-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Onlooker play adalah salah satu dari 6 tahap bermain anak berdasarkan usia yang berperan penting bagi tumbuh kembang anak. Di tahap ini, anak hanya memperhatikan temannya bermain dan terlihat sangat pasif dan tidak percaya diri. Mom/Dad tidak perlu khawatir karena ia sedang dalam fase perkembangan yang normal.
Dengan memahami konsep onlooker play, Mom/dad bisa membantu anak lebih siap menghadapi fase perkembangan sosial nantinya. Di artikel ini akan menjelaskan secara lengkap dan mudah untuk dipahami.
Apa itu Onlooker Play
Berdasarka definisi Santrock dalam jurnal penelitian UNY, onlooker play adalah tahap bermain di mana anak hanya melihat atau memperhatikan anak lain yang sedang bermain. Pada tahap ini, anak mulai memperhatikan lingkungannya dan mulai mengembangkan kemampuannya untuk memahami bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungan, namun anak belum bisa memutuskan untuk bergabung.
Anak yang berada di tahap ini akan sering melamun atau berkhayal. Isi lamunan atau khayalannya biasanya tentang perlakuan kurang adil dari orang lain.
Usia Berapa Anak Bisa Diajarkan Onlooker Play?
Onlooker play adalah tahap bermain ke-3, yaitu ketika anak berumur 2-3 tahun, tapi bisa terjadi di semua umur. Di tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Ciri-Ciri Onlooker Play
Mom/Dad bisa mengidentifikasi ciri-ciri anak yang sedang di tahap bermain onlooker play, seperti:
- Anak duduk atau berdiri di dekat anak lain yang sedang bermain, tapi tidak ikutan.
- Anak terus memantau apa yang sedang terjadi ke anak lain yang sedang bermain.
- Anak mungkin berbicara, bertanya, atau memberikan saran ke anak lain, tapi tidak lebih dari itu.
Jika Mom/Dad melihat anak menunjukan ciri di atas, kemungkinan ia sedang belajar lewat pengamatan.
Baca juga: Unoccupied Play: Orang Tua Wajib Mengenali Definisi dan 5 Manfaatnya!
Manfaat Onlooker Play pada Anak
Onlooker play adalah tahap krusial dan penting untuk membentuk kemampuan anak untuk lanjut ke tahap bermain berikutnya. Walaupun terlihat sederhana, tahap ini memiliki banyak manfaat seperti:
1. Membantu Anak Belajar
Dengan memperhatikan orang lain, anak bisa meniru tindakan positif. Tahap bermain ini dapat menstimulasi imajinasi anak berdasarkan apa yang mereka pikirkan berdasarkan hasil mengamati orang lain.
Biasanya, anak belajar hal baru dari melihat orang lain dan termotivasi untuk mencobanya.
2. Meningkatkan Kemampuan Bahasa
Anak belajar meningkatkan kemampuan berkomunikasi selama proses bermain yang berlangsung seumur hidup. Hal ini terjadi karena anak terlibat dalam aktivitas bersama Mom/Dad atau orang lain dan memahami peran masing-masing.
Pada akhirnya, anak lebih siap untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
3. Memperkuat Kemampuan Sosia dan Emosional
Di tahap bermain ini, anak akan belajar berinteraksi dengan orang lain. Anak mampu memahami body language, emosi, dan nada suara. Selain itu, tahap bermain ini membantu anak mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk permainan yang lebih kompleks.
4. Meningkatkan Percaya Diri
Anak akan menumbuhkan rasa percaya diri dengan belajar bermain dengan orang lain. Di tahap bermain ini, anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi dan berinteraksi dengan teman sebayanya.
5. Mendorong Imajinasi dan Kreatifitas
Anak yang sedang di tahap bermain ini bisa mengembangkan imajinasi mereka berdasarkan hal yang sudah diamati. Anak bisa menggunakan informasi yang didapat untuk membuat permainan yang melibatkan hal yang mereka tiru dan lihat. Ini bisa membuat mereka menjadi lebih kreatif dan mengembangkan kemampuan untuk berpikir di luar kebiasaan.
6. Meningkatkan Kemampuan Problem Solving dan Keterampilan Motorik
Pada tahap bermain ini, anak akan belajar cara problem solving dan mengatasi masalah. Anak bisa mengamati situasi dan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah daripada diberi tahu apa yang harus dilakukan. Selain itu, koordinasi mata dan tangan anak akan meningkat seiring mereka ikut di berbagai macam permainan.
7. Mengembangkan Kemampuan Fisik
Saat bermain di tahap ini, anak mulai menggerakkan tubuh mereka ke dalam permainan. Ini bisa berupa gerakan kecil dalam role play, seperti bergerak untuk mencapai tujuan permainan. Hal ini bisa membantu mengembangkan kemampuan fisik dan mendorong pertumbuhan.
Contoh Onlooker Play
Mom/Dad bisa melihat kelakuan anak yang sedang onlooker play di kehidupan sehari-hari seperti:
- Ketika di sekolah, anak biasanya hanya melihat anak yang lebih tua bermain.
- Anak akan merasa aman melihat anak lainnya bermain dari kejauhan, tapi anak mungkin melontarkan beberapa pertanyaan.
- Anak suka memperhatikan olahraga. Ini memungkinkan anak menirunya.
Cara Dukung Anak Melakukan Onlooker Play
Mom/Dad bisa mengikuti cara sederhana berikut ini untuk memaksimalkan onlooker play anak:
- Beri dukungan positif: Mom/Dad bisa memberikan pujian atau kata-kata penyemangat ketika anak sedang bermain. Ini bisa membantu anak dalam meningkatkan rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.
- Kenalkan hal baru: Mom/Dad bisa memperkenalkan hal baru ke dalam permainan. Ini memungkinkan anak untuk belajar beradaptasi dengan hal baru yang belum ia temui.
- Jadilah contoh: Jika anak ingin aktif saat bermain, Mom/Dad bisa memberinya contoh serupa dengan menunjukan rasa antusiasme dalam bermain.
- Dorong kreativitas anak: Dorong anak untuk berpikir out of the box dan mengembangkan imajinasinya. Hal ini perlahan akan menumbuhkan kreativitas anak.
- Role play: Ajak anak bermain role play untuk melatih anak menjadi bagian dari permainan atau skenario sosial yang berbeda.
- Berikan batasan: Penting untuk Mom/Dad memikirkan permainan yang susuai untuk anak. Analisis perilaku anak dan cari tahu permainan apa yang cocok dengannya.
- Jangan memaksa: Perlu diperhatikan, Mom/Dad harus menghindari kalimat seperti “Ayo ikut main dong!” secara terus-menerus. Paksaan tersebut membuat anak semakin cemas.
Onlooker play adalah tahapan bermain yang berperan dalam perkembangan sosial anak. Meski terlihat pasif, sebenarnya anak belajar banyak hal melalui pengamatan.
Memahami tahap bermain ini akan membantu Mom/Dad lebih tenang dan tidak terburu-buru menilai anak kurang percaya diri atau tidak mampu bersosialisasi. Karena pada akhirnya, proses belajar sosial anak memang dimulai dari melihat, memahami, lalu berani mencoba.






