Author: Tim Sparks Sports Academy
Mendidik anak bukanlah tugas yang mudah. Setiap Mom/Dad tentu ingin memberikan kasih sayang, perlindungan, dan kebahagiaan terbaik bagi buah hati. Namun, dalam prosesnya, orang tua terkadang dapat memberikan kebebasan terlalu besar tanpa disertai aturan dan batasan yang jelas. Pola pengasuhan seperti ini dikenal sebagai pola asuh permisif.
Pada dasarnya, memberikan kebebasan kepada anak bukanlah hal yang salah. Anak memang perlu memiliki ruang untuk bereksplorasi, mengambil keputusan, dan mengembangkan kepercayaan diri. Namun, kebebasan yang tidak diimbangi dengan bimbingan dapat membuat anak kesulitan memahami aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi dari perilakunya.
Oleh karena itu, Mom/Dad perlu memahami apa itu pola asuh permisif, ciri-cirinya, dampaknya terhadap perkembangan anak, serta cara menghindarinya. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat membangun pola pengasuhan yang hangat sekaligus tetap memberikan struktur yang dibutuhkan anak.
Apa Itu Pola Asuh Permisif?
Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan ketika orang tua memberikan kebebasan yang sangat luas kepada anak dan cenderung memiliki sedikit aturan, batasan, atau tuntutan. Dalam pola asuh ini, orang tua biasanya sangat hangat, penuh kasih sayang, dan responsif terhadap keinginan anak, tetapi kurang konsisten dalam menerapkan disiplin.
Orang tua dengan pola asuh permisif sering kali menghindari konflik dengan anak. Ketika anak menangis, marah, atau meminta sesuatu, orang tua dapat langsung mengabulkan keinginannya agar situasi kembali tenang. Pada beberapa kondisi, Mom/Dad juga mungkin merasa tidak tega memberikan aturan karena khawatir anak merasa sedih atau kecewa.
Padahal, anak membutuhkan lebih dari sekadar kasih sayang. Anak juga perlu belajar bahwa kehidupan memiliki aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi. Menurut UNICEF, pola pengasuhan yang positif tetap membutuhkan batasan yang jelas, komunikasi yang hangat, serta disiplin yang dilakukan dengan tenang dan tanpa kekerasan.
Ciri-Ciri Pola Asuh Permisif yang Perlu Mom/Dad Kenali
Setiap keluarga memiliki cara mendidik yang berbeda. Namun, beberapa ciri berikut dapat menjadi tanda bahwa orang tua cenderung menerapkan pola asuh permisif.
1. Anak Memiliki Terlalu Banyak Kebebasan
Anak diberikan kebebasan untuk menentukan hampir semua hal tanpa bimbingan yang memadai. Misalnya, anak bebas menentukan waktu tidur, waktu bermain, penggunaan gawai, atau makanan yang dikonsumsi tanpa aturan yang jelas.
Kebebasan memang penting untuk melatih kemandirian. Namun, anak tetap membutuhkan pendampingan sesuai usia dan tahap perkembangannya.
2. Orang Tua Jarang Memberikan Aturan
Ciri lain dari pola asuh permisif adalah minimnya aturan di rumah. Anak mungkin tidak memiliki jadwal rutin untuk tidur, makan, belajar, bermain, maupun menyelesaikan tanggung jawab sederhana.
Tanpa rutinitas, anak dapat kesulitan memahami batasan dan mengatur dirinya sendiri.
3. Keinginan Anak Sering Selalu Dituruti
Mom/Dad mungkin sering membelikan mainan, makanan, atau barang yang diinginkan anak meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan. Hal ini biasanya dilakukan karena ingin membuat anak bahagia atau menghindari rengekan.
Jika dilakukan terus-menerus, anak dapat menganggap bahwa semua keinginannya harus dipenuhi.
4. Orang Tua Menghindari Konflik
Ketika anak marah atau menangis, orang tua langsung mengalah agar suasana tidak semakin sulit. Misalnya, anak menolak tidur, tetapi akhirnya diperbolehkan bermain lebih lama karena orang tua tidak ingin menghadapi tantrum.
Sesekali mengalah bukan masalah. Namun, jika menjadi kebiasaan, anak dapat belajar bahwa menangis atau marah adalah cara efektif untuk mendapatkan keinginannya.
5. Konsekuensi Tidak Diterapkan Secara Konsisten
Orang tua mungkin sudah membuat aturan, tetapi tidak selalu menerapkannya. Hari ini anak dilarang bermain gawai sebelum tidur, tetapi keesokan harinya aturan tersebut diabaikan.
Ketidakkonsistenan dapat membuat anak bingung mengenai aturan yang sebenarnya berlaku.
Mengapa Orang Tua Menerapkan Pola Asuh Permisif?
Pola asuh permisif tidak selalu muncul karena orang tua tidak peduli. Justru, banyak Mom/Dad yang menerapkannya karena terlalu menyayangi anak.
Beberapa alasan yang umum terjadi antara lain:
- Tidak ingin anak merasa kecewa.
- Takut dianggap sebagai orang tua yang terlalu keras.
