10 Latihan Oromotor Bayi agar Bisa Makan dan Berbicara Jelas

10 Latihan Oromotor Bayi agar Bisa Makan dan Berbicara Jelas

Table of Contents

Kemampuan bayi untuk makan dan berbicara berkembang secara bertahap sejak usia dini. Sebelum si Kecil mampu menikmati berbagai tekstur makanan atau mengucapkan kata dengan jelas, ada banyak kemampuan dasar yang perlu berkembang terlebih dahulu, salah satunya adalah koordinasi gerakan mulut. Karena itu, latihan oromotor bayi dapat menjadi salah satu aktivitas yang diperhatikan Mom/Dad untuk mendukung perkembangan kemampuan makan dan komunikasi anak.

Oromotor berkaitan dengan kemampuan menggunakan otot dan struktur di sekitar mulut, seperti bibir, lidah, rahang, pipi, serta area yang berperan dalam proses mengisap, mengunyah, menelan, dan menghasilkan suara. Namun, perlu dipahami bahwa latihan oromotor bayi bukan berarti Mom/Dad harus memaksa bayi melakukan gerakan tertentu. Aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak serta dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Setiap bayi juga memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.

Apa Itu Oromotor pada Bayi?

Oromotor merupakan kemampuan menggerakkan dan mengoordinasikan bagian-bagian di sekitar mulut. Kemampuan ini berhubungan dengan berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mengisap ASI atau susu, menggerakkan lidah, menutup bibir, mengunyah makanan, hingga menelan.

Pada tahap awal kehidupan, bayi menggunakan kemampuan oral untuk memenuhi kebutuhan makan. Seiring bertambahnya usia, fungsi tersebut menjadi semakin kompleks. Bayi mulai mengenal makanan dengan tekstur berbeda, memasukkan benda atau makanan yang aman ke mulut, menggerakkan makanan menggunakan lidah, kemudian belajar mengunyah.

Menurut American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), perkembangan kemampuan makan dan menelan berlangsung berdasarkan tahapan usia. Misalnya, bayi usia 6–9 bulan mulai membawa makanan ke mulut, menggerakkan makanan dengan lidah, dan mulai melakukan gerakan mengunyah. Pada usia 9–12 bulan, sebagian besar anak mulai mengembangkan kemampuan mengunyah menggunakan kedua sisi mulut.

Jadi, ketika membahas latihan oromotor bayi, Mom/Dad sebaiknya melihatnya sebagai bagian dari pengalaman perkembangan yang lebih luas, bukan sebagai latihan kaku seperti olahraga.

Mengapa Latihan Oromotor Bayi Perlu Diperhatikan?

Kemampuan oromotor memiliki peran dalam aktivitas makan. Bayi perlu mengontrol bibir, lidah, rahang, dan koordinasi menelan agar dapat menerima makanan dengan aman dan nyaman.

Selain berkaitan dengan makan, area mulut juga berhubungan dengan perkembangan komunikasi. Bayi belajar berkomunikasi melalui berbagai suara sebelum mampu mengucapkan kata. Mereka mulai mengeluarkan suara, merespons suara orang lain, tertawa, berceloteh, dan secara bertahap mengembangkan kemampuan komunikasi.

Namun, penting bagi Mom/Dad untuk tidak menganggap latihan oromotor sebagai jaminan bahwa anak pasti akan berbicara lebih cepat atau lebih jelas. Kemampuan bicara dipengaruhi banyak faktor, termasuk pendengaran, perkembangan bahasa, interaksi sosial, kemampuan kognitif, dan perkembangan motorik secara keseluruhan.

ASHA juga menekankan bahwa setiap anak berkembang secara unik dan pencapaian suatu kemampuan dapat terjadi pada waktu yang berbeda. Milestone perkembangan sebaiknya digunakan sebagai panduan, bukan sebagai alat diagnosis.

10 Latihan Oromotor Bayi yang Bisa Dilakukan dengan Menyenangkan

Ada berbagai aktivitas sederhana yang dapat membantu bayi mendapatkan pengalaman menggunakan area mulut. Namun, Mom/Dad perlu menyesuaikannya dengan usia, kemampuan, dan kesiapan anak.

