Tingginya angka stunting di Indonesia menjadi masalah serius yang harus mendapat perhatian dari seluruh lapisan masyarakat. Rembuk stunting adalah satu langkah konkret untuk menindaklanjuti percepatan penurunan stunting sesuai Perpres Nomor 72 Tahun 2021 hingga tingkat desa/kelurahan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kader Posyandu, Puskesmas, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta masyarakat umum. Lalu, apa tujuan utama dari forum musyawarah ini? Baca artikel ini sampai habis. Key Takeaways Rembuk Stunting di Desa Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah 5 tahun akibat malnutrisi akut yang menghambat pertumbuhan. Kondisi ini menjadi perhatian serius dan tercantum pada Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting. Mulai dari pemantauan, evaluasi, hingga pendanaan tingkat nasional maupun desa. Rembuk stunting adalah salah satu strategi meningkatkan komitmen pemerintah dalam menurunkan angka stunting di wilayah desa. Forum musyawarah ini dipimpin oleh Ketua BPD dengan menggunakan dana desa atau APBD. Selain di wilayah desa, rembuk stunting juga diselenggarakan di tingkat kabupaten/kota oleh OPD penanggung jawab layanan dengan sektor/lembaga non-pemerintahan dan masyarakat. Seperti yang dilakukan Kota Surabaya tahun 2025. Pemerintah Kota Surabaya melakukan penandatanganan komitmen bersama dengan menggandeng Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur, BUMD, Baznas, Bappeda Jawa Timur, Bangga Surabaya Peduli (BAP), serta pihak lainnya untuk mewujudkan target Surabaya Zero Growth Stunting. Di wilayah desa, ada Kelurahan Candirejo, Kabupaten Gunungkidul yang menyelenggarakan rembuk stunting bersama pemerintah desa, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan masyarakat umum pada tahun 2025. Selain itu, Desa Meteseh Kabupaten Kendal melakukan musyawarah penurunan stunting dengan melibatkan perangkat desa, kader posyandu, kader KB, PKK, Karang Taruna, dan sebagainya. Secara garis besar, agenda rembuk stunting adalah memetakan data kasus di suatu wilayah, melakukan diskusi penyebab stunting, dan merumuskan rencana intervensi gizi spesifik dan sensitif. Agenda ini juga membahas prioritas anggaran dan peningkatan kapasitas kader. Kemudian, pelaksana rembuk akan menandatangani berita acara sebagai komitmen bersama yang dipimpin oleh pimpinan daerah atau kepala desa. Baca juga: Cegah Stunting pada Anak Sejak Dini dengan Cara Ini Output Rembuk Stunting Tim percepatan Penurunan Stunting Republik Indonesia merumuskan output, yaitu menguatnya komitmen menurunkan stunting yang ditandatangani oleh pimpinan daerah. Salah satunya adalah bupati/wali kota, kepala desa, perwakilan DPRD, pimpinan OPD, perwakilan sektor non-pemerintahan, dan perwakilan masyarakat. Kesepakatan ini mencakup beberapa hal, mulai dari program prioritas, rencana anggaran, hingga penguatan komitmen masyarakat terhadap stunting. Selain itu, seluruh pihak menyepakati rencana intervensi gizi terintegrasi yang termuat dalam Rencana Kerja (Renja) OPD tahun berikutnya. Intervensi gizi bisa mencakup Pemberian Makanan Tambahan (PMT), sosialisasi gizi dan ASI eksklusif, pola asuh, dan memperhatikan kualitas lingkungan hidup seperti sanitasi dan ketersediaan air bersih. Dari sini, pemahaman masyarakat tentang pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun dapat meningkat karena adanya pendampingan dan sosialisasi masif dari pemerintah. Manfaat Utama Rembuk Stunting bagi Masyarakat Salah satu manfaat rembuk stunting adalah menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan. Selain itu, manfaat utama dari forum diskusi ini bagi masyarakat setempat adalah sebagai berikut. 