Kebiasaan Anak Berulang Penyebab, Jenis, dan Cara Menanganinya dengan Tepat

Kebiasaan Anak Berulang: Penyebab, Jenis, dan Cara Menanganinya dengan Tepat

Table of Contents

Mom/Dad mungkin pernah memperhatikan anak melakukan suatu aktivitas berkali-kali. Misalnya, anak terus menyusun mobil-mobilannya dengan urutan yang sama, membuka dan menutup pintu berulang kali, mengulang kata tertentu, atau melakukan gerakan tubuh tertentu ketika sedang senang maupun bersemangat. Kondisi seperti ini sering disebut sebagai kebiasaan anak berulang. Dalam banyak situasi, perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan adanya masalah karena anak memang dapat mengulang aktivitas sebagai bagian dari proses belajar dan eksplorasi.

Pada masa pertumbuhan, pengulangan dapat membantu anak memahami hubungan sebab-akibat, mengembangkan keterampilan, serta mendapatkan rasa aman dari aktivitas yang sudah dikenalnya. Namun, Mom/Dad mungkin perlu memberikan perhatian lebih ketika kebiasaan anak berulang muncul dengan frekuensi atau intensitas tinggi, sulit dialihkan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai tanda perkembangan lain yang perlu diperhatikan.

Ringkasan Cepat

  • Kebiasaan anak berulang dapat berupa gerakan tubuh, permainan, penggunaan benda, ucapan, maupun rutinitas tertentu.
  • Pengulangan tidak selalu berarti adanya gangguan karena dapat menjadi bagian dari proses belajar dan perkembangan anak.
  • Perilaku berulang perlu diamati apabila sangat sering, sulit dialihkan, mengganggu aktivitas, atau menyebabkan anak maupun orang lain mengalami kesulitan.
  • Respons Mom/Dad sebaiknya tidak langsung berupa larangan, tetapi diawali dengan observasi terhadap pemicu dan kebutuhan anak.
  • Aktivitas yang melibatkan stimulasi sensorik, gerak, komunikasi, dan permainan terarah dapat menjadi bagian dari pengalaman perkembangan anak.

Memahami alasan di balik perilaku tersebut menjadi langkah penting sebelum Mom/Dad memberikan respons. Jangan terburu-buru melarang atau menganggap kebiasaan tersebut sebagai perilaku buruk. Dengan mengamati kapan perilaku muncul, apa yang terjadi sebelumnya, serta bagaimana respons anak setelah melakukannya, Mom/Dad dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan anak.

Apa Itu Kebiasaan Anak Berulang?

Kebiasaan anak berulang adalah perilaku yang dilakukan anak secara berulang dengan pola yang relatif sama. Bentuknya dapat sangat beragam, mulai dari mengulang permainan, kata-kata, gerakan tubuh, sampai mengikuti rutinitas tertentu secara konsisten.

Pada usia tertentu, pengulangan merupakan hal yang cukup umum. Anak sedang mempelajari berbagai hal melalui pengalaman langsung. Ketika anak mengulangi tindakan yang sama, ia dapat mengamati hasil yang muncul dari tindakan tersebut.

Contohnya, anak menjatuhkan benda dari kursi berkali-kali. Bagi orang dewasa, kegiatan tersebut mungkin terlihat seperti perilaku yang tidak memiliki tujuan. Namun, bagi anak, aktivitas itu dapat menjadi eksperimen sederhana untuk mengetahui apa yang terjadi ketika benda dijatuhkan.

Begitu juga ketika anak meminta cerita yang sama untuk dibacakan berulang kali. Anak mungkin sedang memperkuat pemahaman terhadap alur cerita, kosakata, karakter, atau urutan kejadian.

Karena itu, Mom/Dad perlu melihat perilaku berulang berdasarkan konteks, usia, kemampuan anak, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Contoh Kebiasaan Anak Berulang yang Sering Ditemui

Kebiasaan anak berulang dapat muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa di antaranya bahkan sangat mudah ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

1. Mengulang Gerakan Tubuh

Anak mungkin melakukan gerakan seperti bergoyang, melompat, mengepakkan tangan, berputar, atau menggoyangkan tubuh secara berulang.

Gerakan tersebut dapat muncul ketika anak merasa senang, bersemangat, bosan, lelah, atau sedang menghadapi stimulasi tertentu.