Berikut 10 aktivitas yang dapat menjadi bagian dari stimulasi oromotor bayi.

1. Mengajak Bayi Mengisap dengan Baik

Mengisap merupakan salah satu kemampuan oral yang muncul sejak awal kehidupan bayi. Ketika menyusu, bayi melakukan koordinasi antara mengisap, menelan, dan bernapas.

Mom/Dad dapat memberikan kesempatan kepada bayi untuk menyusu dengan posisi yang nyaman dan tidak terburu-buru. Pada bayi yang mendapatkan susu melalui botol, pastikan pemilihan dot dan aliran susu sesuai dengan kebutuhan anak.

Aktivitas ini tidak perlu dibuat menjadi latihan khusus. Proses menyusu itu sendiri sudah memberikan pengalaman bagi bayi untuk menggunakan otot-otot di sekitar mulut.

Perhatikan pula tanda-tanda bayi ketika menyusu. Jika bayi sering batuk, tersedak, sulit bernapas ketika minum, atau mengalami kesulitan makan, jangan mencoba memberikan latihan tambahan secara sembarangan. Konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan.

2. Bermain Ekspresi Wajah

Bermain ekspresi wajah merupakan aktivitas sederhana yang dapat dilakukan bersama bayi. Mom/Dad dapat tersenyum, membuka mulut, mengerucutkan bibir, atau membuat ekspresi wajah yang menarik perhatian.

Bayi biasanya tertarik memperhatikan wajah orang yang sering berinteraksi dengannya. Dari aktivitas sederhana tersebut, anak mendapatkan kesempatan untuk memperhatikan gerakan wajah dan mulut.

Mom/Dad dapat melakukan aktivitas ini sambil berbicara kepada bayi. Misalnya, ketika tersenyum, katakan, “Senyum.” Ketika membuka mulut, gunakan kata sederhana seperti “Aaa.”

Aktivitas seperti ini juga menggabungkan stimulasi visual, pendengaran, komunikasi, dan interaksi sosial.

3. Mengajak Bayi Berceloteh

Berceloteh atau babbling merupakan bagian penting dalam perkembangan komunikasi bayi. Ketika bayi mengeluarkan suara seperti “ba-ba”, “ma-ma”, atau suara vokal lainnya, Mom/Dad dapat meresponsnya.

Jangan hanya menunggu bayi mengeluarkan suara. Cobalah membuat percakapan sederhana.

Misalnya:

“Baa…”

Ketika bayi mengeluarkan suara, Mom/Dad dapat menjawab:

“Baa juga? Wah, pintar!”

Interaksi bergantian seperti ini memberikan kesempatan bagi bayi untuk belajar bahwa suara yang dikeluarkan dapat menghasilkan respons dari orang lain.

Aktivitas komunikasi seperti ini lebih bermakna jika dilakukan secara alami dalam kegiatan sehari-hari.

4. Bermain dengan Gerakan Bibir

Bibir memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas oral. Bayi menggunakan bibir ketika menyusu, menerima makanan, minum, dan secara bertahap belajar menghasilkan berbagai suara.

Mom/Dad dapat mengajak bayi memperhatikan gerakan bibir melalui permainan sederhana. Misalnya, buat suara vokal yang mudah seperti “aaa”, “uuu”, atau “iii” sambil menunjukkan gerakan mulut secara perlahan.

Tidak perlu memaksa bayi menirukan gerakan tersebut. Biarkan anak mengamati dan memberikan respons sesuai kemampuannya.

Tujuan utama aktivitas ini adalah menciptakan interaksi menyenangkan yang memberikan kesempatan bayi melihat dan mendengar berbagai suara.

5. Memberikan Kesempatan Mengeksplorasi Makanan Sesuai Usia

Ketika bayi sudah siap menerima makanan pendamping sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, pengalaman makan dapat menjadi salah satu stimulasi alami bagi kemampuan oral.

Bayi dapat diperkenalkan secara bertahap pada makanan dengan tekstur yang sesuai tahap perkembangannya. Pada usia tertentu, bayi mulai belajar menggerakkan makanan menggunakan lidah dan melakukan gerakan mengunyah.

Mom/Dad tidak perlu buru-buru memberikan makanan dengan tekstur yang terlalu sulit. Keamanan dan kesiapan anak harus menjadi prioritas.

