Author: Tim Sparks Sports Academy
Kemampuan anak dalam belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kecerdasan atau kemampuan memahami materi pelajaran. Ada berbagai keterampilan lain yang turut mendukung proses belajar, salah satunya adalah kemampuan mengelola emosi. Anak yang mampu mengenali, memahami, dan mengatur emosinya cenderung lebih siap menghadapi tantangan selama proses belajar. Karena itu, pembahasan mengenai kontrol emosi baik akademis baik menjadi penting bagi Mom/Dad yang ingin mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Ringkasan Artikel
- Kontrol emosi membantu anak tetap fokus ketika menghadapi tugas, kesalahan, atau tantangan belajar.
- Kemampuan regulasi emosi berkaitan dengan keterlibatan anak dalam kegiatan sekolah dan proses akademis.
- Anak yang dapat mengelola frustrasi cenderung lebih mampu bertahan ketika menghadapi materi yang sulit.
- Mom/Dad dapat melatih kontrol emosi melalui komunikasi, permainan, aktivitas fisik, rutinitas, dan contoh dari orang dewasa.
- Kelas sensori anak dapat menjadi salah satu aktivitas yang membantu anak mengembangkan berbagai keterampilan regulasi diri secara menyenangkan.
Bayangkan ketika anak sedang mengerjakan tugas dan menemukan soal yang sulit. Anak yang belum mampu mengendalikan emosi mungkin langsung frustrasi, menangis, marah, atau meninggalkan tugas. Sebaliknya, anak yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik dapat mengambil jeda, meminta bantuan, mencoba kembali, atau mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah. Perbedaan respons tersebut dapat memengaruhi bagaimana anak mengikuti kegiatan belajar sehari-hari.
Hubungan antara kemampuan mengelola emosi dan perkembangan akademis juga telah menjadi perhatian dalam penelitian perkembangan anak. Sebuah penelitian pada anak usia taman kanak-kanak menemukan bahwa regulasi emosi berkaitan secara positif dengan laporan guru mengenai keberhasilan dan produktivitas akademis anak, termasuk kemampuan literasi dan matematika awal. Artinya, mendukung kemampuan emosi anak bukan berarti mengesampingkan pendidikan akademis, tetapi justru dapat menjadi bagian dari fondasi yang membantu anak belajar.
Apa yang Dimaksud dengan Kontrol Emosi Anak?
Kontrol emosi atau regulasi emosi adalah kemampuan anak untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sesuai dengan situasi. Kontrol emosi bukan berarti anak harus selalu tenang atau tidak boleh marah, sedih, kecewa, maupun takut.
Justru, anak perlu mengetahui bahwa berbagai emosi merupakan bagian normal dari kehidupan. Hal yang perlu dikembangkan adalah kemampuan untuk menghadapi emosi tersebut tanpa membiarkan emosi mengendalikan seluruh perilakunya.
Misalnya, seorang anak mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Perasaan kecewa merupakan respons yang wajar. Namun, anak dapat belajar mengatakan, “Aku kecewa karena hasilnya belum sesuai harapan,” kemudian mencari tahu bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
Inilah salah satu bentuk kontrol emosi yang sehat. Anak tetap merasakan emosi, tetapi mampu mengarahkan responsnya.
Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap. Anak usia dini tentu belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang sama seperti anak usia sekolah. Oleh sebab itu, Mom/Dad perlu memberikan pendampingan sesuai tahap perkembangan anak.
Mengapa Kontrol Emosi Berkaitan dengan Kemampuan Akademis?
Proses belajar membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengingat informasi. Anak perlu memperhatikan penjelasan, mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas, menghadapi kesalahan, berinteraksi dengan guru dan teman, serta mempertahankan usaha ketika mengalami kesulitan.
Semua aktivitas tersebut melibatkan kemampuan mengatur diri.
Ketika emosi terlalu kuat dan anak belum memiliki strategi untuk mengelolanya, perhatian anak dapat lebih mudah teralihkan. Sebaliknya, ketika anak memiliki strategi regulasi emosi yang sesuai, ia memiliki kesempatan lebih besar untuk kembali fokus pada tugas yang sedang dikerjakan.