1. Meningkatkan Kesadaran dan Pemahaman Musyawarah menangani percepatan stunting berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Stunting adalah kondisi serius sehingga memerlukan pengetahuan memadai bagi calon orang tua, khususnya ibu hamil tentang pentingnya gizi seimbang dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 2. Penanganan Masalah Tepat Sasaran Musyawarah ini memudahkan kader kesehatan dan pemerintah setempat dalam mengidentifikasi masalah guna memberi solusi efektif yang tepat sasaran. Dengan begitu, pencegahan sekaligus penanganan stunting dapat segera terwujud dan target penurunan stunting tercapai. 3. Menguatkan Kerja Sama Lintas Sektor Kerja sama lintas sektor, baik dari pemerintahan, non-pemerintahan, hingga masyarakat setempat, memperkuat sinergi untuk mewujudkan generasi emas di masa mendatang. Semangat kolaborasi ini menjadi strategi efektif agar stunting dapat teratasi secara tepat dan terpadu. 4. Mengoptimalkan Kapasitas SDM Forum diskusi yang melibatkan tenaga profesional dan kader ini dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam melayani masyarakat. Pasalnya, mereka mendapat pengetahuan komprehensif tentang kesehatan masyarakat yang berguna demi kemajuan suatu daerah. Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk pemberdayaan dana desa untuk mendukung peningkatan kualitas SDM secara menyeluruh. Rembuk Stunting adalah Cara Tepat Mewujudkan Generasi Unggulan Rembuk stunting adalah forum strategis yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai wadah pengambilan keputusan bersama antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk mencegah serta menurunkan angka stunting di suatu wilayah. Untuk mendukung tumbuh kembang anak, Anda perlu memberikan pendidikan berkualitas dari Sparks Sports Academy. Kamihadir menyediakan berbagai kelas eksklusif yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan kognitif, motorik, sosial, hingga emosional anak melalui permainan interaktif dan edukatif. Segera daftarkan si kecil dan ikuti free trial class dengan fasilitas lengkap untuk kecerdasan buah hati!
Bahaya Stunting pada Anak yang Harus Diwaspadai Orang Tua
Bahaya stunting tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, seperti tinggi badan yang tidak optimal, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak dan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahaya stunting sejak dini agar dapat melakukan langkah pencegahan yang tepat. Artikel ini akan memberikan Anda informasi mengenai bahaya stunting serta berbagai tips dan langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasinya. Key Takeaways Bahaya Stunting bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih banyak terjadi pada anak-anak dan berdampak serius terhadap pertumbuhan serta perkembangannya. Berikut adalah beberapa bahaya stunting yang harus Anda ketahui sebagai bentuk kewaspadaan sejak dini. 1. Tubuh Pendek dan Kurus Stunting dapat menyebabkan tinggi dan berat badan anak berada di bawah rata-rata usia sebenarnya, sehingga tampak lebih pendek dan kurus. Tidak hanya itu, anak yang mengalami stunting juga sering menunjukkan ciri fisik lain, seperti kondisi kulit, kuku, dan rambut yang cenderung kering. 2. Tingkat Kecerdasan Rendah Stunting juga dapat menghambat perkembangan kemampuan intelektual anak secara optimal. Dampaknya, anak akan mengalami kesulitan menyerap pelajaran ketika di sekolah, sehingga prestasi akademiknya kurang maksimal. 3. Mudah Terserang Penyakit Kekurangan nutrisi yang menjadi penyebab stunting dapat menghambat perkembangan serta fungsi sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, anak yang mengalami stunting menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit. 4. Peningkatan Risiko Malnutrisi Akut Anak-anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi mengalami gizi buruk. Salah satu bentuknya adalah malnutrisi akut yang ditandai dengan penurunan berat badan secara drastis, sehingga semakin mengancam kesehatan hingga kematian. 