-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Tahukah Anda bahwa ada kondisi di mana bayi tampak sangat lemas dari anak seusianya? Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai bayi hipotonia, yaitu keadaan ketika tonus atau kekuatan otot lebih lemah dari keadaan normal.
Hipotonia pada bayi biasanya terjadi pada bagian tangan atau kaki yang menyebabkan anak kesulitan duduk tegak, mengangkat kepala, hingga menekuk lutut dan siku. Pada beberapa kasus, bayi juga tampak lunglai saat digendong karena ototnya tidak mampu menopang tubuh secara optimal.
Key Takeaways
- Hipotonia adalah suatu kondisi terjadinya penurunan kemampuan otot pada tubuh bayi sebagai bawaan sejak lahir maupun karena penyakit tertentu.
- Gejala hipotonia bisa berbeda pada setiap anak, salah satunya lemas saat digendong, kesulitan bergerak dan mempertahankan postur tubuh, hingga kesulitan menyusu dan bernapas.
- Penyebabnya pun beragam, bisa karena bawaan sejak lahir atau mengalami penyakit tertentu, seperti infeksi maupun gangguan sistem saraf pusat. Oleh karena itu, orang tua perlu mendeteksi sejak dini dengan mengamati perkembangan anak sesuai tahap pertumbuhannya.
- Untuk mengatasinya, berkonsultasilah bersama Dokter Spesialis Anak (DSA) serta ikuti berbagai terapi dan perawatan medis secara intensif.
Penyebab Bayi Hipotonia
Hipotonia terjadi karena adanya gangguan pada sistem yang mengontrol otot, terutama jalur yang menghubungkan otak, saraf, dan otot. Sehingga, gerakan tubuh akan tampak lemas atau “floppy”. Berikut ini beberapa penyebab utama hipotonia pada bayi dan anak-anak.
1. Genetik atau Kelainan Bawaan
Bayi hipotonia bisa saja disebabkan oleh faktor genetik atau kondisi bawaan sejak lahir. Dokter biasanya akan memeriksa tanda-tanda hipotonia sejak detik pertama bayi lahir.
Jika tonus otot rendah, bayi biasanya tampak sangat lemas dan kurang memberikan perlawanan. Bahkan, bayi yang mengalami hipotonia terlihat seperti boneka kain yang lembek di pelukan orang tua.
Lengan dan kakinya cenderung terkulai, kepala sulit tegak, serta tubuh terasa kurang bertenaga. Kondisi inilah yang sering membuat hipotonia juga terkenal sebagai floppy infant syndrome. Hello Sehat menyebut bahwa ada beberapa kondisi yang menjadi penyebab hipotonia sebagai kondisi bawaan dari lahir, di antaranya adalah:
- Down Syndrome;
- Sindrom Prader-Willi;
- Sindrom Marfan;
- Dispraksia;
- Atrofi otot tulang belakang;
- Cerebral Palsy;
- Penyakit Tay Sachs; dan
- Trisomi 13.
2. Kerusakan Otak dan Sistem Saraf Pusat
Kondisi ini juga dapat disebabkan oleh kerusakan otak dan sistem saraf pusat. Otak dan saraf memiliki peran penting dalam mengirimkan sinyal ke otot agar dapat bergerak dan mempertahankan ketegangan normal.
Jika terjadi gangguan, sinyal yang terkirim ke otot menjadi tidak optimal sehingga tonus otot bayi lemah. Kerusakan sistem saraf pusat ini bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti:
- Kekurangan oksigen (asfiksia) sebelum atau sesaat setelah lahir;
- Pendarahan otak;
- Infeksi berat; dan
- Gangguan perkembangan otak selama masa kehamilan.
3. Gangguan Neurologis dan Infeksi
Hipotonia bisa terjadi karena adanya gangguan neurologis seperti Cerebral Palsy, distrofi otot, spinal muscular atrophy, dan gangguan metabolik yang memengaruhi fungsi saraf. Beberapa kali juga terjadi karena adanya infeksi serius yang menyerang sistem saraf pusat.
Contohnya, meningitis atau ensefalitis yang memicu peradangan dan kerusakan pada jaringan otak, sehingga kemampuan otak untuk mengirimkan sinyal ke otot menjadi terganggu. Infeksi berat juga dapat terjadi sebelum atau setelah lahir, termasuk infeksi yang ibu tularkan ke janin selama kehamilan.
4. Faktor Lingkungan dan Lainnya
Faktor lingkungan turut berkontribusi terhadap kondisi bayi hipotonia. Beberapa kasus menunjukkan bahwa cedera saat proses persalinan, terutama yang menyebabkan trauma pada kepala atau otak bayi, memengaruhi fungsi sistem saraf sehingga tonus otot menjadi lemah.
Ciri Hipotonia pada Bayi
Tanda paling umum adalah tubuh bayi tampak sangat lemas atau lunglai. Ketika digendong, lengan dan kaki bayi cenderung terkulai tanpa memberikan perlawanan, bahkan terlihat seperti boneka.
Bayi dengan kondisi ini mengalami kontrol tubuh yang buruk sehingga kepala mudah terjatuh ke belakang atau ke samping saat digendong karena otot leher belum mampu menopang dengan baik. Selain itu, bayi akan mengalami keterlambatan perkembangan motorik.
Bayi akan lebih lambat untuk belajar tengkurap, duduk, merangkak, atau berjalan ketimbang anak seusianya. Ini terjadi karena tonus otot yang rendah membuat anak membutuhkan usaha lebih besar untuk menggerakkan dan menopang tubuh.
Oleh karena itu, Anda perlu mendeteksi sejak dini dengan mengamati tanda-tanda fisik, terutama ketika badan bayi mudah terkulai dan sendi terlalu lentur. Selain itu, perhatikan perkembangan motorik anak, apakah sesuai usia tahap perkembangannya atau tidak.
Cara Mengatasi Bayi Hipotonia
Sebelum melakukan terapi dan perawatan medis, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak (DSA) terlebih dahulu untuk mendapatkan diagnosa. Lalu, dokter umumnya akan memeriksa fungsi otot dan sistem saraf serta menentukan pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan.
Misalnya, tes Magnetic Resonance Imaging (MRI), CT Scan, tes darah, EMG untuk memeriksa fungsi otot dan saraf, EEG untuk mengukur gelombang otak, hingga biopsi otot. Meski begitu, ada beberapa jenis terapi hipotonia yang bisa anak Anda lakukan.
Misalnya terapi fisik atau fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara (jika perlu), memberikan dukungan nutrisi seimbang, dan perawatan medis secara intensif bila hipotonia terjadi karena infeksi serta kelainan genetik.
Cegah Bayi Hipotonia dengan Stimulasi Optimal
Kondisi bayi hipotonia memang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik hingga gangguan saraf dan lingkungan. Meski tidak semua kasus dapat dicegah, Anda sebagai orang tua tetap bisa berperan penting dengan melakukan deteksi dini.
Ibu wajib menjaga kesehatan selama kehamilan dan memberikan stimulasi motorik yang tepat sejak bayi lahir hingga masa tumbuh kembangnya. Sparks Sports Academy mendukung perkembangan motorik Si Kecil melalui pendidikan yang dirancang sesuai tahap usia anak.
Kami menyediakan berbagai kelas untuk mengoptimalkan kemampuan kognitif, sensorik, fisik, dan emosional anak melalui permainan edukatif yang menyenangkan. Yuk, segera daftarkan buah hati Anda dan dapatkan layanan pendidikan terbaik dari Sparks Sports Academy!