Penelitian terhadap anak sekolah dasar juga menemukan hubungan positif antara regulasi emosi dengan berbagai aspek fungsi akademis, termasuk motivasi, keterlibatan belajar, dan pencapaian akademis. Dalam penelitian tersebut, keterlibatan belajar juga menjadi salah satu jalur yang menghubungkan regulasi emosi dengan pencapaian.
Jadi, hubungan kontrol emosi baik akademis baik sebaiknya dipahami sebagai hubungan yang melibatkan banyak proses, bukan hubungan sederhana bahwa kemampuan mengendalikan emosi secara otomatis membuat anak mendapatkan nilai tinggi.
Bagaimana Kontrol Emosi Membantu Anak Belajar?
Ada beberapa cara kemampuan mengelola emosi dapat mendukung proses akademis anak.
1. Membantu Anak Mempertahankan Fokus
Belajar membutuhkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. Ketika anak mudah terbawa emosi, perhatian dapat berpindah dari tugas ke sumber frustrasi.
Contohnya, anak sedang belajar matematika lalu menemukan soal yang tidak dapat diselesaikan. Rasa frustrasi dapat membuat anak berhenti mencoba.
Jika anak sudah memiliki strategi regulasi emosi, ia dapat mengambil napas, meminta penjelasan, mengerjakan soal lain terlebih dahulu, atau mencoba kembali setelah beristirahat.
Kemampuan untuk kembali kepada tugas tersebut sangat penting dalam proses belajar.
2. Membantu Anak Menghadapi Kesalahan
Kesalahan merupakan bagian dari pembelajaran. Namun, sebagian anak dapat menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang membuat mereka merasa tidak mampu.
Anak yang memiliki kontrol emosi yang berkembang dapat belajar melihat kesalahan sebagai informasi. Ia dapat memahami bahwa belum berhasil bukan berarti tidak bisa.
Mom/Dad dapat membantu dengan mengganti kalimat seperti:
“Kok kamu salah lagi?”
menjadi:
“Bagian mana yang menurut kamu paling sulit?”
Pertanyaan tersebut mengajak anak memahami masalah daripada sekadar berfokus pada kesalahan.
3. Meningkatkan Ketekunan
Belajar tidak selalu mudah. Ada materi yang membutuhkan pengulangan dan latihan berkali-kali.
Kemampuan mengelola rasa bosan, kecewa, atau frustrasi dapat membantu anak mempertahankan usaha. Dalam psikologi pembelajaran, kemampuan untuk tetap mengerjakan sesuatu meskipun menghadapi kesulitan berkaitan dengan kemampuan regulasi diri.
Anak yang mampu mengatur respons emosinya memiliki kesempatan lebih besar untuk berkata, “Aku coba lagi,” dibandingkan langsung menyerah.
4. Mendukung Keterlibatan Anak dalam Pembelajaran
Keterlibatan atau engagement merupakan salah satu bagian penting dalam pengalaman belajar. Anak yang merasa nyaman secara emosional dapat lebih mudah berpartisipasi dalam kegiatan.
Misalnya, anak berani bertanya ketika tidak memahami materi, ikut berdiskusi, mencoba aktivitas baru, dan menyelesaikan tugas.
Penelitian longitudinal yang diterbitkan dalam Journal of School Psychology menemukan bahwa kemampuan regulasi emosi pada usia lebih awal berkaitan dengan pencapaian akademis beberapa tahun kemudian melalui faktor seperti keterikatan dengan sekolah dan kondisi emosional.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan emosi dan akademis dapat berlangsung dalam proses perkembangan yang panjang.
Baca juga: 10 Cara Mengelola Emosi Anak dengan Bijak
Kontrol Emosi Bukan Berarti Anak Tidak Boleh Marah
Ada kesalahpahaman yang cukup umum mengenai kontrol emosi. Sebagian orang mungkin menganggap anak yang memiliki kontrol emosi baik adalah anak yang tidak pernah marah, menangis, atau kecewa.
Padahal, hal tersebut tidak realistis.