5. Gangguan Penglihatan Anak yang mengalami stunting umumnya mengalami kekurangan asupan vitamin dan mineral. Salah satu dampak serius dari kekurangan vitamin, khususnya vitamin A, adalah gangguan pada kesehatan mata. Anak stunting lebih berisiko mengalami rabun senja dan dalam jangka panjang bahkan dapat berujung pada kebutaan. Baca juga: Dampak Stunting pada Perkembangan Fisik dan Kognitif Anak Tips Mencegah Stunting Pada Anak Tentu saja, bahaya stunting dapat dicegah apabila orang tua secara aktif memantau dan memenuhi kebutuhan anak. Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk membantu mencegah terjadinya stunting pada anak. 1. Memenuhi Nutrisi Saat Masa Kehamilan Asupan nutrisi yang cukup selama masa kehamilan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi, seperti buah dan sayuran, sumber protein, serta zat besi, asam folat, dan kalsium. 2. Pemeriksaan Kesehatan dan Vaksinasi Pelayanan kesehatan preventif, seperti pemeriksaan rutin, berperan penting dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak serta mendeteksi potensi masalah sejak dini. Selain itu, vaksinasi dan imunisasi membantu melindungi anak dari berbagai infeksi yang dapat berisiko menyebabkan stunting. 3. Perhatikan Asupan Gizi, Waktu Tidur, dan Aktivitas Menurut Kementerian Kesehatan, penanganan stunting dilakukan melalui tatalaksana yang ditangani oleh dokter spesialis anak dengan memerhatikan tiga aspek utama. Aspek tersebut meliputi pemberian asupan makanan yang cukup dan bergizi, penerapan jadwal tidur yang teratur dengan waktu tidur dimulai sekitar pukul 9 malam, serta mendorong anak untuk melakukan olahraga atau aktivitas fisik selama 30 menit hingga 1 jam dengan frekuensi 3–5 hari dalam seminggu. 4. Memberi ASI Eksklusif Pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. ASI mengandung nutrisi lengkap serta antibodi yang dibutuhkan bayi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh dan melindungi diri dari berbagai penyakit. 5. Utamakan Kebersihan dan Sanitasi yang Baik Kebersihan dan sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitar anak. Pastikan air yang digunakan untuk minum dan mencuci makanan benar-benar bersih dan aman. Anda juga harus mengajarkan anak untuk selalu mencuci tangan sebelum makan dan setelah menggunakan toilet untuk mencegah infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan. 6. Konsultasi dengan Ahli Orang tua perlu konsisten dan telaten dalam memberikan asupan makanan bergizi seimbang kepada anak setiap hari. Pemeriksaan kesehatan secara rutin di Posyandu atau Puskesmas terdekat juga sangat penting dilakukan. Melalui konsultasi ini, tenaga kesehatan atau dokter dapat memantau kondisi anak. Cara Mendukung Tumbuh Kembang Anak Memberikan nutrisi yang cukup untuk mencegah bahaya stunting memang sangat penting, namun orang tua juga perlu bersikap proaktif dalam mendukung tumbuh kembang anak. Salah satu caranya adalah dengan mengikutsertakan anak dalam kegiatan non akademik, seperti olahraga, menari, balet atau taekwondo. Aktivitas tersebut tidak hanya bermanfaat bagi perkembangan fisik anak, tetapi juga membantu mengasah keterampilan motorik, membangun kedisiplinan, serta meningkatkan rasa percaya diri. Sparks Sports Academy hadir sebagai pilihan tepat bagi orang tua yang ingin mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Sparks Sports Academy menyediakan berbagai aktivitas fisik dan non akademik yang dirancang secara profesional dan menyenangkan, sehingga anak dapat berkembang secara optimal. Hubungi sekarang dan dapatkan kesempatan terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak secara aktif dan menyenangkan.
Anxious Attachment Adalah Pola Kelekatan yang Perlu Orang Tua Pahami Sejak Dini!
