Kenapa Anak Sering Emut Jempol Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kenapa Anak Sering Emut Jempol? Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Table of Contents

Ketika melihat anak sering emut jempol, sebagian Mom/Dad mungkin langsung merasa khawatir. Kebiasaan ini memang cukup umum ditemukan pada bayi dan anak usia dini. Bagi sebagian anak, mengisap jempol merupakan cara untuk merasa nyaman, tenang, atau membantu dirinya beradaptasi ketika mengantuk, lelah, bosan, maupun menghadapi situasi baru.

Namun, kebiasaan mengemut atau mengisap jempol perlu diperhatikan apabila berlangsung terus-menerus hingga usia yang lebih besar. Durasi, frekuensi, dan intensitas mengisap jempol dapat menjadi beberapa faktor yang berhubungan dengan dampaknya terhadap perkembangan gigi dan struktur mulut. American Academy of Pediatric Dentistry menjelaskan bahwa kebiasaan mengisap jempol pada bayi dan anak kecil umumnya normal, tetapi dapat menjadi masalah apabila berlangsung dalam waktu yang lama.

Ringkasan artikel

  • Anak sering emut jempol karena mengisap jempol dapat memberikan rasa nyaman dan membantu proses self-soothing atau menenangkan diri.
  • Kebiasaan mengemut jempol umumnya masih normal pada bayi dan anak usia dini, tetapi perlu diperhatikan jika menetap dalam waktu lama.
  • Mengemut jempol dalam jangka panjang dan dengan intensitas tinggi dapat berkaitan dengan perubahan posisi gigi dan perkembangan struktur mulut.
  • Mom/Dad dapat membantu anak mengurangi kebiasaan ini dengan mencari pemicunya, memberikan aktivitas pengganti, dan menggunakan pendekatan positif.
  • Jika kebiasaan menetap atau muncul perubahan pada gigi dan mulut, konsultasi dengan dokter gigi anak dapat membantu menentukan langkah yang sesuai.

Karena itu, Mom/Dad tidak perlu langsung memarahi atau melarang anak secara keras. Hal yang lebih penting adalah memahami alasan di balik kebiasaan tersebut, memperhatikan kapan anak biasanya mengemut jempol, serta memberikan alternatif yang membantu anak merasa aman dan nyaman. Dengan pendekatan yang tepat, kebiasaan ini dapat dikurangi secara bertahap tanpa membuat anak merasa tertekan.

Penyebab Anak Sering Emut Jempol

Anak sering emut jempol bukan berarti anak sedang melakukan sesuatu yang salah. Pada banyak kasus, mengisap jempol merupakan bagian dari perilaku alami yang berhubungan dengan kebutuhan anak untuk merasa tenang.

Memahami penyebabnya dapat membantu Mom/Dad menentukan pendekatan yang tepat. Berikut beberapa alasan mengapa anak sering mengemut jempol.

1. Cara Anak Menenangkan Diri

Salah satu penyebab paling umum adalah kebutuhan untuk menenangkan diri. Mengisap jempol dapat memberikan sensasi yang familiar sehingga anak merasa lebih nyaman.

Misalnya, anak mungkin mengemut jempol ketika hendak tidur, baru bangun, merasa lelah, atau berada di lingkungan yang belum dikenalnya. Dalam situasi tersebut, kebiasaan mengemut jempol dapat menjadi semacam mekanisme self-soothing.

Perilaku mengisap yang tidak berkaitan dengan aktivitas makan memang dikenal sebagai kebiasaan yang dapat berfungsi untuk menenangkan dan mengatur kondisi emosional anak. Literatur medis juga menjelaskan bahwa perilaku tersebut umum pada masa kanak-kanak dan pada banyak anak dapat berhenti dengan sendirinya antara usia 2 hingga 4 tahun.

2. Kebiasaan Sejak Bayi

Bayi memiliki refleks mengisap yang kuat. Refleks tersebut merupakan bagian dari perkembangan awal dan berperan dalam proses menyusu.

Seiring bertambahnya usia, sebagian anak mempertahankan aktivitas mengisap sebagai kebiasaan meskipun sudah tidak berkaitan dengan kebutuhan makan. Jika sejak bayi anak terbiasa memasukkan jempol ke mulut ketika membutuhkan kenyamanan, kebiasaan tersebut dapat terus terbawa.