Anak tetap akan merasakan berbagai emosi. Yang berkembang adalah kemampuan untuk memahami emosi tersebut dan menentukan respons yang lebih sesuai.
Contohnya:
- Anak boleh merasa marah ketika mainannya diambil.
- Anak boleh kecewa ketika nilainya tidak sesuai harapan.
- Anak boleh sedih ketika kalah dalam permainan.
- Anak boleh takut ketika menghadapi pengalaman baru.
- Anak boleh merasa gugup sebelum tampil di depan kelas.
Yang perlu dipelajari adalah apa yang dapat dilakukan setelah emosi tersebut muncul.
Anak dapat belajar mengambil napas, berbicara tentang perasaannya, meminta bantuan, mengambil jeda, atau menggunakan strategi lain yang sesuai.
Tanda-Tanda Kemampuan Regulasi Emosi Anak Mulai Berkembang
Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Namun, Mom/Dad dapat memperhatikan beberapa tanda berikut:
- Anak Mulai Mampu Menyebutkan Perasaannya: Misalnya, anak dapat mengatakan, “Aku kecewa,” “Aku takut,” atau “Aku kesal.” Kemampuan menyebutkan emosi merupakan langkah penting karena anak mulai menghubungkan pengalaman dengan keadaan emosionalnya.
- Anak Mulai Mampu Menunggu: Kemampuan menunggu merupakan bagian dari kontrol diri. Anak mungkin belum selalu berhasil, tetapi adanya perkembangan dalam kemampuan menunggu giliran dapat menjadi tanda positif.
- Anak Mulai Mau Mencoba Lagi: Ketika gagal mengerjakan sesuatu, anak tidak langsung meninggalkan aktivitas. Ia mungkin meminta bantuan atau mencoba kembali.
- Anak Mulai Menggunakan Strategi untuk Menenangkan Diri: Misalnya mengambil napas, duduk sebentar, minum air, meminta pelukan, atau berbicara dengan orang dewasa.
- Anak Mulai Mampu Mengikuti Instruksi: Kemampuan mengikuti instruksi sederhana hingga beberapa langkah dapat berkaitan dengan kemampuan mengendalikan respons spontan dan mempertahankan perhatian.
Faktor yang Memengaruhi Kontrol Emosi Anak
Kemampuan regulasi emosi tidak muncul dari satu faktor saja. Perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai aspek.
Usia dan Tahap Perkembangan
Kemampuan anak dalam mengontrol emosi berkembang seiring pertambahan usia dan pengalaman. Ekspektasi terhadap anak perlu disesuaikan dengan tahap perkembangannya.
Lingkungan Keluarga
Cara orang dewasa merespons emosi anak dapat menjadi contoh bagi anak. Ketika Mom/Dad menghadapi konflik dengan tenang dan menggunakan komunikasi yang baik, anak mendapatkan model perilaku yang dapat dipelajari.
Lingkungan Sekolah
Hubungan dengan guru dan teman juga dapat memengaruhi pengalaman emosional anak. Sebuah tinjauan sistematis mengenai regulasi emosi pada anak sekolah dasar menunjukkan bahwa interaksi guru dan anak merupakan salah satu faktor penting dalam konteks regulasi emosi di sekolah.
Tidur dan Rutinitas
Anak yang terlalu lelah dapat menjadi lebih mudah frustrasi atau sulit mempertahankan perhatian. Rutinitas harian yang teratur dapat membantu anak mempersiapkan diri menghadapi aktivitas.
Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik memberikan kesempatan bagi anak untuk bergerak, mengikuti aturan, menunggu giliran, menghadapi tantangan, dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam aktivitas olahraga, anak juga dapat belajar bahwa tidak semua permainan berakhir sesuai harapan. Ada kemenangan, kekalahan, kesalahan, dan proses mencoba kembali.
Cara Mom/Dad Melatih Kontrol Emosi Anak di Rumah
Mom/Dad bisa mengikuti cara berikut ini untuk melatih emosi anak di rumah.
1. Ajarkan Nama-Nama Emosi
Gunakan situasi sehari-hari untuk memperkenalkan berbagai emosi.
Contohnya: “Kamu kelihatannya kecewa karena permainannya selesai.”