Menurut ASHA, pada usia 6–9 bulan anak mulai dapat membawa makanan ke mulut dan menggerakkannya menggunakan lidah, sementara pada rentang 9–12 bulan mulai berkembang kemampuan mengunyah pada kedua sisi mulut.

Karena itu, pengalaman makan yang sesuai perkembangan dapat menjadi bagian penting dari stimulasi kemampuan oral.

6. Mengenalkan Tekstur Makanan Secara Bertahap

Perkembangan oromotor tidak hanya berkaitan dengan gerakan, tetapi juga pengalaman anak terhadap makanan. Tekstur makanan yang berbeda memberikan pengalaman yang berbeda pula bagi mulut.

Mom/Dad dapat memperkenalkan tekstur sesuai usia dan kemampuan bayi. Jangan langsung memberikan makanan yang keras, bulat, kecil, atau berisiko menyebabkan tersedak hanya karena ingin melatih kemampuan mengunyah.

Perubahan tekstur sebaiknya dilakukan secara bertahap. Bayi dapat mulai mengenal tekstur yang sesuai rekomendasi perkembangan sebelum beralih ke tekstur yang lebih kompleks.

Selain melatih kemampuan oral, variasi tekstur juga dapat membantu anak menjadi lebih terbiasa dengan pengalaman makan yang beragam.

7. Memberikan Kesempatan Makan Sendiri

Ketika bayi sudah menunjukkan kesiapan untuk self-feeding, Mom/Dad dapat memberikan kesempatan untuk mencoba mengambil makanan menggunakan tangan.

Aktivitas ini tidak hanya melatih kemampuan tangan dan jari, tetapi juga memberikan pengalaman koordinasi antara tangan, mata, dan mulut.

Bayi mungkin akan membuat makanan berantakan. Hal tersebut merupakan bagian dari proses belajar. Jangan terlalu fokus pada kebersihan meja sampai menghilangkan kesempatan anak untuk bereksplorasi.

Tentunya, makanan harus diberikan dalam bentuk dan tekstur yang aman sesuai tahap perkembangan anak. Bayi juga harus selalu berada dalam pengawasan orang dewasa ketika makan.

8. Mengajak Bayi Minum dari Wadah yang Sesuai

Seiring perkembangan, bayi secara bertahap dapat belajar minum menggunakan wadah yang sesuai dengan kemampuannya.

Proses ini memberikan pengalaman baru bagi bibir, lidah, rahang, serta koordinasi menelan. Pada awalnya, cairan dapat tumpah dan bayi mungkin masih membutuhkan bantuan.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam proses belajar. Mom/Dad dapat memberikan kesempatan secara bertahap tanpa memaksa anak menghabiskan minuman dalam jumlah tertentu.

Perhatikan posisi tubuh anak saat makan dan minum. Posisi duduk yang stabil dapat membantu anak menjalankan aktivitas makan dengan lebih baik.

9. Mengajak Anak Bermain Suara

Permainan suara dapat dilakukan sejak bayi masih kecil. Mom/Dad dapat membuat suara sederhana kemudian menunggu respons anak.

Contohnya:

“Ma-ma-ma.”

“Ba-ba-ba.”

“Pa-pa-pa.”

“Buuuu.”

“Aaaaa.”

Permainan ini bukan latihan agar anak langsung bisa berbicara. Sebaliknya, aktivitas tersebut memberikan kesempatan anak mendengar berbagai pola suara dan ikut berinteraksi.

Menurut ASHA, bayi pada usia awal sudah mulai menunjukkan kemampuan komunikasi seperti merespons suara, membuat suara secara bergantian, tertawa, serta mengeluarkan suara vokal.

Semakin sering Mom/Dad mengajak anak berbicara, bernyanyi, membaca buku, dan merespons suara bayi, semakin banyak kesempatan anak mendapatkan pengalaman komunikasi.

10. Membacakan Buku dengan Interaksi Langsung

Membaca buku untuk bayi bukan hanya aktivitas untuk mengenalkan kosakata. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk berinteraksi secara langsung.

Pilih buku dengan gambar sederhana dan warna menarik. Tunjukkan gambar sambil menyebutkan namanya.

“Ini kucing.”