Anxious attachment adalah kondisi anak yang dipenuhi rasa cemas secara berlebihan saat berpisah dengan orang tua, pengasuh, atau orang terdekat. Anak yang mengalami ini akan memengaruhi perkembangan emosi saat dewasa dan jika tidak dikenali lebih awal, ini bisa berdampak pada rasa percaya diri, hubungan sosial, dan cara anak mengelola emosinya. Apa itu Anxious Attachment? Berdasarkan jurnal Universitas Pendidikan Indonesia, anxious attachment adalah kecenderungan individu terhadap kecemasan dan kewaspadaan terhadap penolakan dan ditinggalkan. Seperti contoh, anak yang ditinggal pergi sebentar oleh orang tuanya mengakibatkan anak rewel dan menangis. Anak dengan anxious attachment cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terkait dengan keintiman dan rasa takut akan ditinggalkan. Ciri-Ciri Anxious Attachment pada Anak Anak-anak yang memiliki anxious attachment memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Penyebab Anxious Attachment pada Anak Anak yang mengalami anxious attachment pasti memiliki penyebab pemicunya. Berikut adalah beberapa penyebabnya: 1. Pola Asuh yang Tidak Konsisten Pola asuh yang tidak konsisten adalah ketika kedua orang tua dan pengasuh mengajarkan kedisiplinan yang berbeda-beda. Ini berarti orang tua atau pengasuh terkadang bersikap hangat dan baik, tapi kadang mereka mengabaikan kebutuhan emosional anak Jika orang tua tidak konsisten dalam mengasuh anak, anak akan belajar bahwa orang tua tidak dapat diandalkan. Anak akan merasa bingung, cemas, dan tumbuh menjadi seorang yang takut ditinggalkan dan terus membutuhkan kepastian. 2. Orang Tua juga Memiliki Anxious Attachment Trauma pada masa kecil orang tua juga dapat menghasilkan pola pengasuhan yang tidak aman dan nyaman. Orang tua dengan anxious attachment memungkinkan mereka terobsesi dengan pola asuh yang tidak konsisten. 3. Anak Tidak Mendapatkan Perhatian yang Cukup Anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tua secara emosional akan berisiko terkena anxious anxiety pada anak di masa depan. Hal itu akan mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri, tidak memiliki kemampuan untuk percaya pada orang sekitar, serta tidak memiliki hubungan sosial yang sehat. 4. Pola Asuh yang Ekstrem Orang tua dengan pola asuh ekstrem seperti tidak mengizinkan anak untuk tumbuh dengan mandiri sesuai usia dapat menyebabkan anxious attachment. Hal ini sama dengan tidak memperhatikan anak secara emosional dan tidak hadir setiap pertumbuhan anak. 5. Anak Mengalami Trauma pada Masa Lalu Anak yang mengalami trauma masa lalu seperti perceraian orang tua, kekerasan, atau mengalami kemiskinan yang ekstrem, anak sangat berisiko mengalami anxious attachment. Baca juga: Attachment Parenting: Prinsip, Manfaat, dan Tantangannya Cara Mengatasi Anxious Attachment pada Anak Kabar baiknya, anxious attachment bisa diperbaiki dengan pendekatan yang tepat dan konsisten seperti: 1. Bangun Rutinitas yang Konsisten Mom/Dad bisa menciptakan pola asuh dan rutinitas yang konsisten sehingga anak akan merasa aman dan lebih percaya diri untuk beraktivitas. ini bisa mulai dari hal sederhana seperti mengatur jadwal makan, tidur, dan bermain untuk membantu anak merasa dunia bisa diprediksi. 2. Validasi Perasaan Anak Mom/Dad harus hadir saat anak sedang melampiaskan emosinya. Dengarkan dan akui emosi anak, meski terlihat sepele. Kalimat sederhana seperti “Mama/Papa tahu kamu sedang sedih” sudah sangat berarti dan membuat anak merasa nyaman. 