Suatu hari, ada dua anak balita yang tidak saling mengenal duduk di lantai taman bermain dan masing-masing asyik bermain balok, tapi tidak saling berinteraksi. Anda tak perlu merasa aneh, karena mereka sedang menerapkan parallel play alias bermain secara paralel.
Key Takeaways
- Parallel play adalah jembatan antara solitary play dan assosiative play atau saat dua anak bermain bersama tapi tidak berinteraksi langsung.
- Gaya bermain anak ini biasa terjadi pada batita karena kemampuan komunikasi yang belum sempurna dan anak dalam tahapan belajar berbagi serta berinteraksi.
- Aktivitas tersebut bermanfaat sebagai media belajar observasi sosial, fondasi kecerdasan emosional, berbagi kepemilikan, dan pengembangan bahasa.
Pengertian Parallel Play
Sebelum mengulik lebih dalam tentang definisi bermain paralel, mari menelaah terlebih dulu tentang sejarahnya. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Mildred Parten Newhall pada tahun 1932 melalui penelitiannya tentang “Six Stages of Play” (Enam Tahapan Bermain).
Dalam spektrum ini, bermain paralel menjadi tahapan yang menjembatani kesenjangan penting antara bermain sendiri (solitary play) dan bermain secara asosiatif dan kooperatif. Sederhananya, ini merupakan fase anak-anak bermain secara berdampingan, bahkan menggunakan mainan serupa tapi tidak berinteraksi secara langsung.
Jadi, sebenarnya anak saling berinteraksi, hanya saja melalui tatapan mata atau gerak tubuh yang memengaruhi tindakan satu sama lain. Spektrum otak mereka saling terhubung sehingga terjadi komunikasi tidak langsung (indirect communication) yang bagi sekitarnya, terutama orang dewasa, tampak saling mengabaikan.
Kapan Tahapan Bermain Paralel Ini Terjadi?
Sejatinya, perkembangan anak bersikap individualis. Tidak ada tolak ukur yang akurat terkait pertumbuhan mereka, termasuk tahapan bermain paralel ini. Namun, parallel play paling umum terjadi pada anak usia 18–36 bulan, tepatnya pada batita yang memang kemampuan komunikasi verbalnya masih kurang.
Kondisi ini terjadi pada rentang usia tersebut karena dalam periode itulah anak mulai mengembangkan kesadaran diri yang kuat. Mereka menyadari keberadaan anak-anak lain dan tertarik mendekat, tetapi keterampilan sosial mereka, seperti negosiasi, berbagi, dan memahami perspektif orang lain, masih asing.
Menurut National Institutes of Health (NIH), pada usia 2 tahun, anak-anak bersemangat untuk bermain bersama anak-anak lain, tetapi belum sepenuhnya mengerti konsep berbagi. Oleh sebab itu, bermain paralel menjadi solusi sempurna agar anak mendapat kenyamanan sosial tanpa tekanan untuk berinteraksi.
Mengapa Bermain Paralel Sangat Krusial Bagi Pertumbuhan Anak?
Melalui tahapan bermain paralel, banyak manfaat krusial yang anak dapatkan dan menjadikannya penting dalam tumbuh kembangnya. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Menjadi Langkah Observasi Sosial
Parallel play adalah “ruang kelas” pertama anak untuk melatih keterampilan sosial. Saat bermain berdampingan, anak secara aktif mengamati. Ia belajar bagaimana cara anak lain menggunakan mainan, reaksi anak itu ketika frustrasi akibat mainannya, serta cara orang dewasa merespons.
Anak menyerap informasi tentang isyarat sosial, bahasa tubuh, dan konsekuensi dari tindakan, semuanya dari jarak yang aman. Ini akan menjadi momentum penting bagi anak untuk belajar tentang interaksi yang tepat, reaksi, dan imbal balik dalam kehidupan.
2. Fondasi Kecerdasan Emosional
Berada di dekat anak lain menghadirkan tantangan emosional. Apa yang terjadi jika anak di sebelahnya mengambil mainan yang ia inginkan? Bermain paralel mengajarkan dasar-dasar regulasi emosional dan kontrol impuls pada anak. Ia akan jadi nyaman bermain bersama tanpa rasa tertekan.
3. Persiapan Berbagi dan Bergiliran
Sebelum seorang anak dapat benar-benar “berbagi”, yang merupakan suatu konsep rumit, ia harus terlebih dahulu merasa aman atas kepemilikannya terhadap sesuatu. Parallel play memungkinkan anak menegaskan kepemilikan sambil mengamati konsep barang lain adalah milik teman bermainnya.
Ini merupakan tahapan penting sebelum anak memasuki tahap bermain asosiatif (associative play), yaitu ketika anak sudah mulai berinteraksi secara verbal dan sukarela berbagi mainan atau barang lainnya yang sebelumnya mendapat klaim kepemilikan.
4. Pengembangan Bahasa
Meskipun saat bermain tidak berinteraksi verbal secara langsung, tapi anak-anak mendengarkan dan menyerap kosakata baru, intonasi, serta struktur kalimat dari rekan bermain di dekatnya. Mereka kemudian mencoba meniru kata-kata tersebut dengan berbicara pada diri sendiri yang perlahan mengembangkan kemampuan bahasanya.
Peran Orang Tua dalam Bermain Paralel
Teknisnya, fase bermain paralel merupakan tahapan normal dalam perkembangan anak, khususnya saat berusia di bawah tiga tahun. Alih-alih panik, Anda sebagai orang tua semestinya menjadi pihak yang paling suportif melalui beberapa tindakan sederhana berikut ini.
- Jangan memaksakan anak berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya, bahkan teman sebayanya. Tindakan ini justru memantik kecemasan dan ketidakpercayaan diri pada anak.
- Sediakan ruang yang cukup bagi anak-anak bermain bersama, meskipun tanpa interaksi langsung. Tujuannya agar ruangan tidak terasa terlalu penuh dan memicu sesak napas.
- Jika memungkinkan, sediakan lebih dari satu mainan populer, misalnya dua set balok atau dua boneka, untuk mengurangi potensi konflik perebutan mainan, khususnya di area publik.
- Jadilah model dengan menunjukkan interaksi sosial dengan orang sekitar agar perlahan anak meniru dengan sukarela.
Parallel Play, Sebuah Proses Pertumbuhan yang Alami
Memahami tahapan parallel play merupakan fondasi penting bahwa anak bertumbuh kadang tidak sesuai dengan sudut pandang orang dewasa. Kondisi bermain bersama tanpa terlihat berinteraksi secara langsung nyatanya merupakan masa transisi dari “bermain sendiri” menuju “bermain asosiatif”.
Tahapan tersebut merupakan fase persiapan bagi anak untuk membangun interaksi sosial yang lebih luas dan kerja sama dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai orang tua, berikan dukungan berupa kata-kata penyemangat, perhatian, dan contoh tanpa memaksakan interaksi.
Selain itu, berikan dukungan lain dengan mendaftarkan anak ke kelas olahraga yang dirancang secara profesional dan berkurikulum di Spark Sports Academy. Aktivitas fisik akan mengarahkan anak pada pengembangan holistik terbaik untuk membangun interaksi dan kerja sama dengan lingkungan secara lebih baik.







