Mental anak tidak hanya dipengaruhi oleh sekolah dan lingkungan luar, melainkan di rumah juga. Di rumah, cara berbicara, bersikap, dan merespon dari orang tua ke anak memiliki dampak besar ke kesehatan mental anak. Oleh karena itu, Mom/Dad wajib mengetahui dan memahami jenis-jenis gangguan mental anak serta faktor yang memengaruhinya.
Jenis-Jenis Gangguan Mental Anak
Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, gangguan mental anak bisa digambarkan dengan perubahan serius dalam belajar, berperilaku, atau menangangi emosi. Dampak dari gangguan mental ini sangat memengaruhi tumbuh kembang anak.
Berikut adalah beberapa gangguan mental pada anak:
1. Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah gangguan saraf yang terjadi pada anak yang ditandai dengan pola perilaku impulsif, kurangnya perhatian, dan hiperaktif.
Gangguan ini dapat memengaruhi anak dalam berinteraksi sosial, belajar, dan kehidupan sehari-hari.
2. Gangguan Makan
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, orang tua sering mengeluhkan anaknya sulit makan. Jika didiamkan secara terus-menerus, ini akan menimbulkan gejala gangguan makan.
Ada beberapa jenis gangguan makan yang dialami oleh bayi, balita, atau anak-anak. Mulai dari anoreksia, bulimia, binge-eating, sampai gangguan makan yang bersifat menjahuhi makanan atau avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID).
Gangguan ini akan mengakibatkan anak tidak mampu bertindak secara emosional.
3. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan atau anxiety merupakan penyakit mental anak yang serius. Menurut psikologi Iswan, anxiety pada anak awalnya seperti tantrum atau mengamuk, namun ciri yang umum adalah menghindari atau menjaga dari sumber atau penyebab yang membuat anak cemas.
Dampak dari anxiety pada anak bisa berupa kesulitan tidur dan masalah konsentrasi.
4. Depresi
Depresi juga bisa menyerang anak-anak. Hal ini ditandai dengan perasaan sedih dan kehilangan minat secara terus-menerus, sehingga mengganggu anak untuk belajar dan bersosialisasi.
Gejalanya bisa dilihat seperti sering menangis, menarik diri dari lingkungan sekitar, mengeluhkan rasa berat atau sakit pada bagian tubuh tertentu, serta sulit berkonsentrasi.
5. Autism spectrum disorder (ASD)
Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme adalah penyakit mental fisik anak yang memengaruhi fungsi otak dan saraf anak. Anak dengan ASD akan sulit memahami dan merespon emosi orang lain serta memiliki minat yang terbatas dan kepekaan sensorik yang berbeda.
6. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan mental jangka panjang yang melibatkan kekhawatiran, kenangan menakutkan, mimpi buruk, dan tingkah laku. PTSD pada anak bisa terjadi karena kekerasan fisik, kecelakaan, kehilangan orang terdekat, atau pelecehan seksual.
Gejalanya bisa ditandai dengan sering berteriak, bersembunyi, atau berkelahi. PTSD bisa membuat anak takut berhubungan dengan orang lain dan enggan untuk mengungkap emosi.
7. Obsessive-compulsive disorder (OCD)
Obsessive-compulsive disorder (OCD) adalah kondisi psikologis yang dapat membuat penderitanya melakukan sesuatu hal secara berulang agar rasa cemasnya hilang.
Contoh anak yang memiliki OCD adalah anak yang terobsesi dengan kebersihan akan secara tidak sadar akan membersihkan apa saja berkali-kali agar kecemasannya hilang.
Perilaku Orang Tua yang Menyebabkan Gangguan Mental Anak
Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Menurut Prof. Dr. Rachma Hasibuan, M.Kes., pakar pendidikan anak usia dini UNESA bahwa setiap ucapan orang tua bisa berdampak pada psikologis dan perkembangan karakter anak.
Berikut adalah beberapa kebiasaan orang tua yang berdampak pada kesehatan mental anak:
1. Membanding-bandingkan
Perilaku orang tua yang membanding-bandingkan anak dengan anak lainnya bisa meruntuhkan kepercayaan diri anak pada usaha dan kemampuannya. Mental anak bisa tertekan dan mereka akan takut melakukan sesuatu dan lama-lama akan membatasi potensinya.
2. Perilaku Abusive
Abusive bisa memicu gangguan mental pada anak. Salah satunya adalah perilaku orang tua yang abusive secara fisik, verbal, hingga finansial.
3. Selalu Menyalahkan Anak
Hal ini biasanya terjadi ketika orang tua memiliki persoalan dan melampiaskan kekesalan kepada anaknya.
4. Meremehkan Anak
Dilansir dari Integrish health, pola asuh yang kritis dan meremehkan anak dapat menurunkan harga diri anak. Pola asuh ini akan menyebabkan anak merasa cemas dan depresi.
5. Terlalu Protektif
Orang tua pastinya tidak ingin ada hal buruk terjadi pada anaknya. Dengan begitu, orang tua membatasi apa saja yang dilakukan oleh sang anak. Hal ini menyebabkan anak akan terus penasaran dan kemungkinan akan nekat mencoba hal baru.
Terlalu protektif membuat anak tidak memiliki kemampuan dalam menangani situasi dan menimbulkan kecemasan di kemudian hari.
Baca juga: 7 Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi
Kalimat Sepele tapi Berdampak pada Kesehatan Mental Anak
Kalimat sepele orang tua bisa berdampak besar pada kesehatan mental anak, jadi penting bagi orang tua untuk menghindari ucapan berikut ini
- Kalimata membandingkan: Membandingkan anak dengan yang lainnya bisa membuat anak kehilangan kepercayaan diri, minder, dan takut gagal memenuhi ekspektasi.
- Kalimat yang melabeli anak: Ucapan seperti “Kamu pemalas” dan “Kamu tidak pintar” bisa mengakibatkan anak merasa tidak berharga.
- Kalimat meremehkan: Orang tua pasti secara tidak sadar mengucapkan “Diam aja, kamu tidak ngerti apa-apa”. Hal itu akan merusak kepercayaan diri anak dan membuat anak tidak merasa cukup baik.
- Kalimat mengabaikan perasaan anak: Kalimat seperti “Ah gitu aja nangis” membuat perasaan anak terkesan tidak penting. Jika terus terjadi, anak akan merasa dianggap remeh dan lama-lama enggan mengekspresikan emosinya.
- Kalimat ancaman: Kebanyakan orang tua pasti pernah mengancam anak seperti “Mamah tinggal ya kalau bandel!”. Ancaman tersebut akan membentuk ketakutan pada anak yang akan menimbulakn rasa cemas, trauma, dan mengganggu kesehatan mental jangka panjang.
Memahami mental anak merupakan langkah penting orang tua untuk mendukung tumbuh kembang emosional dan psikologis anak secara sehat. Setiap anak memiliki mental yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan khusus oleh orang tua.
Dengan memberikan dukungan, komunikasi yang positif, serta menciptakan lingkungan rumah yang harmonis, anak akan memiliki mental yang kuat dan bisa melewati rintangan yang terjadi. Oleh karena itu, orang tua wajib mendampingi dan menjaga kesehatan mental anak sejak dini.







