-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Si kecil tiba-tiba menangis keras, menjerit, atau berguling di lantai karena keinginannya tidak terpenuhi? Itu adalah tantrum, yang mana normal karena bagian dari proses tumbuh kembang dan dampak dari ketidakmampuan mereka dalam mengekspresikan perasaan dengan kata. Karena itu, cara menghadapi anak tantrum bisa berbeda-beda.
Artikel ini akan membahas lebih detail cara bijak menghadapi tantrum pada anak sesuai usia dan perkembangannya. Mari simak!
Key Takeaways
- Tantrum adalah hal yang normal dari pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
- Setiap usia memiliki tantangan berbeda dalam menghadapi tantrum.
- Dukungan dan pola asuh yang tepat dapat membantu anak mengelola emosinya.

Penyebab Anak Tantrum
Tantrum adalah gejala normal yang dialami anak kecil. Tetapi, terdapat anak yang sering tantrum dan yang tidak. Tantrum adalah cara anak mengekspresikan rasa emosi kecewa atau frutrasi mereka. Tantrum terjadi karena anak belum bisa menyampaikan apa yang mereka mau dengan benar.
Kebanyakan anak tantrum terjadi karena mereka merasa:
- lelah,
- lapar,
- tidak nyaman,
- keinginan tidak terpenuhi,
- dan tidak ada teman bermain atau melakukan sesuatu.
Tanda-Tanda Anak Tantrum
Anak mengalami tantrum biasanya berlangsung selama 2-15 menit. Ketika itu terjadi, anak akan menunjukan tanda-tanda berikut ini:
- Merengek, menangis, berteriak.
- Meronta-ronta.
- Berguling-guling dilantai.
- Menendang atau memukul.
- Melempar barang.
- Menahan napas.
- Mendorong.
- Membuat tubuhnya tegang atau justru lemas.
Jenis Tantrum pada Anak
Terdapat dua tipe tantrum pada anak. Berikut adalah penjelasannya.
1. Tantrum Mengamuk atau Downstairs
Anak yang mengalami tantrum ini biasanya tidak sadar bahwa ia menarik perhatian banyak orang. Tantrum jenis ini adalah cara anak mengekspresikan kekesalannya. Sebagai contoh anak tidak dibelikan mainan karena ada alasan tertentu dari orang tuanya.
Mengetahui keinginannya tidak dipenuhi, anak akan mengamuk atau memukul benda sekitarnya. Saat kesal, anak tidak sadar jika orang lain memperhatikannya karena fokus meluapkan amarah. Kemarahan ini biasanya akan mereda sendiri.
2. Tantrum Manipulatif
Tipe ini mirip dengan tantrum mengamuk. Perbedaanya terletak pada tujuan anak saat tantrum. Anak yang mengalami tantrum manipulatif biasanya menggunakan amukan atau kekesalannya agar orang tua atau orang sekitarnya memenuhi keinginannya. Anak menyadari bahwa kekesalannya menarik perhatian orang.
Seperti contoh, saat berjalan-jalan dengan anak, kondisinya baik-baik saja. Tetapi pada saat tertentu anak ingin dibelikan mainan. Namun, orang tua menolak karena tidak bisa memenuhi keinginannya. Kemudia anak merengek dan meluapkan emosinya.
Anak menyadari bahwa orang sekitar memperhatikannya. Anak sengaja melakukan hal tersebut agar dibelikan mainan. Setelah keinginannya terpenuhi, emosi anak kembali stabil.
Cara Menghadapi Anak Tantrum
Jika anak mengalami tantrum, orang tua bisa menggunakan cara di bawah ini untuk meredakannya berdasarkan usia:
1. Usia 2 Tahun
Berikut ini langkah sederhana untuk menghadapi anak berusia 2 tahun yang sedang tantrum.
- Tetap tenang dan tidak ikut panik. Pada usia 2 tahun, anak sedang memasuki fase terrible two, di mana anak mulai belajar mandiri. Anda sebagai orang tua perlu tetap tenang karena reaksi emosional berlebihan justru bisa memperburuk tantrum.
- Alihkan perhatian dengan aktivitas menarik. Anak usia 2 tahun cenderung mudah teralihkan. Anda bisa menawarkan mainan kesukaannya atau mengajaknya berjalan ke luar ruangan.
