Author: Reza Rachmad Sidi
Setiap anak memiliki emosi yang perlu dipahami dan diarahkan. Rasa marah, kecewa, sedih, takut, cemas, hingga gembira merupakan bagian normal dari perkembangan anak. Namun, kemampuan untuk mengenali, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat tidak selalu muncul dengan sendirinya. Anak membutuhkan pendampingan dari orang tua dan lingkungan agar secara bertahap mampu mengelola perasaannya.
Bagi Mom/Dad yang melihat anak mudah menangis, sering marah, berteriak ketika keinginannya tidak terpenuhi, atau kesulitan menenangkan diri, kondisi tersebut tidak selalu berarti anak nakal. Bisa jadi anak masih belajar mengembangkan kemampuan regulasi emosi. Karena itu, terapi regulasi emosi anak dapat menjadi salah satu pendekatan yang membantu anak mengenali perasaan, memahami pemicunya, serta mempelajari cara merespons emosi dengan lebih sehat.
Apa itu Regulasi Emosi?
Regulasi emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara sesuai dengan situasi. Pada anak, kemampuan ini masih berkembang sehingga mereka membutuhkan banyak contoh, latihan, dan dukungan dari orang dewasa.
Ketika merasa kecewa, misalnya, orang dewasa mungkin dapat menarik napas, berpikir sejenak, lalu menyampaikan ketidaksetujuannya melalui kata-kata. Anak yang kemampuan regulasi emosinya belum matang mungkin langsung menangis, berteriak, memukul, melempar barang, atau meninggalkan situasi.
Hal tersebut terjadi karena anak belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan respons ketika emosinya sedang sangat kuat. Kemampuan mengelola emosi berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia, pengalaman, hubungan dengan orang lain, serta kesempatan untuk berlatih.
Regulasi emosi juga tidak sama dengan memaksa anak untuk selalu tenang. Anak tetap boleh merasa marah, sedih, takut, kecewa, atau frustrasi. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana mengekspresikan perasaan tersebut dengan cara yang aman dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Misalnya, anak boleh mengatakan, “Aku marah karena mainanku diambil,” daripada langsung memukul temannya. Anak boleh menangis ketika kecewa, kemudian belajar menenangkan diri setelah mendapatkan dukungan.
Dengan demikian, tujuan regulasi emosi bukan menghilangkan emosi negatif, melainkan membantu anak memiliki keterampilan untuk menghadapi berbagai emosi dengan lebih adaptif.
Kemampuan ini juga berkaitan dengan perkembangan sosial. Anak yang mulai mampu memahami emosinya biasanya lebih mudah belajar menunggu giliran, mengikuti aturan, berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan memahami perasaan orang lain.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa perkembangan mental dan emosional anak berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi oleh hubungan, pengalaman, serta lingkungan di sekitarnya. Kemampuan mengelola emosi juga merupakan bagian penting dari perkembangan anak yang sehat.
Kenapa Regulasi Emosi Anak Sangat Penting?
Regulasi emosi memiliki peran penting dalam kehidupan anak, bukan hanya ketika berada di rumah, tetapi juga ketika berada di sekolah, tempat bermain, maupun lingkungan sosial lainnya.
Berikut beberapa alasan mengapa kemampuan ini penting untuk dikembangkan sejak dini.
1. Membantu anak mengendalikan respons ketika marah
Menurut National Library of Medicine, Anak yang mampu mengatur emosi tidak berarti tidak pernah marah. Ia tetap dapat merasakan kemarahan, tetapi perlahan belajar mengendalikan tindakan yang muncul setelahnya. Daripada memukul atau melempar barang, anak dapat belajar mengambil jeda, menarik napas, meminta bantuan, atau menyampaikan apa yang membuatnya kesal.
2. Meningkatkan kemampuan bersosialisasi
Interaksi dengan teman membutuhkan kemampuan untuk berbagi, menunggu giliran, menerima perbedaan pendapat, dan menyelesaikan konflik.Anak yang kesulitan mengelola emosi mungkin lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi konflik. Sebaliknya, kemampuan regulasi emosi dapat membantu anak membangun interaksi sosial yang lebih positif.