“Meong.”

“Ini bola.”

“Bola merah.”

Mom/Dad dapat menggunakan ekspresi wajah dan intonasi suara yang berbeda agar aktivitas semakin menarik.

Ketika bayi mengeluarkan suara, berikan respons. Ketika bayi menunjuk gambar, sebutkan nama objek tersebut. Dengan demikian, aktivitas membaca menjadi komunikasi dua arah.

Kegiatan berbicara, membaca, dan bermain bersama memang memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan komunikasi anak. ASHA juga merekomendasikan orang tua untuk banyak berbicara, mendengarkan, membaca cerita, dan merespons anak sebagai bagian dari dukungan perkembangan komunikasi.

Baca juga: Memahami Stimulasi Oromotor, Manfaat, dan Aktivitasnya

Latihan Oromotor Bayi Sebaiknya Dimulai dari Aktivitas yang Alami

Mom/Dad mungkin menemukan berbagai video yang memperlihatkan latihan khusus untuk lidah, bibir, atau rahang bayi. Namun, tidak semua latihan tersebut harus dilakukan di rumah.

Kemampuan oral berkembang melalui pengalaman fungsional. Artinya, bayi mendapatkan banyak kesempatan untuk menggunakan kemampuan tersebut ketika menyusu, makan, minum, berceloteh, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain.

ASHA menjelaskan bahwa bukti berkualitas tinggi untuk penggunaan latihan oral-motor atau teknik sensorik secara terpisah dalam menangani gangguan makan dan menelan pada anak masih terbatas. Pengalaman yang berkaitan langsung dengan aktivitas yang ingin dikuasai anak dapat menjadi bagian penting dalam pembelajaran motorik.

Karena itu, Mom/Dad sebaiknya tidak memberikan stimulasi oral secara berlebihan hanya dengan harapan anak cepat berbicara atau cepat bisa makan makanan tertentu.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Melakukan Latihan Oromotor Bayi

Ada beberapa prinsip yang sebaiknya diperhatikan agar aktivitas stimulasi berlangsung aman dan menyenangkan.

Sesuaikan dengan Usia dan Tahap Perkembangan

Tidak semua aktivitas cocok untuk semua bayi. Kemampuan bayi usia 3 bulan tentu berbeda dengan bayi usia 9 bulan. Jangan menggunakan pencapaian anak lain sebagai patokan mutlak. Fokuslah pada perkembangan si Kecil dari waktu ke waktu.

Jangan Memaksa Bayi

Jika bayi menangis, menolak makanan, memalingkan wajah, atau menunjukkan ketidaknyamanan, berikan jeda. Stimulasi seharusnya menjadi pengalaman positif. Memaksa bayi melakukan aktivitas oral justru dapat membuat pengalaman makan atau interaksi menjadi kurang menyenangkan.

Utamakan Keamanan Saat Makan

Makanan yang diberikan kepada bayi harus disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan. Bayi juga harus selalu diawasi ketika makan. Mom/Dad perlu membedakan antara gagging dan tersedak, serta memahami prosedur pertolongan pertama yang tepat. Jika memiliki kekhawatiran mengenai kemampuan menelan anak, jangan menunggu kondisi menjadi lebih berat untuk berkonsultasi.

Jangan Menggunakan Benda yang Berisiko

Hindari memasukkan benda yang tidak aman ke dalam mulut bayi hanya untuk melatih lidah, pipi, atau rahang. Benda kecil dapat menjadi risiko tersedak. Selain itu, benda yang tidak dirancang untuk digunakan bayi dapat menyebabkan luka atau iritasi.

Jadikan Bagian dari Rutinitas

Tidak perlu menyediakan waktu khusus yang panjang. Mom/Dad dapat memasukkan stimulasi ke dalam kegiatan sehari-hari.

Misalnya, berbicara saat mengganti popok, membuat ekspresi ketika bermain, menyanyikan lagu sebelum tidur, atau membacakan buku sebelum tidur. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi pengalaman perkembangan yang berharga.

Apakah Latihan Oromotor Bisa Membuat Bayi Berbicara Lebih Jelas?

Pertanyaan ini cukup sering muncul di kalangan orang tua. Jawabannya, perkembangan kemampuan bicara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan atau gerakan otot mulut.

