Menjadi orang tua merupakan pengalaman yang membahagiakan, tetapi juga penuh tantangan. Salah satunya adalah kabut emosional yang akrab disebut baby blues. Meskipun kasus ini cukup sering terjadi, faktanya banyak ibu baru yang masih awam dengan penyebab baby blues, apalagi cara pencegahannya.
Key Takeaways
- Baby blues biasanya terjadi pada 2-3 hari pasca melahirkan dan berlangsung hingga dua pekan, serta dapat pulih sendiri.
- Penyebab baby blues adalah terjadinya perubahan hormon ibu secara drastis, kelelahan fisik pada ibu, dan tekanan emosional-sosial dari lingkungan.
- Baby blues dapat dicegah melalui dukungan proaktif dari orang-orang terdekat sehingga ibu memiliki waktu untuk diri sendiri.
Memahami Label Kabut Emosional “Baby Blues”
Menyadur jurnal National Institutes of Health (NIH), baby blues merupakan kondisi gangguan suasana hati ringan pada ibu pasca melahirkan. Kondisi ini sering terjadi dengan persentase kasus sekitar 70-80% di seluruh dunia. Biasanya, gejala awal akan muncul dalam 2-3 hari setelah melahirkan.
Namun, periodenya tidak berlangsung terlalu lama, biasanya hanya sampai dua minggu. Gejalanya meliputi perubahan suasana hati yang cepat, menangis tanpa alasan yang jelas, susah tidur, hingga perasaan tidak mampu merawat bayi dengan baik. Namun, gangguan tersebut dapat hilang dengan sendirinya.
Penyebab Baby Blues secara Umum
Secara umum, kondisi baby blues dapat terjadi akibat tiga faktor utama, yaitu hormonal, fisik, dan emosional-sosial. Berikut ini penjelasannya.
1. Faktor Hormonal: Pemicu Utama di Balik Layar
Salah satu pemicu baby blues yang paling mendasar adalah perubahan biologis (hormonal). Selama kehamilan, kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat tajam untuk mendukung janin. Namun, sesaat setelah bayi lahir, kadar hormon ini merosot kembali ke tingkat semula, dalam waktu kurang dari 24 jam.
Menurut EMC Healthcare, penurunan hormon yang tiba-tiba ini dapat menyebabkan perubahan kimiawi di otak yang memicu fluktuasi suasana hati. Selain itu, hormon yang diproduksi oleh kelenjar tiroid juga bisa menurun drastis, yang mengakibatkan perasaan lelah, lesu, dan stres.
2. Faktor Fisik: Kelelahan dan Kurang Tidur
Penyebab baby blues berikutnya adalah faktor fisik ibu yang kelelahan dan kurang tidur ketika mengurus newborn baby. Ibu masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan luar, sehingga cenderung mudah terbangun dan menangis, hingga siklus tidur ibu menjadi berantakan.
Kurang tidur kronis ini lantas menjadi kontributor signifikan bagi kondisi emosional ibu. Cleveland Clinic menekankan bahwa kelelahan ekstrem pada ibu akibat siklus menyusui dan merawat bayi malam hari menghambat kemampuan otak untuk meregulasi emosi. Ambang toleransi terhadap stres juga menjadi sangat rendah.
3. Faktor Emosional-Sosial: Transisi Psikologis dan Tekanan Lingkungan
Faktor psikologis juga memegang peran penting dalam memicu baby blues. Transisi dari individu yang mandiri menjadi seseorang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas nyawa manusia lain adalah perubahan identitas yang besar. Banyak ibu bahkan terlalu mencemaskan tentang menjadi orang tua sempurna.
Di era media sosial, tekanan untuk terlihat bahagia dan segera kembali ke bentuk tubuh semula setelah melahirkan seringkali memperburuk keadaan. Perasaan tidak mampu memenuhi standar yang tidak realistis ini dapat memicu kecemasan dan mengakibatkan ketidakstabilan emosional ibu.
Dampak Baby Blues pada Tumbuh Kembang Anak dan Cara Mencegahnya
Meskipun baby blues bersifat sementara—bahkan singkat dan bisa pulih sendiri—tidak sepatutnya Anda anggap sepele. Sebab, kondisi emosional orang tua memiliki korelasi langsung dengan suasana di rumah. Anak-anak, terutama saat berusia balita, sangat peka terhadap energi dan emosi orang tuanya.
Kesejahteraan mental ibu dan ayah adalah fondasi bagi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Ketika orang tua mampu mengelola stres dan pulih dari masa-masa sulit pasca melahirkan, mereka akan lebih mampu memberikan stimulasi yang tepat bagi anak.
Selain itu, menganggap sepele penyebab baby blues di atas rentan berujung pada stres tingkat lanjut yang memicu depresi. Sehingga, penanganan tepat dan cepat tetap ibu baru butuhkan. Ada banyak cara untuk mencegahnya, di antaranya adalah sebagai berikut.
- Mendapat dukungan dari orang-orang sekitar yang menguatkan sisi emosional, membuat ibu baru merasa tetap berharga meskipun telah melahirkan.
- Meminta kerja sama orang terdekat untuk membagi waktu pengasuhan dan memberi ibu kesempatan me time agar tidak tertekan oleh rutinitas yang berfokus pada mengurus bayi.
- Memastikan konsumsi makanan bergizi dan membangkitkan hormon endorfin; “si pembawa kebahagiaan” untuk meminimalisir perasaan serta pikiran negatif.
Jangan ragu pula untuk bergabung dengan komunitas orang tua, terutama ibu baru yang sarat diskusi dan aktivitas positif tentang periode pasca melahirkan. Memiliki teman bertukar pikiran dan melakukan aktivitas-aktivitas di luar mengasuh anak sangat efektif untuk meminimalisir baby blues.
Tidak Semestinya Abai Terhadap Baby Blues
Secara umum, penyebab baby blues adalah perubahan hormon yang drastis, kelelahan fisik, serta tekanan emosional dan lingkungan (sosial) yang menciptakan perubahan stres dan perubahan suasana hati seorang ibu. Namun, kondisi tersebut dapat dicegah melalui dukungan proaktif terhadap sang ibu.
Di sisi lain, meskipun baby blues dapat pulih dengan sendiri, bukan berarti tak masalah mengabaikan kesehatan mental ibu. Menghilangkan ruang bernapas ibu dengan tuntutan 24 jam bersama anak memang tidak akan memicu baby blues, tetapi lebih parah, yaitu postpartum depression.
Ibu memiliki hak untuk tetap menjadi diri mereka sendiri dan waktu “me time”. Namun, supaya anak tetap terjaga dengan baik selama sang ibu “mengistirahatkan diri”, sebaiknya mendaftarkan di kelas pendidikan non-formal yang memberikan arahan aktivitas yang bermanfaat.
Sparks Sports Academy merupakan pilihan tepat untuk tujuan tersebut. Si kecil bebas bergabung dengan kelas olahraga sesuai minat dan mendapatkan pelatihan langsung oleh instruktur profesional, serta kurikulum berstandar internasional. Anak akan melakukan aktivitas olahraga sementara ibu dapat menikmati waktu berkualitasnya.