3. Mendukung proses belajar
Anak membutuhkan kondisi emosional yang cukup stabil untuk berkonsentrasi dan menerima informasi. Ketika frustrasi sedikit saja langsung membuat anak menyerah, proses belajarnya dapat terganggu.Regulasi emosi membantu anak belajar menghadapi kesalahan dan memahami bahwa tidak semua hal dapat dikuasai dalam satu kali percobaan.
4. Membentuk rasa percaya diri
Ketika anak berhasil menenangkan diri setelah mengalami kekecewaan, ia mendapatkan pengalaman bahwa dirinya mampu menghadapi situasi sulit.Pengalaman tersebut dapat menjadi dasar bagi perkembangan kepercayaan diri.
5. Membantu anak memahami dirinya sendiri
Kemampuan mengenali emosi membuat anak semakin memahami kebutuhan dan kondisinya. Anak dapat mulai membedakan kapan dirinya lapar, lelah, kecewa, takut, bosan, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat.
6. Menjadi bekal hingga dewasa
Keterampilan mengelola emosi tidak hanya diperlukan saat anak masih kecil. Kemampuan ini akan terus digunakan ketika anak menghadapi tuntutan sekolah, pertemanan, pekerjaan, hubungan sosial, dan berbagai tantangan kehidupan di masa depan.
Karena itu, mengajarkan regulasi emosi bukan berarti hanya menyelesaikan masalah tantrum saat ini. Mom/Dad sedang membantu membangun keterampilan yang akan berguna dalam jangka panjang.
Tanda-Tanda Anak Tidak Bisa Meregulasi Emosi
Setiap anak dapat mengalami ledakan emosi sesekali. Hal tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan. Namun, Mom/Dad perlu memperhatikan apabila reaksi emosional terjadi sangat sering, sangat intens, berlangsung lama, atau mulai mengganggu aktivitas anak.
Beberapa tanda yang dapat diamati antara lain:
- Anak sering mengalami ledakan emosi: Anak dapat menangis, berteriak, atau marah ketika menghadapi situasi yang sebenarnya sederhana. Jika kejadian berlangsung sangat sering dan anak sulit kembali tenang, kemampuan regulasi emosinya mungkin membutuhkan perhatian lebih.
- Sulit menerima perubahan: Sebagian anak merasa tidak nyaman ketika rutinitas berubah. Namun, anak yang memiliki kesulitan regulasi emosi dapat menunjukkan reaksi yang sangat besar ketika terjadi perubahan kecil. Misalnya, perubahan jadwal bermain atau makanan yang berbeda dapat memicu tangisan atau kemarahan yang sulit dihentikan.
- Mudah frustrasi: Anak dapat langsung menyerah ketika menghadapi kesulitan. Ia mungkin mengatakan tidak bisa, menangis, atau marah ketika permainan atau tugas tidak berjalan sesuai keinginannya.
- Menunjukkan perilaku agresif: Memukul, menendang, menggigit, mendorong, atau melempar benda ketika marah merupakan tanda bahwa anak membutuhkan bantuan untuk menemukan cara yang lebih aman dalam mengekspresikan emosi.
- Sulit menenangkan diri: Setelah mengalami kejadian yang membuat kesal, anak mungkin membutuhkan waktu sangat lama untuk kembali tenang dan membutuhkan bantuan orang dewasa secara terus-menerus.
- Sering menyalahkan orang lain: Anak mungkin kesulitan memahami hubungan antara perasaan dan perilakunya sehingga selalu menganggap orang lain sebagai penyebab kemarahannya.
- Menarik diri ketika mengalami emosi tertentu: Tidak semua kesulitan regulasi emosi terlihat dalam bentuk kemarahan. Sebagian anak justru menjadi sangat diam, menghindari interaksi, atau menolak melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Perubahan pada aktivitas sehari-hari: Perubahan tidur, pola makan, minat bermain, hubungan dengan teman, atau performa di sekolah juga perlu diperhatikan apabila terjadi bersamaan dengan masalah emosional.
American Academy of Pediatrics menyarankan orang tua memperhatikan perubahan yang mulai mengganggu fungsi sehari-hari anak, seperti masalah sekolah, perubahan tidur dan makan, menarik diri, mudah tersinggung, atau kecemasan yang sulit dikendalikan.