Karena sudah dilakukan berulang kali, anak mungkin melakukannya secara otomatis tanpa benar-benar menyadarinya.

3. Anak Sedang Mengantuk

Mom/Dad mungkin memperhatikan bahwa anak lebih sering mengemut jempol menjelang waktu tidur. Hal ini cukup masuk akal karena anak membutuhkan aktivitas yang membuat tubuh dan pikirannya menjadi lebih tenang.

Jika anak terbiasa mengemut jempol sebelum tidur, ia dapat mengasosiasikan kebiasaan tersebut dengan waktu istirahat.

Karena itu, menghentikannya secara tiba-tiba mungkin membuat anak merasa tidak nyaman. Mom/Dad dapat secara perlahan mengganti kebiasaan tersebut dengan rutinitas tidur lain, seperti membaca buku cerita, mendengarkan lagu lembut, atau melakukan percakapan singkat sebelum tidur.

4. Merasa Cemas atau Tidak Nyaman

Situasi baru dapat membuat anak merasa cemas. Misalnya, bertemu orang baru, pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi, masuk sekolah, atau menghadapi perubahan rutinitas.

Pada kondisi tersebut, anak mungkin kembali mengemut jempol sebagai cara untuk mendapatkan rasa aman.

Mom/Dad sebaiknya memperhatikan konteksnya. Jika anak hanya mengemut jempol ketika menghadapi situasi tertentu, mungkin kebiasaan tersebut berkaitan dengan kebutuhan emosional, bukan sekadar kebiasaan fisik.

5. Bosan atau Kurang Mendapat Aktivitas

Anak juga dapat mengemut jempol ketika sedang tidak melakukan aktivitas tertentu.

Misalnya ketika menonton televisi, duduk terlalu lama, berada di perjalanan, atau menunggu sesuatu. Karena tangannya tidak memiliki aktivitas, anak secara tidak sadar memasukkan jempol ke mulut.

Memberikan aktivitas yang melibatkan gerakan tangan dan tubuh dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengalihkan perhatian anak.

6. Membutuhkan Stimulasi Sensorik

Setiap anak memiliki kebutuhan stimulasi yang berbeda. Ada anak yang senang bergerak, menyentuh berbagai tekstur, menggenggam benda, atau mendapatkan tekanan pada tubuh.

Mengemut jempol memberikan rangsangan pada area mulut sehingga bagi sebagian anak aktivitas tersebut terasa menenangkan atau memberikan sensasi yang mereka cari.

Karena itu, Mom/Dad dapat memperhatikan apakah anak juga menunjukkan kebiasaan mencari aktivitas sensorik lainnya.

Bukan berarti setiap anak yang mengemut jempol pasti memiliki masalah sensorik. Namun, memahami kebutuhan sensorik anak dapat membantu Mom/Dad menyediakan aktivitas yang lebih sesuai.

7. Meniru atau Terbentuk Secara Tidak Sengaja

Kebiasaan juga dapat terbentuk karena pengulangan. Anak mungkin awalnya memasukkan jempol ke mulut sesekali, kemudian semakin sering dilakukan hingga menjadi kebiasaan otomatis.

Ketika perilaku tersebut memberikan rasa nyaman, anak cenderung mengulanginya.

Inilah alasan mengapa pendekatan yang konsisten lebih baik dibandingkan sekadar memberikan teguran setiap kali anak mengemut jempol.

Bolehkah Anak Mengemut Jempol?

Pertanyaan ini sering muncul ketika Mom/Dad melihat anak sering emut jempol. Jawabannya tidak sesederhana boleh atau tidak boleh karena perlu melihat usia, frekuensi, durasi, dan intensitas kebiasaan tersebut.

Pada bayi dan anak usia dini, mengisap jempol merupakan perilaku yang umum. Kebiasaan mengisap jempol dan jari merupakan hal yang normal pada bayi dan anak kecil. Sebagian besar anak bahkan dapat menghentikannya secara alami.

Jadi, Mom/Dad tidak perlu langsung panik ketika bayi atau balita sesekali mengemut jempol.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, terutama ketika anak sudah memasuki usia yang lebih besar dan gigi mulai mengalami perkembangan lebih lanjut.

Kebiasaan mengisap non-nutrisi juga menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan yang menetap dan peningkatan kemungkinan terjadinya masalah oklusi atau susunan gigi.

