Author: Tim Sparks Sports Academy
Anak yang tiba-tiba menangis, berteriak, marah, atau melempar barang bukan berarti sedang sengaja membuat Mom/Dad kewalahan. Pada masa pertumbuhan, anak masih belajar memahami apa yang dirasakan sekaligus mencari cara untuk mengekspresikannya. Kemampuan mengelola emosi berkembang secara bertahap sehingga membutuhkan contoh, latihan, dan pendampingan dari orang dewasa.
Ringkasan Cepat
- Cara mengatur emosi anak penting dipahami karena kemampuan mengelola perasaan membantu anak menghadapi rasa marah, kecewa, sedih, takut, dan frustrasi dengan cara yang lebih tepat.
- Anak belum tentu mampu mengendalikan emosinya karena masih berada dalam tahap perkembangan, belum memiliki kosakata emosi yang cukup, atau sedang mengalami kondisi seperti lapar, lelah, terlalu banyak stimulasi, dan perubahan rutinitas.
- Orang tua dapat membantu anak mengenali emosinya dengan memberikan nama pada perasaan yang sedang dialami serta memvalidasi perasaannya tanpa membenarkan perilaku yang tidak tepat.
- Teknik sederhana seperti latihan pernapasan, membuat pojok tenang, memberikan pilihan terbatas, dan mengajarkan anak mengungkapkan keinginan dengan kata-kata dapat menjadi bagian dari latihan regulasi emosi.
- Rutinitas yang konsisten, aktivitas fisik, serta contoh dari Mom/Dad juga dapat membantu anak belajar menghadapi berbagai situasi emosional secara bertahap.
Memahami cara mengatur emosi anak dapat membantu Mom/Dad menghadapi berbagai situasi dengan lebih tenang. Alih-alih hanya meminta anak berhenti menangis atau marah, orang tua dapat mengajarkan langkah sederhana untuk mengenali emosi, menyampaikan kebutuhan, serta memilih respons yang lebih tepat. Dengan latihan yang konsisten, anak perlahan dapat membangun kemampuan regulasi emosi yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Mengatur Emosi Anak Penting?
Emosi merupakan bagian alami dari kehidupan anak. Senang, sedih, kecewa, takut, marah, malu, dan frustrasi dapat muncul ketika anak menghadapi berbagai pengalaman. Masalahnya bukan terletak pada munculnya emosi tersebut, melainkan bagaimana anak belajar meresponsnya.
Kemampuan mengatur emosi atau emotional regulation membantu anak mengenali perasaan dan menyesuaikan respons terhadap situasi yang dihadapi. Anak yang sedang kecewa, misalnya, tetap boleh merasa sedih. Namun, ia secara bertahap dapat belajar bahwa memukul orang lain bukan cara yang tepat untuk menunjukkan kekecewaan.
Kemampuan ini juga berkaitan dengan berbagai aktivitas anak sehari-hari. Ketika bermain bersama teman, anak perlu menunggu giliran. Ketika mengikuti kegiatan belajar, anak perlu menghadapi kesulitan. Saat kalah dalam permainan, anak perlu menerima hasil yang tidak sesuai harapan.
Berikut beberapa alasan mengapa kemampuan mengelola emosi perlu dilatih sejak dini.
Membantu Anak Mengenali Perasaannya
Anak yang belum memiliki kosakata emosi yang cukup terkadang hanya menunjukkan perasaan melalui perilaku. Ia mungkin menangis ketika sebenarnya sedang kecewa atau berteriak ketika merasa takut. Dengan mengenalkan berbagai nama emosi, Mom/Dad membantu anak memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Mendukung Kemampuan Bersosialisasi
Regulasi emosi juga berperan ketika anak berinteraksi dengan orang lain. Anak perlu belajar mengendalikan dorongan untuk merebut mainan, memukul ketika kesal, atau berteriak ketika keinginannya tidak terpenuhi. Semakin baik kemampuan anak memahami emosinya, semakin mudah baginya belajar mempertimbangkan perasaan orang lain.
Membantu Anak Menghadapi Kekecewaan
Tidak semua keinginan anak dapat terpenuhi. Ada kalanya permainan harus selesai, permintaan ditolak, atau hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Latihan mengelola emosi membantu anak menghadapi situasi tersebut tanpa selalu memberikan reaksi yang sangat besar.