3. Bangun Komunikasi yang Baik dengan Anak Ketika anak merasa cemas, Mom/Dad harus menyadarinya dari awal dan langsung mengkomunikasikannya. Tanggapi rasa cemas anak dengan tepat untuk bisa memahami perasaan anak tanpa harus anak merasa bersalah. 4. Latih Kemandirian Sejak Dini Mom/Dad bisa melatih kemandirian anak secara perlahan tanpa harus mengambil alih. Anak bisa dibimbing mulai dari hal sederhana seperti jangan nangis kalau sedang ditinggal, belajar sendiri, dan menyelesaikan masalah sendiri. 5. Ajari Mengelola Emosi Jika Mom/Dad bisa mengelola emosi dengan mudah, berikan ke anak contoh melakukannya. Anak akan belajar cara mengenali dan mengelola emosinya sendiri dengan melihat orang tua sebagai contoh. Anxious attachment adalah pola kedekatan emosional yang bisa memengaruhi perkembangana anak jika tidak disadari sejak dini. Jika Mom/Dad memahami ciri, penyebab, dan cara mengatasinya, anak akan terbantu untuk tumbuh lebih percaya diri, mandiri, dan aman secara emosional. Kuncinya adalah konsisten, empati, dan kehadiran emosional yang hangat.
Apakah Anak Kecil Wajib Berpuasa? Ini Penjelasan Lengkapnya!
“Apakah anak kecil wajib berpuasa?” merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh Mom/Dad saat Ramadan tiba. Di tengah semangat beribadah dan kebiasaan keluarga dalam menjalankan puasa, Mom/Dad pasti bingung memperkenalkan puasa ke anak. Apakah harus sejak dini, atau menunggu usia tertentu? Artikel ini akan membahasnya secara lengkap dan mudah dipahami. Hukum Puasa Ramadan untuk Anak Dikutip dari NU Online, salah satu syarat wajib puasa Ramadan adalah baligh. Anak yang belum baligh tidak diwajibkan untuk berpuasa. Oleh karena itu, hukum puasa bagi anak kecil tidaklah wajib. Namun, jika anak sudah mencapai kondisi tamyiz (anak sudah bisa makan, minum, dan istinja) puasa menjadi sunah dan jika dilakukan puasanya akan diterima. Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Hasyiyatul Bajuri menjelaskan: قوله (والبلوغ) فلا يجب على الصبي، ثم إن كان مميزا صح منه وإلا فل Artinya, “Salah satu syarat wajib puasa adalah baligh maka tidak wajib atas anak kecil. Kemudian jika ia sudah mumayyiz maka puasanya sah, jika belum mumayyiz maka tidak sah” (Ibrahim Al-Bajuri, Hasyiyatul Bajuri, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2017], jilid I, halaman 551). Ciri-Ciri Anak Siap Berpuasa Setiap anak pastinya memiliki kesiapan yang berbeda saat ingin berpuasa. Kesiapan tidak hanya dinilai dari usia, melainkan fisik, mental, dan emosinya. Berikut ciri-ciri anak yang mulai siap berpuasa. 1. Sudah Bisa Makan Sendrii Jika anak sudah bisa makan sendiri dengan peralatan makan yang benar, Mom/Dad bisa mulai mengajaknya untuk ikut sahur dan berbuka puasa bersama. Biasanya, anak usia 3-4 tahun sudah bisa makan sendiri secara rapi. 2. Sudah Bisa Mengendalikan Emosi Ciri-ciri anak siap berpuasa adalah bisa mengendalikan emosinya sendiri. Jika anak masih sering tantrum, maka anak belum siap untuk berpuasa. Mom/Dad jangan memaksanya dan sebaiknya tunggu hingga anak benar-benar siap. 3. Kondisi Fisik Sehat dan Aktif Anak yang siap berpuasa biasanya memiliki fisik yang tidak mudah lemas, jarang sakit, dan tetap aktif saat beraktivitas. Jika anak sering terlihat lemas, lelah, atau pusing, sebaiknya Mom/Dad jangan memaksanya untuk berpuasa. 