Tidak semua gerakan berulang menunjukkan masalah perkembangan. Namun, apabila gerakan sangat sering atau mengganggu aktivitas anak, Mom/Dad dapat mencatat kapan dan dalam situasi apa gerakan tersebut muncul.

2. Mengulang Kata atau Kalimat

Anak dapat mengulangi kata atau kalimat yang baru didengarnya. Pada perkembangan bahasa, pengulangan tertentu dapat menjadi bagian dari proses mempelajari komunikasi.

Misalnya, anak mendengar kata baru kemudian mengucapkannya berkali-kali. Anak juga mungkin mengulang pertanyaan meskipun sudah mendapatkan jawaban.

Mom/Dad dapat memperhatikan apakah pengulangan tersebut berkembang menjadi kemampuan komunikasi yang lebih luas atau justru membuat anak kesulitan menyampaikan kebutuhan.

3. Memainkan Mainan dengan Cara yang Sama

Ada anak yang menggunakan mainan dengan pola tertentu secara berulang. Misalnya, semua mobil disusun dalam satu garis, kemudian disusun kembali ketika posisi salah satu mobil berubah.

Ada pula anak yang lebih tertarik memutar roda mobil daripada memainkan mobil sebagai kendaraan.

Aktivitas seperti ini perlu dilihat secara keseluruhan. Apabila anak masih dapat melakukan variasi permainan, berinteraksi, dan berpindah aktivitas, konteksnya berbeda dengan perilaku yang sangat kaku dan sulit dialihkan.

4. Mengulang Rutinitas

Sebagian anak merasa nyaman ketika aktivitas berlangsung dalam urutan yang sama.

Contohnya, anak ingin memakai pakaian dengan urutan tertentu, makan menggunakan tempat tertentu, atau melakukan rutinitas sebelum tidur dengan pola yang sama.

Rutinitas dapat membantu anak merasa aman. Akan tetapi, Mom/Dad perlu memperhatikan apabila perubahan kecil selalu menyebabkan respons yang sangat kuat atau membuat anak tidak dapat menjalankan aktivitas lainnya.

5. Mengulang Aktivitas Sensorik

Beberapa anak tertarik melakukan aktivitas sensorik tertentu berulang kali. Misalnya, menyentuh tekstur tertentu, memainkan air, menggoyangkan benda, melihat benda berputar, atau mencari sensasi gerakan tertentu.

Perilaku tersebut dapat berkaitan dengan cara anak mendapatkan dan mengolah informasi dari lingkungan.

Inilah salah satu alasan stimulasi sensorik yang sesuai usia penting dalam aktivitas anak. Kegiatan sensorik yang terarah dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi berbagai jenis rangsangan dengan cara yang lebih terstruktur.

Mengapa Anak Melakukan Kebiasaan Berulang?

Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa kebiasaan anak berulang muncul. Penting untuk diingat bahwa satu perilaku dapat memiliki alasan berbeda pada setiap anak.

Sebagai Cara Belajar

Anak belajar melalui pengulangan. Ketika melakukan sesuatu berkali-kali, anak dapat memahami pola, konsekuensi, dan hubungan sebab-akibat.

Contohnya, anak menuangkan air dari satu wadah ke wadah lain berulang kali. Dari kegiatan sederhana tersebut, anak dapat mengenal konsep penuh, kosong, berat, ringan, dan perubahan posisi benda.

Memberikan Rasa Nyaman

Aktivitas yang familiar dapat memberikan rasa aman kepada anak.

Ketika lingkungan terasa terlalu ramai atau terjadi perubahan rutinitas, anak mungkin kembali melakukan aktivitas yang sudah dikenalnya. Pengulangan dapat menjadi salah satu cara anak mengatur dirinya dalam situasi tertentu.

Mencari Stimulasi Sensorik

Sebagian anak menyukai sensasi tertentu seperti gerakan, suara, tekstur, tekanan, atau aktivitas fisik.

Kebiasaan berulang dapat menjadi cara anak mencari pengalaman sensorik yang menurutnya menyenangkan atau membantu dirinya merasa lebih terorganisasi.

Mengekspresikan Emosi

Anak yang belum mampu menyampaikan emosi secara verbal mungkin menunjukkan perilaku tertentu ketika sedang senang, frustrasi, cemas, lelah, atau kewalahan.