Berbicara merupakan kemampuan yang kompleks. Anak membutuhkan kemampuan mendengar, memahami bahasa, mengolah informasi, mengatur gerakan untuk menghasilkan suara, serta mendapatkan pengalaman komunikasi yang cukup.

Oleh karena itu, latihan oromotor bayi sebaiknya tidak diposisikan sebagai metode yang pasti membuat anak berbicara lebih cepat atau lebih jelas.

Justru, Mom/Dad dapat menggabungkan stimulasi oral dengan kegiatan komunikasi. Ajak bayi berbicara, tirukan suara yang dibuatnya, bacakan buku, bernyanyi, dan berikan respons ketika anak mencoba berkomunikasi.

Dengan begitu, anak mendapatkan stimulasi yang lebih menyeluruh.

Tanda Bayi Membutuhkan Konsultasi Profesional

Setiap bayi memiliki perkembangan yang berbeda. Namun, ada kondisi tertentu yang sebaiknya tidak diabaikan.

Mom/Dad dapat mempertimbangkan konsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional yang sesuai jika bayi mengalami kesulitan makan atau minum secara konsisten, sering batuk atau tersedak ketika makan, kesulitan mengunyah, mengalami penolakan makanan yang berat, atau tidak menunjukkan perkembangan kemampuan makan sesuai tahapan.

Konsultasi juga penting jika Mom/Dad memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan komunikasi anak.

ASHA menyarankan orang tua berkonsultasi jika anak tidak mencapai beberapa kemampuan perkembangan dalam rentang usianya, mengalami kemunduran kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, atau menunjukkan masalah pada makan dan komunikasi.

Bagaimana Membuat Stimulasi Oromotor Lebih Menyenangkan?

Stimulasi bayi akan lebih mudah dilakukan apabila tidak terasa seperti tugas. Mom/Dad dapat menggabungkannya dengan permainan.

Misalnya, ketika bayi sedang bermain, buat suara lucu dan tunggu responsnya. Ketika membaca buku, gunakan ekspresi wajah yang berbeda. Saat bernyanyi, buat gerakan tangan sederhana. Ketika makan, biarkan anak mengeksplorasi makanan yang aman sesuai tahap perkembangannya.

Prinsipnya adalah interaksi.

Bayi tidak membutuhkan orang tua yang terus-menerus memberikan instruksi. Mereka membutuhkan orang dewasa yang responsif, mau berbicara, mendengarkan, bermain, dan mengikuti minat mereka.

Dengan pendekatan tersebut, stimulasi dapat terasa lebih alami dan tidak membuat bayi tertekan.

Hubungan Oromotor dengan Kesiapan Makan Anak

Kesiapan makan tidak hanya dilihat dari usia. Bayi juga perlu menunjukkan tanda kesiapan perkembangan, seperti mampu mempertahankan posisi tubuh yang cukup stabil dan memiliki kontrol kepala yang baik.

Kemampuan oral kemudian berkembang secara bertahap. Anak belajar menerima makanan, menggerakkan makanan dengan lidah, melakukan gerakan mengunyah, serta mengontrol makanan sebelum menelannya.

Pada usia 6–9 bulan, misalnya, bayi mulai menggunakan tangan untuk membawa makanan ke mulut dan mulai mengembangkan kemampuan mengunyah. Pada usia 9–12 bulan, kemampuan mengunyah pada kedua sisi mulut mulai berkembang.

Jadi, Mom/Dad tidak perlu terburu-buru mengharapkan kemampuan makan seperti anak yang lebih besar. Berikan pengalaman secara bertahap sesuai kesiapan anak.

Oromotor dan Perkembangan Komunikasi Anak

Sebelum mengatakan kata pertama, bayi sebenarnya sudah berkomunikasi.

Tangisan, senyuman, kontak mata, suara vokal, tawa, hingga babbling merupakan bagian dari perjalanan komunikasi. Mom/Dad dapat mendukungnya dengan memberikan respons terhadap berbagai usaha komunikasi tersebut.

Misalnya, ketika bayi mengatakan “ba”, Mom/Dad dapat menjawab, “Ba-ba? Bola?” atau sekadar menirukan suara tersebut.