- Memiliki pengalaman masa kecil yang penuh aturan sehingga ingin memberikan kebebasan kepada anak.
- Merasa bersalah karena jarang menghabiskan waktu bersama anak.
- Menghindari konflik atau tantrum.
- Menganggap memenuhi semua keinginan anak sebagai bentuk kasih sayang.
- Merasa lelah sehingga sulit konsisten menerapkan aturan.
Memahami alasan di balik pola pengasuhan penting dilakukan tanpa menyalahkan diri sendiri. Tidak ada orang tua yang sempurna. Hal terpenting adalah kesediaan untuk mengevaluasi cara pengasuhan dan melakukan perubahan secara bertahap.
Baca juga: Panduan Perbedaan Gentle Parenting vs Permissive Parenting
Dampak Pola Asuh Permisif terhadap Anak
Pola asuh permisif dapat memberikan beberapa dampak terhadap perkembangan anak apabila diterapkan secara berlebihan dan dalam jangka panjang.
1. Anak Kesulitan Mengikuti Aturan
Anak yang terbiasa mendapatkan kebebasan tanpa batas dapat merasa tidak nyaman ketika harus mengikuti aturan di sekolah, tempat umum, atau lingkungan sosial. Aturan yang sebenarnya sederhana, seperti menunggu giliran atau merapikan mainan, dapat terasa sulit karena anak tidak terbiasa memiliki tanggung jawab.
2. Kurang Mampu Mengendalikan Diri
Pengendalian diri merupakan kemampuan yang perlu dilatih sejak dini. Anak perlu belajar menunda keinginan, mengelola emosi, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat diperoleh dengan segera. Jika setiap keinginan selalu dituruti, anak mungkin lebih sulit mengelola rasa kecewa dan frustrasi.
3. Cenderung Kurang Bertanggung Jawab
Ketika orang tua selalu membantu atau menyelesaikan masalah anak, anak dapat kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab.
Contohnya, orang tua selalu merapikan mainan, mengerjakan tugas anak, atau meminta maaf atas kesalahan anak. Padahal, tanggung jawab sederhana sesuai usia dapat membantu membangun kemandirian.
4. Sulit Menerima Penolakan
Anak yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan dapat mengalami kesulitan ketika menerima kata “tidak”. Penolakan merupakan bagian dari kehidupan. Anak perlu belajar bahwa keinginan tidak selalu dapat dipenuhi, tetapi perasaan kecewa tetap dapat dikelola dengan cara yang sehat.
5. Kurang Memahami Konsekuensi
Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Jika anak menumpahkan minuman, misalnya, ia dapat belajar untuk membersihkan tumpahan tersebut. Jika anak selalu dibantu dan tidak pernah menghadapi konsekuensi yang wajar, kesempatan belajar tersebut dapat berkurang.
Perbedaan Pola Asuh Permisif dan Pola Asuh Positif
Banyak orang tua terkadang keliru menganggap bahwa pola asuh positif berarti membebaskan anak melakukan apa saja. Padahal, keduanya berbeda.
Pola asuh permisif cenderung memberikan kebebasan tanpa batasan yang jelas. Sementara itu, pola asuh positif berusaha menyeimbangkan kasih sayang dengan aturan dan bimbingan.
Contohnya:
Pola asuh permisif:
“Kalau kamu tidak mau merapikan mainan, tidak apa-apa. Mom/Dad saja yang membereskan.”
Pola asuh positif:
“Mom/Dad tahu kamu masih ingin bermain, tetapi sekarang waktunya merapikan mainan. Kita bisa membereskannya bersama.”
Dalam pendekatan positif, anak tetap didengarkan dan dihargai, tetapi batasan tetap ada. UNICEF juga menekankan bahwa anak membutuhkan rasa aman, kasih sayang, komunikasi terbuka, serta batasan yang jelas agar dapat berkembang dengan baik.
Cara Menghindari Pola Asuh APermisif
Mengubah pola pengasuhan tidak harus dilakukan secara drastis. Mom/Dad dapat memulainya dengan beberapa langkah sederhana berikut.
1. Buat Aturan yang Sederhana dan Jelas
Anak membutuhkan aturan yang mudah dipahami. Hindari membuat terlalu banyak peraturan sekaligus.
Contohnya:
- Merapikan mainan setelah bermain.
- Mencuci tangan sebelum makan.
- Menggunakan gawai sesuai waktu yang telah disepakati.
- Tidur pada waktu yang telah ditentukan.
- Menghormati anggota keluarga.
Pastikan aturan tersebut sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
2. Konsisten dalam Menerapkan Batasan
Konsistensi merupakan kunci penting dalam mendidik anak. Jika suatu aturan sudah disepakati, Mom/Dad perlu berusaha menerapkannya secara konsisten.
Apabila anak terus meminta tambahan waktu bermain, Mom/Dad dapat tetap tenang dan mengingatkan aturan yang sudah dibuat.
3. Belajar Mengatakan “Tidak”
Mengatakan “tidak” bukan berarti Mom/Dad tidak menyayangi anak. Justru, batasan yang sehat dapat membantu anak memahami bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi.