Membangun Kemandirian
Anak tidak selamanya akan bergantung pada Mom/Dad untuk menenangkan dirinya. Seiring pertumbuhan, anak perlu memiliki strategi sederhana yang dapat digunakan ketika merasa kesal, takut, atau frustrasi. Karena itu, pengelolaan emosi sebaiknya dipandang sebagai keterampilan yang perlu dilatih, bukan tuntutan agar anak selalu tenang.
Penyebab Anak Tidak Bisa Mengatur Emosinya
Sebelum menerapkan cara mengatur emosi anak, penting bagi Mom/Dad untuk memahami penyebab di balik perilakunya. Anak yang mengalami ledakan emosi belum tentu sedang membangkang. Ada banyak faktor yang dapat membuat anak lebih sulit mengendalikan respons emosionalnya.
Usia dan Tahap Perkembangan
Kemampuan regulasi emosi berkembang seiring bertambahnya usia. Anak kecil masih memiliki keterbatasan dalam memahami perasaan dan mengendalikan impuls. Karena itu, ekspektasi orang tua perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
Belum Mampu Mengungkapkan Perasaan
Anak mungkin merasakan sesuatu tetapi belum mengetahui bagaimana cara menjelaskannya. Daripada mengatakan, “Aku kecewa karena mainanku rusak,” ia mungkin menangis atau marah. Kondisi ini membuat kemampuan komunikasi menjadi bagian penting dari pembelajaran emosi.
Kelelahan
Anak yang kurang tidur atau terlalu lelah dapat menjadi lebih mudah menangis dan marah. Bahkan hal kecil yang biasanya dapat diterima mungkin terasa sangat mengganggu.
Lapar
Rasa lapar juga dapat memengaruhi suasana hati. Anak yang belum makan dalam waktu cukup lama mungkin menjadi lebih sensitif dan sulit berkonsentrasi.
Terlalu Banyak Stimulasi
Suara keras, keramaian, aktivitas yang terlalu padat, atau lingkungan yang membuat anak kewalahan dapat memicu reaksi emosional. Setiap anak mempunyai sensitivitas yang berbeda. Mom/Dad dapat memperhatikan situasi apa saja yang biasanya mendahului perubahan perilaku anak.
Perubahan Rutinitas
Anak umumnya merasa lebih nyaman ketika mengetahui apa yang akan terjadi. Perubahan jadwal secara mendadak, pindah tempat, atau aktivitas baru dapat membuat sebagian anak merasa tidak nyaman.
Meniru Lingkungan
Anak belajar melalui pengamatan. Cara orang dewasa menghadapi kemarahan dan konflik dapat menjadi contoh bagi anak. Bukan berarti orang tua harus selalu sempurna. Justru, Mom/Dad dapat menunjukkan bagaimana meminta maaf, menarik napas, dan memperbaiki respons setelah melakukan kesalahan.
Cara Mengatur Emosi Anak
Setelah memahami faktor penyebabnya, Mom/Dad dapat mulai menerapkan berbagai strategi sederhana. Berikut 10 cara mengatur emosi anak yang dapat dipraktikkan secara bertahap.
1. Bantu Anak Memberi Nama pada Emosinya
Langkah pertama adalah membantu anak mengenali perasaannya. Ketika anak menangis karena mainannya diambil, Mom/Dad dapat mengatakan, “Kamu sedang sedih karena mainanmu dipakai kakak, ya?”
Kalimat tersebut membantu anak menghubungkan pengalaman dengan nama emosi.
Tidak perlu mengenalkan terlalu banyak istilah sekaligus. Mulailah dengan emosi dasar seperti senang, sedih, marah, takut, kecewa, dan khawatir.
Setelah anak terbiasa, Mom/Dad dapat memperkenalkan emosi yang lebih spesifik seperti frustrasi, malu, cemas, atau bangga.
Tujuannya bukan membuat anak berhenti merasakan emosi, melainkan membuatnya semakin mampu memahami apa yang terjadi dalam dirinya.
2. Validasi Perasaan Anak
Validasi berarti mengakui bahwa perasaan anak memang ada dan dapat dipahami. Validasi bukan berarti Mom/Dad menyetujui semua perilaku yang dilakukan anak.
Misalnya, anak marah karena tidak boleh membeli mainan. Mom/Dad dapat mengatakan, “Mom tahu kamu kecewa karena belum boleh membeli mainan. Wajar kalau kamu merasa kecewa.”
Setelah itu, batasan tetap dapat diberikan.
“Namun, kita tidak boleh memukul atau melempar barang.”
Pendekatan ini memberikan pesan bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi setiap perilaku tetap memiliki batas.
