Pernahkah Anda mendapati anak susah menerima makanan baru dan cenderung memilih satu jenis menu secara berulang? Itu namanya food jag, sebuah kondisi di mana anak hanya mau menerima sedikit jenis makanan secara berturut-turut.
Sebagai contoh, anak hanya mau makan dengan nasi dan telur kecap selama berhari-hari. Mereka menolak apabila ditawarkan menu lainnya, meskipun makanan tersebut tampak menggiurkan. Apabila anak Anda mengalaminya, jangan panik! Baca artikel ini sampai tuntas untuk tahu penyebab dan cara mengatasinya.
Key Takeaways
- Food jag membuat anak menerima sedikit jenis makanan secara terus-menerus dan menolak menu baru yang ditawarkan.
- Kondisi ini berbeda dengan Gerakan Tutup Mulut (GTM), di mana anak menolak makanan secara keseluruhan atau picky eater yang memilih-milih makanan.
- Penyebab food jag bisa karena anak merasa nyaman dengan menu tersebut, pernah mengalami trauma saat makan, hingga pengaruh genetik.
- Untuk mengatasinya, Anda bisa mengkreasikan makanan agar lebih variatif dan buat pengalaman makan anak menjadi menyenangkan.
Food Jag, Kondisi Normal pada Anak
Biasanya, food jag berlangsung selama berhari-berhari atau bahkan berminggu-minggu. Tak jarang, fenomena ini membuat orang tua stres karena anak tidak mendapat gizi seimbang dari makanan tersebut. Apalagi kalau anak sudah merasa bosan, ia akan kehilangan minat dan berhenti makan sama sekali.
Namun, kondisi ini tidak perlu Anda khawatirkan secara berlebihan. Pasalnya, pola makan ini bisa menjadi bagian dari masa perkembangan anak yang sedang mengeksplorasi rasa dan tekstur. Ada ciri-ciri yang bisa Anda amati apabila anak mulai menunjukkan perilaku susah makan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
- Konsisten memilih satu jenis makanan.
- Menolak makanan baru yang tidak ia kenal.
- Punya keterikatan emosional terhadap makanan tertentu.
- Cenderung menolak variasi menu makanan.
Dari tanda-tanda ini, Anda bisa memahami juga bahwa pola makan ini berbeda dengan picky eater maupun Gerakan Tutup Mulut (GTM). Picky eater adalah kondisi di mana anak memilih-milih banyak jenis makanan tetapi masih mau mengonsumsi beberapa variasi.
Sementara food jag bersifat lebih parah karena anak hanya mau mengonsumsi sedikit sekali jenis makanan dalam satu waktu. Begitu pun dengan GTM, di mana anak menolak makanan secara keseluruhan alias tidak mau makan sama sekali.
Penyebab Food Jag
Salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya variasi makanan baru, sehingga anak belum terbiasa dengan menu tersebut. Anak merasa nyaman dengan makanan kesukaannya dan menolak bila diberi menu yang berbeda.
Selain itu, penyebabnya bisa juga karena anak memiliki pengalaman negatif dengan jenis makanan tertentu. Misalnya alergi, tersedak, susah menelan, sakit perut saat atau setelah mengonsumsi makanan tersebut, sehingga membuatnya trauma. Makanan tersebut membuatnya tidak nyaman sehingga menolak mencobanya lagi.
Sebagai contoh, Anda memberikan daging kemudian mereka menolak karena terasa alot sehingga susah ditelan dan tidak mau mencobanya lagi.
Punya neophobia alias ketakutan terhadap hal baru juga jadi salah satu penyebabnya. Ini termasuk mekanisme alami balita yang menganggap asing atau tidak aman pada hal baru. Anak lebih nyaman pada makanan yang akrab.
Atau, terjadi karena mengalami perkembangan sensorik di masa tumbuh kembangnya. Fase ini membuat mereka lebih sensitif terhadap rasa, tekstur, aroma, dan tampilan makanan, sehingga sering menolak makanan asing.
Cara Mengatasinya Food Jag
Ada beberapa cara untuk mengatasi pola makan anak ini. Namun ingat, Anda harus melakukannya dengan penuh kesabaran dan kreativitas agar anak mau makan lagi.
1. Jangan Mengulang Menu yang Sama
Salah satu penyebab utama anak susah makan adalah karena kurangnya variasi menu. Oleh karena itu, Anda bisa sedikit memvariasikan makanan kesukaannya dengan bentuk dan rasa yang berbeda dari biasanya. Misalnya, buat nasi telur kecap dengan telur yang diorak-arik atau omelet dengan tambahan parutan wortel di dalamnya.
Anda juga boleh menggunakan cetakan lucu agar anak semakin tertarik dengan tampilannya. Kalau anak Anda suka sereal, kenalkan mereka dengan oatmeal dan sajikan bersama buah-buahan, madu, dan biji-bijian.
2. Sajikan Makanan Baru bersama Menu Favorit
Anda bisa pelan-pelan menyajikan makanan baru bersama menu favoritnya. Misalnya, anak Anda suka makan nugget ayam dan nasi. Maka, sajikan menu tersebut bersama sayur-sayuran yang familiar bagi mereka.
Anda juga bisa lebih kreatif dengan menyajikan nugget homemade yang terbuat dari daging ayam, keju, parutan wortel tanpa tepung, dan MSG. Ini lebih sehat daripada nugget instan dari supermarket yang tinggi natrium. Sajikan dengan bentuk lucu menggunakan cetakan hewan atau abjad.
3. Jadikan Suasana Makan Menyenangkan
Food jag belum tentu berasal dari menu makanannya, namun bisa karena suasana makan yang kurang nyaman. Anak-anak biasanya lebih suka suasana yang menyenangkan tanpa ada paksaan untuk menghabiskan makanannya. Jadi, hindari mengkritik saat anak makan dan memaksa anak menghabiskan makanannya.
4. Libatkan Anak Saat Memasak
Terakhir, melibatkan anak ke dapur membuat mood mereka lebih stabil. Ini karena anak-anak umumnya tertarik dengan hal baru dan suka dilibatkan dalam hal apapun.
Coba ajak mereka untuk mencuci piring, mengaduk adonan, mencuci buah dan sayuran, atau hal lainnya. Ini tidak hanya membuat anak dekat dengan makanan, tetapi juga membentuk rasa kepemilikan terhadap makanan yang mereka buat.
Beri Asupan dan Pendidikan Terbaik untuk Anak
Food jag merupakan kondisi normal sebagai bagian dari perkembangan anak. Anda sebagai orang tua tidak perlu khawatir berlebihan karena dengan pendekatan yang tepat, kesabaran, serta kreativitas, kondisi ini bisa teratasi dengan baik.
Selain asupan, pastikan anak mendapatkan pendidikan terbaik dari Spark Sports Academy sejak dini. Spark Sports Academy membantu anak tumbuh optimal dengan mengasah tujuh indera secara holistik. Metode pembelajarannya mengajak anak menstimulasi sensorik dengan aktivitas fisik yang menyenangkan. Yuk, daftar sekarang!







