Reverse Cycling: Mengapa Terjadi dan Bagaimana Menghadapinya

Reverse Cycling: Mengapa Terjadi dan Bagaimana Menghadapinya

Table of Contents

Sebagai ibu bekerja, pernahkah bayi Anda mengalami reverse cycling yang bisa mengganggu aktivitas di siang hari? Jika hal ini terus Anda biarkan, maka akan berpengaruh pada pola menyusui yang umumnya lebih sering pada siang hari, tetapi terbalik di malam hari.

Mengutip Lactamo, kondisi ini seringkali membuat ibu kewalahan. Pasalnya, bayi lebih suka menyusu pada malam hari daripada siang hari. Ini adalah kondisi normal pada bayi dalam tahap perkembangannya meskipun di sisi lain ada anggapan bahwa bayi sedang memanipulasi atau orang tua sedang membangun kebiasaan buruk.

Key Takeaways

  • Reverse cycling adalah kondisi saat bayi lebih banyak menyusu di malam hari dan lebih sedikit di siang hari.
  • Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas orang tua di siang hari dan membuat mereka kelelahan sepanjang hari.
  • Namun, ini adalah kondisi normal pada tahap perkembangan bayi yang baru lahir dan bisa orang tua atasi dengan mengatur ulang jam tidur hingga jam makan bayi.

Mengapa Reverse Cycling Bisa Terjadi?

Perubahan pola menyusu ini seringkali terjadi pada bayi yang memasuki beberapa minggu pertama kehidupannya, yaitu sekitar usia 4-5 bulan. Namun, terkadang bayi mengalami hal serupa dengan tiba-tiba sering terbangun pada malam hari dalam keadaan lapar.

Pada fase ini, bayi semakin sadar dengan lingkungan dan mudah terdistraksi, sehingga lebih suka menyusu pada malam hari karena suasana lebih tenang tanpa gangguan seperti saat siang.

Pada orang tua bekerja yang sibuk, bayi mengalami penyesuaian pola menyusu secara alami sesuai kebutuhan mereka. Mereka menyusu lebih singkat di siang hari kemudian mengganti kekurangannya pada malam hari.

Ini yang membuat ibu seringkali kewalahan karena harus begadang dan waktu tidur berkurang. Apalagi siklus produksi ASI dalam sehari akan mengikuti waktu lapar bayi. Tentu, ketika ibu bekerja selama delapan jam sehari, pola menyusui juga akan mengikuti.

Selain itu, kondisi ini bisa terjadi karena bayi terbiasa tidur sambil disusui. Ini menyebabkan mereka sering terbangun setiap 2 jam dan mengharapkan disusui kembali untuk tidur.

Bisa juga karena durasi tidur si kecil lebih panjang saat siang hari, sehingga ketika malam tiba, mereka masih terjaga untuk mengejar kebutuhan susunya. Atau, mereka mengalami lonjakan pertumbuhan pesat yang membuat kebutuhan susu hariannya meningkat.

Tubuh mereka membutuhkan lebih banyak energi untuk mendukung pertumbuhan, sehingga memerlukan lebih banyak asupan. Sementara yang sering terjadi adalah adanya perubahan rutinitas, seperti pengasuh atau orang tua kembali bekerja, bayi mulai masuk daycare hingga belajar tidur mandiri.

Namun, perlu diingat bahwa seringkali penyebab reserve cycling berasal dari kombinasi beberapa faktor, bukan satu saja.

Cara Menangani Reverse Cycling pada Bayi

Anda bisa melihat ciri-ciri bayi mengalami reserve cycling ketika ada jeda waktu panjang siang hari untuk menyusu, tetapi bayi mau minum susu sedikit saja. Sedangkan saat malam hari, mereka sering bangun dan bisa didiamkan dengan disusui sampai kenyang. Jika Anda mengalami ini, jangan panik! Begini cara menanganinya.

1. Prioritaskan Menyusu pada Siang Hari 

Utamakan memberikan nutrisi cukup pada bayi saat siang hari agar mereka tidak menyusu berlebihan di malam hari. Bayi yang kebutuhannya tercukupi sepanjang hari memiliki kemungkinan kecil untuk bangun di malam hari.

Anda bisa memastikan tidak adanya distraksi selama menyusui di siang hari dan berikan asupan kalori sesuai kebutuhan. Jika Anda bekerja, susun jadwal pumping secara konsisten, yaitu setiap 2-3 jam untuk menjaga ketersediaan ASI.

Anda pun bisa mengedukasi pengasuh tentang pentingnya memberi asupan cukup untuk bayi saat mereka terjaga sebelum masuk waktu tidur malam. Kebiasaan ini harus terjadwal tidak hanya saat bayi rewel. Cara ini akan mengurangi bayi terbangun di malam hari untuk menyusu.

2. Waktu Tidur Siang Cukup

Tidur siang bisa membantu mencegah bayi terlalu lelah yang mana berpengaruh pada berkurangnya waktu makan bayi. Membiasakan bayi untuk tidur siang sangat berkontribusi pada jadwal makan sehingga mereka mendapat asupan kalori yang cukup selama terjaga.

Tidur siang juga bisa memperbaiki suasana hati si kecil agar tidak mudah rewel. Istirahat cukup di siang hari membantu menjaga berat badan mereka. Anak yang siklus tidurnya kurang cenderung mudah merasa lapar sehingga berpotensi meningkatkan risiko obesitas.

3. Pastikan Pelekatan Benar

Saat direct breastfeeding (DBF) alias menyusui langsung, pastikan pelekatan sudah tepat agar menyusu lebih efektif. Sesuaikan posisi bayi dengan memastikan dagu menempel pada payudara, mulut bayi terbuka lebar, dan sebagian besar areola bagian bawah masuk ke mulut bayi.

DBF yang benar bisa memaksimalkan pemberian ASI dan meningkatkan produksinya. Cara ini bisa membantu si kecil mendapat cukup nutrisi saat menyusu dan tidak setengah-setengah, sehingga mengurangi potensi terbangun pada malam hari.

4. Lakukan Sleep Training

Sleep training adalah mengajarkan bayi bahwa mereka memiliki jam tidur yang teratur dan konsisten. Anda bisa perlahan-lahan menghentikan pemberian susu di malam hari dan memaksimalkannya pada saat bayi terjaga di siang hari.

Cara sederhana adalah kenalkan perbedaan siang dan malam pada bayi secara konsisten. Beri pemahaman bahwa siang adalah waktu beraktivitas, sementara malam hari saatnya istirahat. Hindari terlalu lama berada di tempat gelap saat siang hari karena itu bisa membuat bayi bingung.

Atasi Reverse Cycling dengan Metode Tepat

Reverse cycling pada bayi adalah hal normal dan bisa Anda atasi dengan mengatur ulang jam makan dan jam tidurnya. Semuanya harus dilakukan secara konsisten agar kebutuhan asupan bayi tetap terjaga tanpa mengganggu istirahat Anda.

Di samping asupan nutrisi, Anda juga wajib memberikan pendidikan terbaik, salah satunya dengan melatih stimulasi sensoriknya. Sparks Sports Academy adalah solusi tepat untuk masa depan si kecil, di mana menawarkan metode pembelajaran yang dapat melatih ketujuh indera melalui aktivitas fisik. Yuk, daftar sekarang!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%