Tidak perlu selalu mengoreksi suara bayi. Lebih baik berikan contoh pengucapan yang benar sambil tetap mempertahankan suasana interaksi yang menyenangkan.

Komunikasi yang rutin antara orang tua dan bayi dapat membantu menciptakan lingkungan yang kaya bahasa. Membaca, bernyanyi, bercerita, dan berbicara dalam aktivitas sehari-hari merupakan cara sederhana untuk mendukung proses tersebut.

Tips Sederhana untuk Mom/Dad

Agar stimulasi berjalan konsisten, Mom/Dad dapat menerapkan beberapa kebiasaan berikut:

  1. Ajak bayi berbicara sejak dini.
  2. Respons setiap usaha komunikasi bayi.
  3. Berikan kesempatan bayi mengeluarkan suara.
  4. Bacakan buku secara rutin.
  5. Bernyanyi bersama bayi.
  6. Kenalkan makanan sesuai usia dan kesiapan.
  7. Berikan kesempatan mengeksplorasi tekstur makanan yang aman.
  8. Jangan memaksa bayi ketika menolak makan.
  9. Selalu awasi bayi ketika makan.
  10. Konsultasikan masalah makan, menelan, pendengaran, atau komunikasi kepada tenaga profesional.

Yang terpenting, jangan membandingkan perkembangan si Kecil dengan bayi lain. Milestone hanyalah panduan untuk membantu orang tua memahami perkembangan anak, bukan perlombaan untuk mencapai kemampuan tertentu secepat mungkin.

Kapan Sebaiknya Mulai Memberikan Stimulasi?

Stimulasi sebenarnya dapat diberikan sejak bayi lahir melalui interaksi sehari-hari. Mom/Dad dapat berbicara, tersenyum, bernyanyi, melakukan kontak mata, dan merespons suara bayi.

Ketika anak bertambah besar dan mulai memasuki tahap makan makanan pendamping, pengalaman makan juga menjadi bagian penting dari perkembangan kemampuan oral.

Tidak ada kebutuhan untuk membuat jadwal latihan yang rumit. Yang lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui aktivitas yang sesuai tahap perkembangan.

Apabila Mom/Dad melihat adanya kesulitan yang menetap, jangan mencoba mendiagnosis sendiri. Dokter anak atau speech-language pathologist dapat membantu mengevaluasi kemampuan makan, menelan, komunikasi, dan aspek perkembangan lain yang berkaitan.

Dukung Perkembangan Anak dengan Aktivitas yang Menyenangkan

Perkembangan anak tidak hanya membutuhkan stimulasi pada satu kemampuan. Bayi dan anak kecil belajar melalui kombinasi gerakan, sentuhan, suara, penglihatan, permainan, serta interaksi sosial.

Karena itu, Mom/Dad dapat memberikan berbagai aktivitas yang melibatkan banyak indra dan gerakan secara bersamaan. Bermain, bernyanyi, membaca, mengeksplorasi tekstur, serta melakukan aktivitas motorik sederhana dapat membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.

Pendekatan seperti ini juga membantu anak membangun pengalaman positif ketika berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak Bicara Kurang Jelas dan Kapan Harus ke Terapis Wicara

Ajak Si Kecil Tumbuh dan Belajar melalui Kelas Sensori Anak di Spakrs Sports Academy

Pada akhirnya, latihan oromotor bayi bukan tentang membuat anak harus cepat makan atau berbicara dibandingkan anak lainnya. Tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman perkembangan yang sesuai, aman, menyenangkan, dan tidak memaksa. Kemampuan makan dan komunikasi berkembang secara bertahap sehingga Mom/Dad perlu memberikan dukungan melalui interaksi, permainan, pengalaman makan, serta stimulasi yang sesuai usia.

Selain memberikan stimulasi di rumah, Mom/Dad juga dapat memberikan pengalaman bermain yang mendukung eksplorasi berbagai indra melalui kelas sensori anak di Spakrs Sports Academy. Kegiatan sensori yang menyenangkan dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan, bergerak, bermain, dan belajar bersama. Dengan dukungan yang tepat dan konsisten, Mom/Dad dapat membantu si Kecil menikmati proses tumbuh kembangnya tanpa menjadikannya sebuah perlombaan.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%