Author: Tim Sparks Sports Academy
Setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda, termasuk dalam kemampuan berbicara dan berkomunikasi. Ada anak yang mulai mengucapkan banyak kata sejak usia dini, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menyampaikan keinginannya melalui bahasa. Karena itu, memahami perkembangan bahasa anak menjadi hal penting bagi setiap Mom/Dad.
Bahasa bukan hanya tentang kemampuan anak mengucapkan kata. Di dalamnya terdapat proses memahami ucapan, mengenali kosakata, menggunakan gestur, menyusun kalimat, hingga berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan ini berkembang secara bertahap melalui interaksi sehari-hari dan stimulasi yang sesuai dengan usia anak.
Dengan memahami tahapan perkembangan bahasa dan cara memberikan stimulasi yang tepat, Mom/Dad dapat membantu anak belajar berkomunikasi secara menyenangkan tanpa memberikan tekanan berlebihan.
Apa yang Dimaksud dengan Perkembangan Bahasa Anak?
Perkembangan bahasa anak adalah proses bertahap ketika anak belajar memahami dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Proses ini meliputi kemampuan menerima informasi dari orang lain serta kemampuan menyampaikan pikiran, kebutuhan, perasaan, dan keinginannya.
Secara umum, perkembangan bahasa dapat dibagi menjadi dua kemampuan utama, yaitu:
1. Bahasa Reseptif
Bahasa reseptif adalah kemampuan anak dalam memahami bahasa yang didengar atau diterimanya. Contohnya, anak mampu memahami instruksi sederhana seperti “ambil bola” atau “simpan mainan”.
Kemampuan ini biasanya berkembang sebelum anak mampu mengucapkan banyak kata. Jadi, seorang anak mungkin sudah memahami banyak hal meskipun belum dapat menyampaikan respons secara verbal.
2. Bahasa Ekspresif
Bahasa ekspresif merupakan kemampuan anak dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Kemampuan ini dapat terlihat melalui suara, kata-kata, kalimat, ekspresi wajah, maupun gestur.
Contohnya adalah ketika anak menunjuk makanan sambil mengatakan “mau”, menyebut nama benda, atau menyusun beberapa kata menjadi kalimat sederhana.
Kedua kemampuan tersebut saling berkaitan dan berkembang melalui pengalaman anak dalam mendengar, memahami, meniru, serta menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Berdasarkan Usia
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Namun, beberapa tahapan umum dapat menjadi gambaran bagi Mom/Dad untuk mengamati kemampuan komunikasi anak.
Usia 0–6 Bulan
Pada usia ini, bayi mulai mengenali suara dan berusaha berkomunikasi melalui tangisan, senyuman, serta suara-suara sederhana.
Beberapa kemampuan yang dapat mulai terlihat antara lain:
- Bereaksi ketika mendengar suara orang tua.
- Menoleh atau memperhatikan sumber suara.
- Mengeluarkan suara seperti ocehan.
- Tersenyum atau tertawa ketika diajak berinteraksi.
- Meniru beberapa ekspresi atau suara sederhana.
Mom/Dad dapat membantu dengan sering mengajak bayi berbicara, bernyanyi, dan merespons suara yang dikeluarkannya.
Usia 6–12 Bulan
Pada tahap ini, anak mulai semakin aktif menggunakan suara dan gestur untuk berkomunikasi.
Anak mungkin mulai:
- Mengoceh dengan kombinasi suara yang lebih beragam.
- Meniru suara yang didengar.
- Merespons ketika namanya dipanggil.
- Menggunakan gestur seperti menunjuk atau melambaikan tangan.
- Memahami beberapa kata sederhana.
- Mulai mengucapkan kata pertama.
Interaksi dua arah sangat penting pada tahap ini. Ketika anak mengeluarkan suara, Mom/Dad dapat merespons seolah-olah sedang melakukan percakapan.
Usia 1–2 Tahun
Kosakata anak biasanya mulai berkembang lebih cepat pada periode ini. Anak mulai memahami lebih banyak kata dan menggunakan kata-kata untuk menyampaikan kebutuhan.