Karena itu, Mom/Dad sebaiknya memperhatikan kondisi emosional anak sebelum dan setelah kebiasaan berulang tersebut muncul.

Menikmati Pola yang Dapat Diprediksi

Anak umumnya membutuhkan lingkungan yang dapat diprediksi. Aktivitas yang dilakukan dengan pola sama memberikan gambaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hal tersebut dapat membuat anak lebih nyaman, terutama ketika menghadapi lingkungan atau situasi baru.

Baca juga: 10 Ciri Ciri Anak Autis yang Harus Diketahui Orang Tua Sejak Awal

Apakah Kebiasaan Anak Berulang Selalu Berarti Autisme?

Tidak. Kebiasaan anak berulang tidak secara otomatis berarti anak mengalami autisme.

Perilaku repetitif dapat ditemukan dalam perkembangan anak secara umum. Penelitian juga menunjukkan bahwa perilaku terbatas dan berulang dapat muncul pada anak dengan perkembangan tipikal, sehingga perilaku tersebut perlu dipahami bersama karakteristik perkembangan lainnya.

Dalam penjelasan autism spectrum disorder atau ASD menurut PubMed, perilaku terbatas dan berulang memang merupakan salah satu kelompok karakteristik yang diperhatikan. Bentuknya dapat mencakup gerakan berulang, penggunaan benda atau bahasa secara berulang, kebutuhan kuat terhadap kesamaan rutinitas, minat yang sangat terbatas, serta respons sensorik tertentu.

Namun, satu kebiasaan saja tidak cukup untuk menentukan kondisi perkembangan anak.

Jika Mom/Dad memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan anak, penilaian sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional yang sesuai, dengan mempertimbangkan komunikasi, interaksi sosial, kemampuan adaptif, perilaku, serta aspek perkembangan lainnya.

Kapan Kebiasaan Berulang Perlu Mendapat Perhatian Lebih?

Tidak semua kebiasaan anak berulang membutuhkan intervensi khusus. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya menjadi perhatian Mom/Dad.

Ketika Sulit Dialihkan

Perhatikan apakah anak dapat berpindah dari aktivitas berulang menuju aktivitas lain.

Jika anak sesekali melakukan kegiatan berulang tetapi dapat berhenti ketika diajak bermain, makan, belajar, atau melakukan aktivitas lainnya, situasinya berbeda dengan perilaku yang sangat sulit dialihkan.

Ketika Mengganggu Aktivitas Sehari-hari

Kebiasaan berulang perlu diperhatikan apabila membuat anak sulit makan, tidur, belajar, bermain, berkomunikasi, atau mengikuti rutinitas sehari-hari.

Dampak terhadap fungsi sehari-hari menjadi salah satu hal penting yang dapat diamati.

Ketika Menimbulkan Cedera

Jika perilaku berulang menyebabkan anak memukul tubuh sendiri, membenturkan kepala, menggigit diri, atau melakukan tindakan yang berisiko menimbulkan cedera, Mom/Dad sebaiknya segera mencari bantuan profesional.

Keselamatan anak harus menjadi prioritas.

Ketika Disertai Kekhawatiran Perkembangan Lain

Mom/Dad juga perlu memperhatikan apakah perilaku tersebut muncul bersamaan dengan kekhawatiran lain, misalnya kemampuan komunikasi, respons terhadap interaksi sosial, permainan, kemampuan mengikuti instruksi, atau keterampilan adaptif.

Kombinasi berbagai tanda perkembangan memberikan informasi yang lebih bermakna dibandingkan hanya melihat satu kebiasaan.

Cara Mom/Dad Mengamati Kebiasaan Anak Berulang

Sebelum memberikan respons, Mom/Dad dapat melakukan observasi sederhana.

Catat Kapan Perilaku Muncul

Tuliskan waktu dan situasinya. Apakah perilaku muncul saat anak bosan, lelah, lapar, senang, berada di tempat ramai, atau menghadapi perubahan?

Catatan sederhana dapat membantu menemukan pola.

Perhatikan Pemicu

Cari tahu apa yang terjadi sebelum perilaku dimulai.

Misalnya, anak mulai mengulang gerakan ketika suasana rumah menjadi ramai. Atau anak menyusun mainan secara berulang ketika rutinitasnya berubah.

Pemicu tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai kebutuhan anak.