Sampaikan penolakan dengan tenang dan berikan penjelasan yang sesuai usia anak.
4. Berikan Konsekuensi yang Logis
Konsekuensi berbeda dengan hukuman yang menakutkan atau menyakiti anak. Konsekuensi yang logis membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya.
Misalnya, jika anak sengaja menumpahkan mainan dari kotak dan tidak mau membereskannya, waktu bermain dapat dihentikan sementara sampai anak menyelesaikan tanggung jawabnya.
5. Berikan Pilihan yang Terbatas
Memberikan pilihan dapat membantu anak belajar mengambil keputusan tanpa membuatnya merasa bebas tanpa batas.
Contohnya:
“Mom/Dad akan membatasi pilihan. Kamu mau memakai baju biru atau baju kuning?”
Anak tetap memiliki kesempatan memilih, tetapi pilihan tersebut masih berada dalam batas yang aman dan sesuai kebutuhan.
6. Berikan Pujian pada Perilaku Positif
Jangan hanya memperhatikan anak ketika melakukan kesalahan. Berikan apresiasi ketika anak menunjukkan perilaku baik.
Contohnya:
“Mom/Dad senang melihat kamu mau merapikan mainan sendiri.”
Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku apa yang sebaiknya diulangi.
7. Ajarkan Anak Mengelola Kekecewaan
Anak tidak perlu selalu dilindungi dari rasa kecewa. Mom/Dad dapat mendampingi anak ketika menghadapi kekecewaan sambil membantu mereka mengenali perasaannya.
Misalnya:
“Mom/Dad tahu kamu kecewa karena belum bisa membeli mainan itu. Tidak apa-apa merasa sedih. Sekarang kita bisa membicarakan pilihan lainnya.”
Dengan cara ini, anak belajar bahwa perasaan tidak nyaman dapat dihadapi tanpa harus mendapatkan semua keinginannya.
8. Berikan Tanggung Jawab Sesuai Usia
Kemandirian dapat dilatih melalui kegiatan sehari-hari. Anak dapat diberikan tanggung jawab sederhana seperti menyimpan sepatu, merapikan mainan, membawa piring ke tempat cuci, atau memilih pakaian sendiri.
Tanggung jawab kecil yang dilakukan secara rutin dapat membantu membangun rasa percaya diri dan disiplin.
Apakah Pola Asuh Permisif Selalu Buruk?
Penting untuk dipahami bahwa tidak ada orang tua yang selalu menerapkan satu gaya pengasuhan secara sempurna. Dalam situasi tertentu, Mom/Dad mungkin memberikan kelonggaran karena anak sedang sakit, lelah, atau menghadapi kondisi khusus.
Masalah biasanya muncul ketika kebebasan diberikan secara berlebihan dan tidak disertai aturan, batasan, maupun tanggung jawab.
Kasih sayang tetap menjadi bagian penting dalam pengasuhan. Namun, kasih sayang yang sehat tidak selalu berarti memenuhi semua keinginan anak. Terkadang, bentuk kasih sayang terbaik adalah membantu anak belajar menghadapi penolakan, menunggu, bertanggung jawab, dan memahami konsekuensi.
Pentingnya Aktivitas Terarah untuk Mendukung Perkembangan Anak
Selain melalui pengasuhan di rumah, anak juga membutuhkan kesempatan untuk belajar melalui aktivitas yang terarah. Kegiatan fisik dapat membantu anak mengembangkan koordinasi tubuh, keseimbangan, keberanian, disiplin, dan kemampuan mengikuti instruksi.
Aktivitas seperti senam dapat menjadi sarana menyenangkan untuk melatih anak mengikuti arahan, menunggu giliran, berlatih secara rutin, dan menyelesaikan tantangan secara bertahap. Hal ini juga dapat membantu Mom/Dad membangun kebiasaan positif tanpa menerapkan pola asuh yang terlalu membebaskan atau terlalu menekan.
Baca juga: Kenali Jenis-Jenis Pola Asuh Anak Usia Dini dan Cara Menerapkannya
Yuk, Dukung Tumbuh Kembang Anak Bersama Sparks Sports Academy
Menerapkan pola asuh yang seimbang membutuhkan proses. Anak membutuhkan kasih sayang, kebebasan untuk bereksplorasi, tetapi juga batasan dan arahan yang jelas. Dengan pendampingan yang tepat, Mom/Dad dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu mengelola emosinya.
Salah satu cara menyenangkan untuk mendukung perkembangan anak adalah melalui les gymnastic anak di Sparks Sports Academy. Melalui aktivitas senam yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak, si kecil dapat belajar bergerak, menjaga keseimbangan, mengikuti instruksi, membangun keberanian, serta mengembangkan berbagai keterampilan motorik dalam suasana yang menyenangkan.
Yuk, Mom/Dad, dukung proses tumbuh kembang si kecil dengan kegiatan yang positif dan terarah bersama Sparks Sports Academy. Daftarkan anak untuk mengikuti les gymnastic anak dan bantu mereka tumbuh aktif, percaya diri, serta semakin mandiri!