3. Ajarkan Teknik Pernapasan Sederhana
Ketika sedang marah atau frustrasi, anak dapat belajar mengambil jeda melalui pernapasan sederhana.
Mom/Dad dapat mengajarkan permainan seperti “cium bunga, tiup lilin”. Minta anak berpura-pura mencium bunga dengan menarik napas perlahan, kemudian meniup lilin dengan mengembuskan napas secara perlahan.
Latihan sebaiknya dilakukan ketika anak sedang tenang. Jika baru diperkenalkan ketika anak sudah mengalami tantrum, anak mungkin belum mampu mengikuti instruksi.
Lakukan latihan secara rutin sehingga teknik tersebut familiar ketika anak benar-benar membutuhkannya.
4. Buat Sudut Tenang untuk Anak
Mom/Dad dapat menyediakan area kecil yang nyaman sebagai tempat anak menenangkan diri. Area ini tidak harus besar atau dipenuhi banyak barang.
Letakkan bantal, buku cerita, boneka, atau benda yang membuat anak merasa nyaman. Hindari menjadikan tempat tersebut sebagai hukuman.
Namanya dapat dibuat lebih positif, misalnya “pojok tenang”. Anak dapat diajak ke sana ketika membutuhkan waktu untuk mengatur diri.
Dengan demikian, anak belajar bahwa mengambil jeda merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan saat emosi sedang meningkat.
5. Ajarkan Anak Mengungkapkan Keinginan dengan Kata-Kata
Anak perlu mengetahui bahwa ada cara lain untuk menyampaikan keinginan selain menangis atau berteriak.
Mom/Dad dapat memberikan contoh kalimat sederhana seperti:
- “Aku tidak suka.”
- “Aku masih mau bermain.”
- “Aku butuh bantuan.”
- “Aku sedang marah.”
- “Aku kecewa.”
- “Boleh aku bergantian?”
- “Aku mau istirahat.”
Kalimat sederhana tersebut dapat disesuaikan dengan usia anak. Semakin sering digunakan dalam situasi sehari-hari, semakin mudah anak mengingatnya.
Baca juga: Kenali Fase Perkembangan Emosi Anak Usia 3 Tahun yang Wajib Diketahui Orang Tua
6. Gunakan Pilihan Terbatas
Memberikan pilihan dapat membantu anak merasa memiliki kendali tanpa membuat Mom/Dad kehilangan batasan.
Contohnya, “Kamu mau merapikan mainan sekarang atau setelah minum air?”
Keduanya tetap mengarah pada tujuan yang sama, tetapi anak diberikan kesempatan memilih.
Teknik ini dapat digunakan dalam berbagai situasi, misalnya memilih pakaian, menentukan urutan aktivitas, atau memilih kegiatan sebelum tidur.
7. Buat Rutinitas yang Konsisten
Rutinitas membantu anak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadwal sederhana dapat digunakan untuk aktivitas seperti bangun tidur, makan, bermain, belajar, mandi, dan tidur.
Untuk anak kecil, Mom/Dad dapat menggunakan gambar sebagai pengingat.
Rutinitas juga membantu mengurangi konflik yang muncul karena anak belum memahami transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
Misalnya, sebelum waktu bermain berakhir, berikan peringatan, “Lima menit lagi kita selesai bermain, setelah itu kita mandi.”
Peringatan semacam ini memberikan kesempatan kepada anak untuk mempersiapkan diri secara emosional.
8. Berikan Contoh Cara Mengelola Emosi
Anak banyak belajar dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, Mom/Dad dapat memperlihatkan bagaimana menghadapi emosi secara sehat.
Misalnya ketika merasa kesal, Mom/Dad dapat mengatakan, “Mom sedang kesal. Mom mau tarik napas dulu supaya lebih tenang.”
Anak kemudian melihat secara langsung bahwa merasa marah bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi respons terhadap kemarahan dapat dikelola.
Contoh nyata sering kali lebih mudah dipahami daripada nasihat panjang.
9. Ajak Anak Bergerak
Aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari rutinitas anak untuk membantu menyalurkan energi. Anak dapat diajak berjalan, melompat, menari, bermain bola, melakukan permainan keseimbangan, atau aktivitas gerak lainnya yang sesuai usia.
Kegiatan fisik juga dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar mengikuti instruksi, menunggu giliran, dan berinteraksi dengan teman.