Beberapa kemampuan yang dapat berkembang meliputi:
- Menyebut nama orang atau benda yang familiar.
- Mengikuti instruksi sederhana.
- Menunjuk benda ketika ditanyakan.
- Menggabungkan dua kata sederhana.
- Menggunakan kata untuk meminta sesuatu.
- Meniru kata yang sering didengar.
Misalnya, anak mulai mengatakan “mau susu”, “bola besar”, atau “Mama sini”. Mom/Dad dapat membantu memperluas kemampuan anak dengan mengembangkan ucapan tersebut.
Jika anak mengatakan “bola”, Mom/Dad dapat merespons, “Iya, itu bola merah.” Dengan cara ini, anak mendapatkan tambahan kosakata secara alami.
Usia 2–3 Tahun
Pada usia ini, perkembangan bahasa anak biasanya semakin terlihat melalui bertambahnya kosakata dan kemampuan menyusun kalimat.
Anak mulai belajar:
- Menggunakan kalimat yang lebih panjang.
- Menjawab pertanyaan sederhana.
- Menyebut nama benda di sekitarnya.
- Mengikuti instruksi dengan beberapa langkah.
- Menggunakan kata tanya seperti apa, siapa, dan mana.
- Berkomunikasi dengan orang lain melalui percakapan sederhana.
Anak mungkin masih melakukan kesalahan dalam pengucapan atau tata bahasa. Hal ini merupakan bagian dari proses belajar. Mom/Dad sebaiknya tidak langsung memarahi atau mempermalukan anak ketika salah mengucapkan kata.
Usia 3–5 Tahun
Memasuki usia prasekolah, kemampuan komunikasi anak umumnya berkembang semakin kompleks. Anak mulai dapat bercerita, mengungkapkan pendapat, dan mengikuti percakapan.
Kemampuan yang dapat berkembang antara lain:
- Menceritakan pengalaman sederhana.
- Menjawab pertanyaan dengan lebih jelas.
- Mengikuti percakapan.
- Menggunakan kosakata yang semakin beragam.
- Menjelaskan keinginan dan perasaan.
- Mendengarkan cerita.
- Mengajukan banyak pertanyaan.
Pada tahap ini, percakapan sehari-hari menjadi salah satu stimulasi terbaik untuk mendukung kemampuan bahasa anak.
Mengapa Perkembangan Bahasa Anak Penting untuk Diperhatikan?
Kemampuan bahasa memiliki hubungan erat dengan berbagai aspek perkembangan anak. Bahasa membantu anak menyampaikan kebutuhan, memahami lingkungan, membangun hubungan sosial, dan belajar hal-hal baru.
Anak yang memiliki kesempatan berkomunikasi secara aktif dapat lebih mudah:
- Menyampaikan Kebutuhan: Anak dapat memberitahu Mom/Dad ketika merasa lapar, haus, lelah, atau membutuhkan bantuan.
- Mengungkapkan Perasaan: Kemampuan bahasa membantu anak menyampaikan emosi seperti senang, sedih, marah, takut, atau kecewa. Hal ini dapat membantu anak belajar mengelola perasaan secara bertahap.
- Berinteraksi dengan Orang Lain: Bahasa menjadi alat penting untuk bermain dan berkomunikasi dengan teman sebaya maupun orang dewasa.
- Mendukung Proses Belajar: Anak menggunakan bahasa untuk memahami instruksi, bertanya, menjawab pertanyaan, dan mempelajari berbagai konsep baru.
Perkembangan anak perlu dipantau melalui berbagai developmental milestones, termasuk kemampuan dalam berbicara dan berkomunikasi.
Baca juga: Teknik Stimulasi Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
10 Cara Menstimulasi Perkembangan Bahasa Anak
Stimulasi bahasa tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit. Justru, kegiatan sehari-hari dapat menjadi kesempatan belajar yang efektif.