Dengan cara tersebut, anak belajar menghubungkan kejadian dengan perasaan.
2. Validasi Perasaan Anak
Validasi bukan berarti Mom/Dad menyetujui semua perilaku anak.
Mom/Dad dapat mengatakan: “Mom tahu kamu sedang marah. Marah boleh, tetapi memukul tidak boleh.”
Kalimat seperti ini membantu anak membedakan antara emosi dan perilaku.
3. Ajarkan Teknik Pernapasan Sederhana
Anak dapat diajarkan menarik napas perlahan lalu mengembuskannya. Agar lebih menyenangkan, Mom/Dad dapat mengibaratkannya seperti meniup lilin atau meniup gelembung.
4. Berikan Pilihan
Ketika anak menghadapi masalah, berikan beberapa pilihan sederhana.
Misalnya: “Kamu mau istirahat sebentar atau mencoba lagi bersama Dad?”
Pilihan dapat membantu anak merasa memiliki kendali tanpa membuatnya harus menentukan semuanya sendiri.
5. Gunakan Permainan
Permainan dapat menjadi media untuk melatih kontrol diri tanpa membuat anak merasa sedang mengikuti pelajaran. Permainan bergiliran, permainan dengan aturan, aktivitas mengikuti instruksi, dan permainan gerak dapat digunakan untuk melatih kemampuan menunggu, mengikuti aturan, serta mengendalikan respons.
6. Berikan Contoh
Anak banyak belajar melalui pengamatan. Jika Mom/Dad sedang kesal, tunjukkan bagaimana mengelola emosi secara sehat.
Misalnya: “Dad sedang kesal. Dad mau tarik napas dulu supaya bisa berpikir lebih tenang.”
Dengan demikian, anak melihat contoh nyata bahwa emosi dapat dikelola.
7. Jangan Hanya Memuji Hasil
Ketika anak berhasil mendapatkan nilai tinggi, Mom/Dad dapat memberikan apresiasi terhadap proses.
Contohnya: “Mom melihat kamu rajin berlatih.”
Pujian terhadap usaha dapat membantu anak memahami bahwa proses belajar juga penting.
Peran Aktivitas Sensori dalam Mendukung Regulasi Diri
Aktivitas sensori melibatkan pengalaman melalui berbagai indera dan gerakan tubuh. Dalam kegiatan yang sesuai usia, anak dapat memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi tekstur, gerakan, keseimbangan, tekanan, suara, maupun berbagai bentuk aktivitas fisik.
Kegiatan seperti ini dapat menjadi bagian dari pengalaman bermain dan belajar yang menyenangkan.
Namun, penting untuk memahami bahwa aktivitas sensori bukan solusi tunggal untuk semua kesulitan emosi atau akademis anak. Setiap anak memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda.
Penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa keterampilan regulasi perilaku dan emosi merupakan kemampuan dasar yang mendukung proses belajar, pencapaian akademis, serta kompetensi sosial.
Karena itu, aktivitas yang memberikan kesempatan kepada anak untuk bergerak, mengikuti instruksi, menyelesaikan tantangan, dan berinteraksi dapat menjadi bagian dari stimulasi perkembangan yang lebih luas.
Hubungan Kontrol Emosi dengan Prestasi Akademis Perlu Dipahami Secara Menyeluruh
Penting bagi Mom/Dad untuk tidak menyimpulkan bahwa anak yang mendapatkan nilai tinggi pasti memiliki kontrol emosi yang baik, atau sebaliknya.
Prestasi akademis dipengaruhi banyak faktor, seperti kemampuan kognitif, kualitas pengajaran, lingkungan belajar, kesempatan belajar, motivasi, kesehatan, dukungan keluarga, serta berbagai faktor sosial dan emosional.
Sebuah penelitian National Library of Medicine, pada anak usia 6–11 tahun menemukan bahwa fungsi eksekutif, khususnya inhibisi dan memori kerja, memiliki hubungan yang kuat dengan prestasi sekolah, sementara salah satu aspek kecerdasan emosional, yaitu kemampuan adaptasi, juga berkaitan dengan pencapaian.