Perhatikan Apa yang Terjadi Setelahnya

Lihat respons lingkungan dan kondisi anak setelah melakukan kebiasaan tersebut.

Apakah anak menjadi lebih tenang? Apakah anak terlihat semakin bersemangat? Apakah anak mendapatkan perhatian? Apakah anak kemudian dapat melanjutkan aktivitas?

Informasi tersebut dapat membantu Mom/Dad memahami fungsi perilaku secara lebih objektif.

Jangan Hanya Menghitung Frekuensi

Frekuensi memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.

Mom/Dad juga perlu memperhatikan intensitas, durasi, situasi kemunculan, kemampuan anak untuk berhenti, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Cara Menghadapi Kebiasaan Anak Berulang di Rumah

Saat anak terus mengulangi kebiasaan seperti menjatuhkan benda, berbicara dengan bahasa yang sama, atau bermain permainan yang sama terus menerus, Mom/Dad harus menghadapinya dengan tepat seperti cara berikut ini.

Hindari Langsung Memarahi Anak

Respons keras dapat membuat anak semakin bingung atau frustrasi.

Daripada mengatakan, “Jangan begitu terus!”, Mom/Dad dapat menggunakan arahan yang lebih positif.

Misalnya, ketika anak terus mengetuk benda, Mom/Dad dapat mengalihkan aktivitas dengan menawarkan permainan musik atau aktivitas motorik yang sesuai.

Berikan Alternatif Aktivitas

Jika anak memiliki kebutuhan untuk bergerak, sediakan aktivitas yang memungkinkan anak bergerak dengan aman.

Misalnya bermain bola, melompat, berjalan mengikuti pola, merangkak melalui rintangan sederhana, atau melakukan permainan gerak lainnya.

Buat Rutinitas yang Fleksibel

Rutinitas dapat membantu anak merasa aman, tetapi fleksibilitas juga perlu dikenalkan secara bertahap.

Mom/Dad dapat melakukan perubahan kecil dalam rutinitas yang sudah familiar. Misalnya, mengubah urutan dua aktivitas sederhana atau memberikan pilihan antara dua kegiatan.

Tujuannya bukan memaksa anak menerima perubahan secara tiba-tiba, melainkan membantu anak belajar bahwa perubahan dapat terjadi dengan aman.

Gunakan Aktivitas Sensorik yang Terarah

Aktivitas sensorik dapat menjadi bagian dari rutinitas bermain anak. Mom/Dad dapat memberikan kesempatan untuk bermain dengan berbagai tekstur, gerakan, suara, atau aktivitas fisik yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.

Namun, kegiatan tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai cara untuk “menghilangkan” semua perilaku berulang. Tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman bermain dan belajar yang sesuai.

Berikan Pilihan

Memberikan pilihan sederhana dapat membantu anak merasa memiliki kontrol.

Contohnya, “Mau main bola dulu atau puzzle dulu?” atau “Mau bermain air atau bermain pasir?”

Pilihan tidak perlu terlalu banyak. Dua alternatif yang jelas biasanya sudah cukup untuk anak kecil.

Peran Aktivitas Sensori dalam Mendukung Perkembangan Anak

Aktivitas sensori merupakan kegiatan yang melibatkan berbagai sistem indera dan gerakan tubuh. Anak dapat memperoleh pengalaman melalui sentuhan, penglihatan, pendengaran, gerakan, keseimbangan, serta aktivitas fisik.

Kegiatan seperti bermain tekstur, merangkak, melompat, membawa benda ringan, bermain bola, atau melakukan aktivitas koordinasi dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus memberikan kesempatan anak untuk mengeksplorasi lingkungan.

Yang perlu diperhatikan, aktivitas sensori bukanlah metode yang secara otomatis menyelesaikan semua bentuk perilaku berulang. Bukti penelitian mengenai intervensi nonfarmakologis untuk perilaku repetitif pada anak dengan autisme menunjukkan adanya berbagai pendekatan yang telah diteliti, tetapi hasil penelitian masih beragam dan belum cukup untuk menyatakan satu metode sebagai solusi universal.

Karena itu, Mom/Dad dapat memandang aktivitas sensori sebagai bagian dari pengalaman perkembangan anak, bukan sebagai pengganti evaluasi profesional ketika memang terdapat kekhawatiran perkembangan.

Aktivitas yang Bisa Dicoba untuk Anak

Berikut beberapa ide aktivitas yang dapat dilakukan bersama anak.