1. Sering Mengajak Anak Berbicara
Ajak anak berbicara dalam berbagai aktivitas, seperti saat mandi, makan, bermain, atau berjalan-jalan.
Mom/Dad dapat memberikan komentar sederhana, misalnya, “Sekarang kita memakai sepatu,” atau “Lihat, ada burung di pohon.”
Anak akan belajar mengenali hubungan antara kata dan benda atau aktivitas yang sedang dilakukan.
2. Membacakan Buku Cerita
Membaca buku bersama dapat membantu memperkenalkan kosakata baru kepada anak. Mom/Dad tidak harus selalu membaca seluruh cerita sesuai teks.
Ajak anak melihat gambar, menyebutkan objek, dan menjawab pertanyaan sederhana seperti:
- “Ini gambar apa?”
- “Menurut kamu, siapa yang sedang tidur?”
- “Apa warna bolanya?”
Aktivitas ini juga dapat melatih kemampuan mendengarkan dan memahami cerita.
3. Bernyanyi Bersama
Lagu anak-anak dapat menjadi cara menyenangkan untuk memperkenalkan kata dan melatih kemampuan mengingat.
Pilih lagu dengan lirik sederhana dan gerakan yang mudah diikuti. Menggabungkan suara dengan gerakan dapat membantu anak memahami makna kata melalui pengalaman langsung.
4. Mengembangkan Ucapan Anak
Ketika anak mengatakan satu kata, Mom/Dad dapat mengembangkan menjadi kalimat yang lebih panjang.
Contoh:
Anak: “Kucing.”
Mom/Dad: “Iya, itu kucing. Kucingnya sedang makan.”
Teknik ini membantu anak mendengar struktur kalimat yang lebih lengkap tanpa merasa sedang diuji.
5. Memberikan Pilihan
Daripada selalu menanyakan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”, berikan pilihan kepada anak.
Contohnya, “Kamu mau apel atau pisang?”
Cara ini mendorong anak untuk menggunakan kata-kata untuk menyampaikan pilihan.
6. Mengajak Anak Bermain Peran
Bermain peran dapat membantu anak menggunakan bahasa dalam berbagai situasi.
Mom/Dad dapat bermain sebagai dokter, kasir, guru, koki, atau pelanggan. Dalam permainan ini, anak terdorong untuk menggunakan kosakata dan membuat percakapan sederhana.
7. Menggunakan Pertanyaan Terbuka
Pertanyaan terbuka dapat membantu anak berpikir dan memberikan jawaban yang lebih panjang.
Contohnya:
- “Tadi kamu bermain apa?”
- “Mengapa bonekanya tidur?”
- “Apa yang ingin kamu buat?”
Sesuaikan pertanyaan dengan usia dan kemampuan anak agar tidak membuatnya merasa tertekan.
8. Memberikan Waktu untuk Menjawab
Terkadang Mom/Dad terlalu cepat membantu ketika anak sedang mencoba berbicara. Padahal, anak mungkin membutuhkan waktu untuk memproses pertanyaan dan menyusun jawabannya.
Berikan jeda beberapa detik setelah bertanya. Hindari langsung memotong pembicaraan atau menyelesaikan kalimat anak.
9. Membatasi Gangguan Saat Berkomunikasi
Ketika sedang berbicara dengan anak, usahakan Mom/Dad memberikan perhatian penuh.
Matikan atau jauhkan sumber gangguan yang tidak diperlukan, lalu lakukan kontak mata secara wajar. Anak akan belajar bahwa komunikasi adalah aktivitas yang melibatkan perhatian dan respons dari kedua pihak.
10. Mengajak Anak Beraktivitas dalam Kelompok
Interaksi dengan anak lain dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan komunikasi. Melalui permainan bersama, anak belajar berbagi, meminta bantuan, mengikuti aturan, dan berkomunikasi.
Aktivitas kelompok yang menyenangkan juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan sosial sekaligus bahasa.
Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Menstimulasi Bahasa Anak
Stimulasi bahasa sebaiknya dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Beberapa hal berikut sebaiknya dihindari:
- Terlalu Sering Membandingkan Anak: Setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda. Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya dapat membuat anak merasa tertekan.
- Memaksa Anak Berbicara: Jika anak sedang tidak ingin berbicara, berikan waktu dan kesempatan lain. Stimulasi yang dilakukan dengan tekanan dapat membuat komunikasi terasa seperti kewajiban.
- Menertawakan Kesalahan Pengucapan: Kesalahan pengucapan merupakan bagian dari proses belajar. Mom/Dad dapat memberikan contoh pengucapan yang benar tanpa mempermalukan anak.
- Terlalu Banyak Mengoreksi: Alih-alih terus mengatakan “salah”, gunakan teknik recasting, yaitu memberikan versi kalimat yang benar secara alami. Misalnya, anak berkata, “Aku mau minum susu-susu.”,Mom/Dad dapat menjawab, “Oh, kamu mau minum susu.”
Kapan Mom/Dad Perlu Memperhatikan Perkembangan Bahasa Anak?
Mom/Dad perlu mengamati perkembangan anak secara berkala. Jika terdapat kekhawatiran mengenai kemampuan komunikasi, sebaiknya jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Perhatian lebih lanjut dapat dipertimbangkan apabila anak tampak mengalami kesulitan dalam memahami instruksi sesuai usianya, sangat jarang berkomunikasi, tidak menunjukkan perkembangan kemampuan bahasa dari waktu ke waktu, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.
Namun, penting untuk diingat bahwa artikel dan daftar milestones bukan pengganti evaluasi profesional. Jika Mom/Dad memiliki kekhawatiran, diskusikan dengan dokter anak, psikolog anak, terapis wicara, atau tenaga profesional lain yang sesuai.
Pemantauan perkembangan secara rutin dapat membantu Mom/Dad memahami kemampuan anak dan mengambil langkah yang tepat apabila membutuhkan dukungan tambahan.
Mengapa Aktivitas Sensori Dapat Mendukung Perkembangan Bahasa Anak?
Aktivitas sensori melibatkan pengalaman anak melalui berbagai indra, seperti sentuhan, penglihatan, pendengaran, dan gerakan. Ketika anak mengeksplorasi sesuatu, Mom/Dad dapat mendampingi dengan memberikan kosakata yang berkaitan dengan aktivitas tersebut.
Misalnya, ketika anak bermain dengan pasir, Mom/Dad dapat mengenalkan kata seperti “halus”, “kasar”, “basah”, “kering”, “penuh”, atau “kosong”.
Dengan demikian, anak tidak hanya mendapatkan pengalaman bermain, tetapi juga belajar menghubungkan kata dengan objek dan pengalaman nyata.
Aktivitas sensori juga dapat mendorong anak untuk mengamati, bertanya, memberikan respons, dan berinteraksi dengan orang lain. Proses tersebut dapat menjadi kesempatan yang baik untuk menstimulasi kemampuan komunikasi secara alami dan menyenangkan.
Baca juga: Pola Asuh Permisif: Definisi, Dampak, dan Cara Menghindarinya
Yuk, Dukung Perkembangan Anak melalui Kelas Sensori Anak di Sparks Sports Academy
Mendukung perkembangan bahasa anak dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan anak. Selain komunikasi di rumah, pengalaman bermain bersama teman dan pendamping yang tepat juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan eksplorasi, sosial, serta komunikasi.
Mom/Dad dapat mempertimbangkan kelas sensori anak di Sparks Sports Academy sebagai salah satu aktivitas yang mendukung proses belajar anak melalui pengalaman bermain dan eksplorasi. Dengan kegiatan yang dirancang secara menyenangkan, anak dapat memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan, berinteraksi, dan belajar menggunakan berbagai kemampuan dalam suasana yang positif.
Yuk, ajak Si Kecil mengikuti kelas sensori anak di Sparks Sports Academy dan berikan pengalaman belajar yang menyenangkan untuk mendukung tumbuh kembangnya!







