Tantrum merupakan hal yang lazim terjadi pada anak, khususnya di usia balita. Kondisi ini umumnya muncul karena anak belum bisa menyalurkan emosinya secara tepat. Walaupun normal, Anda sebagai orang tua tetap perlu memahami ciri anak tantrum agar bisa membedakan mana yang masih wajar dan mana yang perlu diwaspadai.
Artikel ini akan mengulas lebih lanjut bagaimana ciri-ciri serta cara menghadapi anak tantrum. Yuk, simak!
Key Takeaways
- Tantrum adalah perilaku wajar pada anak usia balita karena belum mampu mengekspresikan emosi dengan benar.
- Ciri anak tantrum meliputi menangis kencang, berteriak, melakukan gerakan fisik secara agresif, berguling, hingga menahan napas.
- Lamanya durasi serta seberapa sering tantrum terjadi bisa menjadi penentu apakah kondisinya masih normal atau butuh evaluasi lebih lanjut.

Ciri Anak Tantrum yang Umum Terjadi
Memahami ciri-ciri dan penyebab anak tantrum sangat penting agar Anda bisa membedakan perilaku yang masih normal dengan yang membutuhkan perhatian lebih serius. Tantrum sendiri umumnya muncul karena anak belum mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Berikut beberapa tanda yang sering muncul.
1. Menangis Kencang dan Sulit Ditenangkan
Menangis adalah cara alami anak untuk mencari perhatian sekaligus melampiaskan perasaan yang tidak tertahankan. Saat tantrum, tangisan biasanya terdengar lebih kencang, intens, dan lebih sulit berhenti daripada tangisan biasa.
2. Berteriak atau Menjerit
Selain menangis, anak yang tantrum biasanya akan berteriak sekuat tenaga untuk mengekspresikan rasa marah atau frustasi. Jeritan ini sering terjadi ketika anak merasa tidak dimengerti atau keinginannya tidak terpenuhi.
3. Perilaku Agresif
Ciri anak tantrum berikutnya adalah munculnya tindakan fisik. Anak bisa menendang, memukul, melempar barang, atau bahkan menyakiti dirinya sendiri. Perilaku ini terjadi karena anak belum bisa mengontrol emosinya secara sehat.
4. Berguling atau Menjatuhkan Diri ke Lantai
Tantrum juga sering anak tunjukkan dengan sikap berguling-guling, membanting tubuh, atau merebahkan diri ke lantai. Biasanya, reaksi ini merupakan bentuk protes atau cara anak menarik perhatian lebih dari orang tua.
5. Menahan Napas
Ada juga anak yang menunjukkan tantrum dengan menahan napas atau menangis tersedu-sedu hingga berlebihan. Meski terkesan berbahaya, kondisi ini umumnya tidak serius. Namun, Anda tetap perlu waspada apabila kejadian ini terlalu sering terjadi.
6. Durasi Tantrum yang Lama dan Berulang
Pada umumnya, tantrum berlangsung hanya beberapa menit. Tetapi, jika durasinya lebih dari 15-20 menit atau terjadi berkali-kali dalam sehari, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan psikolog anak. Tantrum yang terlalu lama atau terlalu sering bisa menghambat aktivitas harian sekaligus mengganggu perkembangan anak.

Solusi Menyalurkan Energi Anak secara Positif di Sparks Sports Academy
Anak yang sering mengalami tantrum terkadang memiliki energi berlebih yang belum tersalurkan dengan baik. Setelah mengetahui berbagai ciri di atas, ada banyak cara efektif untuk menghadapi anak tantrum. Mulai dari memberikan pelukan, mengalihkan perhatian, hingga mengenalkan anak pada aktivitas fisik yang sehat.
Jika Anda sedang mencari tempat yang bisa membantu anak lebih percaya diri, aktif bergerak, dan bisa mengelola emosinya, kelas sensori dari Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan yang tepat.
Segera daftarkan anak ke Sparks Sports Academy dan dukung perkembangannya dalam keterampilan motorik, kedisiplinan, serta pengendalian emosi lewat aktivitas olahraga yang menyenangkan. Dengan dukungan lingkungan yang positif dan pelatih berpengalaman, anak akan belajar mengelola emosinya secara lebih sehat, sekaligus tetap aktif dan ceria setiap hari.