Permainan Bola

Permainan bola dapat melibatkan koordinasi mata dan tangan, keseimbangan, gerakan tubuh, serta interaksi bersama orang lain. Mom/Dad dapat mengajak anak melempar, menangkap, menggulirkan, atau menendang bola sesuai kemampuan.

Permainan Rintangan

Buat lintasan sederhana menggunakan bantal, matras, atau benda aman lainnya. Anak dapat diminta berjalan, merangkak, melompat, atau melewati rintangan. Aktivitas ini dapat memberikan variasi gerakan dan membantu anak mengeksplorasi tubuhnya.

Bermain Tekstur

Sediakan media bermain dengan tekstur yang berbeda dan aman bagi anak.

Misalnya pasir kinetik, playdough, kain dengan tekstur berbeda, atau benda-benda dengan permukaan yang bervariasi.

Pastikan material sesuai usia dan selalu awasi anak, terutama apabila masih memiliki kebiasaan memasukkan benda ke mulut.

Permainan Meniru Gerakan

Mom/Dad dapat mengajak anak meniru gerakan sederhana seperti tepuk tangan, mengangkat tangan, berjalan seperti binatang, atau melompat. Permainan ini dapat menggabungkan gerakan, perhatian, komunikasi, dan interaksi.

Permainan Musik dan Gerak

Putar lagu anak dan ajak anak mengikuti gerakan sederhana. Ketika lagu berhenti, anak dapat diajak berhenti bergerak. Permainan semacam ini dapat menjadi pengalaman menyenangkan untuk melatih kemampuan mengikuti aturan sederhana.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Mom/Dad

Ketika menangani anak yang sering mengulang kebiasaannya, Mom/Dad harus menghindari perlakuan seperti berikut ini.

  • Memberi Label Negatif: Hindari menyebut anak “aneh”, “nakal”, atau “tidak normal” hanya karena melakukan perilaku berulang. Label negatif dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
  • Memaksa Anak Berhenti Secara Mendadak: Jika perilaku tersebut tidak berbahaya, Mom/Dad tidak selalu perlu menghentikannya secara tiba-tiba. Lebih baik pahami konteksnya dan berikan alternatif secara bertahap.
  • Membandingkan dengan Anak Lain: Setiap anak memiliki pola perkembangan yang berbeda. Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya dapat membuat Mom/Dad semakin cemas tanpa memberikan informasi yang akurat mengenai kebutuhan anak.
  • Mendiagnosis Sendiri: Informasi dari internet dapat membantu meningkatkan pemahaman, tetapi tidak dapat menggantikan evaluasi perkembangan secara langsung.

Jika Mom/Dad memiliki kekhawatiran yang menetap, konsultasikan dengan dokter anak, psikolog anak, dokter spesialis terkait, atau tenaga profesional lain yang kompeten.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Profesional?

Mom/Dad dapat mempertimbangkan konsultasi apabila kebiasaan anak berulang:

  • sangat sering dan sulit dihentikan atau dialihkan;
  • mengganggu kegiatan sehari-hari;
  • menghambat aktivitas bermain atau belajar;
  • menyebabkan cedera;
  • disertai keterlambatan atau kekhawatiran perkembangan lain;
  • membuat anak mengalami kesulitan besar ketika rutinitas berubah;
  • atau menimbulkan kekhawatiran yang terus-menerus bagi keluarga.

Konsultasi bukan berarti Mom/Dad sedang memberikan label kepada anak. Sebaliknya, konsultasi dapat membantu keluarga memahami kebutuhan anak secara lebih tepat.

Penelitian mengenai perilaku repetitif pada anak juga menekankan pentingnya melihat perilaku dari perspektif perkembangan. Sebuah tinjauan sistematis terhadap perilaku terbatas dan berulang pada anak usia dini menemukan bahwa pola perilaku tersebut dapat muncul sejak tahun-tahun awal kehidupan, tetapi karakteristik dan maknanya perlu dipahami berdasarkan perkembangan anak secara menyeluruh.

Baca juga: Echolalia pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Ajak Anak Bereksplorasi Melalui Kelas Sensori Anak

Kebiasaan anak berulang merupakan perilaku yang perlu dipahami dengan melihat konteksnya. Pengulangan dapat menjadi bagian dari proses belajar, eksplorasi, rasa nyaman, kebutuhan bergerak, maupun respons terhadap pengalaman sensorik. Karena itu, Mom/Dad tidak perlu langsung memberikan label negatif ketika melihat anak melakukan aktivitas yang sama berkali-kali.