4. Sudah Memahami Konsep Berpuasa Jika anak sudah paham saat Mom/Dad menjelaskan tentang puasa, berarti anak sudah siap untuk berpuasa. Anak akan dengan sendirinya paham bahwa puasa berarti menahan makan dan minum dari pagi sampai terbenamnya matahari. Baca juga: Ikuti 10 Cara Mengajarkan Anak Puasa Sejak Dini 5. Bisa Mengatur Pola Tidur Puasa Ramadan sering kali mengubah pola tidur seseorang khususnya anak-anak. Anak yang sudah memiliki pola tidur yang baik biasanya bisa menyesuaikan diri dengan bangun untuk sahur dan tetap mendapatkan istirahat yang cukup agar tidak mudah lelah saat beraktifitas. 6. Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Besar Saat Mom/Dad memperkenalkan ibadah puasa dan anak sangat penasaran, maka anak siap untuk diajari berpuasa. Mom/Dad bisa memulainya dengan membiasakan anak untuk merasakan suasana berpuasa seperti sahur, meja makan yang kosong saat siang hari, dan menyiapkan makanan menjelang berbuka. Jika anak terus bertanya-tanya soal puasa, itu tandanya anak sudah bisa diajak untuk berpuasa bersama. 7. Tidak Memiliki Riwayat Medis Anak yang memiliki riwayat kesehatan tertentu seperti maag, anemia, atau kebutuhan medis khusus lainnya sebaiknya tidak dipaksa berpuasa. Mom/Dad bisa berkonsultasi dengan dokter sebelum anak memulai puasa pertamanya. Jadi, apakah anak kecil wajib berpuasa? Jawabannya adalah tidak. Puasa belum wajib bagi anak yang belum baligh. Namun, Mom/Dad tetap bisa mengenalkan puasa sebagai latihan dengan cara yang ringan, bertahap, dan penuh empati. Perhatikan kondisi kesehatan dan kenyamanan anak saat mulai berpuasa.
Panduan Perbedaan Gentle Parenting vs Permissive Parenting
Dalam praktik pengasuhan sehari-hari, gentle parenting vs permissive parenting sering kali terlihat mirip karena sama-sama menghindari hukuman keras dan mengedepankan pendekatan yang lembut pada anak. Padahal prinsip dan tujuan kedua pola asuh ini sangat berbeda, terutama dampak yang ditimbulkannya. Untuk itulah, memahami perbedaan keduanya menjadi sangat penting agar orang tua tidak salah menerapkan pola asuh, karena akan berdampak pada masa depan anak. Artikel ini akan menguraikan perbedaan gentle parenting vs permissive parenting secara rinci, sehingga bisa dijadikan panduan dalam memilih pola asuh yang paling tepat untuk tumbuh kembang anak. Key takeaways: Apa Itu Gentle Parenting? Gentle parenting merupakan pola asuh yang berlandaskan empati, yaitu kemampuan orang tua untuk memahami perasaan anak sebelum merespons perilakunya. Dalam pendekatan ini, emosi anak tetap diakui dan divalidasi, namun aturan serta batasan tetap diterapkan secara konsisten dengan cara yang lembut, penuh pengertian, dan tanpa kekerasan. Misalnya, saat memasuki waktu tidur, Ibu atau Ayah dapat berkata, “Sekarang sudah jam 8 malam, waktunya tidur supaya besok badan segar. Kamu mau baca buku sebentar dulu atau langsung sikat gigi?” Dengan cara ini, anak merasa dihargai, tetapi tetap memahami aturan yang berlaku. Apa Itu Permissive Parenting? Permissive parenting juga dikenal sebagai pola asuh yang hangat dan penuh kasih sayang tapi minim aturan, batasan, serta ekspektasi terhadap perilaku anak. Anak diberikan kebebasan yang sangat luas, dan orang tua kerap berperan seperti teman daripada figur otoritas. Akibatnya, anak kurang mendapatkan arahan yang jelas tentang mana perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Contohnya, saat waktu tidur tiba, orang tua dengan pola