5 Bahaya Video Pendek untuk Anak

5 Bahaya Video Pendek untuk Anak: Ortu Wajib Waspada!

Table of Contents

Generasi Alpha atau anak-anak yang lahir mulai tahun 2010 tumbuh besar bersama teknologi canggih seperti smartphone dan media sosial. Salah satu kesukaan mereka adalah menonton video pendek yang ada di YouTube Shorts, Instagram Reels, atau TikTok. Namun, bahaya video pendek ini sering kali tidak disadari oleh orang tua.

Video pendek dapat merangsang dopamin secara instan, yang menyebabkan anak ingin terus menonton tanpa henti. Jenis hiburan ini kerap menawarkan visual yang menarik dan alur cerita yang cepat, sehingga membuat anak mudah kecanduan. Inilah kenapa orang tua wajib mendampingi dan menetapkan batasan media sosial jika tidak ingin terkena dampak buruk kecanduan video pendek.

Key takeaways:

  • Fenomena maraknya konten video pendek di media sosial salah satunya menargetkan Gen Alpha yang tumbuh bersama teknologi sebagai target audiensnya.
  • Bahaya video pendek ini bisa menurunkan rentang perhatian anak, menyulitkan regulasi emosi, menurunkan minat membaca buku, dan mengurangi interaksi dengan orang lain.
  • Orang tua wajib selalu mendampingi anak selama bermain media sosial dan memberikan batasan waktu screen time untuk menghindari kecanduan serta menyibukkan mereka dengan aktivitas di dunia nyata.

Bahaya Video Pendek untuk Anak

Terkadang, sebagian orang tua memberikan akses untuk menonton video pendek agar anaknya duduk diam dan tenang. Akan tetapi, hal ini bisa menjadi pedang bermata dua karena konsumsi video pendek bagi anak usia dini berisiko mengganggu perkembangan kognitif, emosional, dan sosial mereka. Ini dia beberapa bahayanya.

1. Attention Span Makin Pendek

Attention span atau rentang fokus perhatian pada anak yang sering menonton Reels atau TikTok cenderung makin pendek alih-alih bertambah. Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan rentang perhatian di tengah maraknya konten video pendek sekitar 45 detik.

Hal ini menyebabkan anak sulit berkonsentrasi menyimak pembelajaran dalam waktu yang lama karena terbiasa dengan konten berdurasi cepat dan berubah-ubah. Alhasil, mereka cepat bosan serta tidak mampu menyerap materi secara maksimal.

2. Kesulitan Mengelola Emosi

Anak yang sering tantrum bisa jadi disebabkan oleh kebiasaan menonton video pendek. Mereka bisa tiba-tiba mengeluarkan reaksi emosional yang heboh ketika orang tua mengambil smartphone atau tablet dari jangkauan. 

Selain itu, pengelolaan emosi yang kurang terkontrol ini juga akibat dari terbiasa mendapatkan kepuasan instan dari konten pendek. Anak jadi tidak mampu mengontrol emosi dengan baik, dan menjadi sensitif ketika harus menunggu lama atau disuruh bersabar.

3. Menurunnya Minat Membaca Buku

Bahaya video pendek berikutnya adalah anak kurang tertarik untuk membaca buku pelajaran. Dari segi visual, buku memang kurang menarik karena cenderung hitam putih. Alhasil, anak jadi kurang bersemangat dan cepat jenuh. Hal ini dipengaruhi oleh konten video yang memiliki visual kaya warna dan beranimasi cepat. 

Menurunnya minat membaca buku ini dapat berpengaruh terhadap perkembangan otak anak ke depan. Apalagi, mengingat buku adalah jendela dunia yang berisi wawasan pengetahuan berharga. Jika anak tidak suka membaca buku, kualitas pengetahuan yang mereka punya bisa kurang kredibel. 

4. Menghambat Kreativitas

Mengutip Kumparan, seorang psikolog anak bernama Saskhya menjelaskan bahwa kebiasaan menonton video pendek dapat menghambat kemampuan berpikir kreatif anak. Ketika bosan, anak terbiasa langsung membuka Reels, Shorts, atau TikTok untuk mencari hiburan dari konten yang langsung tersaji.

Hal ini berbeda dengan anak zaman dulu yang menanggulangi kebosanan dengan kegiatan lain, seperti sepak bola atau petak umpet. Ini juga jadi gambaran kurangnya daya kreatif anak zaman sekarang untuk melakukan sesuatu yang baru selain terjebak dalam doom scrolling.

5. Minim Berinteraksi dengan Orang Lain

Dampak negatif video pendek selanjutnya adalah anak jadi jarang berinteraksi di lingkup sosial karena mereka lebih fokus bermain gawai. Salah satu tandanya adalah ketika Anda mengajak anak untuk bertamu ke rumah kerabat tetapi mereka memilih untuk diam di pojokan sambil menggulir layar smartphone tanpa berniat ikut interaksi.

Apabila kebiasaan ini terus berlanjut, dikhawatirkan kehidupan sosial anak bakal kurang berkembang luas. Mereka jadi tidak terlalu aware dengan lingkungan sekitar karena fokus pada gawai yang ada di depan mereka.

Bagaimana Cara Mengatasi Bahaya Video Pendek?

Tidak menggunakan gawai sama sekali di era digital seperti sekarang ini memang hampir mustahil. Namun, Anda tidak harus menghentikan penggunaan gawai secara total untuk melepaskan anak dari kebiasaan menonton video pendek. Solusi lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan menyibukkan anak dengan aktivitas lainnya. 

Daftarkan mereka ke Sparks Sports Academy untuk mengikuti beragam kelas, mulai dari gymnastics, multi-sports, dance, basket, hingga balet. Di sini, anak bisa mengikuti aktivitas edukatif guna mendukung tumbuh kembang fisik, kognitif, dan sosial-emosionalnya.

Pelan tapi pasti, kebiasaan menonton video pendek pun bisa bertahap berkurang ketika anak mulai sibuk melakukan aktivitas lain yang tidak kalah menyenangkan selama bermain sambil belajar di Sparks Sports Academy.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%