Mom/Dad tidak harus menjadikan aktivitas ini sebagai latihan yang serius. Permainan sederhana yang menyenangkan sudah dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
10. Berikan Pujian pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Menurut American Psychological Association,kKetika anak berhasil mengendalikan responsnya, berikan apresiasi yang spesifik.
Daripada hanya mengatakan, “Anak pintar,” Mom/Dad dapat mengatakan, “Tadi kamu marah, tetapi kamu memilih bilang kalau kamu kecewa. Itu cara yang baik untuk menyampaikan perasaan.”
Pujian spesifik membantu anak memahami perilaku apa yang perlu diulangi.
Jika suatu hari anak kembali mengalami ledakan emosi, jangan menganggap latihan sebelumnya gagal. Kemampuan regulasi emosi berkembang secara bertahap dan dapat dipengaruhi oleh kondisi anak pada hari tersebut.
Tips untuk Orang Tua untuk Mempraktikkannya
Menerapkan cara mengatur emosi anak membutuhkan konsistensi. Mom/Dad tidak perlu mencoba seluruh strategi sekaligus. Pilih beberapa metode yang paling sesuai dengan kondisi anak dan lakukan secara berulang.
Tetap Tenang Ketika Anak Mulai Marah
Ketika anak berteriak, respons orang tua yang juga penuh kemarahan dapat membuat situasi semakin sulit. Cobalah menggunakan suara yang lebih pelan dan kalimat yang singkat. Jika anak sedang sangat emosional, hindari memberikan penjelasan panjang. Tunggu sampai intensitas emosinya menurun sebelum membicarakan perilakunya.
Kenali Pemicu yang Berulang
Mom/Dad dapat memperhatikan kapan anak biasanya mengalami kesulitan mengendalikan emosi.
Apakah terjadi sebelum tidur? Saat lapar? Ketika harus berhenti bermain? Ketika bertemu banyak orang? Atau ketika menghadapi tugas yang sulit?
Mencatat pola tersebut dapat membantu orang tua mempersiapkan strategi sebelum masalah muncul.
Jangan Menuntut Anak Selalu Tenang
Tenang bukan berarti anak tidak boleh menangis. Menangis dapat menjadi salah satu cara tubuh merespons tekanan atau kesedihan. Fokus utama adalah membantu anak belajar mengungkapkan perasaan dengan cara yang aman.
Bedakan Emosi dan Perilaku
Ini merupakan prinsip yang penting. Mom/Dad dapat menerima emosi anak tanpa menerima perilaku yang membahayakan. Anak boleh marah, tetapi tidak boleh memukul. Anak boleh kecewa, tetapi tidak boleh merusak barang. Anak boleh menangis, tetapi tetap perlu belajar menyampaikan kebutuhan ketika sudah lebih tenang.
Gunakan Kalimat yang Konsisten
Jika seluruh anggota keluarga menggunakan pesan yang serupa, anak akan lebih mudah memahami batasan. Misalnya, keluarga sepakat menggunakan kalimat “Boleh marah, tidak boleh menyakiti” ketika anak mulai memukul. Konsistensi membantu anak memahami bahwa aturan tersebut bukan hanya berlaku pada situasi tertentu.
Jangan Terburu-buru Memberikan Solusi
Ketika anak menceritakan masalah, dengarkan terlebih dahulu. Tidak semua masalah membutuhkan solusi langsung. Terkadang anak hanya membutuhkan orang dewasa yang mengakui perasaannya.
Mom/Dad dapat bertanya, “Kamu mau Mom dengarkan saja atau mau kita cari solusinya bersama?” Pertanyaan sederhana ini juga membantu anak belajar memahami kebutuhannya sendiri.
Latihan Saat Anak Sedang Bahagia
Keterampilan regulasi emosi sebaiknya tidak hanya dibahas ketika anak sedang marah. Saat suasana santai, Mom/Dad dapat bermain peran. Misalnya, boneka berpura-pura kehilangan mainan dan anak diminta mencari cara untuk menenangkan boneka tersebut.
Aktivitas pretend play seperti ini membuat pembelajaran emosi terasa lebih menyenangkan.
Berikan Waktu untuk Berkembang
Setiap anak memiliki karakter dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Ada anak yang mudah berbicara mengenai perasaan, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama.
Mom/Dad dapat berfokus pada kemajuan kecil.
Hari ini anak mungkin baru bisa mengatakan “aku marah”. Beberapa waktu kemudian, ia mungkin sudah mampu meminta waktu untuk menenangkan diri. Perkembangan seperti itu merupakan bagian dari proses.
Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Ledakan emosi sesekali dapat terjadi pada banyak anak. Namun, Mom/Dad sebaiknya memperhatikan apabila masalah berlangsung terus-menerus, sangat intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, membahayakan anak atau orang lain, atau disertai kekhawatiran lain mengenai perkembangan anak.
Dalam situasi tersebut, orang tua dapat mendiskusikannya dengan dokter anak, psikolog anak, atau tenaga profesional yang sesuai. Evaluasi dari profesional dapat membantu memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.
Yang terpenting, jangan menjadikan kemampuan mengatur emosi sebagai ajang membandingkan anak dengan anak lain. Fokuslah pada perkembangan kemampuan anak dari waktu ke waktu.
Baca juga: 10 Cara Mengelola Emosi Anak dengan Bijak
Yuk, Latih Regulasi Emosi Anak melalui Kelas Sensori di Sparks Sports Academy
Memahami cara mengatur emosi anak bukan hanya tentang memberikan nasihat ketika anak sedang marah. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk mengenali tubuh, menghadapi berbagai pengalaman sensorik, bergerak, mengikuti instruksi, dan berinteraksi dalam lingkungan yang terstruktur. Mom/Dad dapat memberikan pengalaman tersebut melalui aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah kelas sensori anak di Spakrs Sports Academy. Melalui aktivitas yang dirancang agar anak dapat bereksplorasi dan bergerak, Mom/Dad dapat membantu anak mengembangkan berbagai keterampilan pendukung, termasuk kemampuan mengikuti arahan, mengenali respons tubuh, berinteraksi, dan belajar mengelola respons terhadap berbagai rangsangan. Dengan pendampingan yang tepat dan latihan yang konsisten, kemampuan anak untuk memahami serta mengatur emosinya dapat berkembang secara bertahap.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud dengan cara mengatur emosi anak?
Cara mengatur emosi anak adalah berbagai langkah yang membantu anak mengenali, memahami, dan mengekspresikan perasaannya dengan cara yang lebih tepat. Proses ini dapat dilakukan melalui komunikasi, validasi emosi, latihan pernapasan, rutinitas, serta aktivitas yang sesuai dengan usia anak.
Mengapa anak sering sulit mengendalikan emosinya?
Anak masih berada dalam tahap perkembangan sehingga kemampuan mengendalikan emosi belum sepenuhnya matang. Selain itu, rasa lapar, lelah, kurang tidur, terlalu banyak stimulasi, perubahan rutinitas, atau kesulitan menyampaikan keinginan juga dapat membuat anak lebih mudah mengalami ledakan emosi.
Bagaimana cara menenangkan anak yang sedang marah?
Mom/Dad dapat berbicara dengan suara tenang, memberikan ruang untuk anak menenangkan diri, memvalidasi perasaannya, dan menghindari ceramah panjang ketika emosi sedang memuncak. Setelah anak lebih tenang, ajak ia membicarakan penyebab kemarahan dan mencari cara yang lebih tepat untuk mengungkapkannya.
Apakah anak boleh menangis ketika sedang emosi?
Tentu. Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi. Mom/Dad tidak perlu memaksa anak langsung berhenti menangis. Sebaliknya, bantu anak merasa aman dan ajarkan cara menyampaikan perasaan setelah kondisinya lebih tenang.
Bagaimana cara mengajarkan anak agar tidak memukul ketika marah?
Pertama, berikan batasan yang jelas bahwa marah boleh tetapi memukul tidak diperbolehkan. Setelah anak lebih tenang, ajarkan alternatif seperti mengatakan “aku marah”, menarik napas, mengambil jeda, meminta bantuan, atau menjauh sebentar dari situasi yang membuatnya kesal.
Apakah aktivitas fisik dapat membantu anak mengelola emosi?
Aktivitas fisik yang sesuai usia dapat menjadi salah satu bagian dari rutinitas positif anak. Bermain, menari, melompat, atau melakukan aktivitas gerak dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk bergerak, mengikuti instruksi, dan berinteraksi dalam suasana yang menyenangkan.
Kapan Mom/Dad perlu berkonsultasi dengan tenaga profesional?
Mom/Dad dapat mempertimbangkan bantuan profesional apabila ledakan emosi anak terjadi sangat sering, intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, membahayakan diri sendiri atau orang lain, atau disertai kekhawatiran lain mengenai perkembangan anak. Evaluasi profesional dapat membantu memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.