Artinya, perkembangan anak sebaiknya dilihat sebagai satu kesatuan. Kemampuan berpikir, kemampuan mengelola emosi, kemampuan mengatur perilaku, dan keterampilan sosial dapat saling mendukung.
Mengapa Anak Perlu Dilatih Sejak Dini?
Regulasi emosi bukan keterampilan yang tiba-tiba muncul ketika anak masuk sekolah.
Kemampuan tersebut berkembang melalui pengalaman sehari-hari sejak masa kanak-kanak.
Penelitian longitudinal pada anak usia dini menunjukkan bahwa fungsi eksekutif dapat menjadi salah satu mekanisme yang menghubungkan karakteristik emosi awal dengan pencapaian matematika dan membaca pada usia berikutnya.
Karena itu, Mom/Dad tidak perlu menunggu anak mengalami masalah akademis untuk mulai mengembangkan keterampilan regulasi diri.
Kegiatan sederhana seperti bermain bersama, membaca buku cerita tentang emosi, melakukan aktivitas fisik, bermain bergiliran, serta mengajarkan cara menenangkan diri dapat dilakukan sejak dini.
Strategi yang Bisa Diterapkan Sebelum Anak Belajar
Rutinitas sebelum belajar juga dapat membantu anak mempersiapkan kondisi tubuh dan pikirannya.
Mom/Dad dapat mencoba pola sederhana berikut:
- Pastikan anak sudah cukup beristirahat.
- Ajak anak melakukan aktivitas fisik ringan.
- Berikan waktu transisi sebelum mulai belajar.
- Tanyakan bagaimana perasaan anak.
- Tentukan target belajar yang realistis.
- Berikan jeda jika anak mulai terlihat lelah.
- Apresiasi usaha anak setelah menyelesaikan aktivitas.
Strategi tersebut tidak harus dilakukan secara kaku. Yang terpenting adalah menciptakan suasana belajar yang konsisten dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Anak Frustrasi Belajar?
Ketika anak mulai menangis atau marah karena kesulitan belajar, Mom/Dad sebaiknya tidak langsung berfokus pada penyelesaian soal. Prioritaskan kondisi emosional anak terlebih dahulu.
Mom/Dad dapat mengatakan: “Sepertinya kamu sedang kesulitan. Kita tenangkan diri dulu, setelah itu coba lihat soalnya bersama-sama.”
Setelah anak lebih tenang, bantu ia mengidentifikasi bagian yang sulit.
Misalnya: “Mana yang belum kamu mengerti?”
Cara tersebut mengajarkan anak bahwa menghadapi kesulitan tidak selalu berarti harus menyerah.
Kapan Mom/Dad Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Setiap anak dapat mengalami tantrum, frustrasi, atau kesulitan mengendalikan emosi. Namun, jika masalah emosi atau perilaku berlangsung terus-menerus, sangat intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, atau proses belajar, Mom/Dad dapat mempertimbangkan berkonsultasi dengan profesional yang sesuai.
Guru, psikolog anak, dokter anak, atau profesional perkembangan anak dapat membantu melakukan penilaian berdasarkan kondisi individual anak.
Pendekatan tersebut lebih tepat daripada memberikan label kepada anak hanya berdasarkan beberapa perilaku yang terlihat di rumah.
Membangun Fondasi Belajar yang Lebih Menyeluruh
Mendukung kemampuan akademis anak sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui lembar kerja atau latihan soal. Anak juga membutuhkan pengalaman yang membantu mengembangkan perhatian, koordinasi, kemampuan mengikuti aturan, interaksi sosial, pemecahan masalah, dan regulasi diri.
Aktivitas bermain yang terstruktur dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan pengalaman tersebut.
Ketika anak diberikan kesempatan untuk mencoba, gagal, memperbaiki kesalahan, menunggu giliran, mengikuti arahan, dan menyelesaikan tantangan, ia belajar berbagai keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah alasan mengapa pembahasan kontrol emosi baik akademis baik penting untuk ditempatkan dalam perspektif perkembangan anak secara menyeluruh.
Baca juga: 6 Cara Mengenalkan Emosi pada Anak, Wajib Tahu!