Artinya, bukan sekadar aktivitas mengisap jempol yang harus menjadi perhatian, tetapi seberapa lama dan seberapa kuat kebiasaan tersebut dilakukan.

Mom/Dad juga tidak perlu membuat anak merasa malu. Mengatakan bahwa jempolnya “kotor”, mengejek anak, atau mempermalukannya di depan orang lain justru dapat membuat anak merasa tertekan.

Lebih baik gunakan kalimat sederhana seperti:

“Kalau sudah tidak mengantuk, yuk jempolnya dikeluarkan.”

Atau:

“Tangan kita gunakan untuk bermain, yuk.”

Dengan demikian, anak mendapatkan arahan tanpa merasa bahwa dirinya melakukan sesuatu yang buruk.

Apabila Mom/Dad melihat kebiasaan mengemut jempol tetap berlangsung ketika anak sudah lebih besar, terutama jika terlihat adanya perubahan posisi gigi, bentuk langit-langit mulut, atau masalah lain di area mulut, konsultasi dengan dokter gigi anak merupakan langkah yang tepat.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak Suka Muter Muter agar Tetap Aman dan Sehat

Dampak Positif dan Negatif Anak Sering Emut Jempol

Mengemut jempol sering kali dianggap hanya memiliki dampak negatif. Padahal, dalam konteks perkembangan anak usia dini, perilaku ini dapat mempunyai fungsi tertentu.

Dampak Positif Anak Mengemut Jempol

Membantu Anak Merasa Tenang

Mengemut jempol dapat membantu sebagian anak merasa lebih nyaman ketika lelah atau menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Aktivitas ini dapat menjadi bentuk self-soothing sehingga anak memiliki cara sederhana untuk menenangkan dirinya.

Membantu Transisi Menuju Tidur

Sebagian anak mengemut jempol ketika mulai mengantuk. Kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari rutinitas yang membuat anak merasa siap untuk tidur.

Memberikan Rasa Familiar

Ketika berada di lingkungan baru, anak dapat mencari sesuatu yang terasa familiar. Mengemut jempol merupakan aktivitas yang mudah dilakukan kapan saja sehingga dapat memberikan rasa nyaman. Namun, fungsi positif tersebut tidak berarti kebiasaan mengemut jempol harus dipertahankan tanpa batas. Mom/Dad tetap perlu memperhatikan perkembangan anak secara keseluruhan.

Dampak Negatif Anak Sering Emut Jempol

Berpotensi Memengaruhi Susunan Gigi

Salah satu perhatian utama terhadap kebiasaan mengisap jempol dalam jangka panjang adalah perkembangan gigi dan rahang.

Tekanan yang berulang pada gigi dan struktur mulut dapat berhubungan dengan perubahan posisi gigi. Penelitian systematic review menunjukkan bahwa kebiasaan mengisap non-nutrisi yang menetap berkaitan dengan kemungkinan terjadinya malocclusion atau masalah hubungan susunan gigi.

Dapat Berkaitan dengan Open Bite

Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah anterior open bite, yaitu ketika gigi depan atas dan bawah tidak bertemu dengan normal ketika mulut ditutup.

Meta-analisis yang dipublikasikan PubMed pada 2025 meneliti hubungan antara kebiasaan mengisap non-nutrisi dan anterior open bite pada anak.

Namun, Mom/Dad perlu memahami bahwa kondisi setiap anak berbeda. Tidak semua anak yang mengemut jempol akan mengalami masalah tersebut.

Dapat Memengaruhi Perkembangan Rongga Mulut

Kebiasaan yang berlangsung lama dapat memberikan tekanan berulang pada struktur mulut. Dampaknya dapat bergantung pada frekuensi, durasi, intensitas, dan usia anak. Karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter gigi anak penting untuk memantau perkembangan gigi.

Kulit Jempol Dapat Mengalami Iritasi

Mengisap jempol berulang kali dapat membuat kulit menjadi lembap dan mengalami iritasi. Pada beberapa anak, kulit di sekitar kuku atau ujung jempol juga dapat mengalami perubahan. Jika Mom/Dad melihat luka, kemerahan, pembengkakan, atau keluhan pada jempol, sebaiknya diperhatikan dan bila perlu diperiksakan.