Terapi Regulasi Emosi Anak yang Efektif
Terapi regulasi emosi anak sebaiknya disesuaikan dengan usia, kebutuhan, karakter, serta penyebab kesulitan yang dialami. Tidak ada satu metode yang pasti cocok untuk semua anak.
Pada kondisi tertentu, pendampingan profesional seperti psikolog anak, psikiater anak, atau tenaga kesehatan lainnya mungkin dibutuhkan. Sementara itu, keterampilan regulasi emosi juga dapat dilatih melalui aktivitas sehari-hari yang terstruktur dan sesuai kemampuan anak.
Berikut beberapa pendekatan yang dapat membantu.
1. Mengajarkan anak mengenali emosi
Langkah pertama adalah membantu anak memiliki kosakata emosi. Mom/Dad dapat memperkenalkan kata seperti senang, sedih, marah, kecewa, takut, khawatir, malu, bingung, dan tenang.
Gunakan situasi sehari-hari sebagai contoh.
“Adik kelihatan kecewa karena permainannya selesai.”
“Mom melihat kamu marah karena harus berhenti bermain.”
Dengan cara tersebut, anak belajar menghubungkan sensasi yang dirasakan dengan nama emosinya.
2. Mengajarkan teknik pernapasan
Pernapasan sederhana dapat digunakan ketika anak mulai merasa emosinya meningkat. Mom/Dad dapat mengajak anak menarik napas secara perlahan, menahannya sebentar, kemudian mengembuskannya dengan perlahan.
Latihan sebaiknya dilakukan ketika anak sedang tenang, bukan hanya saat sedang tantrum. Dengan begitu, teknik tersebut lebih mudah digunakan ketika anak menghadapi situasi emosional.
3. Memberikan waktu untuk menenangkan diri
Anak terkadang membutuhkan ruang untuk mengurangi intensitas emosinya. Mom/Dad dapat membuat area tenang yang nyaman, misalnya dengan buku, boneka, bantal, atau aktivitas sederhana. Tujuannya bukan mengurung atau menghukum anak, melainkan memberikan kesempatan untuk kembali tenang.
4. Menggunakan aktivitas sensorik
Aktivitas sensorik dapat menjadi salah satu cara untuk membantu anak berinteraksi dengan berbagai rangsangan melalui tubuh dan inderanya.
Kegiatan seperti bermain dengan tekstur tertentu, meremas benda yang aman, bermain air, bergerak, melompat, menggambar, atau aktivitas motorik lainnya dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan.
Aktivitas sensorik yang menenangkan, gerakan, musik, serta kegiatan seperti berjalan atau berenang juga disebut sebagai salah satu bentuk dukungan yang dapat membantu anak menghadapi stres.
Namun, aktivitas sensorik bukan pengganti diagnosis atau terapi profesional apabila anak memiliki masalah emosional yang membutuhkan penanganan klinis.
5. Mengajarkan anak mengenali pemicu emosi
Mom/Dad dapat mengamati kapan anak paling sering mengalami ledakan emosi. Apakah ketika lapar? Mengantuk? Terlalu ramai? Harus berhenti bermain? Mengalami kegagalan? Berkonflik dengan teman? Dengan mengetahui pemicu, orang tua dapat membantu anak mempersiapkan strategi sebelum situasi menjadi terlalu berat.
6. Menggunakan permainan peran
Permainan peran dapat digunakan untuk melatih respons terhadap situasi tertentu.
Misalnya, Mom/Dad berpura-pura menjadi teman yang mengambil mainan. Kemudian anak diajak berlatih mengatakan, “Aku sedang bermain. Setelah selesai, kamu boleh memakainya.” Latihan semacam ini membuat anak memiliki pilihan perilaku ketika situasi serupa benar-benar terjadi.
7. Menggunakan aktivitas fisik
Gerakan tubuh dapat menjadi sarana bagi anak untuk menyalurkan energi dan belajar mengenali kondisi tubuhnya. Berjalan, berlari, melompat, menari, senam, atau olahraga anak yang dilakukan secara terarah dapat menjadi bagian dari rutinitas yang mendukung keseimbangan aktivitas fisik dan emosional.