Bangun Kontrol Emosi Anak melalui Aktivitas yang Menyenangkan di Sparks Sports Academy
Pada akhirnya, kemampuan mengelola emosi bukan sesuatu yang harus diajarkan melalui ceramah panjang kepada anak. Anak dapat belajar melalui pengalaman yang sesuai dengan usianya, termasuk bermain, bergerak, mengeksplorasi lingkungan, mengikuti instruksi, dan berinteraksi dengan teman.
Mom/Dad dapat mempertimbangkan kelas sensori anak di Sparks Sports Academy sebagai salah satu aktivitas untuk memberikan pengalaman bermain dan stimulasi yang terarah. Kegiatan yang menyenangkan dapat membantu anak belajar mengenali respons tubuh, mengikuti aktivitas, menghadapi tantangan, dan berlatih mengatur respons sesuai situasi.
Dengan memberikan stimulasi yang tepat sejak dini, Mom/Dad dapat membantu membangun fondasi perkembangan anak secara lebih menyeluruh. Yuk, dukung perjalanan tumbuh kembang Si Kecil melalui kelas sensori anak di Sparks Sports Academy dan berikan kesempatan bagi anak untuk belajar, bergerak, mengeksplorasi, serta berkembang dengan cara yang menyenangkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah kontrol emosi berpengaruh terhadap prestasi akademis anak?
Kontrol emosi dapat berkaitan dengan proses akademis karena anak perlu mengatur perhatian, menghadapi frustrasi, mengikuti instruksi, dan mempertahankan usaha ketika belajar. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara regulasi emosi dan berbagai aspek fungsi akademis anak. Namun, prestasi akademis juga dipengaruhi banyak faktor lainnya.
Apa hubungan kontrol emosi baik dengan akademis baik?
Hubungan kontrol emosi baik akademis baik dapat terlihat melalui beberapa proses, seperti kemampuan anak mempertahankan fokus, menghadapi kesalahan, mengelola frustrasi, mengikuti kegiatan pembelajaran, dan tetap berusaha ketika menemui kesulitan.
Apakah anak yang sering marah berarti memiliki kontrol emosi yang buruk?
Belum tentu. Marah merupakan emosi yang normal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana anak mengekspresikan dan mengelola kemarahan tersebut. Anak secara bertahap perlu belajar bahwa merasa marah boleh, tetapi perilaku seperti memukul atau menyakiti orang lain tidak dapat dibenarkan.
Bagaimana cara melatih kontrol emosi anak di rumah?
Mom/Dad dapat membantu anak mengenali nama emosinya, memvalidasi perasaannya, mengajarkan teknik pernapasan sederhana, memberikan pilihan, bermain permainan bergiliran, mengajarkan strategi menenangkan diri, dan memberikan contoh bagaimana orang dewasa mengelola emosi.
Apakah aktivitas sensori dapat membantu perkembangan kontrol diri anak?
Aktivitas sensori dapat menjadi bagian dari pengalaman bermain dan stimulasi perkembangan anak. Kegiatan yang melibatkan gerakan, eksplorasi, mengikuti instruksi, dan interaksi dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih berbagai keterampilan regulasi diri. Namun, kebutuhan setiap anak berbeda sehingga aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhannya.
Apakah kontrol emosi saja cukup untuk membuat anak berprestasi?
Tidak. Prestasi akademis dipengaruhi banyak faktor, termasuk kemampuan kognitif, fungsi eksekutif, motivasi, kualitas pembelajaran, lingkungan, dukungan keluarga, kesehatan, dan kesempatan belajar. Kontrol emosi merupakan salah satu bagian dari fondasi perkembangan yang dapat mendukung proses tersebut.
Kapan anak perlu mendapatkan pendampingan lebih lanjut?
Jika kesulitan mengelola emosi berlangsung terus-menerus, sangat intens, atau mulai mengganggu kegiatan belajar, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari, maupun kesejahteraan anak, Mom/Dad dapat berkonsultasi dengan profesional yang sesuai untuk mendapatkan penilaian dan rekomendasi berdasarkan kondisi anak.