Dapat Menjadi Sumber Rasa Malu

Ketika anak semakin besar, ia mungkin mulai menyadari bahwa kebiasaan mengemut jempol berbeda dari teman-temannya. Jika lingkungan memberikan komentar negatif atau mengejek, anak dapat merasa malu dan kurang percaya diri. Karena itu, penting bagi Mom/Dad untuk tidak mempermalukan anak ketika berusaha membantu menghentikan kebiasaan tersebut.

Cara Mengatasi Anak Sering Emut Jempol

Menghentikan kebiasaan anak sering emut jempol membutuhkan kesabaran. Mom/Dad sebaiknya tidak mengharapkan perubahan dalam satu atau dua hari.

Tujuan utamanya bukan membuat anak takut memasukkan jempol ke mulut, tetapi membantu anak menemukan cara lain untuk mendapatkan kenyamanan.

1. Cari Tahu Kapan Anak Biasanya Mengemut Jempol

Langkah pertama adalah mengamati pola.

Apakah anak mengemut jempol ketika:

  • Mengantuk?
  • Bosan?
  • Menonton televisi?
  • Sedang cemas?
  • Berada di tempat baru?
  • Setelah dimarahi?
  • Ketika tidak memiliki aktivitas?
  • Sebelum tidur?

Catatan sederhana ini dapat membantu Mom/Dad memahami pemicunya.

Jika kebiasaan paling sering muncul ketika anak bosan, berikan aktivitas alternatif. Jika muncul menjelang tidur, bangun rutinitas tidur yang lebih nyaman.

2. Hindari Memarahi Anak

Teguran berulang seperti “Jangan emut jempol!” mungkin tidak selalu efektif. Bahkan, anak dapat merasa bahwa kebiasaannya merupakan sesuatu yang memalukan. Lebih baik gunakan pengingat yang pendek dan lembut. Konsistensi lebih penting daripada suara yang keras.

3. Berikan Aktivitas Pengganti

Jika anak sering memasukkan jempol ke mulut ketika tidak melakukan apa-apa, berikan aktivitas yang melibatkan tangan.

Contohnya:

  • Bermain balok.
  • Menggambar.
  • Mewarnai.
  • Bermain plastisin.
  • Menyusun puzzle.
  • Bermain bola.
  • Meronce.
  • Bermain dengan bahan bertekstur yang aman.

Aktivitas tersebut membantu tangan anak tetap aktif sehingga perhatian anak dapat dialihkan dari kebiasaan mengemut jempol.

4. Bangun Rutinitas Sebelum Tidur

Jika anak sering mengemut jempol menjelang tidur, buat rutinitas yang konsisten.

Misalnya:

  1. Mandi.
  2. Menggosok gigi.
  3. Membaca buku cerita.
  4. Berbicara singkat dengan Mom/Dad.
  5. Mematikan lampu.
  6. Tidur.

Rutinitas yang konsisten dapat memberikan rasa aman sehingga anak tidak selalu bergantung pada jempol untuk menenangkan diri.

5. Berikan Pujian Ketika Anak Berhasil

Ketika anak berhasil tidak mengemut jempol selama periode tertentu, berikan apresiasi. Tidak harus berupa hadiah. Pujian sederhana sudah cukup.

Contohnya: “Mom/Dad lihat tadi kamu bisa berhenti sendiri. Hebat!”

Apresiasi membantu anak memahami bahwa usahanya dihargai.

6. Gunakan Pengingat yang Disepakati Bersama

Untuk anak yang sudah cukup besar dan mampu memahami percakapan sederhana, Mom/Dad dapat membuat kesepakatan. Misalnya, ketika anak memasukkan jempol ke mulut, Mom/Dad memberikan kode tertentu yang sudah disepakati. Cara ini lebih baik daripada terus menegur karena anak merasa ikut terlibat dalam proses perubahan kebiasaannya.

7. Identifikasi Kebutuhan Sensorik Anak

Jika anak tampak sering mencari aktivitas yang memberikan rangsangan melalui mulut, tangan, atau tubuh, Mom/Dad dapat mencoba memberikan berbagai aktivitas sensorik yang sesuai.

Aktivitas sensorik dapat berupa bermain dengan tekstur, aktivitas gerak, permainan koordinasi, maupun aktivitas yang melibatkan penggunaan otot dan tubuh.

Tujuannya bukan mengganti jempol dengan benda tertentu secara sembarangan, tetapi memberikan pengalaman yang membantu anak mengenali dan memenuhi kebutuhan tubuhnya melalui aktivitas yang aman dan sesuai usia.

