Ada banyak kondisi neurologis yang dapat dialami manusia, terlebih pada anak-anak yang dalam masa pertumbuhan. Salah satunya adalah sensory processing disorder (SPD) alias gangguan pemrosesan sensorik. Kondisi ini memiliki dampak yang cukup fatal bagi anak bila tidak segera mendapatkan penanganan (intervensi) dini.
Key Takeaways
- Sensory processing disorder adalah gangguan pemrosesan sensorik akibat sistem saraf yang kesulitan mengintegrasikan tujuh indra.
- SPD terbagi dalam 3 subtipe, yaitu gangguan modulasi sensorik, gangguan motorik berbasis sensorik, dan gangguan diskriminasi sensorik.
- Sensory processing disorder memerlukan deteksi dan intervensi dini dari terapis okupasi dan aktivitas fisik untuk melatih fokus dan konsentrasi.
Apa Itu Sensory Processing Disorder?
SPD tidak termasuk kondisi tersendiri dalam kategori diagnosis formal di Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Biasanya, kemunculan SPD bersamaan dengan kondisi gangguan perkembangan lain, seperti gangguan spektrum autisme (ASD) dan gangguan pemusatan perhatian (ADHD).
Terapis okupasi, Dr. A. Jean Ayres, yang pertama kali mengembangkan dan menyebutnya “disfungsi integrasi sensorik”. Secara sederhana, SPD terjadi ketika sistem saraf kesulitan mengintegrasikan tujuh indra, termasuk indra vestibular (keseimbangan dan gerakan) dan indra proprioseptif (kesadaran posisi dan gerakan tubuh).
Ketika informasi dari ketujuh indra tidak terorganisir, otak tidak mampu memberi respons yang sesuai. Inilah yang kemudian menjadi diagnosis gangguan pemrosesan sensorik. Contoh sederhananya adalah sentuhan lembut dari label pakaian bisa terasa seperti goresan tajam yang menyakitkan bagi penderitanya.
Klasifikasi Subtipe SPD
Dalam artikel yang di publish oleh Medicinenet, Sensory processing disorder sendiri terbagi dalam tiga subtipe utama yang masing-masing memiliki pola perilaku yang berbeda. Berikut ini penjelasannya.
1. Gangguan Modulasi Sensorik (Sensory Modulation Disorder)
Sensory modulation disorder adalah masalah dalam mengatur intensitas dan sifat respons terhadap input sensorik. Gangguan ini kemudian dikelompokkan kembali menjadi beberapa jenis berikut.
- Sensory Over-Responsivity (Hipersensitif): Anak bereaksi terlalu cepat, intens, dan panjang terhadap rangsangan. Contohnya: menghindari keramaian, takut akan perubahan yang tidak terduga, atau memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap tekstur kain.
- Sensory Under-Responsivity (Hiposensitif): Mereka tampak kurang tanggap atau lambat merespons rangsangan. Contohnya: tidak merespons ketika seseorang memanggil namanya dan tampak selalu lesu.
- Sensory Seeking: Individu terkait mencari rangsangan sensorik secara intens dan terus-menerus. Contohnya: sangat menyukai permainan yang melibatkan banyak gerakan seperti berputar dan melompat, atau memiliki dorongan untuk selalu menyentuh objek.
2. Gangguan Motorik Berbasis Sensorik (Sensory-Based Motor Disorder)
Sensory-based motor disorder merupakan kesulitan terhadap keterampilan motorik, keseimbangan, atau perencanaan gerak sebagai respons terhadap tuntutan sensorik. Ciri khasnya adalah anak tampak ceroboh dengan sering terjatuh atau memiliki keterampilan koordinasi tubuh dan komunikasi sosial yang buruk.
3. Gangguan Diskriminasi Sensorik (Sensory Discrimination Disorder)
Kesulitan dalam membedakan persamaan dan perbedaan antara sensasi. Contohnya, kesulitan menentukan dari mana suara berasal atau kesulitan memegang pensil dengan kekuatan yang tepat. Hal ini mengakibatkan anak tampak kebingungan sepanjang waktu, baik dalam beraktivitas maupun merespon.
Masing-masing sub-tipe SPD merupakan ciri-ciri yang biasa tenaga profesional temukan pada pengidap ASD dan ADHD. Oleh sebab itu, SPD jarang dapat terdiagnosis sejak awal, kecuali anak menunjukkan tanda-tanda kedua gangguan tersebut. Lantas, sebenarnya apa pemicu sensory processing disorder pada anak?
Faktor Pemicu dan Dampak Pengidap SPD
Para ahli belum menemukan penyebab pastinya, tapi ada dugaan kuat bahwa kondisi ini melibatkan faktor genetik, seperti adanya keluarga dengan riwayat gangguan perkembangan dan faktor biologis misalnya komplikasi selama kehamilan.
Komplikasi tersebut umumnya dipicu oleh ibu yang stres selama periode mengandung. Kondisi berkepanjangan tersebut memengaruhi perkembangan otak janin, termasuk bagian yang bertanggung jawab untuk memproses informasi sensorik, sehingga SPD tidak dapat terhindarkan setelah kelahiran.
Dampak SPD meluas hingga ke setiap aspek kehidupan, mulai dari kesulitan akademik akibat tidak mampu fokus dan duduk diam, kemampuan bersosialisasi yang buruk, hingga gangguan keterampilan motorik. Kondisi ini tentunya menimbulkan tantangan besar bagi orang tua dan lingkungan terdekat.
Ironisnya, anak-anak yang menunjukkan gejala SPD acap kali mendapatkan label “bodoh” akibat kurang mampu mengikuti instruksi, materi pembelajaran, dan sejenisnya. Padahal, secara teknis, mereka bisa kembali pulih jika kondisi terdeteksi sejak dini dan lekas mendapatkan penanganan medis.
Pentingnya Intervensi Dini Sensory Processing Disorder
Tentu saja, deteksi dini dan penanganan cepat terhadap SPD sangat penting. Penanganan utama untuk kasus tersebut adalah Terapi Sensori Integrasi oleh terapis okupasi. Terapi ini melibatkan aktivitas menyenangkan untuk membantu anak memproses dan merespons informasi sensorik secara lebih efektif.
Selain itu, aktivitas yang kaya akan gerakan, tekanan yang menahan otot, dan aktivitas motorik dapat membantu menenangkan dan mengorganisir sistem saraf. Kegiatan seperti seni bela diri, senam, dan olahraga tim seperti sepak bola sangat bermanfaat karena memberikan input sensorik yang intens.
Supaya tujuan penanganan melalui aktivitas fisik tercapai secara akurat, Anda bisa mendaftarkan si kecil ke kelas sensori di Spark Sports Academy. Ada kelas balet, basket, gymnastic, hingga taekwondo yang sangat baik untuk stimulasi SPD pada anak.
Pendampingan dari pelatih profesional dan berpengalaman bukan satu-satunya jaminan. SSA juga memiliki kurikulum khusus sebagai bukti bahwa kebutuhan konsumen menjadi prioritas utama. Anak dapat bergabung sejak usia 12 bulan dan Anda bisa memantau perkembangannya secara langsung.







