5 Perbedaan Anak Manja vs Anak Mandiri

5 Perbedaan Anak Manja vs Anak Mandiri

Table of Contents

Mengenal apakah si kecil merupakan anak manja vs anak mandiri sangat penting untuk menentukan pendekatan parenting yang tepat. Apalagi, ada sikap yang memang dikategorikan sebagai bagian tumbuh kembang dan merupakan sebuah kebutuhan, bukan hanya sekadar manja. Mari pahami perbedaan lengkapnya!

Key Takeaways:

  • Anak manja bukanlah anak yang gagal dididik. Ia hanya sedang belajar memahami batasan dan peran orang tua sangat penting adalah membimbingnya.
  • Memahami perbedaan anak manja vs anak mandiri bukan untuk memberi label, tapi menjadi cara untuk mencari pendekatan parenting terbaik. 
  • SIkap manja dan mandiri dapat dibedakan dari cara anak menghadapi tantangan, respon pada penolakan dan kegagalan, tingkat ketergantungan, sikap tanggung jawab, serta kemampuan bersosialisasi.

Perbedaan Anak Manja vs Anak Mandiri

Parenting memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Agar menemukan pola asuh yang tepat, Anda pun harus mengetahui bagaimana sikap dan kebiasaan anak sehari-hari, sehingga setiap kesalahannya bisa orang tua perbaiki. Lantas, bagaimana perbedaan antara anak manja dan mandiri? Berikut uraiannya.

1. Cara Menghadapi Tantangan

Melansir Halosehat, anak manja terbiasa terus untuk minta orang tua temani atau layani, sehingga mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan kecil. Misalnya, saat kesulitan menyusun puzzle atau mengikat tali sepatu, ia langsung meminta bantuan tanpa mencoba terlebih dahulu. Ini terjadi karena ia terbiasa merasa “diselamatkan”.

Lantas, bagaimana sikap anak yang mandiri jika menemukan kesulitan? Sebaliknya, anak mandiri tidak akan mudah menyerah, ia mau mencari solusi atau mencoba dulu sebelum meminta pertolongan. 

Meski hasilnya belum sempurna, ia akan menunjukkan usaha dan keinginan untuk menyelesaikan. Sikap ini tumbuh karena anak diberi ruang untuk mencoba dan tidak selalu langsung orang tua bantu.

2. Respon akan Penolakan dan Kegagalan

Perbedaan anak manja vs anak mandiri yang paling terlihat ada pada cara anak merespons penolakan atau kegagalan. Ketika keinginannya tidak tergenapi, anak manja cenderung akan bereaksi berlebihan, seperti menangis keras, marah, atau memaksa ketika keinginannya tidak dituruti. 

Hal tersebut terjadi karena ia belum terbiasa menerima batasan. Anak manja juga cenderung akan lebih rapuh saat menghadapi kegagalan, ia takut gagal dan tidak akan mau mencoba lagi.

Sedangkan anak mandiri akan lebih mampu memahami bahwa tidak semua keinginan bisa terpenuhi. Ia mungkin kecewa, tetapi dapat mengelola emosinya dengan lebih baik. Sedangkan saat menghadapi kegagalan, mereka lebih bisa menerima. 

Mengutip Artful Parent, anak yang melihat kegagalan sebagai informasi dan bukan bencana menunjukkan kemandirian yang serius. Anak dapat memahami bahwa kegagalan bukan akhir, tapi merupakan bentuk informasi mengenai langkah apa yang harus mereka ambil selanjutnya. 

3. Tingkat Ketergantungan pada Orang Tua

Anak manja seringkali sangat bergantung pada kehadiran orang tuanya. Ia akan merasa tidak nyaman jika harus beraktivitas sendiri atau berinteraksi tanpa pendampingan. Secara sederhana, mereka tidak memiliki kedewasaan emosional dan tidak mampu berdiri sendiri.

Sebaliknya, anak mandiri tetap merasa aman meski tidak selalu berada di sisi orang tua. Ia juga berani mengeksplorasi lingkungan baru, mencoba aktivitas baru, dan berinteraksi dengan teman sebaya.

Baca juga: 5 Cara Mendidik Anak Agar Mandiri dan Tidak Cengeng

4. Sikap terhadap Tanggung Jawab

Perbedaan anak manja vs anak mandiri lainnya terlihat dari sikap bertanggung jawab. Anak manja biasanya kurang terbiasa bertanggung jawab. Misalnya, saat memiliki tugas kecil, seperti merapikan mainan atau menyimpan tas sekolah yang tidak ia lakukan. Lalu, jika terjadi kesalahan, ia cenderung menyalahkan orang lain.

Sedangkan anak mandiri lebih siap dan berani dalam menerima konsekuensi dari tindakannya. Ia memahami bahwa setiap perbuatan memiliki dampak. Justru ini akan menjadi pengalaman untuknya.

5. Kemampuan Bersosialisasi

Dalam lingkungan sosial, anak manja sering ingin menjadi pusat perhatian dan sulit berbagi. Ia terbiasa menjadi prioritas, sehingga kurang peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitarnya.

Sebaliknya, anak mandiri lebih mudah bekerja sama dan mengikuti aturan dalam kelompok. Ia juga mau belajar menunggu giliran, berbagi, serta menghargai. Keterampilan ini pun sangat penting untuk perkembangan sosial-emosional anak usia dini.

Sudah Tahu Apa Perbedaan Anak Manja vs Anak Mandiri?

Pada dasarnya, ada banyak sekali faktor yang memengaruhi perbedaan anak manja vs anak mandiri. Mulai dari pola asuh, kebiasaan di rumah, hingga pengalaman sosial anak. Orang tua pun harus memahami bahwa anak yang terlalu manja akan kesulitan di saat dewasa karena mereka terlalu bergantung pada orang tua.

Sedangkan anak mandiri memang memiliki pengaruh positif, tapi bisa saja mereka akan kekurangan rasa emosional terhadap orang tua jika porsinya tidak tepat. Karena itu, orang tua harus mampu memahami, serta dapat menyeimbangkan rasa sayang dan sikap tegas saat mendidik si kecil.

Jika ingin membantu anak berkembang secara maksimal dengan simbang dari segi kognitif, sosial dan empatinya, Anda pun bisa mengandalkan Sparks Sports Academy. Di lingkungan suportif, anak tidak hanya belajar keterampilan fisik, tetapi juga disiplin, kerja sama, dan kepercayaan diri. Yuk, daftarkan si kecil sekarang!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%