8. Jangan Menggunakan Cara yang Menakutkan

Hindari memberikan ancaman, mempermalukan anak, atau melakukan tindakan yang membuat anak merasa takut terhadap dirinya sendiri. Pendekatan positif cenderung lebih membantu anak memahami perubahan perilaku.

Mom/Dad dapat menjelaskan alasannya menggunakan bahasa sederhana, misalnya:

“Kita coba kurangi emut jempol supaya gigi dan mulut kamu bisa tumbuh dengan baik.”

9. Berikan Waktu untuk Beradaptasi

Kebiasaan yang sudah dilakukan berulang kali tidak selalu dapat dihentikan secara instan. Jika anak kembali mengemut jempol setelah berhasil beberapa hari, Mom/Dad tidak perlu menganggap semuanya gagal. Kembali cari tahu pemicunya dan bantu anak melanjutkan proses secara bertahap.

10. Konsultasikan dengan Dokter Gigi Anak Bila Diperlukan

Jika anak tetap mengemut jempol dalam jangka panjang, terutama ketika kebiasaan tersebut berlangsung intens atau mulai terlihat perubahan pada gigi dan mulut, konsultasikan dengan dokter gigi anak.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan langsung dan memberikan rekomendasi berdasarkan usia serta kondisi anak.

American Academy of Pediatric Dentistry juga menyebutkan bahwa apabila kebiasaan mengisap jempol atau jari masih berlangsung setelah usia 3 tahun, dokter gigi anak dapat mempertimbangkan pendekatan tertentu sesuai kondisi anak. (AAPD)

Mom/Dad sebaiknya tidak menggunakan alat penghenti kebiasaan secara mandiri tanpa arahan tenaga profesional. Penanganan perlu mempertimbangkan kebutuhan, usia, perkembangan, dan kenyamanan anak.

Bantu Anak Mengenali Tubuh dan Emosinya melalui Aktivitas yang Tepat

Selain memperhatikan kebiasaan mengemut jempol, Mom/Dad juga dapat memberikan anak kesempatan untuk melakukan aktivitas yang melibatkan tubuh, gerakan, sentuhan, dan eksplorasi.

Anak membutuhkan berbagai pengalaman untuk belajar mengenali sensasi tubuh serta mengembangkan kemampuan mengatur respons terhadap lingkungan.

Aktivitas bermain yang terarah dapat menjadi salah satu cara memberikan pengalaman tersebut. Misalnya, anak dapat melakukan permainan yang melibatkan koordinasi tangan dan mata, keseimbangan, gerakan tubuh, eksplorasi tekstur, maupun permainan yang mendorong anak menggunakan berbagai inderanya.

Hal yang tidak kalah penting adalah menyesuaikan aktivitas dengan usia dan kemampuan anak. Jangan menjadikan aktivitas sebagai bentuk hukuman karena anak mengemut jempol. Sebaliknya, buat kegiatan menjadi pengalaman bermain yang menyenangkan.

Dengan begitu, Mom/Dad tidak hanya berfokus pada “menghilangkan kebiasaan”, tetapi juga membantu anak mendapatkan pengalaman positif yang mendukung proses tumbuh kembangnya.

Kapan Mom/Dad Perlu Berkonsultasi?

Tidak semua kebiasaan mengemut jempol membutuhkan penanganan khusus. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya menjadi perhatian.

Mom/Dad dapat mempertimbangkan konsultasi jika:

  • Anak tetap mengemut jempol ketika usianya semakin besar.
  • Kebiasaan dilakukan sangat sering atau dalam waktu lama.
  • Anak sulit berhenti meskipun sudah diberikan pengingat.
  • Terlihat perubahan pada posisi gigi.
  • Terdapat perubahan pada bentuk gigitan.
  • Kulit jempol mengalami iritasi berulang.
  • Kebiasaan mengemut jempol berkaitan dengan kecemasan yang tampak mengganggu aktivitas anak.
  • Mom/Dad merasa kesulitan membantu anak menghentikan kebiasaan tersebut.

Konsultasi bukan berarti anak pasti memiliki masalah. Pemeriksaan justru dapat membantu Mom/Dad mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi anak.

