat terganggunya pertumbuhan organ serta menurunnya daya tahan tubuh yang memicu munculnya berbagai penyakit berbahaya. Baca juga: Cegah Stunting pada Anak Sejak Dini dengan Cara Ini 4. Gangguan Kesehatan Mental Jurnal BMJ Nutrition, Prevention, and Health (2021) menerangkan bahwa gangguan kesehatan mental erat kaitannya dengan kecukupan gizi yang anak terima selama dalam kandungan. Anak yang mendapat asupan bernutrisi dari sayuran, buah-buahan, karbohidrat, dan protein lengkap memiliki skor kesehatan mental lebih tinggi daripada anak yang tidak mendapatkannya. Stunting juga membuat perkembangan mental anak menjadi terlambat, meningkatkan risiko depresi, serta gangguan kecemasan ketika dewasa. 5. Gangguan Reproduksi Selain gangguan mental, dampak stunting bisa mengganggu sistem reproduksi pada anak perempuan. Ketika memasuki usia dewasa, mereka berpotensi mengalami keterlambatan menstruasi pertama dan risiko komplikasi obstetrik (kandungan) yang lebih besar. Ini terjadi karena stunting dapat mengganggu keseimbangan hormon akibat malnutrisi kronis yang tidak segera diatasi. Organ reproduksi dan ovarium tidak berkembang optimal sehingga memengaruhi fungsi dan ukurannya. Begitu pun pada anak laki-laki, stunting dapat menghambat perkembangan testis dan memicu terjadinya masalah kesuburan. 6. Produktivitas Terganggu Dalam jangka panjang, stunting bahkan mengganggu produktivitas dan aktivitas anak sejak masa pertumbuhan hingga dewasa. Hambatan pada perkembangan motorik dan kognitif misalnya, membuat kemampuan belajar anak tidak optimal sehingga memengaruhi prestasi akademiknya di sekolah. Anak dengan kondisi stunting juga cenderung kurang kompetitif secara fisik karena pertumbuhannya tidak sesuai usianya, seperti bertubuh pendek dan kurus akibat malnutrisi kronis sejak kecil. Kondisi ini bisa membatasi kesempatan kerja anak di kemudian hari dan meningkatkan biaya kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, stunting pada perempuan berisiko berlanjut ke siklus antargenerasi. Ibu dengan riwayat stunting umumnya memiliki tinggi badan di bawah rata-rata  yang dapat memengaruhi aliran darah ke janin dan pertumbuhan plasenta. Akibatnya, bayi berisiko lahir dengan komplikasi medis serius dan mengalami gangguan pertumbuhan sejak awal kehidupan. Atasi Dampak Stunting dengan Cara Tepat dan Pendidikan Berkualitas Dampak stunting yang berbahaya bisa Anda cegah dengan cara tepat, yaitu memenuhi kebutuhan nutrisi lengkap sejak masa kehamilan hingga balita. Anda sebagai orang tua harus memantau perkembangan anak secara rutin ke dokter maupun posyandu terdekat untuk memastikan pertumbuhannya berjalan optimal. Selain itu, Anda perlu memberi pendidikan terbaik yang dapat mendukung perkembangan kognitif, motorik, dan kecerdasan emosional anak sejak dini. Sparks Sports Academy menghadirkan berbagai kelas yang membantu anak mengeksplorasi tujuh inderanya dengan cara seru dan menyenangkan. Kami merancang setiap aktivitas agar bisa mendorong perkembangan holistik anak, sehingga mereka dapat mengasah pikiran, sosial, dan bahasa melalui permainan edukatif. Segera daftarkan buah hati Anda dan nikmati berbagai fasilitas terbaik dari Sparks Sports Academy!

02/02/2026 / 0 Komentar
Baca Lebih Lanjut
Kenali Metode Belajar Membaca Phonics kepada Anak!

Kenali Metode Belajar Membaca Phonics kepada Anak!

Sensory & Phonics

Mom/Dad pasti khawatir anaknya telat untuk bisa membaca dan kesulitan dalam mencari metode belajar yang cocok untuknya. Biasanya, ketika anak masih kesulitan untuk membaca, metode belajar yang bisa membantunya adalah phonics. Metode ini adalah cara efektif dalam membantu anak memahami bunyi huruf secara alami, bukan sekedar menghafal. Mom/Dad masih bingung? yuk simak artikel ini! Apa Itu Phonics? Dikutip dari buku “Metode Phonics: Panduan Belajar Bahasa Inggris Bagi Anak Usia Dini“, metode fonik (phonics) adalah metode belajar membaca dan mengeja yang menekankan pada hubungan antara huruf-huruf (grafem) dan bunyi-bunyi (fonem) yang terkait. Artinya, metode ini mengajarkan anak untuk menghubungkan simbol-simbol huruf dengan suara-suaranya. Metode phonics bertujuan membantu anak memahami prinsip-prinsip fonetik dan membangun keterampilan membaca dengan cara memecah kata-kata menjadi bagian-bagian bunyi yang lebih kecil. Manfaat Phonics untuk Anak Metode belajar membaca phonics memberikan manfaat bagi anak, terutama pada masa golden age, seperti: Jenis-Jenis Phonics Dilansir dari Literacy Trust, phonics memiliki 4 tipe berikut ini: 1. Synthetic Phonics Jenis ini banyak digunakan dalam metode belajar membaca phonics. Di metode ini, anak akan belajar mengucapkan bunyi-bunyi huruf (fonem) satu per satu, lalu menggabungkannya untuk membentuk kata. Dalam prosesnya, metode ini diawali dengan bunyi-bunyi sederhana sampai bunyi yang lebih kompleks. 2. Analytic Phonics Metode ini mengajarkan anak membaca fonem yang terkait dengan grafem yang tidak diucapkan secara terpisah. Anak akan mengidentifikasi fonem umum dalam banyak kata di mana setiap kata mengandung fonem yang sedang dipelajari. Contohnya kata kata seperti park, push, street, dan lain-lain. 3. Analogy Phonics Anak-anak akan menganalisis unsur fonem berdasarkan fonogram dalam kata. Fonogram atau rima, terdiri dari vokal dan semua bunyi yang sama. Kata seperti ake dalam kata cake, make, bake, fake, dan lainya. 4. Integrated Phonics jenis ini adalah cara belajar membaca dengan phonics sebagai bagian dari bahasa secara menyeluruh. Integrated phonics berbeda dari metode lain karena pembelajaran harus dala konteks sastra, bukan pelajaran terpisah, dan keterampilan yang diajarkan diidentifikasi secara oportunistik, bukan sistematis. Cara Menerapkan Phonics untuk Anak Supaya mendapatkan hasil yang optimal, menerapkan phonics perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan konsisten. Berikut adalah caranya: Phonics adalah metode belajar yang efektif, alami, dan ramah untuk anak. Dengan pendekatan berbasis bunyi dan bermain, anak tidak hanya bisa membaca, tapi juga mengembangkan kemampuan bahasa, fokus, dan kepercayaan diri. Jika Mom/Dad ingin memberikan metode belajar phonics, kelas sensori dan phonics di Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan terbaik untuk anak. Di kelas ini, anak belajar melalui aktivitas sensori yang menyenyangkan dan metode phonics yang terstruktur.

02/02/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Kenali Metode Belajar Membaca Phonics kepada Anak!
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 7 8 9 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.