Hal yang lebih penting adalah mengamati pola, memahami kebutuhan anak, memberikan lingkungan yang aman, serta menyediakan aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Apabila terdapat tanda yang mengkhawatirkan atau perilaku mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu Mom/Dad mendapatkan pemahaman yang lebih tepat.

Untuk memberikan pengalaman bermain dan eksplorasi yang lebih terarah, Mom/Dad juga dapat mempertimbangkan kelas sensori anak di Sparks Sports Academy. Melalui aktivitas yang dirancang untuk memberikan pengalaman gerak dan sensorik, anak dapat memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan sambil mengembangkan berbagai keterampilan sesuai tahap perkembangannya. Yuk, ajak Si Kecil mencoba aktivitas yang menyenangkan bersama Sparks Sports Academy!

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah kebiasaan anak berulang merupakan hal yang normal?

Ya, kebiasaan anak berulang dapat menjadi bagian dari perkembangan yang normal. Anak sering mengulangi aktivitas untuk belajar, memahami pola, mengeksplorasi lingkungan, atau mendapatkan rasa nyaman. Namun, Mom/Dad perlu memperhatikan apabila perilaku tersebut sangat intens, sulit dialihkan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai kekhawatiran perkembangan lainnya.

Apa saja contoh kebiasaan anak berulang?

Contohnya antara lain mengulang kata atau kalimat, menyusun mainan dengan pola yang sama, membuka dan menutup benda berulang kali, melakukan gerakan tubuh tertentu, memainkan mainan dengan cara yang sama, atau meminta rutinitas dilakukan dalam urutan tertentu.

Apakah kebiasaan anak berulang selalu menunjukkan autisme?

Tidak. Kebiasaan anak berulang tidak otomatis menunjukkan autisme. Perilaku repetitif dapat muncul pada berbagai anak dalam proses perkembangan. Jika perilaku tersebut disertai kekhawatiran lain mengenai komunikasi, interaksi sosial, kemampuan bermain, atau perkembangan anak secara keseluruhan, Mom/Dad dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian yang tepat.

Mengapa anak suka melakukan aktivitas yang sama berulang kali?

Anak dapat mengulang aktivitas karena sedang belajar, merasa nyaman dengan sesuatu yang sudah dikenalnya, menikmati pola tertentu, mencari stimulasi sensorik, atau mengekspresikan emosi. Untuk memahami penyebabnya, Mom/Dad dapat mengamati kapan perilaku muncul dan apa yang terjadi sebelum maupun sesudahnya.

Bagaimana cara menghadapi kebiasaan anak berulang?

Mom/Dad sebaiknya tidak langsung memarahi atau memberikan label negatif. Amati terlebih dahulu pemicunya, kemudian berikan alternatif aktivitas yang aman dan menarik. Rutinitas yang terstruktur, pilihan sederhana, permainan gerak, serta aktivitas sensorik juga dapat digunakan untuk memberikan pengalaman yang lebih bervariasi.

Kapan kebiasaan anak berulang perlu diperiksakan?

Mom/Dad sebaiknya mempertimbangkan konsultasi apabila perilaku sangat sering, sulit dialihkan, mengganggu makan, tidur, belajar, bermain, atau komunikasi, menyebabkan cedera, atau muncul bersama kekhawatiran perkembangan lainnya.

Apakah aktivitas sensorik dapat membantu anak dengan kebiasaan berulang?

Aktivitas sensorik dapat menjadi salah satu bentuk kegiatan bermain dan eksplorasi yang memberikan pengalaman melalui gerakan, sentuhan, keseimbangan, dan berbagai rangsangan lainnya. Namun, aktivitas sensorik bukan pengganti evaluasi profesional apabila Mom/Dad memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan anak.

Apa yang dapat dilakukan Mom/Dad di rumah?

Mom/Dad dapat menyediakan aktivitas yang bervariasi seperti bermain bola, permainan rintangan sederhana, bermain tekstur, aktivitas musik dan gerak, serta permainan meniru. Pastikan aktivitas sesuai usia, aman, dan dilakukan dengan pengawasan yang memadai.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%