Baca juga: Penyebab Anak Sering Nabrak, Orang Tua Wajib Waspada

Yuk, Dukung Tumbuh Kembang Anak dengan Aktivitas Sensorik yang Menyenangkan

Anak sering emut jempol merupakan kebiasaan yang cukup umum, khususnya pada masa bayi dan usia dini. Dalam banyak kondisi, mengisap jempol dapat menjadi cara anak menenangkan diri ketika mengantuk, lelah, bosan, atau membutuhkan rasa nyaman. Namun, kebiasaan yang berlangsung lama dan intens perlu mendapatkan perhatian karena dapat berkaitan dengan perkembangan gigi dan struktur mulut.

Daripada memarahi atau mempermalukan anak, Mom/Dad dapat mulai dengan memahami pemicunya. Berikan aktivitas alternatif, buat rutinitas yang konsisten, berikan apresiasi ketika anak berhasil mengurangi kebiasaan, serta berikan pengalaman bermain yang membantu anak mengeksplorasi tubuh dan lingkungannya. Jika terdapat kekhawatiran mengenai perkembangan gigi atau kebiasaan yang sulit dihentikan, konsultasi dengan dokter gigi anak dapat menjadi pilihan.

Untuk membantu anak mendapatkan pengalaman bermain yang mendukung eksplorasi sensorik dan gerak, Mom/Dad dapat mempertimbangkan kelas sensori anak di Sparks Sports Academy. Melalui aktivitas yang menyenangkan dan sesuai kebutuhan anak, Mom/Dad dapat memberikan kesempatan bagi Si Kecil untuk bergerak, mengeksplorasi, serta belajar mengenali berbagai sensasi melalui kegiatan yang positif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah anak sering emut jempol itu normal?

Ya, kebiasaan anak sering emut jempol cukup umum, terutama pada bayi dan anak usia dini. Mengisap jempol dapat menjadi cara anak menenangkan diri ketika mengantuk, lelah, bosan, atau merasa tidak nyaman. Namun, jika kebiasaan berlangsung terus-menerus hingga usia yang lebih besar, Mom/Dad sebaiknya mulai memperhatikannya.

Kenapa anak sering emut jempol saat mau tidur?

Anak sering emut jempol sebelum tidur karena aktivitas mengisap dapat memberikan rasa nyaman dan membantu proses self-soothing. Jika sudah menjadi kebiasaan, anak dapat menganggap mengemut jempol sebagai bagian dari rutinitas untuk mempersiapkan tubuh dan pikirannya sebelum tidur.

Apakah anak mengemut jempol bisa menyebabkan gigi tidak rapi?

Kebiasaan mengisap jempol yang dilakukan dalam waktu lama dan dengan intensitas tinggi dapat berkaitan dengan perubahan susunan gigi atau pola gigitan. Karena itu, Mom/Dad perlu memantau perkembangan gigi anak. Jika terlihat perubahan pada gigi atau gigitan, pemeriksaan dengan dokter gigi anak dapat membantu mengetahui kondisinya.

Bagaimana cara menghentikan anak yang sering emut jempol?

Hindari memarahi atau mempermalukan anak. Mom/Dad dapat mencari tahu pemicu kebiasaan tersebut, kemudian memberikan aktivitas pengganti seperti bermain, menggambar, membaca buku, atau aktivitas sensorik. Berikan pengingat secara lembut dan apresiasi ketika anak berhasil mengurangi kebiasaannya.

Apakah boleh melarang anak mengemut jempol secara langsung?

Mom/Dad boleh membantu anak mengurangi kebiasaan tersebut, tetapi sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang membuat anak takut atau malu. Pendekatan bertahap dan positif biasanya lebih mudah diterima anak. Jelaskan dengan bahasa sederhana mengapa kebiasaan tersebut perlu dikurangi.

Apakah aktivitas sensorik dapat membantu anak mengurangi kebiasaan mengemut jempol?

Aktivitas sensorik dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan yang membantu anak mendapatkan pengalaman melalui gerakan, sentuhan, dan eksplorasi lingkungan. Mom/Dad dapat memberikan aktivitas yang sesuai usia dan kemampuan anak sebagai bagian dari rutinitas bermain yang positif.

Kapan anak yang sering emut jempol perlu diperiksakan?

Mom/Dad dapat berkonsultasi dengan dokter gigi anak jika kebiasaan mengemut jempol menetap ketika anak semakin besar, dilakukan sangat sering atau intens, sulit dihentikan, atau mulai terlihat perubahan pada gigi dan pola gigitan. Pemeriksaan dapat membantu menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi Si Kecil.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%