Banyak orang tua pasti kebingungan jika bayi tidak mau di crib, meskipun lingkungan tidur sudah diatur senyaman mungkin. Bayi yang tampak tenang saat Anda gendong atau tidur di dada pun langsung rewel begitu tubuhnya menyentuh kasur. Ingin tahu penyebab dan solusinya? Simak selengkapnya di sini!
Key Takeaways:
- Bayi yang tidak mau tidur di crib sering terjadi karena kebutuhan emosional, kecemasan perpisahan, atau lingkungan tidur yang kurang nyaman.
- Memahami penyebab spesifik akan membantu orang tua menemukan pendekatan yang tepat, mulai dari perbaikan rutinitas tidur hingga teknik menenangkan bayi.
- Bayi yang terlalu lelah atau tumbuh gigi juga bisa menjadi penyebab mereka terkesan lebih manja, padahal mereka hanya merasa tidak nyaman dan sakit.
6 Penyebab Bayi Tidak Mau di Crib
Agar lebih mudah memahami situasinya, mari lihat faktor yang paling sering jadi penyebabnya berikut ini.
1. Refleks Moro Masih Aktif
Banyak bayi terbangun seketika saat dipindahkan dari pelukan ke crib karena refleks moro atau startle reflex masih sangat kuat, terutama pada usia 0–4 bulan. Refleks ini membuat bayi merasa seperti “jatuh” atau kehilangan keseimbangan, sehingga mereka mendadak menangis meski sebelumnya sudah tertidur pulas.
Menurut situs Cleveland, refleks moro merupakan respons alami tubuh bayi saat sistem sarafnya belum matang. Refleks ini bekerja sebagai mekanisme perlindungan bawaan, di mana tubuh bayi secara otomatis merespons perubahan posisi atau suara mendadak dengan gerakan seolah sedang terkejut.
Anda pun dapat membantu bayi lebih tenang dengan memindahkan tubuhnya ke crib dengan perlahan dalam posisi stabil. Caranya dengan menopang kepala dan bahu, serta membungkus tubuh menggunakan swaddle agar gerakan mengejut mendadak dapat berkurang.
2. Mencari Rasa Aman
Pada bulan-bulan awal, bayi sangat bergantung pada kehadiran fisik orang tua sebagai sumber rasa aman, termasuk aroma tubuh dan detak jantung yang biasanya ia temukan saat Anda gendong. Ketika jarak tercipta tiba-tiba, bayi akan kehilangan zona nyaman dan cemas sehingga langsung rewel saat Anda tempatkan di crib.
Melansir jurnal ResearchGate, separation anxiety dapat berlanjut hingga anak berusia dua tahun, di mana mereka akan merasa cemas jika tidur terpisah dengan orang tuanya. Anda bisa membantu bayi menyesuaikan diri dengan pendekatan bertahap, seperti membiasakan tidur di crib saat tidur siang sambil tetap berada di dekatnya.
3. Lingkungan Tidur Kurang Nyaman
Suasana terlalu dingin, pencahayaan terlalu terang, atau suara sekitar yang mendadak hening dapat membuat bayi tidak mau di crib karena tubuhnya terbiasa tertidur dalam hangatnya pelukan orang tua. Perubahan tersebut terasa drastis dan membuat bayi mengasosiasikan crib sebagai tempat yang kurang menyenangkan.
Agar dapat membantu bayi beradaptasi, lingkungan crib bisa dibuat lebih lembut dan familiar dengan mengatur suhu kamar sekitar 20-22°C. Gunakan white noise sebagai latar suara, serta pastikan kasur crib hangat dan lembut sebelum bayi dibaringkan. Cara ini akan membantu bayi mengenali crib sebagai tempat tidur yang aman.
4. Bayi Terlalu Lelah atau Terlalu Banyak Rangsangan
Melansir laman Happy Little Sleeper, bayi yang melewatkan waktu tidurnya akan menolak tidur, termasuk untuk tidur di tempat tidurnya. Selain itu, saat melewatkan waktu ideal untuk tidur, tubuhnya akan memproduksi lebih banyak hormon stres seperti kortisol, sehingga justru lebih sulit untuk tenang saat diletakkan di crib.
Bayi memang terlihat sangat mengantuk, tapi mereka akan menangis histeris begitu Anda pindahkan. Demi mencegahnya, rutinitas sebelum tidur yang konsisten dapat Anda terapkan. Misalnya dengan mandi air hangat, pijatan ringan, mematikan layar gadget, dan meredupkan lampu.
5. Sudah Terbiasa Tidur Digendong
Banyak orang tua tidak menyadari bahwa kebiasaan menidurkan dengan digendong atau disusui terus menerus membuat bayi tidak mau di crib. Ini karena si kecil menganggap pelukan orang tua adalah satu-satunya cara untuk bisa tertidur. Ketika dipindahkan, mereka akan merasa kehilangan kondisi tidur yang dikenalnya.
Jika ingin mengubah pola ini, teknik drowsy but awake dapat diterapkan, yaitu dengan meletakkan bayi di crib saat ia mengantuk tetapi belum sepenuhnya tertidur. Dengan begitu, bayi akan belajar tertidur sendiri tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal.
6. Sedang Tumbuh Gigi
Ketika gigi mulai tumbuh, bayi akan mengalami tekanan pada gusi dan rasa nyeri yang membuatnya lebih sensitif terhadap perubahan posisi tidur. Kondisi seperti perut kembung, kolik, atau hidung tersumbat juga membuat bayi tidak mau tidur sendiri karena crib terasa terlalu datar dan kurang memberikan kenyamanan.
Ketimbang memaksakan bayi langsung tidur di crib, orang tua bisa memastikan tubuh bayi merasa lebih nyaman terlebih dahulu. Misalnya dengan pijatan lembut di area perut dan kaki, menjaga popok tetap kering, atau menggunakan humidifier untuk membantu pernapasan.
Sudah Memahami Alasan Bayi Tidak Mau di Crib?
Ketika bayi tidak mau di crib, bukan berarti mereka manja, namun pasti ada alasan di baliknya. Jadi, sebagai orang tua, Anda harus memahami ketidaknyamanan yang mereka alami dan carilah solusi terbaik untuk membiasakan mereka bisa tidur mandiri.
Selain itu, ketika anak sudah mulai tumbuh, Anda harus memastikan mereka mendapatkan stimulasi gerak yang terarah akan membantu anak tumbuh lebih kuat dan seimbang. Anda pun bisa mempercayakan latihan fisik sejak dini di Sparks Sports Academy.
Sehingga, anak bisa belajar melalui aktivitas yang menyenangkan dengan pendampingan pelatih profesional. Lingkungan yang suportif akan membantu mereka tumbuh berani dan aktif tanpa tekanan. Tertarik? Ayo, segera book free trial kelasnya sebelum kehabisan!