8. Melatih kemampuan memecahkan masalah
Ketika anak menghadapi masalah, jangan selalu langsung memberikan solusi. Mom/Dad dapat bertanya:
“Menurut kamu, apa yang bisa kita lakukan?”
“Kalau cara pertama tidak berhasil, apa pilihan lainnya?”
Dengan demikian, anak belajar bahwa masalah dapat dihadapi melalui beberapa alternatif.
9. Memberikan contoh regulasi emosi
Anak banyak belajar dengan mengamati orang dewasa. Ketika Mom/Dad sedang kesal, tunjukkan cara menenangkan diri secara sehat.
Contohnya, “Mom sedang kesal. Mom mau tarik napas dulu supaya bisa bicara dengan tenang.”
Kalimat sederhana tersebut menunjukkan bahwa merasa marah adalah hal yang wajar, tetapi seseorang tetap dapat memilih responsnya.
10. Mendapatkan pendampingan profesional bila diperlukan
Apabila kesulitan regulasi emosi cukup berat atau mengganggu kehidupan anak, profesional dapat membantu melakukan penilaian dan menentukan pendekatan yang sesuai.
Terapi dapat melibatkan anak dan orang tua, tergantung kebutuhan. American Academy of Pediatrics juga menekankan bahwa tenaga profesional dapat membantu keluarga menyusun rencana untuk mendukung kesehatan mental dan emosional anak.
Baca juga: 10 Cara Mengatasi Anak Pemarah Menurut Psikologi
Kapan Anak Perlu Terapi Regulasi Emosi?
Tidak semua tantrum atau kemarahan berarti anak membutuhkan terapi profesional. Mom/Dad perlu melihat frekuensi, intensitas, durasi, pemicu, usia anak, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Pendampingan profesional dapat dipertimbangkan apabila anak mengalami kesulitan yang berlangsung terus-menerus dan tidak membaik meskipun sudah mendapatkan dukungan dari keluarga.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan adalah ketika anak sering mengalami ledakan emosi yang ekstrem, kesulitan berinteraksi dengan teman, mengalami masalah di sekolah, menolak berbagai aktivitas, atau perilakunya mengganggu kehidupan keluarga.
Hal lain yang penting adalah melihat apakah kesulitan tersebut menyebabkan anak kehilangan kesempatan untuk belajar dan bermain secara normal.
Misalnya, anak terus-menerus menghindari sekolah karena merasa cemas, tidak mau berinteraksi dengan teman, atau mengalami ledakan emosi setiap kali menghadapi aktivitas tertentu.
Mom/Dad juga tidak perlu menunggu masalah menjadi sangat berat untuk berkonsultasi. Pemeriksaan atau konsultasi dapat dilakukan untuk mengetahui apakah perilaku anak masih sesuai dengan tahap perkembangannya atau membutuhkan dukungan tambahan.
American Academy of Pediatrics menyebutkan bahwa dokter anak dapat menjadi tempat awal yang baik ketika orang tua memiliki kekhawatiran mengenai kesehatan emosional atau mental anak. Dokter dapat membantu menentukan apakah anak membutuhkan dukungan profesional lainnya.
Kapan Harus ke Dokter?
Konsultasi dengan dokter anak atau profesional kesehatan mental dapat dilakukan ketika Mom/Dad merasa perubahan perilaku anak cukup mengkhawatirkan atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu mendapatkan perhatian antara lain perubahan emosi yang sangat drastis, kesulitan tidur yang menetap, perubahan pola makan, penurunan kemampuan belajar, penarikan diri dari lingkungan sosial, kecemasan berlebihan, atau perilaku yang berisiko.
Jika anak membicarakan keinginan untuk menyakiti diri sendiri, kematian, atau menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional yang berat, jangan menunggu masalah tersebut membaik sendiri. Segera cari bantuan medis profesional atau layanan kegawatdaruratan setempat.
Penting pula bagi Mom/Dad untuk tidak memberikan label seperti “anak nakal”, “anak pemarah”, atau “anak susah diatur”. Label tersebut tidak membantu anak memahami penyebab perilakunya.