- Berikan pilihan sederhana. Coba bantu anak untuk memilih warna baju atau camilan tertentu. Cara ini bisa memberi anak rasa kontrol diri.
- Peluk dengan lembut. Pelukan bisa membuat anak merasa aman sehingga emosinya lebih cepat reda.
2. Usia 3 Tahun
Sementara itu, anak berusia 3 tahun yang tantrum bisa Anda tangani dengan cara berikut.
- Validasi perasaan anak. Anak usia 3 tahun sudah mulai bisa memahami perasaan dengan lebih baik. Ketika mereka tantrum, coba katakan bahwa Anda tidak marah karena mainannya hilang.
- Tetapkan batasan yang jelas. Meski sedang tantrum, orang tua tetap harus konsisten dengan aturan untuk anak.
- Gunakan bahasa yang singkat dan tenang. Hindari memberi ceramah panjang pada anak usia 3 tahun. Cukup gunakan kalimat sederhana saat menasehatinya.
- Beri anak waktu untuk tenang. Kadang, anak-anak butuh ruang sejenak sebelum bisa diajak bicara dengan jelas.
3. Usia 4 Tahun
Ini langkah yang bisa Anda terapkan untuk menghadapi anak tantrum di usia 4 tahun.
- Jangan membentak anak di tempat umum. Sebab, membentak hanya akan membuat anak semakin menolak.
- Ajak anak-anak untuk tarik napas bersama. Teknik pernapasan ini bisa membantu anak belajar mengendalikan emosinya.
- Gunakan cerita untuk memberi pemahaman. Anak usia 4 tahun biasanya sudah bisa diajak memahami lewat cerita sederhana.
- Konsisten dengan pola asuh. Pasalnya, tantrum berkepanjangan bisa jadi tanda pola asuh yang kurang tepat.
4. 5 Tahun
Jika anak Anda berusia 5 tahun tapi masih menunjukkan ciri-ciri anak tantrum, coba lakukan cara-cara di bawah ini.
- Libatkan anak dalam aktivitas positif seperti menggambar atau menyusun balok untuk menyalurkan emosinya.
- Ajarkan anak mengenali emosinya. Katakan bahwa mereka sedang “marah” atau “kesal”, agar anak bisa memahami perasaannya.
- Berikan pujian saat anak sudah tenang. Sebab, penguatan positif membuat anak lebih termotivasi untuk mengontrol diri.
- Beri contoh dalam mengelola emosi. Orang tua yang mampu menahan marah akan menjadi panutan terbaik bagi anak.
5. 7 Tahun
Ini tips yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi anak usia 7 tahun yang masih sering tantrum.
- Lakukan komunikasi dua arah, karena anak berusia 7 tahun sudah bisa diajak berdiskusi.
- Latih anak untuk bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Misalnya, meminta anak untuk mengatakan “Aku kecewa” daripada menangis keras.
- Berikan konsekuensi yang tepat. Jika anak mengamuk karena tidak mendapat apa yang ia inginkan, maka tetapkan konsisten dengan aturan.
- Dorong anak untuk mencari solusi. Ajak mereka berpikir tentang cara lain mengatasi masalah.

Solusi Aktivitas Fisik Anak di Sparks Sports Academy
Melakukan serangkaian cara menghadapi anak tantrum memang menguji kesabaran. Namun, dengan memahami penyebab anak tantrum dan pendekatan yang tepat sesuai usia, Anda bisa membantu si kecil belajar mengelola emosinya. Ingat, tantrum bukanlah perilaku buruk, tapi bagian dari proses anak dalam memahami diri dan lingkungannya.
Selain pendampingan emosional, anak juga membutuhkan wadah untuk menyalurkan energi positifnya. Kelas Sensori dari Sparks Sports Academy hadir sebagai pilihan tepat untuk mendukung perkembangan anak usia 1-3 tahun melalui berbagai teknik sensori yang dibutuhkan anak.
Dengan berbagai program olahraga yang dirancang khusus untuk anak, Sparks Sports Academy membantu anak sehat secara fisik dan lebih percaya diri, disiplin, serta mampu mengelola emosinya dengan baik.







