Anak Anda sudah memasuki usia 3 tahun tetapi belum lancar berbicara? Kondisi ini bisa menjadi tanda speech delay atau keterlambatan bicara pada anak. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari perkembangan anak hingga kurangnya stimulasi dari lingkungan sekitar.
Lalu, bagaimana cara mengenali dan menangani speech delay sejak dini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Key Takeaways:
- Speech delay merupakan keterlambatan bicara pada anak yang tidak sesuai dengan usia sepantarannya.
- Faktor penyebab keterlambatan bicara ini bisa dari faktor internal, yaitu dari anak itu sendiri atau dari faktor eksternal, seperti dari keluarga atau lingkungan.
- Orang tua dapat mencegah keterlambatan bicara dengan mengajak anak berkomunikasi secara aktif dan segera memeriksakan anak ke dokter jika perkembangan bahasanya terlihat terlambat.
Apa itu Speech Delay?
Speech delay merupakan suatu kondisi keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak. Kondisi ini menyebabkan anak yang seharusnya sudah dapat mengucapkan beberapa kata atau kalimat sederhana menjadi lebih lambat dari rata-rata anak sepantarannya.
Menurut laman idai.or.id, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan penyebab speech delay meliputi gangguan pendengaran, gangguan otak, autisme, serta gangguan pada mulut yang menghambat pengucapan kata.
Sementara itu, menurut keslan.kemkes.go.id, rendahnya pendidikan orang tua, kurangnya stimulasi, riwayat keluarga dengan keterlambatan bicara, serta lingkungan multibahasa dapat menjadi faktor eksternal anak terlambat bicara.
Baca juga: 5 Cara Mengajari Anak Berbicara Umur 2 Tahun agar Cepat Lancar
Pada Usia Berapa Anak Dianggap Speech Delay?
Sebelum mengetahui pada usia berapa anak dianggap speech delay, orang tua sebaiknya memahami terlebih dahulu tahapan perkembangan bicara normal anak.
1. Usia 0-6 Bulan
Bayi baru lahir hanya dapat menangis untuk mengatakan keinginannya, kemudian memasuki usia 2-3 bulan bayi mulai membuat suara-suara seperti aah atau uuh atau istilahnya cooing. Setelah usia 3 bulan bayi akan mencari sumber suara yang ia dengar dan mendekati usia 6 bulan bayi merespon apabila dipanggil.
Cooing perlahan berubah menjadi babbling, yaitu bayi mengoceh dengan suku kata tunggal, seperti babababa, mamama. Pada usia ini yang perlu Anda waspadai apabila bayi dipanggil tidak menoleh dan tidak ada babbling.
2. Usia 6-12 Bulan
Pada usia 6-9 bulan perlahan bayi mulai mengenai nama orang dan benda serta konsep dasar kata “ya”, “tidak”, dan “habis”. Beranjak ke usia 9-12 bayi sudah mulai mampu mengucapkan satu kata seperti “mama”, “papa”, dan istilah lainnya.
Bayi juga akan menengok saat dipanggil dan faham dengan beberapa perintah seperti “ayo” dan “lihat sini”. Perlu Anda waspadai pada usia ini apabila bayi tidak menunjuk dengan jari dan ekspresi wajah yang kurang pada usia 12 bulan.
3. Usia 12-18 Bulan
Pada usia 15 bulan umumnya anak sudah mampu menyusun 3-6 kata bermakna, mampu mengangguk dan menggeleng saat ditanya, dan dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar orang yang disebutkan orang lain. Kemudian, beranjak ke usia 18 bulan kosakata anak akan bertambah mencapai 5-50 kata. Yang perlu Anda waspadai di usia ini apabila anak tidak mengeluarkan kata tak bermakna pada usia 16 bulan.
4. Usia 18-24 Bulan
Di antara usia ini umumnya anak akan memiliki banyak bahasa, setiap harinya ia akan memiliki kosakata baru dan mampu menyusun kalimat yang terdiri dari dua kata, mampu mengikuti perintah dua langkah, dan puncaknya pada usia 24 bulan orang dewasa memahami ucapan anak.
Pada usia ini yang perlu Anda waspadai apabila anak sama sekali tidak tidak mengeluarkan kalimat dua kata, seperti “mama mandi” atau “papa tidur” yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan.
5. Usia 2-3 Tahun
Setelah anak berusia di atas 2 tahun, hampir semua kata yang diucapkan oleh anak dapat difahami oleh orang dewasa, anak sudah mampu memakai kalimat 2-3 kata atau lebih, dan mulai dapat menggunakan kalimat tanya.
Apabila anak Anda memperlihatkan salah satu tanda waspada seperti uraian di atas, Anda dapat segera membawa anak Anda ke dokter. Pada dasarnya Anda tidak perlu menunggu di usia 2 atau 3 tahun untuk membawa anak ke dokter, Anda dapat langsung membawa anak ke dokter apabila menunjukkan kelemahan pada kemampuan berbicara atau sosialnya.
Bagaimana Cara Mencegah Speech Delay?
Orang tua dan keluarga dapat mencegah speech delay dengan rutin mengajak anak berkomunikasi, membacakan cerita, melibatkan anak dalam diskusi sederhana, serta membatasi penggunaan gadget. Selain itu, orang tua juga dapat mengajak anak bernyanyi, merespons ocehan, dan mendorong anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Untuk membantu anak berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sebaya, Anda dapat mengarahkan anak mengikuti berbagai kegiatan, seperti mengikuti kelas gymnastics, dance, hingga multi sports. Beragam kegiatan tersebut dapat anak Anda dapatkan di Sparks Sports Academy.
Sparks Sports Academy mendukung tumbuh kembang anak melalui stimulasi sensorik dan aktivitas fisik yang terarah. Program ini menjadi salah satu pilihan tepat untuk mendukung perkembangan anak, termasuk dalam upaya mencegah speech delay.
Selain stimulasi aktivitas, orang tua tetap perlu memeriksakan anak ke dokter spesialis anak jika keterlambatan bicara sudah terlihat. Penanganan yang tepat dan sedini mungkin dapat membantu mempercepat perkembangan kemampuan komunikasi anak.