Sebaliknya, cobalah melihat perilaku sebagai sebuah komunikasi.
Anak yang berteriak mungkin sedang menunjukkan bahwa ia frustrasi. Anak yang menangis mungkin sedang merasa kewalahan. Anak yang memukul mungkin belum memiliki keterampilan untuk menyampaikan kemarahan dengan cara yang tepat.
Memahami perilaku bukan berarti membiarkan perilaku yang tidak aman. Mom/Dad tetap perlu memberikan batasan yang jelas sambil membantu anak menemukan cara yang lebih baik untuk merespons.
Tips untuk Orang Tua dalam Mendukung Terapi Regulasi Emosi Anak
Mom/Dad bisa mengikuti tips berikut ini untuk mendukung terapi regulasi emosi anaka.
- Validasi perasaan anak: Validasi bukan berarti menyetujui semua tindakan anak. Mom/Dad dapat mengatakan, “Mom tahu kamu marah karena harus berhenti bermain,” kemudian tetap menjelaskan bahwa memukul bukan cara yang tepat untuk menunjukkan kemarahan.
- Hindari memaksa anak langsung tenang: Ketika emosi sedang memuncak, anak mungkin belum mampu menerima nasihat panjang. Berikan waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah kondisi lebih stabil, barulah ajak anak membicarakan kejadian.
- Gunakan kalimat yang sederhana: Pilih kalimat pendek dan mudah dipahami. Misalnya, “Tarik napas dulu,” “Kita tenang bersama,” atau “Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”
- Buat rutinitas yang konsisten: Rutinitas membantu anak mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Jadwal makan, tidur, belajar, bermain, dan aktivitas keluarga yang relatif konsisten dapat membantu menciptakan rasa aman.
- Ajarkan anak mengenali sinyal tubuh: Tanyakan kepada anak bagaimana tubuhnya ketika marah. Apakah tangannya mengepal? Jantung berdebar? Wajah terasa panas? Perut terasa tidak nyaman? Kesadaran terhadap sinyal tubuh dapat membantu anak mengenali emosi sebelum mencapai puncaknya.
- Latih keterampilan saat anak sedang tenang: Jangan menunggu anak tantrum untuk mengajarkan teknik regulasi emosi. Latih pernapasan, permainan peran, mengenali emosi, dan strategi menenangkan diri ketika anak berada dalam kondisi nyaman.
- Berikan pilihan sederhana: Pilihan dapat membantu anak merasa memiliki kendali. Misalnya, “Kamu mau tenang sambil duduk atau mau jalan sebentar bersama Mom?”
- Berikan pujian terhadap proses: Jangan hanya memuji ketika anak berhasil sepenuhnya mengendalikan emosi. Hargai usaha kecil. “Mom lihat kamu tadi hampir marah, tapi kamu memilih tarik napas. Bagus sekali.” Pujian semacam ini memperkuat perilaku positif.
- Jangan membandingkan anak: Setiap anak memiliki perkembangan dan temperamen yang berbeda. Membandingkan anak dengan saudara atau teman dapat membuat anak merasa tidak mampu dan justru meningkatkan tekanan emosional.
- Berikan kesempatan bergerak: Anak membutuhkan aktivitas fisik yang sesuai dengan usianya. Bermain, menari, melompat, berlari, senam, dan olahraga dapat menjadi bagian dari keseharian anak.
- Perhatikan kebutuhan dasar: Anak yang lapar, mengantuk, terlalu lelah, atau terlalu banyak menerima rangsangan dapat lebih mudah mengalami ledakan emosi. Karena itu, kebutuhan dasar juga perlu diperhatikan ketika Mom/Dad mengevaluasi perilaku anak.
- Jadilah contoh: Anak mengamati cara orang tua menghadapi stres. Ketika Mom/Dad menunjukkan kemampuan untuk berhenti sejenak, bernapas, dan berbicara dengan tenang, anak mendapatkan contoh nyata tentang regulasi emosi.
- Hindari hukuman yang mempermalukan: Tujuan terapi regulasi emosi anak adalah mengembangkan keterampilan, bukan membuat anak merasa buruk karena memiliki emosi. Disiplin tetap penting, tetapi sebaiknya dilakukan dengan batasan yang jelas dan pendekatan yang mendidik.
