Anak-anak yang lahir di rentang tahun 2010 hingga 2025 dikenal sebagai Generasi Alpha. Mereka adalah generasi yang sejak lahir sudah hidup berdampingan dengan layar, internet, dan teknologi yang terus berkembang. Tanpa disadari, anak kita tumbuh di dunia yang sangat berbeda dengan masa kecil mom-dad dulu.
Dulu, bermain berarti berlari di halaman, naik sepeda, atau bermain petak umpet sampai lupa waktu. Sekarang, bermain sering kali berarti layar sentuh, video pendek, dan konten digital yang selalu tersedia.
Perubahan ini memengaruhi cara anak bermain, belajar, bahkan bersosialisasi sejak usia sangat dini.
Mengenal Gen Alpha
Gen Alpha adalah generasi anak yang lahir mulai tahun 2010 hingga 2025. Mereka merupakan generasi pertama yang benar-benar lahir dan tumbuh di era digital sejak bayi. Smartphone, internet, dan teknologi pintar bukan hal baru bagi mereka, melainkan bagian dari keseharian.
Bagi anak Gen Alpha, melihat orang tua bekerja dengan laptop atau berkomunikasi lewat ponsel adalah hal yang normal. Teknologi menjadi alat bantu belajar, hiburan, sekaligus teman sehari-hari.
Karena itu, pola asuh untuk Gen Alpha tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan generasi sebelumnya.
Ciri-ciri Anak Gen Alpha
Mengasuh anak Gen Alpha sering menghadirkan perasaan campur aduk. Di satu sisi, mereka terlihat cepat menangkap hal baru. Di sisi lain, ada tantangan emosional yang sering membuat orang tua merasa lelah dan bingung.
Banyak mom-dad merasakan bahwa anak zaman sekarang lebih mudah bosan, lebih sensitif, dan lebih sulit lepas dari kebiasaan tertentu. Beberapa ciri yang sering dirasakan orang tua saat membersamai anak Gen Alpha usia 1-7 tahun antara lain:
- Tidak bisa lepas dari gadget dan konten visual
- Gampang bosan jika aktivitas kurang variatif
- Lebih ekspresif secara emosional
- Sulit fokus dalam waktu lama
- Cenderung nyaman bermain sendiri
- Butuh stimulasi yang konsisten agar mau bergerak
Ciri-ciri ini bukan tanda anak “bermasalah”, tetapi sinyal bahwa lingkungan tumbuhnya sangat berbeda.
Kesulitan Membesarkan Gen Alpha
Mom-dad, membesarkan anak terkadang bisa menjadi tantangan yang besar. Kita harus memperhatikan perilaku hingga respon dari anak ketika dihadapkan pada suatu hal. Berikut ini rangkuman kesulitan apa saja yang sering dirasakan oleh mom-dad di luar sana.
1. Ketergantungan pada Gadget
Gadget sering menjadi solusi instan saat anak rewel atau bosan. Namun jika terlalu sering, anak bisa kesulitan mengatur emosi tanpa layar. Pada usia dini, hal ini dapat mengurangi kesempatan anak berlatih regulasi diri secara alami.
2. Tantrum yang Lebih Intens
Banyak orang tua merasa tantrum anak Gen Alpha terasa lebih kuat dan sulit diredam. Anak cepat frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi. Hal ini sering berkaitan dengan minimnya kesempatan anak belajar menunggu dan mengelola emosi.
3. Separation Anxiety
Tidak sedikit anak usia 1-7 tahun yang sulit berpisah dengan orang tua. Anak menjadi cemas saat harus berada di lingkungan baru. Kondisi ini wajar, namun perlu dibantu dengan stimulasi sosial yang aman dan bertahap.
4. Sosialisasi yang Minim
Anak yang lebih sering bermain sendiri atau dengan layar memiliki lebih sedikit pengalaman sosial langsung. Akibatnya, kemampuan berbagi, menunggu giliran, dan berinteraksi belum terlatih optimal.
5. Kurangnya Aktivitas Fisik
Banyak anak Gen Alpha bergerak jauh lebih sedikit dibanding generasi sebelumnya. Padahal, gerak aktif sangat penting untuk perkembangan motorik, kepercayaan diri, dan keseimbangan emosi.
Baca: 6 Cara Mendidik Anak di Era Digital yang Tepat bagi Orang Tua
Mengapa Olahraga Penting untuk Gen Alpha
Aktivitas fisik menjadi salah satu kebutuhan utama anak Gen Alpha, bukan sekadar pelengkap. Gerakan seperti berlari, melompat, dan bermain bersama membantu anak menyalurkan energi sekaligus menstabilkan emosi. Melalui aktivitas fisik, anak belajar mengenal tubuhnya, mengatur napas, dan membangun rasa percaya diri.
Olahraga terstruktur juga membantu menjawab tantangan separation anxiety dan minimnya sosialisasi anak dengan teman-teman sebayanya. Anak belajar berada di lingkungan baru, mengikuti instruksi, dan berinteraksi dengan teman sebaya secara alami.
Mom-dad bisa ikutkan anaknya ke kelas olahraga khusus untuk anak. Contohnya seperti kelas Multi Sport di Sparks Sports Academy yang dirancang untuk anak usia 1-7 tahun agar bisa bergerak aktif, bersosialisasi, dan tumbuh percaya diri melalui berbagai aktivitas fisik yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangan.

Menemani Gen Alpha dengan Lebih Sadar
Membesarkan Gen Alpha bukan tentang melawan teknologi, tetapi tentang menyeimbangkan. Anak tetap boleh mengenal dunia digital, namun juga perlu ruang untuk bergerak, bermain, dan berinteraksi secara nyata. Peran orang tua adalah menghadirkan lingkungan yang membantu anak tumbuh sehat secara fisik dan emosional.
Dengan memberi anak kesempatan bergerak dan bersosialisasi sejak dini, kita sedang menyiapkan fondasi penting untuk masa depannya. Karena di dunia yang serba cepat ini, anak tidak hanya perlu pintar, tapi juga kuat, percaya diri, dan mampu beradaptasi.






