Pernah merasa anak sulit fokus, cepat bosan, atau hanya tertarik pada video singkat di layar gadget? Hati-hati, bisa jadi itu tanda brainrot pada anak.
Istilah brainrot kini sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika otak terlalu terbiasa dengan rangsangan instan seperti video pendek, game cepat, atau konten digital yang terus berubah.
Akibatnya, anak kehilangan kemampuan untuk fokus, berpikir mendalam, dan menikmati proses belajar yang lebih lambat.
Apa Itu Brainrot pada Anak?
Secara sederhana, brainrot pada anak adalah kondisi di mana otak anak mengalami kelelahan karena terlalu sering menerima stimulus cepat dan berlebihan dari media digital. Konten singkat dan sensasi visual yang berulang membuat otak terbiasa mendapatkan dopamin instan.
Hal ini mengganggu kemampuan anak untuk menikmati kegiatan yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, seperti membaca buku, menggambar, atau bermain di luar rumah.
Fenomena ini semakin sering terlihat pada anak-anak yang menghabiskan banyak waktu di depan layar tanpa pengawasan atau batasan waktu.
Otak yang masih berkembang menjadi lebih sulit beradaptasi dengan aktivitas yang menuntut kesabaran dan fokus jangka panjang.
Baca: 3 Cara Bantu Anak Usia 1 Tahun yang Suka Pukul Kepala Sendiri
Dampak Brainrot pada Anak
Jika dibiarkan, brainrot pada anak bisa berdampak serius pada perkembangan kognitif dan perilaku anak. Otak yang terbiasa dengan rangsangan instan menjadi sulit fokus, cepat bosan, dan kurang tertarik pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama.
Berikut beberapa dampak brainrot yang perlu diwaspadai orang tua:
- Anak Sulit Konsentrasi dan Cepat Bosan. Salah satu tanda paling umum dari brainrot adalah menurunnya kemampuan fokus. Anak menjadi mudah terdistraksi dan cepat kehilangan minat saat kegiatan tidak memberikan hasil instan.
- Menurunnya Minat Belajar dan Eksplorasi. Anak yang terbiasa dengan stimulus digital cepat sering kali kehilangan rasa ingin tahu alami. Anak cenderung enggan mencoba hal baru atau belajar sesuatu yang membutuhkan waktu lebih lama, seperti menggambar atau membaca.
- Cenderung Lebih Pasif dan Mudah Terdistraksi. Otak yang terbiasa dengan hiburan cepat bisa membuat anak kesulitan menikmati aktivitas sosial atau permainan fisik. Anak lebih suka aktivitas pasif seperti menonton video, dibanding berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Baca: Kemampuan Visual Spasial Anak yang Jarang Disadari Orang Tua
Cara Mengatasi Brainrot pada Anak
Kabar baiknya, kondisi brainrot pada anak bisa dicegah dan diperbaiki dengan langkah sederhana di rumah.
Kuncinya adalah membantu anak menyeimbangkan waktu layar dengan aktivitas fisik, sosial, dan permainan yang merangsang konsentrasi secara alami.
- Batasi Waktu Screentime dan Pilih Konten Berkualitas. Orang tua perlu menetapkan batas waktu harian penggunaan gadget. Pilih tontonan edukatif dan hindari konten yang terlalu cepat berpindah. Gunakan aturan “60 menit aktif, 30 menit layar” untuk menjaga keseimbangan aktivitas anak.
- Ajak Anak Beraktivitas Fisik dan Sosial. Aktivitas fisik seperti bersepeda, bermain bola, atau menari membantu menyalurkan energi anak dengan cara positif. Selain menyehatkan tubuh, kegiatan ini juga meningkatkan kemampuan fokus dan kerja sama sosial.
- Latih Fokus Lewat Permainan yang Menantang Otak. Permainan seperti puzzle, lego, atau permainan strategi dapat membantu melatih kesabaran dan kemampuan berpikir kritis anak. Lakukan secara bertahap dan jadikan kegiatan ini menyenangkan agar anak termotivasi.
Baca: 7 Cara Mengajari Anak Menerima Kekalahan dengan Lapang Dada
Seimbangkan Dunia Digital dan Aktivitas Fisik Anak

Brainrot pada anak bisa berdampak pada perkembangan kognitif dan emosional jika tidak segera diatasi. Namun, dengan bimbingan dan keseimbangan aktivitas digital dan fisik, anak dapat kembali fokus dan aktif.
Ajak anak melatih konsentrasi dan kemampuan berpikir lewat kelas Multi Sport di Sparks Sports Academy! Melalui berbagai permainan seru dan interaktif, anak belajar fokus, berkoordinasi, dan mengasah kemampuan berpikir tanpa merasa bosan.
Dengan pendekatan yang menyenangkan, anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan siap menghadapi dunia nyata.