- Berkomunikasi dengan guru: Jika masalah regulasi emosi juga muncul di sekolah, Mom/Dad dapat berdiskusi dengan guru untuk mencari pola yang sama. Informasi dari lingkungan sekolah dapat membantu memahami situasi anak secara lebih menyeluruh.
- Konsisten dalam menerapkan strategi: Anak membutuhkan waktu untuk mempelajari keterampilan baru. Jangan berharap satu atau dua kali latihan langsung membuat anak mampu mengendalikan semua emosinya. Konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan.
- Berikan ruang untuk bermain: Bermain merupakan salah satu cara alami anak belajar memahami dunia. Melalui permainan, anak dapat berlatih bergantian, menghadapi kekalahan, menyelesaikan konflik, berkomunikasi, dan mengekspresikan emosi.
- Pilih aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan anak: Tidak semua anak membutuhkan aktivitas yang sama. Ada anak yang lebih nyaman dengan aktivitas tenang, sementara anak lain membutuhkan lebih banyak gerakan. Mom/Dad dapat mengamati aktivitas yang membuat anak merasa nyaman sekaligus memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial, motorik, dan emosional.
- Jangan ragu meminta bantuan: Meminta bantuan bukan berarti Mom/Dad gagal menjadi orang tua. Justru, mencari bantuan ketika diperlukan menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan anak.
Bantu Anak Mengembangkan Regulasi Emosi melalui Aktivitas yang Menyenangkan
Regulasi emosi bukan keterampilan yang berkembang hanya melalui percakapan. Anak juga belajar melalui pengalaman tubuh, permainan, interaksi sosial, dan aktivitas yang memberikan kesempatan untuk menghadapi berbagai situasi.
Aktivitas kelompok yang sesuai usia dapat membantu anak belajar mengikuti instruksi, menunggu giliran, bekerja sama, menghadapi tantangan, serta mengenali respons tubuhnya sendiri.
Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan Mom/Dad adalah kelas yang menggabungkan aktivitas sensorik dengan pengalaman bermain dan belajar yang menyenangkan. Dalam kegiatan seperti ini, anak dapat memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai rangsangan secara terarah sambil membangun keterampilan lainnya.
Namun, penting dipahami bahwa kelas sensori bukan pengganti terapi psikologis atau perawatan medis. Jika anak memiliki masalah regulasi emosi yang berat, evaluasi dari tenaga profesional tetap diperlukan.
Aktivitas sensorik dan olahraga anak dapat menjadi bagian dari lingkungan pendukung yang membantu anak mengembangkan berbagai keterampilan secara bertahap. American Academy of Pediatrics juga memasukkan aktivitas gerak dan dukungan sensorik sebagai salah satu cara yang dapat membantu anak menghadapi stres.
Baca juga: Pentingnya Regulasi Emosi pada Anak dan Cara Melatihnya
Yuk, Dukung Regulasi Emosi Anak Bersama Spakrs Sports Academy
Terapi regulasi emosi anak merupakan proses yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan dukungan dari berbagai lingkungan. Anak tidak harus selalu tenang untuk dikatakan mampu mengelola emosi. Yang terpenting adalah anak secara bertahap belajar mengenali perasaan, memahami pemicu, mengendalikan respons, serta menemukan cara yang lebih aman untuk mengekspresikan dirinya. Dengan pendampingan yang tepat, kemampuan tersebut dapat terus berkembang seiring pertumbuhan anak.
Selain memberikan dukungan di rumah, Mom/Dad dapat memberikan anak kesempatan belajar melalui aktivitas yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangannya. Kelas sensori anak di Spakrs Sports Academy dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas untuk membantu anak mengeksplorasi berbagai pengalaman sensorik, bergerak, bermain, dan berinteraksi dalam lingkungan yang terarah. Yuk, ajak Si Kecil mencoba pengalaman belajar yang menyenangkan bersama Spakrs Sports Academy dan dampingi proses tumbuh kembangnya dengan penuh kesabaran dan dukungan.