asuh permisif cenderung membiarkan anak tetap bermain ponsel atau menonton TV hingga larut malam hanya karena anak belum ingin tidur. Baca juga: Gentle Parenting vs VOC Parenting: Mana yang Paling Efektif? Gentle Parenting vs Permissive Parenting Kedua pola asuh ini sering dianggap sama oleh banyak orang tua, padahal keduanya memiliki perbedaan yang signifikan dari berbagai aspek. Berikut uraian perbedaannya. Aspek Gentle Parenting Permissive Parenting Konsep Dasar Mengasuh dengan empati, komunikasi, dan batasan yang jelas. Mengasuh dengan kebebasan tinggi dan minim batasan. Pendekatan Disiplin Disiplin dianggap sebagai alat pembelajaran, bukan hukuman. Disiplin cenderung dihindari. Batasan & Aturan Memiliki batasan yang jelas, konsisten, dan disampaikan dengan empati. Batasan lemah, tidak konsisten, atau sering diabaikan demi menghindari konflik. Sikap Orang Tua Hangat, empatik, tetapi tetap tegas dan terarah. Hangat dan penuh toleransi, namun kurang tegas. Respons terhadap Emosi Anak Semua emosi diterima dan divalidasi, namun perilaku tetap diarahkan. Emosi dan perilaku sering “dimaklumi” tanpa pengarahan atau koreksi. Komunikasi Terbuka, jelas, dan dua arah. Anak diberi penjelasan tentang alasan aturan. Komunikasi longgar, sering mengalah saat anak menolak atau protes. Konsekuensi Perilaku Anak diajak bertanggung jawab atas tindakannya dengan bimbingan orang tua. Orang tua sering mengambil alih tanggung jawab anak. Kemandirian Anak Anak dilatih berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan mandiri. Anak cenderung bergantung karena jarang diberi kesempatan menghadapi konsekuensi. Manajemen Emosi Anak Anak belajar mengenali, menerima, dan mengelola emosinya dengan baik. Anak kurang terlatih mengelola emosi karena sering dialihkan atau dihibur. Hubungan Orang Tua dan Anak Terjalin dengan rasa aman, saling menghargai, dan penuh kepercayaan. Cenderung kurang adanya rasa aman karena minimnya arahan dan batasan. Dampak Jangka Panjang Anak bisa mengelola emosi dengan baik, selalu merasa aman, percaya diri, serta bisa membangun hubungan sosial yang sehat. Anak kesulitan mengontrol diri, bersikap impulsif, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab. Terapkan Pola Asuh Positif untuk Anak Gentle parenting vs permissive parenting sering terlihat sama, padahal cara penerapan dan dampaknya sangat berbeda. Karena itu, orang tua perlu cermat dalam memilih pola asuh. Lembut boleh, tetapi tetap harus disertai batasan yang jelas dan penuh tanggung jawab agar anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter. Untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, memilih lingkungan belajar positif seperti Sparks Sports Academy bisa menjadi langkah tepat. Di sana, anak tidak hanya bermain dan belajar seperti biasanya, tetapi dengan cara mengikuti program yang dirancang untuk mendukung perkembangan holistik, mulai dari social emotional skill, cognitive skill, fine motor skill, gross motor skill, hingga language communication skill. Tidak hanya itu, terdapat pula beragam kelas seru yang dapat disesuaikan dengan bakat dan minat anak, seperti Gymnastic, Sensory & Phonics, Dance, Ballet, hingga Multi sport. Jadi, anak tidak hanya tumbuh dalam lingkungan yang aman dan suportif, tetapi juga membantu Anda menerapkan pola asuh secara seimbang sejak dini. Booking kelasnya sekarang, untuk mendapatkan manfaatnya di Sparks Sports Academy!
